
Melati terbangun dari tidur nyenyaknya. Dia benar-benar tidur dengan pulas. Sampai-sampai dirinya tidak bermimpi apapun. Melati terkejut tidak mendapati Ardhi di sebelahnya. Dia yang masih terbaring di ranjang itu, menyoroti setiap sudut kamar yang bisa dijangkau matanya. Berharap menemukan sosok Ardhi di ruangan itu. Tapi, nyatanya sang suami tidak ada di kamar itu.
Melati akhirnya duduk dan merapikan hijabnya. Ya wanita itu tidur dengan mengenakan hijab. "Ya Allah, sudah pukul 14.15 Wib. Ucapnya dengan terkejutnya, menutup mulutnya yang menganga dengan jemarinya. Wanita itupun bergegas ke kamar mandi. Dia akan berwudhu dan sholat.
Setelah selesai sholat Dzuhur. Melati merapikan dirinya. Wanita itu akan turun ke lantai bawah. Dia akan mencari keberadaan Ardhi. Tapi, saat dirinya melewati lorong menuju lift. Tanpa sengaja Melati mendengar suara sang ayah dari sebuah ruangan. Dia tahu itu, adalah ruang kerja Pak Zainuddin.
Pembicaraan orang di dalam ruangan itu jelas terdengar. Karena pintu ruangan itu hanya tertutup setengahnya. Melati pun mendekati ruangan itu, menguping pembicaraan sang ayah yang ternyata sedang berdiskusi dengan sang suami.
"Tak dapat dipungkiri dunia bisnis memang kejam. Orang-orang bisa saling menjatuhkan untuk menjadi yang terdepan. Pesaing kita akan memanfaatkan kelemahan dan kesalahan kita. Kecerobohanmu karena mabuk, membuat semua hancur." Terdengar suara sang Ayah yang begitu kecewa pada Ardhi.
"Kamu bukanlah anak ABG lagi, yang rasa egonya tinggi. Kamu itu sudah dewasa, umur sudah kepala tiga. Harusnya kamu pandai cari kawan. Pepatah lama mengatakan. Bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu, engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak sedap."
"Rudi hatinya baik, tulus. Tapi, dia punya perilaku dan kebiasaan yang buruk. Dia suka minum-minuman keras dan kamu sudah terpengaruh dengannya. Nanti dia menggunakan narkoba, kamu juga akan ikut-ikutan. Ayah melihat, Rudi tidak potensial. Bukan karena dia bodoh. Tapi, dia tidak bisa memanage dirinya sendiri. Dua bulan terakhir ini Ayah perhatikan, usahamu merosot. Ayah sempat kepikiran, jangan-jangan kamu akan bangkrut. Kalau tetap mempekerjakannya."
"Rudi sahabat saya ayah. Dia banyak membantu saya saat kuliah. Bener kata Ayah, kita harus pandai-pandai mencari kawan. Aku selama ini bisa menjaga diri, agar tidak terpengaruh. Tapi, memang enam bulan terakhir ini, aku banyak masalah ayah.
"Dunia memang sangat sempit. Bermula dari Embun yang dipaksa menikah dengan Paribannya." Kening Pak Zainuddin yang sudah berkerut semakin mengerut mendengar ucapan menantunya itu. Kenapa keponakannya Embun, dibahas Ardhi.
"Siapa sangka, Embun adalah keponakan Ayah." Ardhi tersenyum tipis. "Dia harusnya yang jadi istri Ardhi ayah."
Deg
Hati Melati terasa sakit mendengar ucapan sang suami. Suaminya itu masih mencintai mantannya itu. Tapi, selalu berusaha bersikap baik padanya. Apalagi Pak Zainuddin semakin terkejut mendengar ucapan Ardhi.
"Ayah tahu sendiri. Membuang-buang waktu soal percintaan bukanlah tipe ku. Kurang lebih empat tahun aku mendekati Embun. Akhirnya kami resmi menjalin hubungan. Baru sebulan menjalin hubungan, dia meninggalkanku ayah. Masalah tak sampai disitu. Kelakuan buruk ibu juga aku ketahui saat itu juga. Maslaah datang beruntun, hati ini hancur dan lemah. Fakta tentang ibu membuatku lebih hancur lagi. Tak bisa memendam rasa sakit serta kecewa itu. Aku pun akhirnya mencurahkannya pada Rudi. Memang saat itu Rudi sedang ada masalah juga. Disitulah aku tidak bisa mengendalikan diri, dan ikut mabuk-mabukan."
Ardhi mendongak, menatap langit-langit kamarnya. Dia melakukan itu agar air mata yang memaksa keluar dari matanya itu tidak jatuh membasahi pipinya. Rasanya begitu pengecut sekali menangis karena masalah hati.
__ADS_1
"Aku akan tetap mempertahankan Rudi untuk bekerja di perusahaan. Semoga aku bisa membimbing Rudi."
"Aku tidak tertarik lagi, untuk membicarakan Rudi. Yang sekarang buat Ayah bingung. Kamu dan Embun, pernah berhubungan?"
"Iya Ayah." Ardhi melihat ekspresi wajah tidak percaya nya Pak Zainuddin.
"Jadi kamu masih mencintainya?" Ardhi terdiam, dan langsung menunduk. Tangannya saling meremas. Bodoh sekali dia, kalau dia mengakui bahwa dia mencintai Embun. Padahal jelas, Embun sudah bahagia sekarang dengan suaminya.
"Ardhi, Ardhi, semuanya sudah Ayah berikan padamu. Ayah tidak akan membiarkan kamu hidup. Jika kamu menyakiti putriku." Pak Zainuddin menitikkan air mata. Pikiran negatif sudah memenuhi otaknya. Dia beranggapan Ardhi hanya berpura-pura pada putrinya itu.
"Apa maksud ayah? mana mungkin aku akan menyakiti istriku sendiri. Kenapa ayah tidak memahami dan mengenalku. Aku tidak pernah bermain-main dengan perasaan ayah. Aku mau menikahi Melati. Karena, Aku serius dengannya. Tapi, dia yang tidak serius denganku ayah. Dia tidak mencintaiku, dia takut padaku. Menolak keberadaanku disisinya. Bahkan dia tidak ingin kasih sayang dariku." Air mata lolos juga menetes di pipinya Ardhi.
"Dia benci padaku karena, aku menggagalkannya niatnya menikah dengan kekasihnya. Dia mencintai pria lain." Ardhi mengusap kasar air matanya dengan jemarinya. Rasanya cemen sekali mencurahkan isi hati pada ayah sendiri.
Pak Zainuddin speechless mendengar ucapan Ardhi. Yang bisa dilakukannya hanya menggeleng dan menyandarkan punggungnya di sofa. Embun, Ardhi dan Melati. Kenapa semua seperti sudah diatur.
Ardhi terbangun, karena mendengar suara deringan ponsel di atas meja rias yang berulang kali. Dia yang penasaran akhirnya turun dari ranjang. Berjalan sempoyongan ke meja rias. Tempat ponsel yang terus saja berdering itu. Terkejut melihat nama kontak yang menelpon. Ardhi yang penasaran itu akhirnya memberanikan diri mengangkat telepon dari Ilham itu. Betapa terkejutnya dia mendengar kalimat yang diucapkan Ilham di telepon. Dengan kesal, Ardhi mematikan panggilan itu. Dengan hati kesal Ardhi pun akhirnya memeriksa panggilan keluar. Ternyata istrinya itu yang terlebih dahulu menghubungi Ilham.
"Ada anakku di rahimnya ayah. Tapi, dia memilih menikah dengan pria lain. Di mana harga diriku? sebegitu tidak berharganya aku dimatanya." Pak Ardhi yang baru mendengar cerita lengkapnya itu, benar-benar dibuat syok.
"Ini harus dibicarakan, ayah akan menanyakan kebenarannya dari Melati."
"Jangan, jangan ayah." Ardhi menghadang langkah Pak Zainuddin dengan tangannya. "Aku tidak mau Melati nanti tertekan dan banyak pikiran, jika ayah membahas itu lagi. Ini salahku, gara-gara kelakuanku. Dia tidak bersama dengan pria yang dicintainya. Gara-gara aku, impiannya hancur. Aku memang pantas mendapatkan sikap dinginnya." Kedua pria itu saling tatap. Pak Zainuddin semakin kasihan pada menantunya itu.
"Aku ingin anak yang ada di dalam rahimnya tumbuh dan berkembang dengan baik. Aku tidak mau Melati setres. Aku tidak akan menuntut hak apapun darinya. Aku hanya ingin dia merasa aman dan nyaman di sampingku, hingga anak kami lahir." Pak Zainuddin kembali mendudukkan bokongnya. Menggelengkan kepalanya yang terasa sakit itu. Dia tidak akan mendiamkan ini. Putrinya itu harus ditatar.
"Nampak cemen kan ayah, aku seperti seorang gadis ABG saja, yang curhat pada ayahnya karena ditinggal pacar." Ardhi tertawa kecil, menertawakan dirinya yang malang.
__ADS_1
Huuffftt....
"Aku memang butuh teman berbagi ayah. Ayah begitu baik, mau mendengarkanku. Rasanya sedikit plong." Masih menatap ayahnya yang duduk dengan menunduk.
"Terima kasih atas segalanya ayah. Kalau bukan karena ayah. Mana mungkin aku bisa seperti ini. Ayah percaya padaku, mulai hari ini, aku akan kembali seperti Ardhi yang dulu. Ardhi sebelum enam bulan yang lalu. Aku akan tetap mempekerjakan Rudi. Walau dia tidak bisa diandalkan setiap saat. Tapi, dia jujur." Ucap Ardhi tegas. Dia tidak mau Pak Zainuddin mencampuri urusannya dengan Rudi.
"Aku akan sabar, jadi suami yang baik untuk putrimu ayah. Walau dia tidak mencintaiku. Mau tidak mau dia akan tergantung padaku kelak. Ada anakku di rahimnya." Sikap dewasa dan memperjuangkan miliknya inilah yang disukai Pak Zainuddin pada Ardhi. Pria dihadapannya ini tak pantang menyerah.
"Apa kamu mencintai putriku?" tatapan teags pak Zainuddin.
"Dia istriku tentu aku mencintainya." Jawab Ardhi tak kalah tegas.
"Embun? kamu masih mencintainya kan?" desak Pak Zainuddin.
"Embun masa lalu, dia yang membuat hatiku jadi kuat, karena patah hati ayah. Akan sangat bodoh, jika aku mencintai istri orang." Ardhi tertawa.
"Pernyataannu ambigu, kamu itu belum mencintai Melati." Jelas Pak Zainuddin.
"Lagi belajar mencintai, berusaha jadi suami yang baik untuknya." Ardhi masih tersenyum, dia tidak mau memberi jawaban yang tidak dari hatinya. Dia memang sedang belajar mencintai Melati.
Melati sudah tidak tahan lagi mendengar percakapan kedua pria itu. Dia pun memilih pergi dari tempat itu, berjalan dengan cepat sembari melap air matanya. Ucapan Ardhi memang benar tentangnya. Tapi, suaminya itu terlalu cepat memvonis sikap dinginnya. Dia juga ingin membuka diri. Tapi, dia butuh waktu.
TBC.
NB: Rudi adalah manusia biasa. Dia bukanlah tipe asisten yang bisa menghandle semua masalah, seperti asisten2 lainnya di novel CEO2.🤗
Terimakasih masih tetap dukung ya readers
__ADS_1