DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Pemandangan indah


__ADS_3

Tara yang masih berdiri mematung disisi meja belajarnya Embun setelah meletakkan nampan berisi makanan Embun, tidak sengaja menjatuhkan gelas yang berisi air minum yang ada di nampan. Tara terkejut mendengar Embun tela*njang di dalam kamar mandi. Sehingga saat Dia hendak berbalik badan. Tangannya malah menyenggol gelas dan terjatuh, sehingga menimbulkan suara gaduh.


"Ma- Mama----!" teriak Embun, Dia sudah mulai kesal karena Mamanya tak kunjung memberinya handuk. Tidak lucu rasanya Dia dalam keadaan polos berjalan-jalan di kamarnya. Embun tahu adab, walau Dia suka selegek an.


"Apa Mama sudah keluar dari kamar ku? tapi suara gelas yang pecah itu dari mana? apa kucing membuat gelas pecah. Tadi kan Mama mengatakan mengantar makanan ke dalam kamarku." Embun bermonolog, Dia keluar dari bathup nya dalam keadaan polos.


Saat Dia melintas di depan cermin besar yang ada di dalam kamar mandi itu. Dia melihat bayangannya yang dipantulkan cermin.


"Aduhhh... tubuh ini terlalu sexy dan menggoda." Ucapnya memuji bentuk tubuhnya yang proporsional. Bukit kembar yang menantang dengan ukuran 34B, Pinggang yang ramping, dengan bokong berisi, dan kulit yang putih dan sehalus tepung kanji.


Ucapannya itu didengar oleh Tara yang kini sudah berada bersandar di dinding kamar mandi, dekat pintu yang terbuka. Dia sedang menstabilkan debaran jantungnya. Karena otaknya jadi mesum, mendengar Embun memuji tubuhnya sendiri.


"Aku merasa malu kepada Sang Pencipta kalau polos begini." Embun memikirkan benda apa yang harus dibuatnya untuk menutupi tubuhnya . Terutama organ re*produksinya. Memakai baju yang sudah dibasahkannya. Dia ogah.


"Aku ada ide." Ucapnya, Dia meraih gayung yang ada di atas wastafel. Mungkin pembantu mereka meninggalkan nya saat membersihkan kamar mandinya.


Sedangkan Tara sudah tegang, setegang-tegangnya dibalik dinding kamar mandi. Dia menguping Embun yang berbicara sendiri. Dan ucapan Embun membuat Dia jadi piktor (Pikiran kotor).


Itu wajar dialaminya, Dia pria normal. Membayangkan wanita yang kita sukai dalam keadaan polos. Tentu membuat hormon testosteron nya Meronta-ronta, sehingga organ yang tidak bertulang di antara selangka*ngannya berdiri tegak. Karena darah dipompa banyak ke organ itu. Saaat ini Dia sedang berusaha menguasai dirinya, agar tidak horny. Tapi gagal.


Saat Embun meraih gayung itu, ternyata gayung itu berisi air dan Dia pun menumpahkannya. Air itu mengalir sampai membasahi lantai dekat pintu kamar mandi.


"Oalah, ada airnya." Ucapnya, menutup kem*aluannya dengan gayung tersebut. Sedangkan tangan kanannya menutup bukit kembarnya yang montok itu.


Dia mulai berjalan ke arah pintu. Tiba-tiba saja Dia melihat handuknya melambai-lambai di ambang pintu.


Dia mengucek matanya memastikan bahwa yang dilihatnya adalah benar, sebuah handuk yang bergerak-gerak. Tapi tidak nampak Mamanya di ambang pintu tersebut.


"Mama, jangan bercanda dong..!" ucapnya dan terus melanjutkan langkahnya dengan berjalan cepat dan


"Aauuww..Aauuww....!" Embun teriak, karena terkejut. Mengetahui tubuhnya akan jatuh karena terpeleset. Ternyata Tara yang dibalik dinding dekat pintu kamar mandi. Melihat Embun sedang berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang hendak jatuh.


Dia tidak tahu lagi harus bersikap apa. Dia tidak mungkin membiarkan Embun terjatuh. Dia bergerak cepat untuk menangkap Embun, dan melemparkan handuknya. Dia tidak tahu lagi kemana handuknya dilemparkannya.


Saat sudah mendekap Embun dalam pelukannya agar tidak terjatuh. Ternyata Embun yang berniat lepas dari tangkapan Tara, berontak ingin lepas. Sehingga kaki Embun tergelincir lagi. Jadilah mereka berdua kembali terjatuh dengan posisi. Tara langsung membuat kedua tangannya dibawah kepala Embun, agar kepala Embun tidak terbentur ke lantai.


Dan bonus yang didapatkan Tara, dari aksi penyelamatannya itu adalah, wajah Tara kini sudah terbenam di dada Embun. Tepatnya di dua bukit kembar yang hangat dan montok itu, apalagi saat ini Embun, beberapa hari lagi akan menstruasi. Sehingga bukit kembar itu sangat empuk dan nyaman dibuat pendaratan.


Tara terlena, dibantal Empuk itu. Dia memejamkan matanya menikmati rasa hangat dan kenyal yang menempel di wajahnya. Dia pun tersadar, disaat kepalanya kena timpuk gayung dengan kuatnya berulang kali. Sampai gayung itu retak.


"Kurang aja kau... Tutup matamu itu manusia mesum." Teriak Embun, Dia masih dalam kungkungan tubuh Tara. Mereka bersitatap.


"Tutup matamu---- Brengsek....!" Embun kembali menimpuk kepala Tara.


Sadar dengan apa yang terjadi, Tara melihat sekelilingnya dan kembali menatap Embun yang begitu marah dan kesalnya kepadanya. Bahkan wajah Embun merah padam. Tara seperti melihat tanduk di kepala nya Embun dan mengeluarkan asap. Sepertinya Embun sangat marah.


"Tutup matamu itu....!" Embun mulai terisak. Dia kesal dengan kejadian ini.


Tara pun akhirnya menutup matanya. Embun mendorong keras tubuh Tara yang menimpanya. Sehingga Tara terduduk di lantai kamar mandi dengan menutup kedua matanya.


"Jangan buka matamu. Awas kau kalau kau buka matamu itu, ku laporkan kau ke kantor polisi dalam kasus pelecehan sek*s*ual." Embun mengoceh sembari mencari handuk yang sudah entah kemana. Ternyata handuk itu terjatuh dan menyangkut di pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Sialan...!" Ucap Embun dengan kesalnya. Dia berusaha meraih handuk itu tapi tidak bisa.


"Awas kalau kamu buka matamu itu. Ku congkel nanti." Ucapnya dengan penuh kekesalan. Hingga tutur sapa dan kelembutan lun tidak ada lagi. Tara patuh dengan perintah Embun. Dia pun tidak mau melihat tubuh indah itu lagi. Dia takut tidak bisa mengontrol diri.


"Embun kesal, karena handuknya tidak bisa didapatkannya. Dia pun meninggalkan kamar mandi itu. Berjalan cepat mencari handuk lain.


Sedangkan Tara masih menutup matanya di dalam kamar mandi. Sambil membayangkan lagi tubuh polos Embun yang sempat terekam di otak nya tadi. Dia senyum-senyum, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Menikmati kolase tubuh Embun terputar di pikirannya.


Embun yang sudah berpakaian lengkap, menghampiri Tara yang masih terduduk di dalam kamar mandi dengan gaya kedua kaki ditekuk menyilang dan kedua tangannya terpaut memeluk kakinya, sambil menutup mata dan tersenyum.


Embun kesal bukan main, Dia pun mengambil Ember yang ada dibawah watafel, mengisinya penuh. Dia menghampiri Tara, masih menutup mata dan tersenyum itu.


Byuurr......


Embun menyiram wajah Tara dengan kuat dengan satu Ember air. Yang membuat Tara terkejut dan tersedak terbatuk-batuk. Karena Embun menyiramkan air terlalu kuat sehingga banyak masuk ke lubang hidungnya Tara. Karena saat itu Tara sedang mendongak.


Tara merasa hidungnya perih, Dia masih saja terbatuk-batuk. Sampai mata Tara memerah.


Embun menjadi tidak tega, Dia pun jadi ibah kepada Tara. Dia mendekati Tara yang terbatuk-batuk itu.


"Apa Abang baik-baik saja?" Tanya Embun sudah mulai panik. Dia tidak mau Tara Meninggal dan nantinya Dia masuk penjara.


Tara tidak menjawab, Dia masih terbatuk-batuk.


"Abang baik-baik sajakan?" tanya Embun lagi dengan khawatirnya. Dia pun sudah mau memanggil Tara dengan sapaan Abang.


Tara menggeleng. "Sepertinya paru-paru ku banyak kemasukan air." Ucap Tara, ingin mengerjai Embun. Dia juga malu dengan kejadian yang baru terjadi. Jadi Dia tidak tahu harus bersikap apa. Jadilah Dia batuk-batuk.


Mereka pun meninggalkan kamar mandi, dimana Tara yang berpura-pura lemah itu, dipapah oleh Embun. Tubuh Tara yang b


tinggi dan berotot itu, cukup menguras tenaga saat Embun memapah nya.


Embun menuntun Tara, untuk berbaring di ranjangnya. "Aku akan menelpon dokter." Ucap Embun panik serta bingung sekaligus marah.


Seumur-umur belum ada yang melihatnya dalam keadaan polos tanpa sehelai kain. Tapi pria ini sudah melihatnya. Embun malu bukan main. Bahkan Wajahnya Tara, mendarat sempurna di bukit kembarnya.


Embun hendak keluar dari kamar, meminta pembantu mereka menghubungi Dokter. Tapi saat Embun di ambang pintu. Tara menghentikannya.


"Tidak usah panggil Dokter. Saya sudah baikan." Ucapnya dan mencoba untuk duduk di atas ranjangnya Embun.


Embun berbalik, Dia enggan menghampiri Tara.


Dia sangat malu dan kesal. Tapi, bukan Embun namanya kalau Dia tidak bisa memanfaatkan situasi. Dia akan menekan Tara dengan tuduhan pelecehan.


"Mana ponsel mu?" tanyanya dengan garang.


"Ponsel? untuk apa ponsel?" tanya Tara balik, dan berniat membuka bajunya yang basah kuyup.


"Mana ponselmu?" desak Embun.


"Ponselku di mobil." Ucap Tara tersenyum.

__ADS_1


"Kenapa kamu senyam-senyum? apa nya yang lucu?" Ucap Embun, menampilkan wajah kesal. Terkadang Dia memanggil Tara Abang terkadang kamu.


"Apa salah tersenyum?" Tara beranjak dari ranjang nya Embun. Dia berdiri disisi ranjang itu dan membuka kemejanya yang basah.


"Ngapaian kamu membuka baju disini?" Embun panik dan waspada. Jangan-jangan Paribannya ini ingin menerkamnya karena tadi sempat melihatnya bu*Gil.


"Baju Abang basah ya harus dibuka. Abang tidak mau sakit gara-gara ini." Tara sudah melepas kemejanya dan kaos siletnya. Sehingga nampaklah tubuh Tara yang atletis. Sungguh otot-otot liatnya Tara membuat Embun kesusahan menelan ludahnya. Apalagi ternyata tubuh Tara, kulitnya putih bersih dan wangi lagi. Disaat Tara membuka bajunya.


Ya ampun itu dada dan perut kenapa begitu menggoda. Sepertinya Dia suka olah raga. Embun membathin dan mengikuti Tara ke luar rumah.


"Kenapa kamu ikutin Abang?" tanya Tara, berbalik menghadap Embun.


"Aku ingin pinjam ponselmu." Ucap Embun, Tara heran dan bingung. Masak Embun tidak punya ponsel.


"Ponselku hilang dan Ayah atau pun Mama tidak mau menggantinya. Bahkan semua kartu kredit dan ATM tidak diberikan lagi. Sudah lima hari Aku tidak pernah memegang uang sepeserpun." Ucapnya dengan menitikkan air mata. Dia sungguh kesal kepada Ayahnya. Hidupnya sungguh tersiksa, semua serba diatur dan dibatasi.


Sungguh Ayahnya sangat kejam. Ponsel dan dompetnya yang terjatuh di kebun salak saat melarikan diri. Tidak ada gantinya lagi.


Tara bertanya-tanya dalam hati. Dia merasa ada yang tidak beres.


"Lalu ponsel Abang mau Adek apakan? kenapa meminta ponsel Abang?" tanya Tara penuh selidik, sambil memperhatikan wajah Embun yang polos tanpa Make up. Sungguh wajahnya Embun terlihat sangat cantik dan manis.


Embun membuang wajahnya dari tatapan mata Tara.


"Aku mau menghubungi teman kuliahku. Menanyakan kapan bisa mendaftarkan skripsi." Ucapnya bohong. Padahal Dia akan menghubungi Ardhi kekasih yang sangat dirindukannya itu.


Tara mengambil ponselnya yang ada di laci dashboard mobilnya. Dia memberikan kepada Embun. Kemudian Tara berjalan menuju bagasi membuka bagasi itu, Berniat mengambil baju ganti. Ya, karena Tara ingin ke kota M. Jadi Dia sudah menyiapkan semuanya.


"Terkunci." Ucap Embun. Dia menyamperin Tara di belakang mobil, menyodorkan ponsel itu kepada Tara. Dengan menempelkan jari telunjuknya dibagian bawah ponselnya. Ponselnya Tara pun bisa digunakan.


"Apa Abang punya FB?" Ucap Embun, sambil memeriksa aplikasi di ponsel Tara.


"Tidak." Jawabnya cepat. Dia kembali memilih pakaian yang akan dikenakannya.


"Kenapa tidak ada aplikasi sosial media disini?" ucapnya lagi.


"Aku tidak suka hal seperti itu." Jawab Tara.


Embun bingung, bagaimana Dia akan menghubungi Ardhi. No ponsel Ardhi tidak hapalnya. Itulah kelemahan Embun. Malas menghapal nomor. Jangankan nomor orang, nomor Dia sendiri tidak hapalnya.


"Maukah Abang membelikan ku ponsel? terus kita ke GraPARI." Ucapnya takut dan sedikit Enggan. Tapi kalau Tara tidak mau. Dia akan mengancam melaporkannya ke polisi dengan tuduhan pencabulan. Cctv ada di kamar mandi. Itu bisa dibuat Embun sebagai bukti.


"Kalian orang kaya, masak tidak bisa beli ponsel." Jawab Tara bercanda, Dia ingin membuat Embun kesal.


Embun mendumel, Dia harus sabar. Semoga Tara mau mengikuti kemauannya.


"Orang tua ku yang kaya, kalau Aku tidak punya apa-apa. Aku bukannya lemah. Tapi Ayah terlalu mengekang ku. Semua diatur. Aku sudah ingin berkerja sambil kuliah, tapi Ayah tidak mengizinkannya. Dan sekarang lihatlah Dia menghukum ku seperti ini." Ucap Embun mulai terisak.


"Sudah jangan menangis, Abang akan belikan mu ponsel dan menemanimu ke GraPARI. Tapi, Abang ganti pakai dulu." Tara masuk kembali kedalam rumah, Dia ingin berganti pakaian di dalam kamar mandi yang ada disudut ruang keluarga. Tapi Embun melarang nya.


"Ganti di kamar ku aja." Ucapnya senang. Setidaknya Dia akan punya ponsel. Semoga Dia bisa menghubungi Ardhi dan Dia akan meminta Ardhi datang kesini.

__ADS_1


Semoga Ompungnya juga nanti menyukai Ardhi. Siapa tahu dengan melihat Ardhi, Ompungnya jadi suka.


__ADS_2