
"Melati...!" teriaknya lagi, mondar-mandir di pinggir jalan, berharap menemukan sang istri yang tiba-tiba tak terlihat oleh matanya.
Ardhi menghela napas panjang dan menghembuskannya berat. Kenapa ada saja masalah yang datang. Ardhi yang panik itu, kembali memperhatikan sekeliling. Matanya pun kini tertuju kepada sebuah bengkel tambal ban.
Dia pun melangkahkan kakinya ke bengkel itu. Dia akan bertanya pada pemilik bengkel itu. Siapa tahu melihat Melati melintas di depan bengkelnya.
Sesampainya di bengkel itu. Pemilik bengkel yang kebetulan gak ada kerjaan itu, sedang mengopi di pondok mirip lesehan yang ada di sebelah bengkel nya.
"Permisi bang?!" Ardhi tersenyum ramah pada pemilik bengkel.
"Oohh iya, mau berbengkel?" tanya si abang, menghampiri Ardhi yang masih berdiri di tepi pondoknya. Si pemilik bengkel tidak melihat ada motor di depan bengkelnya. Malah ada mobil sedan mewah tak jauh dari bengkelnya, terparkir di tepi jalan.
Si pemilik bengkel kembali memperhatikan Ardhi dari atas sampai bawah. Penampilan pria di hadapannya sungguh klimes. Gaya orang berduit.
"Cari apa bang?" tqbua si pemilik bengkel lagi. Dia melihat Ardhi seperti mencari sesuatu.
"Tadi ada Abang lihat cewek pakai hijab melintas di depan bengkel ini?" si pemilik bengkel berfikir sejenak. Mengingat-ingat kejadian sebelum Ardhi datang ke bengkel itu.
"Gak ada tu bang, kalau pakai hijab. Tapi, kalau pakai songkok ada. Itu Ibu-ibu mau ke sawah." Ujar si pemilik bengkel.
"Oohh... Yang ku cari gak mau ke sawah." Jawab Ardhi polos, dan berdecak kesal. Ke mana sih, istrinya itu pergi. Kalau gak ketemu gimana? pasti akan ribut nantinya di rumah orang tua Melati.
"Siapa nama cewek yang Abang cari? koq nyarinya ke sini?" Tukang bengkel menatap heran, Ardhi yang nampak frustasi.
"Abang nabo goreng pisang naon." (Bang, ini goreng pisangnya). Tiba-tiba saja seorang wanita keluar dari dalam bengkel membawa piring berisi goreng pisang.
Seketika kedua pria itu menoleh ke belakang, ternyata istri si pemilik bengkel.
"Ise do bayoi? ( Siapa pemuda itu?) bisik istri tukang bengkel pada suaminya. Setelah pemilik bengkel meminta Ardhi duduk juga di lesehannya.
"Inda hu boto." (Gak tahu). Jawab si tukang bengkel.
"Cari apa bang?" tanya istri si tukang bengkel lada Ardhi.
"Cari istri saya kak. Tadi minta turun di sini. Eehh tiba-tiba ngehilang." Jawab Ardhi apa adanya. Mau ditertawai, ditertawailah situ. Dia sudah pusing, mau cari ke mana.
__ADS_1
"Bah.... Abang orang mana rupanya dan mau ke mana?" tanya wanita itu balik.
"Mau ke rumah mertua, dari Medan." Jawab Ardhi tersenyum ramah.
"Di mana rumah mertuanya Abang?" tanya si wanita itu. Ardhi pun menghela napas dalam. Mana dia tahu di mana rumah nya Pak Samsul.
"Assalamualaikum...!" seorang ibu muda yang menyandang kadangan datang ke bengkel.
"Walaikun salam..!" Jawab istri pemilik bengkel dengan tersenyum. Ternyata yang datang adalah teman satu geng.
"Oiihh kele, adog goreng." Wanita itu pun menyomot satu goreng pisang.
Ardhi yang merasa tak perlu berlama-lama di tempat itu, memilih permisi. Tapi, baru dua langkah dia menjauh dari pondok itu. Kupingnya tertarik untuk mendengar lebih jelas percakapan kedua wanita yang lagi makan gorengan itu
"Si Melati, na jadi pembantu di kota i. Na hamil dibaen majikan nai. Jadi kele kawin dohot majikan nai. On ma sadarion, Madung ro boa-boa na tu Bagas. Annon siang, mangido doa halaki kotu ni Ari." (Si Melati, yang pembantu di kota itu, yang hamil dibuat majikannya. Jadi juga menikah dengan majikannya itu. Tadi baru datang ke rumah mengundang, nanti siang mau ada acara syukuran.)
Ardhi sedikit mengerti dengan apa yang dibicarakan kedua wanita itu. Nama Melati disebut-sebut, terus ada kata hamil, majikan dan kawin. Sepertinya kedua wanita itu benar telah menggunjing.
"Padahal sempat waktu i get gagal pernikahan nai. Harana, ro ninna adaboru naparjolo ni majikannai tu acara nai." (Padahal waktu i sempat gagal pernikahan nya itu, karena dilabrak istri pertama majikannai)
"Oiihh ... kasihan si Melati jadi istri simpanan."
Ardhi pun akhirnya memilih pergi dari tempat itu. Seperti nya apa yang dialami Melati sudah jadi bahan gosip di kampung. Berita yang tersebar kebanyakan tidak benar.
Ardhi menarik napas dalam, sambil berjalan ke arah mobilnya, berharap Melati tiba-tiba sudah ada di dalam mobil. Ardhi membuka pintu mobilnya. Melati tak ada di tempat itu. Dia pun berniat menghubungi sang istri. Ternyata tasnya ketinggalan di dalam mobil. Ponsel Melati yang dihubungi terdengar nyaring di dalam tas Melati.
Ardhi memilih duduk di tepi sawah itu. Mendaratkan bokongnya, di rerumputan ilalang. Menatap indahnya pemandangan hamparan sawah, yang padinya masih hijau sebagian, dan sebagian lagi sudah menguning.
Dia perlu menenangkan diri, sebelum mengambil tindakan berikut nya. Tidak mungkin istrinya itu menghilang. Palingan juga istrinya itu pulang sendiri ke rumahnya. Karena tak mau dekat dengannya.
Saat sedang menikmati indahnya ciptaan Allah di hadapannya. Mata tertarik untuk melihat seorang wanita yang duduk bersandar di sebuah pondok, membelakangi jalan lintas itu
Ardhi mengucek-ucek matanya. Guna memperjelas, apa yang dilihatnya. Warna hijab dan pakaian yang dikenakan orang yang duduk di pondok itu, sama persis dengan apa yang dikenakan oleh istrinya itu.
Dengan perasaan legah serta penasaran. Ardhi bangkit dari duduknya. Mukai melangkah melewati batangan sawah yang terlebih dahulu dia harus melompat melewati irigasi.
__ADS_1
Semakin dekat jaraknya, jelas sudah kalau itu Melati. Ardhipun mengelus dadanya yang dari tadi berdebar-debar. Karena takut, terjadi hal buruk pada Melati.
"Adek di sini?" Melati langsung melap air matanya. Disaat menyadari keberadaan Ardhi di hadapannya.
Ardhi pun mendudukkan bokongnya di pondok itu, dengan kedua kakinya menggantung.
"Di sini pemandangan nya sangat indah ya? ada gunung, bukit, sawah yang luas. Pohon-pohon kelapa." Ucap Ardhi memulai percakapan dengan Melati yang wajah nya sedih itu. Pria itu tidak menatap ke arah Melati. Tapi, memandangi, menikmati hembusan angin sepoi-sepoi, yang membuat hatinya seketika jadi adem.
Melati diam saja, sesekali wanita itu melap ingusnya dengan sapu tangan nya.
Akhirnya Ardhi pun memilih untuk diam. Basa basinyi tidak direspon. Dia juga takut, untuk banyak bicara. Nanti salah ucap lagi, yang membuat istrinya itu marah.
"Maaf tuan, tadi aku bicaranya keras "
Syur..... Syur.,. dag..
Ardhi langsung menoleh ke arah Melati yang meminta maaf padanya dengan nada lembut itu.
Tentu saja rawut wajah sumringah terlihat jelas di wajah nya yang tampan.
"Bicara itu gampang tuan. Mengatakan untuk sabar kepada orang lain itu mudah. Aku juga sudah sering menanamkan dalam hati, agar ikhlas menerima kenyataan. Tapi, aku manusia biasa tuan. Punya perasaan dan emosi. Terkadang perasan kita bisa berubah karena sesuatu hal. Misalnya ucapan yang menyudutkan."
Ardhi menatap lekat Melati yang bicara dengan tatapan lurus ke depan, pikiran wanita jauh menerawang. Sama sekali tidak menatap ke arahnya. Wanita itu sepertinya mengeluarkan semua kegundahan di hatinya.
"Aku korban pemerkosaan. Aku di kampung sudah jadi bahan gosip. Aku hamil dengan morning sick yang parah. Ini berat tuan. Harusnya, kalau benar akan menikah. Kita menikah di kota saja. Dan tuan harusnya mengatakan padaku, kalau sudah melamar ku. Jadi, aku tak memberi harapan pada Abang Ilham."
Air mata mengucur deras dari mata sembabnya nya Melati. Tak ada suara raungan lagi. Itu sebagai tanda, kalau wanita itu sangat tertekan dan menderita.
Bagaimana tidak tertekan. Tadi pagi, setelah mandi. Dia berniat mencari udara segar ke taman. Kupingnya tak sengaja mendengar para pelayan menggunjing dirinya. Di ruang laundry, saat dia melintas di koridor mau ke taman. Dia dikatakan merantau ke kota menjual tubuhnya untuk menggaet pria kaya. Om om atau orang kaya hidung belang.
Fitnah itu sangat kejam. Berita itu membuat Melati jadi down dan frustasi. Sekarang dia jadi malu untuk pulang ke rumah Pak Samsul. Dia tidak akan sanggup melihat tatapan orang orang padanya.
TBC
Like dong
__ADS_1
coment positif dong
vote ya!🤗