DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Mantan kekasihku, jangan kau lupakan aku


__ADS_3

"Assalamualaikum..!"


Ceklek...


Pintu terbuka, Melati kembali terlonjak kaget melihat siapa yang masuk. Kedua matanya yang tadi sempat membulat, disaat melihat sosok Ardhi berada di ambang pintu. Kini dia memejamkan matanya dengan wajah menunduk.


Debaran jantungnya Melati berpacu sangat cepat, karena begitu takutnya dia pada pria itu. Masih dalam keadaan menunduk. Wanita itu menggigit bibir bawahnya menunjukkan perasaan khawatir, cemas, takut, tidak aman, dan tertekan.


"Dek Embun.!"


"Mas Ardhi..!"


Tanpa mereka sadari, mulut Ke-dua manusia yang pernah saling mencintai itu, mengeluarkan nama sebutan itu, dengan refleks. Tentu saja keduanya terkejut dengan pertemuan yang tak disengaja ini. Ada satu manusia lagi yang tak kalah terkejut, siapa lagi kalau bukan Tara.


Sepertinya semua orang dalam ruangan itu sedang terkaget-kaget. Tidak percaya dengan apa yang terjadi.


Tara langsung merangkul erat Embun. Seketika Embun semakin terlonjak kaget dengan tingkahnya Tara. Embun menatap kaget sang suami, Tara juga melototkan kedua matanya. Seolah memberi peringatan, bahwa dia sudah jadi miliknya Tara. Jadi, Embun harus bisa menjaga sikapnya.


Melihat sikap lebay sang suami, Embun jadi bingung harus bersikap apa. Sepertinya lebih baik dia diam saja. Seolah tidak pernah mengenal Ardhi. Tapi, Embun penasaran juga. Kenapa Mas Ardhinya itu, datang ke tempat ini.


Karena rasa penasaran itu, Embun melirik Ardhi dengan ekor matanya, saat pria itu melangkah ke arah mereka.


Aaaawwpppp...


Embun terkejut lagi, disaat Tara merangkum wajah Embun agar melihat dirinya saja. Tentu saja tingkah sang suami terlihat aneh. Tara tidak ridho, apabila sang istri menatap Ardhi, apalagi saat ini Ardhi sudah dekat kepada mereka.


Tara tidak mau pertemuan tak terduga itu, membuat rasa cinta kedua mantan kekasih itu tumbuh lagi. Tara yakin, di relung hati yang paling dalam sang istri, pasti masih ada Ardhi diselipkannya. Tidak secepat itu melupakan orang yang pernah mengisi hati kita.


"Dek Embun.." suara Ardhi terdengar menyedihkan. Embun terdiam dengan pandangan menunduk, tidak berani menatap sang mantan.


Kini perhatian dan pikiran Ardhi sudah beralih kepada Embun. Dia juga jadi lupa tujuannya datang ke tempat itu. Setelah melihat Embun di depan matanya. Ardhi masih sangat mencintai Embun. Dia belum bisa melupakan wanita itu.


Sosok Embun saat ini persis seperti apa yang ada dipikirannya, saat pria itu mabuk berat. Mantannya itu ternyata sudah berhijab. Pas seperti imajinasinya disaat dirinya melampiaskan birahi saat mabuk. Berarti malam itu dia benar melakukannya dengan Anggun.


Debaran jantung Melati masih sangat kencang. Dia sedih, sakit hati, sekaligus mengasihani diri sendiri. Kenapa dia jadi korban tindak asusila. Dia benci dirinya yang lemah dan tak berdaya ini. Kalau dia mengambil sikap. Dia takut dengan ancaman Ibu Jerniati. Dia tidak mau kehilangam orang-orang terkasihnya, yaitu keluarganya di kampung.

__ADS_1


Akhirnya Melati memilih tetap menunduk, hanya bisa menggigit bibirnya, tidak berani menatap Ardhi. Toh Ardhi saat ini, terfokus pada Embun. Ya, keputusan yang terbaik adalah. Menutup rapat-rapat, kejadian memilukan itu.


"Adek apa kabarnya?" Ardhi benar-benar merindukan wanita itu. Dia ingin sekali bercerita panjang lebar. Mengobati rindu yang membuncah.


Embun tidak menggubris ucapan Sang mantan. Dia melirik Tara yang tersenyum kecut.


"Pak Ardhi ada urusan apa ke ruangan ini?" ucapan Tara membuat Ardhi tersentak. Dia baru ingat, bahwa tujuannya ke tempat itu adalah untuk bertemu Melati. Menanyakan keberadaan Melati saat malam terlarang itu. Apakah Melati, wanita yang digagahinya?


Tapi, setelah melihat Embun yang kini sudah berhijab. Ardhi jadi yakin dengan halusinasinya. Dia memang membayangkan Embun, dibayangkannya itu Embun memakai hijab. Persis seperti saat ini.


"Pak Ardhi untuk apa ke ruangan ini?" Tara mengulang pertanyaannya. Menatap tajam Ardhi yang nampak bingung.


Ardhi pun akhirnya menoleh kepada Melati. Saat ini Melati masih menunduk, dengan derai air mata yang bercucuran dengan derasnya.


"Mau menjeguk karyawan saya, Melati." Ucapnya tersenyum getir. Sang mantan pacar, tidak menggubrisnya sama sekali. Rasanya begitu menyakitkan. Padahal wanita itu dulu, yang selalu mengucapkan janji manis padanya. Selalu mengatakan cinta dan berjanji setia untuk selamanya. Tapi, nyatanya dia ditinggalkan begitu saja.


Ardhi akhirnya melangkah mendekati Melati yang duduk masih dalam keadaan menunduk. Saat ini, Ardhi yakin. Bahwa malam itu, dia tidak melakukannya dengan Melati. Karena, Embun benar-benar berhijab. Tadinya dia sempat kepikiran bahwa dia melakukannya dengan Melati


"Mel..!"


Dehemen seorang wanita terdengar menyeramkan, di ambang pintu. Auto semua orang yang ada di ruangan itu menoleh secara bersamaan. Pintu yang tidak tertutup itu, membuat si tamu masuk dengan cepat.


"Kembalikan perhiasan saya yang kamu curi!" bentak Ibu Jerniati, menatap tajam Melati dengan pergerakan bibir yang siap mencabik sang mangsa.


Sontak Melati semakin takut dan bingung dengan ucapan wanita tua itu. Dia semakin ketakutan, karena memang Nyonya besarnya itu, benar-benar akan membuat hidupnya hancur.


Ibu Jerniati yang kesetanan, tidak menghiraukan lagi, orang lain yang ada di tempat itu. Atau dia memang buta, tidak melihat keberadaan Tara dan Embun, yang terheran-heran melihat tontonan di hadapannya.


"Aku akan laporkan kamu ke kantor polisi sekarang. Kalau kamu tidak mengembalikan perhiasanku." Masih menatap tajam Melati.


"A---ku, A--ku tii..!"


"Aahhkkk... jangan banyak alasan kamu!" Ibu Jerniati memotong ucapannya Melati. Ardhi yang masih syok, karena berjumpa dengan Embun secara tiba-tiba, jadi pria linglung. Sungguh wanita itu sukses memporak-porandakan hidupnya.


"Ibu, ibu anda jangan main kasar di sini. Ini Rumah sakit." Tara akhirnya buka suara, dia tidak tega juga melihat Melati yang dibentak-bentak.

__ADS_1


Mendengar suara orang asing di kamar itu. Ibu Jerniati menoleh kepada Tara. Seketika mata Ibu Jerniati membola melihat sosak wanita yang sedang dirangkul pria di sebelahnya.


Dia tahu wanita yang ada di hadapannya. Itu adalah Embun. Wanita yang pernah ingin dilenyapkannya.


"Kamu, kamu wanita miskin yang gila kepada anak saya kan? ngapain kamu di sini?" ucapan Ibunya Ardhi, membuat Embun hampir terserang jantung. Kini mulutnya Embun menganga dengan mata membola. Tidak menyangka, bahwa seburuk ini, ibunya mantan kekasihnya itu.


Ya, Ardhi belum pernah menjumpakan Embun dengan Ibu Jerniati. Karena, saat itu. Ibunya Ardhi masih menetap di Surabaya. Lagian, Ardhi dan Embun. Baru satu bulan resmi pacaran.


Ardhi pernah cerita pada sang Ibu, tentang Embun. Dalam ceritanya, Embun itu adalah gadis kampung, baik dan sedang kuliah.


Padahal keluarga Embun tidaklah tergolong orang miskin. Ayahnya punya kebun salak yang luas dan punya tanah yang luas.


Tara tertawa keras, dia merasa tingkahnya ibunya Ardhi sangat lucu sekaligus menyebalkan. "Hei Nyonya kaya, ini ruang rawat inap. Ada orang sakit di ruangan ini. Jadi jangan buat keributan." Ucap Tara tegas. Embun menyikut pinggangnya Tara. Kenapa suaminya itu bersikap jadi tidak sopan begitu.


"Adek apaan sih?" bisik Tara, Embun merenggut kesal.


"Kamu siapa melarang saya ke ruangan ini." ketus Ibu Jerniati.


"Saya orang terkaya kedua di Indonesia." Jawab Tara tersenyum menahan tawanya.


Ibu Jerniati merasa direndahkan dan diejek. Dia menoleh kepada Ardhi yang kini menunduk.


"Ngawur kamu," protes Ibu Jerniati, tapi raut wajah mulai menciut.


"Sebaiknya Ibu keluar dari ruangan ini. Kalau benar adek Melati mencuri perhiasan ibu. Silahkan laporkan ke kantor polisi. Saya, Sutan Batara Guru Siregar, orang terkaya kedua di Indonesia. Akan mendampingi Adek Melati, saat proses hukum nanti."


Seer......


Jantung Ibu Jerniati serasa lepas dari tempatnya, darahnya terasa tumpah di rongga dadanya. Dia butuh pertolongan, dia menoleh kepada Ardhi, yang ternyata sudah melangkah ke luar dari ruangan itu. Dia pun mengekori langkah sang anak. Saat itu juga, Ibu Jerniati berpapasan dengan Ilham di ambang pintu.


Ilham nampak menggerek koper dan menentang kresek berisi makanan.


TBC


Tinggalkan jejak say, like coment positif, vote ya?!😍

__ADS_1


__ADS_2