DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Selidiki


__ADS_3

Saat serius membahas pekerjaan dengan sang Asisten Rudi. Ponselnya Ardhi berdering. Kebetulan Melati sudah selesai membersihkan kamar dalam ruangan itu.


Ardhi menoleh ke arah meja kerjanya. Tempat ponselnya berada.


"Mel, ambilkan ponsel saya!" titah Ardhi menatap Melati yang ditangannya ada sapu dan alat ngepel beserta ember.


Melati menoleh kepada Ardhi, tidak menyangka. Bos nya itu memintanya mengambilkan ponselnya.


"Iya tuan," Melati, menyimpan alat-alat pembersih itu.


Meraih ponsel Ardhi dengan tangan gemetar. Melati takut, ponsel mahal itu jatuh. Maklum lah dia gak pernah megang ponsel mahal. Ponsel itu terus saja bergetar di tangannya. Matanya tidak sengaja melihat layar ponsel milik bos nya itu. Ternyata Mak lampir yang menelpon. Sontak dia terkejut melihat foto Ibu Jerniati di layar. Hampir saja ponsel terjatuh dari tangannya. Karena saking takutnya dia melihat foto Ibu Jerniati.


"Ini Tuan." Melati memberikan ponsel itu dengan tangan gemetar. Kalau ingat Ibu Jerniati, Melati jadi ketakutan.


"Kamu kenapa Mel? kamu sudah sembuh kan?" Ardhi memperhatikan Melati yang wajahnya nampak pucat itu. Dia mengabaikan panggilan ibunya.


"Sudah tuan, aku tidak apa-apa." Jawabnya sopan, dia pun meninggalkan tempat itu dengan membawa alat-alat pembersihnya.


Setelah Melati pergi dari ruangan itu. Ardhi menelpon balik ibunya.


"Kenapa telpon Mama gak diangkat-angkat?" suara Ibu Jerniati terdengar kesal.


"Maaf Ma, tadi lagi sibuk." Jawabnya lembut.


"Cepat pulang, kita harus cepet ke rumahnya Anggun." Mama Ardhi memaksa.


"Iya Ma, ini akan meluncur." Jawabnya malas, sungguh Ardhi tidak ada semangat sedikit pun untuk menikah dengan Anggun.


"Bos, kalau gak yakin. Gak usah mau menikah dengannya." Rudi akhirnya memberikan saran, karena dia melihat Bos nya gak senang dengan pernikahan itu.


"Gak bisa Rud, Mama ingin aku menikah dengannya. Kamu tahu sendiri Mama gimana orangnya. Apa yang dia mau harus terwujud." Jawab Ardhi lemas, menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Masalah jodoh loh Bos. Salah ambil langkah, ribet nanti urusannya. Mana pernikahan ini terkesan dipaksa gitu." Kini Rudi menatap serius Ardhi yang lagi galau itu.

__ADS_1


Ardhi menegakkan tubuhnya, merasa tertarik dengan ucapan Rudi.


"Kalau Bos mau, aku minta izin, mau menyelidiki Nona Anggun. Aku merasa ada yang aneh dengan calon istrinya Bos itu." Sejenak Ardhi berfikir mengenai apa yang dikatakan Asistennya itu. Ada baiknya memang menyelidiki tentang Anggun.


Ardhi hanya tahu sekilas tentang Ayahnya Anggun, seluk beluk keluarga Anggun dia sama sekali tidak tahu.


"Heran saja, Bos masih mau menikah dengannya. Padahal Bos tahu sendiri kelakuannya. Dia sudah melakukan tindak kriminal." Ardhi kini menyeruput kopi yang sudah dingin miliknya. Walau sudah dingin tapi rasanya tetap nikmat.


"Enak banget kopi buatan si Melati." Celutuk Rudi senang, berusaha mencairkan suasana. Karena, melihat bosnya kini murung.


Ardhi yang lagi banyak pikiran itu, hanya diam mematung memikirkan ucapan Rudi. Ya benar juga yang dikatakan Rudy, ada baiknya menyelidiki tentang Anggun.


Rudi melirik Ardhi yang nampak sedang berpikir keras itu. Dia harus mengeluarkan kata-kata, yang bisa memancing pria yang lagi galau itu.


"Bos, si Melati kalau dilihat-lihat, mirip Non Embun ya?" Benar saja, Ardhi langsung menatap tajam Rudi.


Rudi langsung menutup mulut dengan tangannya. Dia pura-pura keceplosan, Ardhi akan berang, kalau asistennya itu mengungkit-ungkit Embun.


"Selidiki Anggun, semua tentang Anggun. Termasuk perusahaannya." Ardhi beranjak dari duduknya setelah mengatakan itu. Dia harus pulang, karena akan melakukan prosesi melamar di rumah Anggun.


Melati Melihat Ardhi keluar dari ruangan. Dia langsung berdiri, karena Ardhi sedang berjalan ke arahnya.


"Kamu gak kuliah hari ini kan?" Ujar Ardhi.


"Gak Tuan, saya libur hari ini." Jawabnya sopan, tidak berani menatap sang majikan.


"Kamu di sini saja, nanti setelah acara saya ke kantor lagi. Sebelum saya datang, kamu jangan pulang dulu. Tunggu saya, kita pulang bareng." Ujar Ardhi penuh penekanan.


Melati yang terkejut mendengar ucapan Bos nya itu, hanya diam termangu. Tidak percaya dengan ucapan Ardhi yang mengatakan ingin pulang bareng.


Ardhi kini berjalan ke arah Desi, sang sekretaris.


"Desi, ajari dia pelan-pelan. Tapi, dalam seminggu ini. Dia harus mengerti semuanya. Aku gak mau nanti disaat kamu ambil cuti menikah. Kerjaan masih banyak." Sang Sekretaris manggut-manggut, sangat mengerti apa yang diinginkan Bos nya itu.

__ADS_1


"Baik Pak!" jawabnya sopan. Ardhi pun meninggalkan tempat itu. Sebelum pria itu menghilang dari ruangan itu. Dia menyempatkan dirinya menatap Melati sekejap.


"Apa Bos Ardhi menyukai gadis itu?" Desi bermonolog, memperhatikan Melati yang sedang memeriksa dokumen yang diberikannya.


"Anaknya pintar, baik, sopan lagi. Pantes Bos Ardhi memilihnya menggantikanku." Ucap nya pelan, yang hanya bisa didengar olehnya sendiri.


Saat ini Ardhi dalam perjalanan menuju rumahnya. Dia dan Ibunya akan pergi ke rumah Anggun. Untuk melamar wanita itu.


"Mama tidak suka kamu baik kepada Melati." Sang Ibu memulai percakapan. Kini mereka sedang diperjalanan menuju rumah Anggun.


"Jangan bahas Melati Ma." Ujar nya tegas.


"Mama hanya ingin memperingati kamu. Dia itu ingin menggoda kamu. Ingat Nak, kamu akan menikah." Sang Ibu kesal, Ardhi tidak mau mengindahkan perintahnya.


"Ardhi gak buta Ma, yang suka sama pembantu. Apa Mama pikii seleraku serendah itu." Ucapan Ardhi kali ini membuat Ibu Jerniati sedikit legah. Pernyataan seperti ini yang ditunggu-tunggu nya dari dulu.


Sang Ibu yang senang mendengar ucapan Ardhi, langsung memeluk putranya itu.


"Iya sayang, Mama tahu kamu anak pintar. Mana mungkin kamu suka sama pembantu. Iya kan? kadang Mama yang terlalu parno. Habis, hanya kamu harta Mama satu-satunya." Ibu Jerniati tersenyum bahagia pada anaknya itu. Dia pun kembali menegakkan tubuh nya tegap, tersenyum simpul penuh kebahagiaan.


Dia tidak menyangka anaknya itu menuruti keinginannya secepat ini. Untuk menikah Anggun.


Sesampainya di rumah Anggun. Mereka disambut dengan baik. Acara lamaran pun berjalan lancar.


Kedua keluarga sepakat, pernikahannya sederhana saja. Hanya mengundang keluarga inti.


Setelah acara lamaran selesai. Keluarga Anggun menahan Ardhi agar lebih lama di rumah itu. Perbincangan yang tidak menarik buat Ardhi pun, terpaksa diikutinya.


Sang Calon ayah mertua, yang menceritakan kesuksesan usahanya dibidang konveksi. Bahkan putrinya yang sukses sebagai desainer.


Ardhi hanya menanggapi cerita sang calon ayah mertua dengan tersenyum. Ayahnya Anggun ternyata tipe orang yang suka menceritakan kesuksesan diri sendiri. Tanpa mengajak lawan bicara menceritakan tentang dirinya. Benar-benar egois. Di sini Ardhi bisa menilai, Ayahnya Anggun itu mau menang sendiri.


TBC

__ADS_1


__ADS_2