DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Pulang kampung


__ADS_3

Menunggu selesai ujian semester, rasanya begitu lama buat Melati. Waktu tiga hari seperti tiga tahun saja dirasa wanita itu. Dia sudah tidak sabar untuk pulang kampung dengan Ilham. Menghabiskan waktu libur semester dengan pria yang dicintainya. Tentu waktu itu akan dimanfaatkan mereka untuk melangsungkan pernikahan.


Sebelum berangkat kuliah, Melati sudah mempacking barang-barangnya. Dia akan pamit pada Embun pagi ini. Melati juga sudah selesai mengerjakan tugasnya sebagai pembantu. Melati menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Mata Indahnya menatap lekat tiga tablet vitamin serta obat anti mual untuk ibu hamil yang ada di telapak tangannya. Dia harus minum itu, agar bisa menjalani hari-hari dengan baik.


Melati tidak mau membawa pemberian Ardhi. Jadi, dia menyimpan ponsel pemberian Ardhi di atas meja yang ada di kamarnya. Dia juga meletakkan foto hasil USG, serta uang kembalian miliknya Ardhi. Karena, pria itu mengatakan akan menagih hasil USG.


Sebelum pergi meninggalkan kamarnya. Wanita yang lagi galau itu, masih duduk dengan tidak tenang di atas kursi kayu. Pikiran nya jauh menerawang memikirkan kehidupannya kedepan. Semoga keputusan yang diambilnya adalah yang terbaik untuk hidupnya.


Setelah merasa yakin dengan apa yang diputuskannya. Melati keluar dari kamar itu. Membawa koper kecil miliknya. Setelah pulang kuliah, dia akan ke rumahnya saudaranya Ilham beserta si Butet. Mereka akan bertolak dari rumah saudaranya Ilham itu, menuju loket travel yang akan mereka tumpangi.


"Bi Siti, Non Embun ke mana?" tanya Melati dengan bingung nya. Dia sudah mencari keberadaan Embun ke kamar, taman dan sekarang di ruang makan. Tapi, majikannya itu tidak terlihat.


"Non Embun dan Tuan Tara pagi-pagi sekali sudah pergi." Ucap Bi Siti, memperhatikan Melati yang bingung. Kemudian melanjutkan kegiatannya, memberesi meja makan.


"Kenapa kamu mencari Nona muda dan tuan muda?" tanya Bi Siti dengan penasarannya. Matanya melirik koper yang di letakkan Melati tak jauh dari ruang makan, dan masih bisa dilihat oleh Bi.


"Aku mau pamit Bi." Ucapnya sedih, dia tidak bisa bicara langsung pada Embun. Mengucapkan terima kasih pada wanita itu.


"Kamu mau pulang? mau berhenti kerja?" tanya Bi Siti kepo.


"Iya Bi." Rawut wajah Melati masih terlihat sedih.


"Baiklah Bi, aku pamit sama Bibi saja ya?" Melati menyalim tangannya Bi Siti dan langsung memeluknya.


"Terima kasih sudah baik padaku Bi." Melati menangis dalam pelukan kepala pelayan itu. Tentu saja Bi Siti, ikut sedih. Karena, Melati akan pergi dari rumah itu. Bi Siti tidak akan mendapatkan jawaban atas apa yang menimpa Melati. Karena, wanita itu sempat kepikiran dengan apa yang terjadi pada Melati. Terkait pertengkaran di rumah itu, antara dua pemuda yang membahas Melati.


Mengetahui Melati akan pergi, ART yang lainya pun mendekati wanita itu. Acara perpisahan yang mengharu biru pun terjadi. Melati yang baik dan ramah itu, membuat para ART senang padanya.


***


Pukul empat sore ujian pun usai. Ilham sudah menunggu Melati dan Butet di parkiran. Melihat Ilham yang tampil kren dengan kaos polo warna Salem, dipadu dengan jaket jeans membuat si Butet terpesona. Sungguh kalau Melati bukan temannya. Mungkin dia akan menjebak pria itu, agar bisa menikah dengannya.


"Abang sudah pesan taxi." Ilham tersenyum pada Melati yang nampak lelah dan tidak semangat itu. Sedangkan si Butet, yang sama sekali tidak diacuhkan Ilham, tersenyum manis pada pria yang tidak melihatnya itu. Walau tidak dianggap, itu tidak masalah buatnya. Yang penting Ilham mengizinkannya ikut ke kampung.


Sepanjang perjalanan menuju rumahnya saudara Ilham si Butet senyam senyum. Hatinya begitu bahagia. Dia pun tidak tahu, apa alasan lain nya yang membuat dia sebahagia ini.

__ADS_1


"Mel, kenapa wajahmu kusut masam sepet begitu?" Melati melirik si Butet yang nampak bahagia.


"Kamu seperti orang hamil saja tahu."


Deg,


Lagi-lagi ucapan ceplas ceplosnya si Butet, membuat Melati terkejut karena ketakutan. Kalau dibahas mengenai kehamilan. Dia akan kesal dan tidak senang.


Melati yang malas berbicara itu, memilih diam saja. Tidak mungkin dia mengatakan pada Si Butet kalau dia hamil. Bisa panjang urusannya, dia juga lagi malas bercerita.


"Ya ampun, dari tadi diajak ngomong diam saja." Ketus Melati kesal. Dia pun menegakkan tubuhnya menatap Ilham yang duduk di sebelah pak supir.


"Abang Ilham, rumah Bou itu masih jauh?" Si Butet yang sok akrab, langsung membuat tutur sapa Bou pada saudaranya Ilham.


"Gak jauh, sudah dekat koq. Nanti loket travelnya dekat rumah Tulangku itu.." Jelas Ilham, menoleh ke belakang. Memperhatikan Melati yang menoleh ke luar jendela. Ilham senang sekali, akhirnya dia akan menikah dengan Melati.


"Oohh.." Butet membulatkan bibirnya sambil manggut-manggut. Memperhatikan wajah Ilham dari samping dengan lekat. Sedangkan Ilham sedang memandangi Melati.


Entah terbuat dari apa hati wanita itu, walau tak dianggap. Dia tetap optimis dan tidak pernah sakit hati, atas sikap dingin dan tidak sukanya Ilham padanya.


Sesampainya di rumah saudaranya Ilham. Mereka disambut dengan hangat. Langsung ditawarkan makan. Si Butet yang supel itu pun , langsung membantu yang punya punya rumah menyiapkan makan malam itu.


"Cantik? saya cantik rupanya Amangboru?" tanya Si Butet dengan tersenyum lebar. Semua mata kini tertuju pada si Butet yang nampak narsis itu.


"Ya namanya cewek ya pasti cantik. Gak mungkin ganteng." Timpal Nantulangnya Ilham.


"Kirain aku beneran dibilang cantik." Melati menampilkan ekspresi wajah kecewa. Orang yang ada di tempat itu pun tersenyum melihat sikapnya si Butet yang menurut mereka lucu dan polos itu.


Hingga Senda gurau itupun berakhir disaat bunyi klakson mobil travel sudah parkir di depan rumah saudaranya Ilham.


Mereka pun pamit, masuk ke dalam mobil dengan posisi, Ilham di samping supir. Si Butet duduk di tengah tepat di jok kedua dan Melati duduk di pinggir sebelah kiri. Sedangkan di jok paling terkahir sudah penuh. Bahkan di bangku di jok kedua sebelah kanan sudah berisi, dengan penumpang berjenis kelamin laki-laki.


Ilham yang tidak ingin, Melati duduk bersebelahan dengan laki-laki, akhirnya meminta si Butet duduk di tengah. Perjalanan itu pun ditemani dengan tembang kenangan dan lagu Batak, ada Batak Toba dan Tapsel.


"Mel, kamu punya Antimo gak?" tanya mentoel lengannya si Melati. Seketika Melati yang lagi melamun menoleh ke arah Si Butet. Cahaya center ponselnya si Butet, kini tepat ke wajahnya Melati.

__ADS_1


"Gak ada Tet." Jawab Melati cepat. Dia sedang malas berbicara. Dia sedang gundah gulana saat ini. Dia bingung dengan apa maunya. Dia ingin tidur saja. Semoga dia tidak mual juga. Dia memang sudah minum obat anti mual setelah makan malam di rumah saudara nya Ilham.


"Ada apa dek?" Ilham mendengar samar-samar pembicaraan Melati dan si Butet. Dia pun ingin tahu, apa yang membuat si Butet mengganggu Melati terus.


"Aku mabuk perjalanan Bang. Abang ada Antimo?" tanya Butet dengan suara lembut.


"Abang punya, sebentar Abang ambil dulu. Abang juga mau minum Antimo. Tapi, tunggu agak larut. Kalau minum sekarang, takutnya langsung tertidur.


Ya Ilham sering minum Antimo atau obat tidur. Kalau dalam perjalanan panjang di malam hari. Pasalnya pria itu susah tidur kalau sedang dalam perjalanan. Dia tidak mau begadang. besok dia harus fresh, saat sampai di rumah orang tuanya.


"Bagilah Bang!" Si Butet menyalakan lampu mobil, meraih Antimo yang disodorkan Ilham.


"Tinggal satu nih, Abang sudah minum Antimo juga?" Si Butet memperhatikan Antimo yang ada di tangannya


"Belum Tet."


"Terus buat Abang apa nanti, kalau ini buatku." Ucapnya senyam-senyum. Dia senang Ilham perhatian padanya.


"Nanti saat mobil ini berhenti untuk makan minum. Abang beli lagi " Ilham pun akhirnya mengubah posisinya jadi tegak menghadap ke depan. Dia ingin mengakhiri pembicaraan nya dengan si Butet. Dia lebih tertarik bicara dengan Melati. Tapi, melihat Melati diam saja. Ilham pun memilih untuk tidak mengganggu wanita itu. Dia tahu, keadaan Melati yang sedang hamil muda, membuat mood wanita itu naik turun.


Perjalanan pun terus berlanjut. Ternyata penumpang travel yang berjumlah delapa orang beserta supir itu adalah tipe orang pendiam. Tidak ada yang berbasi-basi di dalam mobil itu. Kecuali pria yang ada di sebelah kanannya si Butet.


Pria itu ingin kenalan dengan si Butet. Tapi, si Butet ogah meladeninya. Dia pun langsung membungkam mulut pria itu, dengan mengatakan tidak dibenarkan bicara dengan orang tidak dikenal.


Waktu makan minum pun telah tiba. Waktu menunjukkan pukul 23.05 Wib. Mereka sudah melakukan perjalanan selama tiga jam. Seluruh penumpang turun, untuk sekedar makan dan minum. Melati memilih minum teh manis panas yang ditemani oleh popmie. Ilham dan Butet juga memesan menu itu.


Setelah selesai mengisi perut. Perjalanan pun berlanjut. Ilham sudah meminum Antimo sebanyak dua butir saat di rumah makan. Begitu juga dengan si Butet. Alhasil kedua Manusia itu kini sudah tidur dengan pulasnya.


Hanya tinggal Melatilah penumpang yang masih melek. Dia tidak bisa tertidur, dia sedang memikirkan nasibnya nantinya setelah menikah dengan Ilham. Lamunannya pun buyar, disaat mereka sampai di SPBU. Sang supir ternyata ingin mengisi bahan bakar.


Supir yang merasa pinggangnya sakit. Memilih menepikan mobil itu setelah selesai mengisi bahan bakar. Dia pun turun dari mobil, merentangkan tangan dan melonggarkan otot-otot nya yang tegang. Karena lelah mengemudi.


Saat itu juga Melati merasakan sesak pipis. Dia pun turun dari mobil travel itu. Mendekati pak supir.


"Bang Aku ke toilet sebentar." Saat Melati bicara, mobil besar lewat membunyikan klakson dengan nyaring dan kuat. Melati langsung berlari ke toilet dengan tergesa-gesa. Padahal belum ada sahutan dari sang supir.

__ADS_1


Setelah selesai membuang urinenya. Melati keluar dari toilet itu. Dan sepasang tangan kokoh sudah membekap hidungnya. Setelah wanita itu pingsan. Dia dibopong dibawa ke sebuah mobil mewah.


TBC


__ADS_2