DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Munmen


__ADS_3

"Tidak perlu, adik pulang saja." Ardhi pun akhirnya membopong Melati masuk ke IGD.


"Tu--- an, tuan, aku ingin ke kamar mandi sekarang!" ucap Melati dengan wajah kecutnya. Dia sudah tidak bisa menahan lagi. Sesuatu yang mendesak keluar dari anusnya.


Ardhi jadi panik, karena ekspresi wajah Melati memang nampak memperihatinkan. Wajah pucat dipenuhi bintik-bintik keringat di dahi. Tubuh Melati juga terasa dingin.


"I--ya, iya." Jawabnya berlari cepat ke ruang IGD.


"Mana toilet, mana toilet..!" teriak Ardhi, perawat yang berjaga di ruang IGD, dengan cepat menunjukkan di mana letak kamar mandi. Ardhi dengan cepat masuk ke kamar mandi. Bingung, sangat bingung, sehingga dia memutar-mutar tubuhnya Melati di dalam toilet itu. Padahal Melati minta diturunkan.


"Tuan, tuan turunkan saya." Melati berontak ingin turun. Akhirnya Ardhi pun menurunkan Melati.


"A--ku, aku.. tuan keluarlah." Ucap Melati gugup dengan muka beraknya. Ardhi pun mengerti setelah melihat Ekspresi wajah kusutnya Melati. Dia keluar dan Melati buru-buru menutup pintu kamar mandi itu.


Dan blusssnhh.....


Melati mencret.... Perutnya terasa sangat mulas dan membelit. Dia merasa kesakitan sekali. Lama Melati berada dalam toilet itu. Karena kotoran dari perutnya terus saja mengucur keluar.


Merasa sedikit baikan, Melati menyingsingkan lengan bajunya. Membuka hijab sorongnya dan menggantungkannya. Dia merasa sangat sumuk dan gerah. Dia pun mulai membasuh wajahnya berulang kali, sampai merasa segar.


Merasa sedikit baikan. Melati menyandarkan tubuh lemahanya di dinding toilet itu. Dia merasa tidak bertenaga, badannya juga terasa sakit semua. Dia pun mulai merasa demam.


Melati berusaha menenangkan dirinya. Baru juga lima menit dia selesai mencret. Kontraksi di usus besarnya kembali terjadi. Rasanya sangat sakit. lagi-lagi Melati harus membuang kotorannya yang bercampur bakteri jahat itu.


"Ya Allah, ini sangat sakit. Aku muntah mencret." Lirihnya, kembali berdiri dengan keringat sebiji jagung sudah membasahi keningnya. Bahkan rambutnya sudah lepek, karena kepala nya juga sudah basah karena keringat.


Ardhi mondar-mandir menunggu Melati di luar toilet. Pria itu jadi kasihan kepada Melati. Dia beranggapan Melati seperti itu, karena sedang hamil anaknya. Ardhi yang tadinya menikahi Melati, hanya untuk melepas tanggung jawab. Jadi tidak tega.


"Shiiiittt... sialan, kenapa sih aku harus mabuk malam itu?" ucapnya memukul dinding dengan kesalnya. Dia lagi-lagi mengutuk dirinya. Gara-gara dia. Melati harus menderita, dan Melati harus pisah dari pria yang dicintainya.


Haruskah dia memberikan Melati pada Ilham? karena Melati dan Ilham saling mencintai. Melati akan bahagia bersama Ilham. Dia belum tentu bisa membahagiakan Melati. Dia tidak mencintai Melati. Begitu juga dengan Melati, tidak mencintainya. Bahkan Melati takut melihatnya. Tapi, jika itu dilakukannya. Berarti dia akan melakukan kesalahan dan kebodohan untuk kedua kalinya. Dulu, dia memberikan Embun pada Tara.


Ardhi menggeleng, dia tidak akan memberikan Melati pada Ilham. Dia akan tetap menikahinya. Mempertanggung jawabkan perbuatannya. Akan berbuat baik dan tulus pada Melati, sehingga wanita itu tidak ketakutan lagi padanya.


"Aarrgghhhhhh....!" Ardhi kembali berteriak dengan frustasinya. Memikirkan itu semua membuat kepalanya makin sakit. Sanggupkah dia bersikap baik dan perhatian pada Melati nantinya.


Mendengar teriakan Ardhi. Perawat pun menghampirinya. "Bapak kenapa?" tanya perawat bingung. Perawat mengira, Ardhi sedang kesakitan, sehingga butuh pertolongan medis.


"Tidak apa-apa sus?" ucapnya dengan ekspresi wajah datar. Memalingkan muka dari suster.


"Apa ibu yang mau berobat masih di dalam?" tanya suster ramah. Ardhi mengangguk, masih dengan ekspresi wajah datarnya.

__ADS_1


"Iya Pak." Susterpun pergi dari toliet itu.


Kreekkk...


Pintu toilet pun terbuka. Melati kembali terkejut melihat Ardhi yang masih berdiri menunggunya. Melati benar-benar merasa terancam apabila melihat Ardhi. Bayang-bayang malam kelam dan perbuatan Ibu Jerniati padaya. Membuatnya benar-benar traumah. Mendengar nama Ardhi saja, jantungnya sudah hendak copot dari tempatnya. Saking takutnya wanita itu. Apalagi kalau Berti langsung.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Ardhi dengan paniknya. Ardhi jelas melihat Melati dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tapi, pertanyaan pria itu sungguh tidak berbobot.


Melati menggeleng, dia benar-benar butuh pertolongan sekarang. Badannya terasa sakit dan tidak bertenaga.


Melati mencoba melangkahkan kakinya. Menahan sakit kepala yang pusing tujuh keliling. Dia juga merasa air liurnya sudah pahit.


"Ayo." Melati refleks menepis tangan Ardhi yang hendak memapahnya. Dia melakukan itu tanpa sadar. Dia benar-benar takut pada Ardhi.


"Saya akan membantumu. Gak usah takut ya?!" Ardhi kembali mengarahkan tangannya untuk merangkul Melati dari samping. Menuntun wanita itu untuk keluar dari kamar mandi.


"Sus, tolong periksa dia." Ujar Ardhi keras. Suster pun akhirnya mengambil alih untuk membawa Melati ke ruang tindakan.


Meminta Melati berbaring di bed. Saat Melati hendak berbaring, dia kembali merasakan perutnya mules tak tertahankan.


"Sus, saya mencret." Ucapnya dengan rawut wajah menahan sakit.


"Ayo, kesini." Di ruangan itu, ada toilet. Lagi-lagi Melati harus mengeluarkan tinja encernya ya g aromanya sudah tidak jelas lagi.


Sementara Ardhi di ruang tindakan sedang diinterogasi Suster dan Dokter. Kenapa wanita yang dibawanya ke rumah sakit itu bisa mencret. Ardhi yang tidak tahu apa-apa itu hanya menjawab singkat dan padat.


"Aku tidak tahu sus." Jawaban singkat dan dingin, Ardhi membuat Dokter dan Suster terdiam.


Merasa sedikit plong, Melati keluar dari kamar mandi. Dengan memegangi perutnya yang terasa sakit itu. Suster dengan cepat memapah Melati. Menuntun Melati untuk berbaring di bed.


Melati yang masih takut kepada Ardhi itu, langsung memalingkan wajahnya. Disaat Ardhi mendekatinya saat diperiksa. Salah satu penyebab Melati mencret adalah Ardhi. Wanita itu setres jikalau berkomunikasi dengan Ardhi.


Suster mulai memeriksa tekanan darah Melati, denyut nadi, serta memperhatikan pembuluh darah Vena wanita itu yang nampak jelas terlihat di pergelangan tangannya.


"Baju ibu busuikan?" tanya suster ramah. Pertanyaan suster membuat Melati sedikit bingung. Dia tidak ngeh dengan istilah busui.


"Apa maksudnya sus?" Melati nampak bingung dan semakin takut. Karena, Ardhi mendekat ke arahnya. Ardhi ingin tahu lebih jelas, apa yang ditanyakan suster pada Melati.


"Gamis ibu ini ada kancingnya di bagian dada?" Suster masih tersenyum. Melati mengangguk lemah. Melirik Ardhi dengan ketakutan tingkat tinggi. Mana mungkin dadanya diperiksa padahal Ardhi disebelahnya.


"Kita periksa rongga dada Ibu dulu. Sekarang Ini buka kancing gamisnya ya?" Melati semakin ketakutan, dia kembali melirik Ardhi. Pria itu pun tahu apa maksud dari tatapannya Melati. Ardhi menjauh, mendudukkan. bokongnya di kursi yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


Suster mulai memeriksa dadanya Melati. Dokter berjenis kelamin wanita yang ada disampingnya suster juga ikut melihat dadanya Melati. Dokter dan Suster manggut-manggut.


"Ibu Mencret ya?" tanya Dokter ramah.


"Iya dok, muntah-muntah juga." Jawab Melati polos.


"Baiklah, maaf ya Bu. Kita periksa perutnya dulu. Mungkin Ibu mencret karena masuk angin." Suster menaikkan gamis Melati ke atas. Syukur wanita itu memakai leging.


"Perut Ibu kembung." Ucap Dokter, terus memeriksa perut Melati dengan stetoskop. "Banyak angin di perut. Ibu gak makan pagi ya?" tanya Dokter lagi.


"Iya Dok." Jawab Melati lemah. Ardhi yang mendengarnya jadi sedih. Dia yakin, Melati melewatkan makannya, karena dia datang terlalu pagi ke rumahnya Embun. Niatnya mau mengembalikan anting.


"Ibu sedang hamilkan?" Dokter menurunkan gamisnya Melati. Ucapan Dokter kembali membuat jantung Melati berdebar kencang. Dia takut dan tidak siap, jika orang menanyakan atau membahas kehamilannya.


"Ini istri bapak? atau pacar bapak, yang bapak hamili?" Duar..... ucapan Dokter itu tanpa filter. Ardhi diam saja, tidamenanggapi ucapan Dokter. Dia juga kesal, jika masalah itu dibahas.


"Ibu hamilkan?" Dokter kembali menatap ke arah Melati. Melati yang lagi tertekan itu, malah diam.


"Iya, ibu hamil ini. Tanda-tanda kehamilan ada pada Ibu. Lihatlah payudara ibu, pembuluh darahnya begitu menonjol, perut ibu juga. Apa ibu tidak tahu, kalau ibu sedang hamil?" Melati kembali terdiam, ingin rasanya dia menangis mendengar banyaknya pertanyaan Dokter itu.


Melihat Melati menunjukkan ekspresi wajah sedih. Sang Dokter sadar, ucapannya yang tegas dan menyudutkan itu, mempengaruhi mood Melati.


"Ibu sudah berapa hari telat datang bulan?" ucap Dokter ramah. Membuka maskernya dan menampakkan wajah penuh empati.


"Dua Minggu Dok." Jawab Melati dengan menitikkan air mata.


Sang Dokter sempat menampilkan ekspresi wajah tidak bersahabat. Karena, dia curiga Ardhi dan Melati adalah pasangan muda-mudi yang terjerumus dalam pergaulan bebas. Jadi, dia sempat kesal.


"Perut ibu Kembung. Tingginya kadar hormon progesteron dapat menyebabkan terjadinya perut kembung pada wanita hamil. Karena, disaat hamil hormon progesteron diproduksi banyak oleh tubuh. Ditambah tadi Ibu bilang tidak makan pagi." Jelas Dokter, melirik Ardhi dengan tatapan tajam.


"Ibu dirawat saja ya? kalau sudah ada tenaga dan tidak mencret lagi. Nanti, ibu harus diperiksa Dokter Obgyn." Melati mengangguk lemah, mendengar ucapan Dokter. Dokter berjalan menghampiri Ardhi, menatapnya tajam.


"Dibawa nanti kekasihnya ke Dokter kandungan ya Pak." Ardhi yang terkejut mendengar ucapan Dokter, menanggapi ucapan dokter dengan tersenyum tipis dan mengangguk.


Dokter keluar dari ruangan tindakan. Saat itu juga, Melati kembali merasakan mules. Dia pun akhirnya dibantu suster masuk ke kamar mandi. Suster dan Ardhi menunggu di luar


"Bang, adek itu harus dirawat. Abang hubungi keluarga nya. Bawakan barang-barang yang diperlukan. Adek itu munmen, dia harus bersih, agar cepat sembuh. Takutnya nanti, bisa membahayakan janinnya. Kalau terus-terusan mencret dan muntah. Bisa dehidrasi dia. Jadi, Bajunya juga harus diganti." Jelas suster ramah. Suster itu tidak mau tahu, apakah Melati itu istrinya Ardhi atau kekasihnya. Dia hanya ingin keselamatan Melati.


"Iya Sus." Jawabnya dengan menunduk.


TBC.

__ADS_1


Like, coment dan vote.


__ADS_2