
“Kamu hamilkan? Di sini
ada anaknya Ardhi. Apa kamu mau anakmu lahir tanapa ayah?” Embun semakin
kasihan kepada Melati yang keras kepala itu. Dia memegangi kedua lengan melati,
menyadarkan wanita itu. Bahwa hidup ini sangatlah kejam. Dia akan kena bulyan,
akan dapat sanksi soal dari masyarakat, karena hamil di luar nikah.
“ Mas Ilham mau menerima keadaanku kak!” Melati kembali menangis histeris. Itulah hidup, harus ada pilihan. Kita harus memilih yang terbaik, agar jangan terjerumus lagi dalam kesedihan karena salah pilih.
Embun tercengang tidak percaya dengan apa yang diucapkan wanita yang ada dihadapannya sat ini. Ilham mau menikahinya? “Subahanalloh,
sungguh mulia hatinya si Ilham itu.” Embun menggeleng pelan penuh ketidakpercayaan. Ternyata masih ada pria yang baik dan tulus seperti Ilham. Betilah (Alias beda tipis) dengan sang suami Tara.
“Kakak akan coba bicara kepada mas Ardhi, agar mau mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kalau Ardhi mau menikah denganmu. Kenapa harus menikah dengan Ilham adekku sayang?’ Melati berpikir sejenak, mencoba menerima ucapan Embun. Tapi hatinya langsung menolak. Dia masih takut pada pria itu. Cara pria itu menggagahinya sangatlah menyakitkan. Melati masih ingat rasanya diperawani kasar oleh Ardhi.
Membayangkan pria itu saja, sudah membuatnya merinding ketakutan. Tubuh kokoh dan kuat yang menimpa tubuhnya setelah pelepasan, masih terasa jelas di
memorinya. Dia tidak mau dekat atau bertemu dengan pria itu.
“Tidak kak. Aku tidak mau berurusan dengan tuan Ardhi, ataupun dengan keluarganya. Aku ingin hidup bahagia, hidup sederhana.” Jawabnya lemah menunduk. Dia tidak mungkin membeberkan keburukan Nyonya besar.
“Kenapa? Mas Ardhi itu baik Mel. Dia pria baik, sangat baik. Mungkin yang terjadi pada kalian adalah sebuah kecelakaan yang tidak disengaja. Tadi kamu bilang, tuan Ardhi awalnya baik. Lahh emang Mas Ardhi itu orangnya baik. Kakak kenal betul dia. Orang dia pernah spesial disini.” Embun tersenyum
manis, menyentuh dadanya dengan lembut. Tadinya Embun sempat terpengaruh dengan
cerita Melati yang tidak tuntas. Tapi, setelah mendengar semuanya. Termasuk
saat Ardhi menyebut-nyebut namanya saat menggagahi Melati. Mungkin saat itu
Ardhi sedang tidak sadar melakukannya dengan Melati.
“Gak kak, aku trauma kak. Aku takut kak, aku tidak mau jadi
bagian dari keluarga itu.” Melati tidak mau punya mertua seperti Ibu Jerniati.
“Kamu pikirkan baik-baik dulu. Kakak akan hubungi mas Ardhi. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.” Embun mentap Melati dengan mata
berbinar-binar. Wanita ini harus diberi semangat hidup.
“Jangan kak, kalau benar dia pria baik. Dia pasti akan mencariku, mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tapi, lihatlah dia tidak ada
mencari keberadaanku. Malah, dia mengirim Nyonya besar untuk menerorku. Tidak
__ADS_1
kak, jangan kak. Aku tidak mau mati sia-sia. Aku masih punya orang tua yang
harus ku perjuangkan. Aku masih ingin membuat orang tuaku bahagia.” Melati
kembali menangis, jika teringat Ayah dan Ibunya. Dia akan semakin sedih.
Embun menarik napas dalam. Dia perlu oksigen yang banyak, agar bisa berpikir dengan baik. Emang sih Nyonya besar itu keterlaluan. Tapi,
apa benar Ardi yang meminta ibunya meneror Melati. Atau, Ardhi benar-benar
tidak tahu kejadian sebenarnya. Apa Ardhi tidak tahu, kalau dia sudah
menggagahi anak gadis orang. Mana anak gadis yang digagahinya itu mungil lagi.
Dia saja badannya kekar, tentu lah Melati ketakutan dibuatnya.
Ehemm..ehem..
“Setahu kak, Mas Ardhi bukan pria pengecut dan brengsek. Ada yang tidak beres ini Mel. Kakak yakin, Mas Ardhi tidak sadar, saat melakukannya denganmu. Kan kamu bilang mas Ardhi saat itu sedang mabuk. Mungkin dia tidak tahu, bahwa kamulah korbannya. Mungkin dia merasa sedang bermimpi dengan kakak.
Kamu bilang tadikan, Mas Ardhi menyebut-nyebut nama kakak.” Jelas Embun,
memegangi tangan Melati yang dingin dan berkeringat itu. Dia harus bisa
Embun juga yakin dengan dugaannya. Karena teringat pertemuannya dengan Ardhi dipesta tadi. Ardhi seperti ingin membahas Melati.
Ingin mengorek tentang wanita itu. Tapi, Tara yang cemburuan, malah mengajaknya
pulang. Dia juga saat itu merasa canggung dengan Ardhi.
Melati terdiam mendengar pernyataan Embun. Benarkah tuannya
itu tidak sadar dengan kelakuannya? Melati menunduk, memikirkan ucapan Embun.
“Sudah, jangan sedih gitu.” Embun merangkum wajah sembabnya Melati. “kakak yakin seartus persen, Mas Ardhi tidak ingat kejadiannya. Untuk itu kalian harus bertemu.”
“Gak, gak kak. Aku takut, aku tidakmau bertemu dengan tuan Ardhi. Biarlah kak, dia tidak mengingatnya itu akan lebih baik lagi. Aku tidak mau berurusan dengan keluarga itu. Allah, sudah mengirimkan kepadaku seorang
pangeran yang berhati malaikat. Aku ingin hidup tenang kak.” Melati meraih
tangan Embun yang merangkum wajahnya. Kalau benar Ardhi tidaksadar dan tidak
tahu menahu tentang malam kelam itu. Ya sudah, ditututup saja.
Embun merasa kasihan pada Melati. Sebegitu takutnya dia pada Ardhi. Pasti Ardhi begitu sadis saat memerawaninya. Tara saja yang begitu lembut dan kendali ada padanya, merasa begitu kesakitan saat malam pertama.
__ADS_1
Embun bisa memahami keadaan Melati saat ini. Wanita malang ini tidak bisa
dipaksa, harus diberi, pandangan-pandangan lain kali.
“Baiklah adek sayang. Kamu jangan sedih lagi ya. Ada kakak bersamamu. Lihatlah wajah mirip, atau jangan-jangan kita masihada hubungan saudara.” Ucap embun lembut, mengelus lengan Melati dengan penuh kasih sayang. Melati terharu dengan sikapnya Embun yang sangat baik itu. Dengan tersedu-sedu,
Melati langsung memeluk Embun dengan posesifnya.
“Terimakasih kak, Terimakasih banyak. Aku merasa sedikit legah.
Tapi kak, ku mohon jangan ceritakan ini pada siapapun. Aku mohon kak!” pinta
Melati menangis dengan sesenggukan dalam pelukan Embun.
“Iya sayang, percaya sama kak. Ok! Baiklah, kamu istirahat sekarang. Jangan lupa sholat, minta petunjuk sama Allah. Dan ingat, Mas Ardhi itu orangnya baik.” Keduanya pun mengurai pelukan satu sama lain. Bersitatap
dengan saling memberi penguatan.
“Sekali lagi kak, Terimakasih banyak.” Melati mengatupkan kedua tangannya. Saat Embun hendak meninggalkan kamar itu.
“Iya dek, Sama-sama.” Embun tersenyum manis, kemudian
menutup pintu kamarnya Melati dengan pelan.
Sepeninggalannya Embun. Melati menarik napas panjang dan dalam. Dia memegangi dadanya yang sedari tadi berdebar tidak menentu. Ada rasa legah, sekaligus khawatir yang dirasakan Melati saat ini. Legah, kaeena ada teman cerita yang memahami posisi dan keadaannya. Khawatir, dia takut Nyonya
besar atau pun Ardhi datang menerornya lagi. Sedikitpun tidak ada terlintas
dibenaknya untuk menikah dengan tuannya itu, Ardhi shiraz. Tak pernah ada
angn-angannya sampai kesitu.
Merasa sedikit tenang. Melati memutuskan untuk sholat istikharah. Dia pun beranjak dari duduknya. Menggantungkan hijabnya di hanger. Dan mrapikan rambut panjanganya lagi dengan diikat gulung.
Krek…
Suara pintu dibuka mengangetkan Melati yang hendak masuk ke kamar mandi. Ternyata Embunmasuk lagi ke kamar itu. Melati berjalan
cepat menghampiri Embun yang berjalan ke arah meja belajarnya.
“Ponsel kak ketinggalan.” Embun meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja dengan tersenyum manis.
“Ooh iya kak.” Melati sedikit canggung. Karena, dia sudah membuka hijabnya. Dia malu pada Embun. Karena Embun menatapnya dengan lekat.
“Antingmu koq tinggal sebelah Mel?”
__ADS_1