DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Tinggal berdua


__ADS_3

Tara memperhatikan Embun yang berjalan ke arah kopernya yang terletak di sudut kamar itu.


"Di ruang ganti ada pakaian untuk Adek. Pakai itu saja." Ucap Tara memperhatikan Embun yang mengobrak-abrik kopernya.


Embun menoleh ke belakang. "Aku punya pakaian sendiri, tidak usah repot-repot menawarkan pakaian untukku." Ketus Embun, melanjutkan kegiatannya, memilih baju yang cocok untuk dipakai.


"Seorang suami berkewajiban memenuhi kebutuhan istrinya, termasuk sandangnya."


"Iya, Aku tahu gak usah berceramah dan sok-sok jadi suami sungguhan. Nanti minta hak pula kamu kepada saya. Ingat perjanjian.... Aku ini hanya milik Mas Ardhi, Ardhi Shiraz. Cam kan itu...!" Ucap Embun tegas dengan mata melotot.


Seerrr....


Darah Tara rasanya tumpah ruah. Ucapan Embun begitu menyakitkan. Dia pun memilih mengakhiri pertengkaran dengan masuk ke kamar mandi. Mendinginkan kepalanya yang sudah panas ke ubun-ubun dengan mengguyurnya dengan air dingin.


Tara keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Tangan kanannya sibuk mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


Dia melirik Embun yang sibuk dengan ponselnya.


Sedikit pun Embun tidak menoleh ke arah Tara yang baru keluar dari kamar mandi itu. Dengan lemasnya Tara masuk ke ruang ganti. Dia sakit hati, karena Embun sibuk melihat foto-foto pacarnya Ardhi Shiraz.


Saat Tara di ruang ganti, Embun keluar dari kamar. Menuruni anak tangga dengan perasaan gugup. Dia tergolong anggota baru di keluarga ini. Walau Embun sepupunya Tara. Tapi, rumah ini, sangat asing buat Embun.


"Sayang, mana Tara? kenapa turun sendirian?" tanya Mama Mira, menghampiri Embun yang kini sedang bengong di pembatas tangga.


"Iiitu Bou, Abang Tara sedang bersiap-siap untuk turun. Abang Tara mengatakan agar Aku duluan turun." Jawab Embun sedikit kikuk dan malu-malu. Lidahnya rasa terkilir karena membuat sebutan Abang kepada Tara.


"Oh, apa Dia sudah mandi?"


"Iya Bou baru saja selesai." Jawab Embun tersenyum ramah.


"Seorang istri yang baik itu memberi pelayanan yang baik untuk suaminya. Termasuk menyiapkan pakaiannya." Seorang wanita paruh baya ikut nimbrung. Dia adalah Inangnya Embun.


Mama Mira tersenyum kepada adik iparnya itu. "Tara itu suami idaman loh Embun. Dia baik, tampan dan kaya raya. Kamu harus bisa melayaninya dengan baik, agar kelak Dia tidak mencari wanita lain untuk melayaninya." Ucap Inangnya Embun dengan serius.


"Apa sih kamu ini Eda? kita tidak usah mengatakan itu kepada Embun. Dia Boru Batak, yang tahu bagaimana cara melayani dan menghormati suaminya. Eda Nur Mamanya Embun, pasti sudah mengajari Embun." Mama Mira merangkul Embun, mengajaknya ke dapur.


Embun terharu mendengar pembelaan Ibu Mertuanya itu. Sempat Ibu mertuanya tahu, kalau Embun selalu kutang ajar kepada Tara. Maka, yang akan malu bukan Embun saja. Tapi, orang tuanya Embun. Karena dianggap gagal mendidik putrinya.


Inangnya Embun mengekor di belakang.


"Aku hanya mengingatkan saja. Tara punya segalanya. Otomatis, tanpa Embun bekerja. Tara bisa memenuhi semua kebutuhannya Embun. Jadi, sudah seharusnya Dia melayani suaminya. Karena suaminya sudah capek kerja.


"Kecuali tadi, Tara tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dan istri membantu mencari nafkah, ya otomatis semua pekerjaan rumah harus berbagi. Inikan tidak, ya kamu Embun harus bisa menyenangkan hati Tara. Agar Dia makin cinta samamu dan tidak melirik wanita lain." Jelas inang Embun panjang lebar. Embun hanya tersenyum kecut.


"Aku malah Ingin Dia melirik wanita lain." Ucap Embun tanpa sadar dalam kekesalannya.

__ADS_1


"Apa? kamu bilang apa tadi sayang?" tanya Mama Mira dengan ekspresi kagetnya.


Embun tersadar dengan ucapannya. Dia pun ngeles. Dengan cengir kuda.


"Aku tidak ingin Abang Tara melirik wanita lain Bou." Jawab Embun, merangkul Bounya. Guna menutupi rasa bersalahnya.


"Oohh, tapi, Bou dengarnya bukan begitu."


"Masak sih? Bou salah dengar kali." Ucap Embun dengan tersenyum.


"Kamu sudah sehat sayang?" Kali ini Mama Mira kembali menempelkan punggung tangannya di kening Embun.


Senyum mengembang menghiasi wajah Embun. Dia merasa bahagia, atas perlakuan Mama Mira yang begitu pengertian padanya


"Sudah mendingan Bou. Tapi, mulut terasa pahit." Jawab Embun berniat membantu ART memasak, dengan mengambil alih spatula dari tangan Bi Limah. Saat ini Bi Limah sedanng memasak makanan kampung. Yaitu sayur daun ubi tumbuk.


Tiga hari berpesta, membuat mereka bosan makan daging. Sehingga menunya berganti jadi ikan asin dan daun ubi tumbuk tentu saja ada sambal tuk tuk nya. Walau masih ada makanan olahan daging lainnya. (Yang penasaran apa itu sambal tuk tuk boleh di searching di google)


"Kak, ini cabenya gak usah di goreng ya. Begini saja, terus diiris bawang merah dan ditetesi air asam." Ucap Embun, melihat cabe halus di wadahnya.


Mama Mira senang melihat menantunya langsung akrab, bahkan dengan ART. Dia memang tidak salah memilih calon menantu untuk Tara. Mereka yang berasal dari kampung, walau sudah kaya raya. Tapi, tetap menanamkan kebiasaan orang di kampung.


"Iya Non, nanti saya buat juga sambal seperti itu." Ucap Bi Limah.


"Ada juga toh, sambal tuk tuk Bi?" tanya Embun dengan senangnya. Makanan itu bisa menggugah selera.


"Ayo sayang, kita ke ruang keluarga saja. Kamu belum sehat betul, tidak usah ikut memasak " Ucap Mama Mira. Menggiring Embun menuju ruang keluarga. Disana semua anggota keluarga besar sedang menonton video acara Margondang.


Suara tawa terdengar meriah, karena banyaknya video lucu yang terekam. Dan Tara juga sudah ada di ruangan itu, ikut tertawa terpingkal-pingkal.


"Nonton apa sih?" tanya Mama Mira duduk di sebelah Tara. Sedangkan Embun memilih posisi duduk sedikit jauh dari Tara. Tepatnya duduk di sebelah Ompung Boru mereka.


"Nonton acara pesta semalam Ma." Jawab Tara pendek.


"Apa sudah selesai videonya?" tanya Mama Mira bingung, cepat sekali videonya selesai.


"Belum Ma, kan yang jadi cameramen si Aldi, Dia sedang memutar videonya untuk digabungin." Jawab Tara, celingak-celinguk mencari keberadaan Embun. Saat matanya mendapati istrinya itu. Dia tersenyum manis. Apalagi Dia melihat keakraban Embun dan Ompung mereka.


"Ompung bahagia sekali sayang, lihat kamu menikah dengan Tara." Ucap Ompung Boru mereka, menggenggam jemari kanan Embun.


Embun tersenyum, Tapi, hatinya kesal mendengar nama Tara disebut-sebut.


"Iya Ompung." Embun memeluk Ompungnya itu.


Kemudian mereka makan bersama dengan menggelar tikar. Semuanya nampak semangat makan karena menunya adalah makanan kampung. Apalagi Tara, ini yang paling ditunggu-tunggu nya kalau sudah di kampung.

__ADS_1


"Embun, layani Tara." Ucap wanita paruh baya dari saudara Mama Mira, yang juga adalah Nangudanya Embun.


Embun terkejut, kemudian menoleh ke arah Tara.


"Ooh Iya Nanguda." Jawab Embun cepat, menyendokkan nasi ke piring Tara sampai menggunung. Dia asyik melamun dan tidak konsen. Sehingga Dia terus saja memenuhi piring Tara.


"Kamu mau buat Tara gendut?"


"Apa?" Embun yang tidak konsentrasi itu, melihat piring Tara yang sudah menggunung dengan mata melotot.


"Maaf, akan saya kurangi." Embun hendak mengurangi nasi di piring Tara. Tapi, Tara melarangnya.


"Tidak usah, kita makan nasi ini bersama-sama." Ucap Tara mulai mengambil wadah sayur daun ubi tumbuk. Embun kesal dalam hati. Tapi, Dia menyembunyikannya dengan senyum lebar.


"Aku punya piring sendiri." Jawab Embun lembut. Tara tersenyum, kalau Embun bersifat lembut dan malu-malu begini. Jadinya menggemaskan sekali.


"Iya bagus itu, kalian makan sepiring berdua saja. Ayo Tara suapi Embun." Lagi-lagi keluarga besarnya Tara memprovokasi.


Dengan dongkolnya, Embun menerima suapan dari Tara. Dan akhirnya mereka makan suap-suapan.


Seharian penuh keluarga ini habiskan waktu bercengkrama di ruang keluarga, kemudian berpindah ke taman belakang. Hingga waktu makan malam pun tiba.


Lagi-lagi Embun dan Tara dipaksa harus makan sepiring berdua. Sungguh kekesalan Embun saat ini sudah menumpuk.


"Makan dari tangan suami atau istri kita itu, rasanya nikmat sekali. Nasi sepiring penuh tidak terasa sudah ludes." Celoteh Ompung Boru, sambil mengkhayal dengan raut wajah tersenyum.


"Ompung jadi ingat, dulu saat masih belum punya apa-apa. Ompung dan Ompung Dolimu, selalu makan sepiring berdua. Tidur beralas karpet berukuran 140cmx180cm. Iya kan Pung?" raut wajah Ompung Boru bersedih, mata rabunnya berkaca-kaca.


"Sudah, masa lalu yang pahit tidak usah diingat-ingat." Jawab Ompung Doli.


Semuanya menampilkan raut wajah sedih, ya keluarga Pak Baginda bukanlah Keluarga kaya. Tapi, karena Mama Mira menikah dengan Pak Ahmad, Ayahnya Tara keturunan Turkey itulah yang membantu keluarga Mama Mira. Sehingga perekonomiannya terbantu dan meningkat.


Pak Ahmad adalah pengusaha sukses dan kaya raya. Apalagi setelah menikah dengan Mama Mira, usaha mereka semakin maju pesat.


Setelah makan malam, semuanya masih bercengkrama di ruang keluarga. Hingga satu persatu anggota keluarga itu pun berpamitan dengan urusan masing-masing.


Tinggallah Embun dan Tara saja di rumah itu. Bahkan semua ART mereka hilang mendadak


"Kenapa semuanya pada pergi?" tanya Embun dengan bingungnya pada Tara yang asyik nonton Moto GP.


"Apa? semuanya pergi? berarti tinggal kita berdua dong? asyikkk.....!" goda Tara mengedipkan sebelah matanya kepada Embun. Dia pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Embun yang berdiri tak jauh darinya.


"Mau apa kamu? jangan mendekat." Embun menghadang Tara dengan tangannya.


"Kamu jangan macem-macem." Embun hendak berlari. Tapi Tara menahan tangan Embun dengan kuat.

__ADS_1


TBC.


Like,, coment dan vote dong say❤️


__ADS_2