DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Cobalah menerima kenyataan


__ADS_3

"Saya tahu, kejadian malam itu sungguhlah tidak baik. Kelakukanku juga malam itu sangat keterlaluan. Untuk kekhilafan ku itu, saya minta maaf!" Melati melirik Ardhi dengan ekor matanya dengan hati yang berdebar-debar, karena cemas sekaligus takut dengan pria dihadapannya. Ardhi sang mantan majikan punya jiwa yang besar, mengaku salah dan minta maaf? sejenak Melati tercenung.


Keterkejutan Melati semakin menjadi, disaat pria itu kini bertekuk di hadapannya.


Sungguh Melati tidak percaya dengan apa yang dilakukan Ardhi. Ada ketulusan yang terpancar di mata sendu pria itu.


Melati semakin bingung dengan sikap Ardhi yang nampak begitu tulus itu. Benarkah pria itu serius ingin menikahinya. Benar-benar tulus ingin bertanggung jawab dari hati nuraninya paling dalam. Bukan karena desakan Embun dan Tara?


Melihat Ardhi ingin meraih tangannya. Dia pun menyembunyikan kedua tangannya dibalik tubuhnya, memalingkan wajahnya dengan wajah penuh kekesalan serta bingung. Sungguh dia tak kuasa melihat Ardhi yang seperti menyembahnya.


Sontak Ardhi terkejut melihat reaksi penolakan Melati. Pria itu pun mendongakkan, menatap Melati dengan penuh rasa bersalah. Kini dia seperti seorang ayah yang sedang membujuk putrinya yang merajuk. Disaat seorang Ayah tidak menepati janji kepada putri kecilnya. Cara Melati memalingkan wajahnya dengan cemberut itu, benar-benar lucu dan menggemaskan. Melati benar-benar tidak bisa bersikap kasar. Bahasa tubuhnya tidak mengizinkan tidak beradap.


Ardhi masih berlutut dihadapan Melati yang masih memalingkan wajah itu. Ardhi telah sholat taubat, perbuatannya itu sangatlah dibencinya. Walau Ardhi bukanlah pria Sholeh. Tapi, dia masih tahu akidah. Dia serius ingin mejadikan Melati sebagai istri, walau belum ada rasa cinta di hatinya. Setidaknya dia senang pada wanita itu. Karena, dia tahu bahwa Melati adalah wanita yang baik.


"Saya tahu perbuatan saya padamu itu, sangat tidak manusiawi. Untuk itu izinkan aku menebus semua kesalahanku itu. Maafkan Aku , karena jujur, aku tidak menyadari itu semua." Ucapan Ardhi membuat wanita itu semakin penasaran. Benarkah Ardhi tidak mengingat kejadian itu. Melati akhirnya menoleh kepada Ardhi yang masih berlutut di hadapannya.


"Saya serius dengan hubungan kita ini. Selama seminggu ini semuanya sudah saya persiapkan. Bahkan saya sudah melamar mu kepada kedua orang tuamu. Mereka juga ada di tempat ini sekarang."


"APA...?" ucapan Ardhi membuatnya kembali terkejut bathin. Kenapa pria itu tidak pernah menceritakannya, kalau Ardhi sudah melamar nya kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Apa sih maumu tuan? kenapa kamu tidak membicarakannya padaku?" Melati berdecak kesal, kalau dari awal Ardhi cerita. Mungkin dia tidak akan mengiyakan ajakan Ilham untuk menikah.


Ilham, Ilham, Abang Ilham. Melati membathin, dia benar-benar kepikiran pria itu. Apa kabarnya dia? Melati yang panik, beranjak dari duduknya. Dia kesal pada Ardhi yang sok seperti hamba dihadapannya.


"Maaf sekali lagi. Saya takut, kamu menolaknya mentah-mentah." Ardhi akhirnya bangkit, menatap Melati yang duduk di kursi dekat jendela.


"Aku tidak mau menikah denganmu. Kita tidak saling mencintai. Dan aku tidak mau mati konyol nantinya." Melati berbicara dengan membelakangi Ardhi. Tentu saja pria itu semakin penasaran dengan ucapan wanita itu.


Ardhi menghampiri Melati. "Apa maksud ucapan mu itu? Mana mungkin aku akan membunuhmu. Aku tidak segila itu. Menghabiskan uang, menikahimu dan membunuhmu. Emangnya aku psikopat. Aku ini manusia yang normal. Penolakan mu ini, sebenarnya membuat aku down dan tentu saja sakit hati. Tapi, itu sudah resiko yang ku dapat. Karena perlakuanku padamu yang dzalim."


Melati menghela napas dalam. Kenapa pria yang mengajaknya menikahi ini susah mengerti.


"Nona Anggun, tunangan tuan juga ingin aku mati. Saat di rumah sakit dia berusaha membunuhku. Syukur ada Pak Tara dan Non Embun yang membantuku dalam proses hukum." Kali ini Melati tidak bisa menahan rasa sakit di hatinya yang berdenyut gilu itu. Air mata terus saja jatuh membasahi pipi pucatnya tanpa isakan. Terlalu sakit, terli banyak liku hidup yang menoreh luka sehingga tak ada raungan lagi.


"Aneh, sangat aneh. Nyonya selalu merasa, aku ini sedang menggoda tuan terus. Merasa aku ini gila pada tuan." Melati diam, dia seolah kehabisan napas. Ia pun menghela napas dalam, sembari mengusap-usap dadanya yang masih bergemuruh itu.


"Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku katakan. Aku tidak ada niat menggoda tuan. Aku tidak pernah bermimpi untuk bersanding dengan tuan. Nah kalau kita menikah, bagaimana hidupku nanti. Belum jadi istrimu tuan, aku sudah diteror. Apalagi jikalau aku ada di rumah itu. Satu atap dengan Nyonya besar. Bisa mati aku tuan di rumah itu." Melati menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rasanya sedikit legah, setelah mengatakan itu semua pada Ardhi.


Ardhi hanya diam mematung dengan rawut wajah tidak percaya nya mendengar ucapan Melati. Dia tidak menyangka Ibunya benar-benar pernah ingin melenyapkan Melati.

__ADS_1


Anggun, wanita itu tidak akan diberi ampun olehnya. Memang saat Rudi bercerita tentang Anggun yang dipenjara. Cerita Rudi sedikit tidak masuk akal. Tapi, saat itu, dia belum tahu bahwa wanita yang dinodainya adalah Melati.


Tok


Tok


Tok


"Bos di luar sudah ramai. Pak penghulu juga sudah datang. Ini sudah pukul sembilan Bos. Pak penghulu masih ingin mentest tuan katanya. Apa tuan bisa baca Alquran dan tahu niat mandi wajib." Suara Rudi dibalik terdengar nyaring dan penuh ketegasan. Tapi, kalimat yang diucapkan sang asisten, menurut Ardhi benar-benar membuat malu saja Ardi sampai menggeleng dibuat ucapan sang Asisten.


"Mengenai Ibu dan Anggun, kita bicarakan nanti, setelah selesai akad nikah. Yang jelas aku tidak mau jadi Duda." Ardhi bicara dengan tegas, menatap Melati yang kini sudah duduk di sofa yang ada di dekat jendela kaca.


"Cobalah menerima kenyataan. Jangan melawannya. Ikhlas dan sabar, saya tidak akan mengecewakanmu." Ardhi meninggalkan kamar itu dengan perasaan yang tidak tenang. Hatinya masih was-was. Ada ketakutan besar saat ini. Jikalau Melati yang ditinggalkannya di kamar itu, tetap menolak untuk menikah dengannya.


Kini Melati tercenung duduk di sofa, melihat kepergian suaminya itu. Memikirkan apa yang diucapkan Ardhi. Benarkah dia akan aman dari gangguan Ibu Jerniati dan Anggun.


Melati menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan. Setelah para MUA masuk lagi ke kamar itu. Kemudian pelayan hotel juga masuk membawakan makanan untuknya. Tanpa banyak bicara, Melati yang masih lemas itu masuk ke kamar mandi.


Saat di dalam kamar mandi. Dia kembali muntah-muntah. Para pelayan Hotel dan MUA panik, menggedor-gedor pintu kamar mandi itu. Agar Melati mau membukanya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2