DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Ikhlas


__ADS_3

"Abang akan antarkan Adek ke dalam." Tara turun dari mobil. Mengitari mobil mewahnya itu. Kemudian membuka pintu mobil untuk Embun.


Embun menatap sedih Tara yang menjulurkan tangannya kepada Embun. Berulang kali Embun menatap wajahnya Tara, kemudiam beralih menatap uluran tangan suaminya itu. Rasanya sangat berat langkah kaki Embun untuk masuk ke dalam hotel.


"Ayo turun dek! waktu Magrib hanya sebentar. Kita sholat dulu." Ucap Tara datar, kemudian pria itu menarik uluran tangannya. Tara merasa sedih, karema Embun tak kunjung mau menyambut uluran tangannya. Tara beranggapan Embun masih menganggapnya najis.


Saat Tara menarik tangannya yang mengatung di udara. Saat itu juga Embun ingin meraih uluran tangan suaminya itu. Akhirnya Embun malu sendiri, karena kini tangannya yang mengatung di udara.


Tanpa banyak basa-basi lagi, Tara pun berjalan cepat masuk ke dalam hotel. Embun mengekorinya dengan perasaan sedih. Dadanya sudah terasa sangat sesak. Dia tidak ingin Tara membencinya. Apalagi mereka akan berpisah.


Apakah terjadi hukum karma? dulu dia begitu membenci Tara. Dan sekarang Tara yang membencinya.


Embun menatap lemas Tara yang masuk ke kamar mandi mushollah hotel itu. Dia begitu kagum dengan suaminya itu. Walau tangannya masih terluka, suaminya itu tidak lupa untuk beribadah. Beda dengan dirinya, yang sering lupa untuk sholat.


***


Setelah melaksanakan sholat Magrib. Embun merapikan penampilannya. Bermake-up natural saja, sudah membuatnya kelihatan sangat cantik.


Merasa penampilannya sudah ok. Di


ia pun keluar dari mushollah. Embun merasa senang, mendapati, Tara menunggunya di luar. Wanita itupun mendekati suaminya itu.


"Aku sangat lapar." Embun mengadu, sambil memegangi perutnya. Wajahnya memelas. Tara dibuat tercengang dengan ucapan istrinya itu. Kenapa istrinya itu masih menempel padanya. Kenapa istrinya itu tidak mencari keberadaan kekasihnya di hotel ini.


Walau Ardhi mengatakan bertemu jam delapan. Biasanya orang yang lagi dimabuk cinta, pasti tidak sabar untuk bertemu dengan kekasihnya.

__ADS_1


"Aku lapar, ingin makan!" seru Embun lagi, dia melihat Tara tidak fokus.


"Oohh Adek lapar? baiklah kita makan dulu." Embun langsung menggandeng tangan Tara, menuju restoran. Tara melirik Embun yang tersenyum padanya. Pria itu tidak menepis tangan istrinya itu. Tapi, dia juga tidak menyambut hangat perlakuan manjanya Embun.


Setelah sampai di restoran Hotel. Pasangan suami istri itu duduk berhadapan. Embun selalu mencuri-curi pandang, kepada Tara yang sibuk memesan menu makan malam mereka. Entahlah, dia jadi merasa salah tingkah sekarang terhadap suaminya itu.


"Pesan mujair asam manis, cah kangkung, mie tiaw lada hitam." Ucap Tara pada pelayan. Ya, makanan di hotel itu masih memanjakan lidah pribumi. Masih menyediakan makanan kampung. Tara sangat suka menu mujair asam manis di hotel ini.


"Adek pesan apa?" Tara akhirnya bertanya sendiri pada istrinya yang nampak bengong itu. Embun seperti orang kehilangan ruhnya. Wanita itu lagi bimbang sekarang. Berat rasanya berpisah dari Tara. Tapi, dia keburu memilih Ardhi. Ditambah, dirinya sekarang tidak percaya diri. Untuk mendampingi Tara. Karena kelakuan tidak sopannya, selama ini pada suaminya itu.


"Aku sama saja dengan apa yang Abang pesan. Cuma tambahnya aku pesan ice cream spesial dari restoran ini." Ucapnya tersenyum tipis, menatap sendu Tara yang sikapnya tidak hangat lagi padanya.


"Kalau begitu ikan mujairnya yang beratnya dua kilogram ya dek." Tara mereview pesanannya. Dia sangat lapar sekali. Dia ingin makan banyak.


"Nasinya berapa porsi ini pak?" sang pelayan ingin kejelasan pesanannya Tara.


"Tolong mata dikondisikan. Ada istrinya disini!" seru Embun, merapatkan giginya saat mengatakan itu.


Kening Tara menyergit mendegar ucapan istrinya itu. Kenapa disaat mau berpisah, istrinya itu. Mengaku-ngaku sebagai istrinya?


"Abang tinggal sebentar, Abang ke sana." Tara menunjuk Pak Budi yang sudah makan dipojokan. Embun mengikuti gerakan tangan nya Tara. Wanita itupun mengangguk.


Tara beranjak dari tempat duduknya, menyamperin pak Budi yang sudah makan. Dia ingin memerintahkan Pak Budi mengambil obatnya di mobil.


Lima menit berlalu.

__ADS_1


Grapp... tangan kokoh kini menutup kedua mata Embun dari belakang. Bibir wanita menyungging ke atas, tersenyum bahagia, karena mencium wangi parfum yang dikenalnya. Ini adalah parfumnya Tara suaminya itu.


Embun memegang tangan yang menutupi kedua matanya. "Iseng banget sih?" ucap Embun dengan hati menduga-duga. Suara manja kini lolos dari mulut mungilnya. Merasa senang dikerjai Tara dari tadi dengan sikap dingin nya. Dan sekarang sok romantis.


"Iseng, koq iseng sih sayang. Mas serius, tidak pernah iseng dengan hubungan kita." Mendengar suara yang dikenalnya itu, membuat Embun terserang jantung. Degupannya sangat cepat dan kuat.


Tubuh wanita itu membeku, sekujur tubuhnya terasa lemas, Embun insecure. Reaksi apa yang diberikan oleh tubuhnya ini. Harusnya dia bahagia, tapi kenapa dia malah merasa sedih.


"Mas...!" lirih Embun dengan mulut gemetar. Ardhi Langsung memutar tubuh Embun dan langsung memeluknya erat Ardhi begitu bahagia, kesabarannya berbuah manis. Kekasihnya kembali padanya.


Tara yang sedang berada di tempat Pak Budi. Hanya bisa melihat keromantisan adegan yang ditampilkan Ardhi dan Embun dengan mengelus dada. Sakit hati, tentu pria itu sakit hati. Kecewa, jelas saja pria itu kecewa. Tapi, mau bagaimana, istrinya itu tidak bahagia bersama.


Sabar-- tenang--- tarik napas! Tara membathin dengan mengepal tangan. Saat ini kedua matanya terasa terbakar, melihat istrinya dipeluk pria lain. Sungguh rasanya sakit sekali, seperti luka yang ditetesi oleh air jeruk.


"Oohhh Pak Tara," Ardhi melambaikan tangan nya kepada Tara. Kelakuan Ardhi yang masih merangkul Embun. Membuat pria itu tidak bisa berlama-lama di tempat itu. Dia merasa hidupnya saat ini sudah hancur. Dia memponis dirinya sebagai laki-laki pecundang. Yang tidak bisa mempertahankan miliknya sendiri


Suasana menegangkan itu, dirasa Tara semakin


memilukan, karena saat ini di restoran itu, sedang diputar lagi Batak, yang membuat orang yang mendengarnya jadi baper.


Lebih baik dia meninggalkan tempat itu, daripada matanya sakit melihat keromantisan yang dilakoni oleh Ardhi dan Embun.


Tara melangkah dengan percaya diri. Menyembunyikan luka di hati yang begitu Menyayat. Setiap perlakuan romantis Ardhi, buat Tara saat ini sebagai bom waktu yang siap meledak. Sebelum bom itu meledak. Ada baiknya Ardhi dan Embun hilang saja dari pandangan matanya. Atau dia saja yang pergi dari tempat itu. Karena waktu tenggang yang diberi, sudah habis.


"Jaga Embun dengan baik. Semoga kalian bahagia." Tara menatap Embun dengan penuh kekecewaan. Dia pun melangkahkan kaki dengan lebar keluar dari hotel itu. Tanpa memakan apa yang dipesannya. Padahal pria itu sudah Sangat sangat lapar.

__ADS_1


Embun hanya bisa menatap kepergian suaminya itu dengan putus asa.


TBC.


__ADS_2