
Dengan perasaan hati yang hancur Ardhi memasuki kamar tempat dia menginap. Dia mendudukkan bokongnya dengan lemasnya di sofa ruangan itu. Menarik napas dalam, sembari memejamkan kedua mata lelahnya.
Ardhi sampai di Kota Medan sekitar pukul dua siang. Dia langsung menuju Hotel Cambridge, karena dia akan melakukan pertemuan dengan rekan bisnisnya. Perusahaan Kontraktornya sedang ada masalah keuangan. Orang kepercayaannya menggelapkan uang perusahaan. Dan siang itu Dia dapat rekomendasi rekan bisnis yang mau menanam modal di perusahaannya.
Orang yang mau membantunya itu adalah, Pak Ardianto Wijaya. Pengusaha sukses di bidang Kontraktor sekaligus tambang emas. Pak Ardianto Wijaya adalah teman akrab Ibunya Ardhi sewaktu duduk di bangku SMP hingga SMA.
Pak Ardianto Wijaya punya anak gadis yang dari dulu selalu ingin dijodohkan dengan Ardhi. Tapi, Ardhi selalu menolaknya. Karena dia hanya cinta kepada Embun.
Dipertemuan hari ini, putri Pak Ardianto juga ikut di acara itu. Bahkan wanita itu, tidak ikut pulang dengan ayahnya. Dia memanfaatkan monent ini untuk dekat dengan Ardhi. Wanita ini punya karakter yang keras, rasa penasaran yang tinggi. Apa yang dia mau harus didapatkannya. Ardhi yang selalu menolaknya, membuatnya jadi tertantang mendapatkan pria itu. Dia pun mengajak pria itu, nongkrong di restoran, yang juga sedang dikunjungi Embun.
Anggun Putri Wijaya, itulah nama gadis yang sangat diinginkan Ibu Ardhi sebagai menantunya. Tapi, Ardhi tidak menyukainya.
Ardhi tidak menyukai Anggun, karena kepribadiannya yang tidak masuk dalam kategori Ardhi. Gaya hidup dan cara berpakaiannya sudah lari dari norma-norma adat ketimuran.
Kejadian hari ini membuat Anggun semakin tertantang untuk mendapatkan Ardhi. Tadinya dia ingin tertawa melihat Ardhi yang ribut, karena seorang wanita. Tapi, Akhirnya dia kasihan juga melihat pria itu.
Ardhi benar-benar merasa terpuruk saat ini. Ditambah dia tidak bisa komunikasi dengan kekasihnya, penyemangat hidupnya yaitu Embun. Wanita yang sangat dicintainya, hingga dia rela melakukan apapun, agar bisa bersama dengan wanita itu.
Masalah asmaranya dengan Embun, sangat mempengaruhi semangatnya, dia merasa hidupnya hampa. Biasanya setiap hari dia bisa mendengar suara pujaan hatinya itu. Bertemu dengan belahan jiwanya itu, walau sekedar makan siang atau makan malam. Embun buatnya sudah seperti oksigen, yang harus dihirupnya, agar bisa hidup dengan baik.
Hahaha... Suara tawa terdengar nyaring di telinga Ardhi. Dia pun memutar lehernya dengan malas, menatap wanita menyebalkan yang kini dengan tidak sopannya masuk ke kamarnya.
"Mau ngapain adek ke sini?" suasana hati Ardhi semakin buruk, melihat makhluk menggelikan dihadapannya. Penampilannya sungguh membuat Ardhi ingin muntah.
Hahaha...Wanita itu kembali tertawa. Ardhi menutup telinganya. Karena suara tertawa wanita itu sangat bising. Seperti tertawanya kuntilanak.
Luas tertawa, ia mendudukkan bokongnya di sofa tepat di hadapan Ardhi. Menyilangkan kakinya yang putih mulus. Pakaian Anggun yang mencetak tubuh, membuat Ardhi memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Dasar makhluk jadi-jadian, apa dia tidak risih berpakaian seperti itu. Ardhi membathin, membuang muka ke arah jendela kamar hotel.
"Ngenes aku lihat drama yang kalian tampilkan tadi. Berebut wanita di tempat umum. Wanita banyak woyy.... !" Seru Anggun, meledek Ardhi dan kembali tertawa. Lagi-lagi Ardhi menutup kedua telinganya.
Ardhi semakin ilfel saja melihat makhluk astral dihadapannya. Sudah rambutnya berwarna-warni. Makeup tebal lima centi, pakain kurang bahan lagi. Ibunya ngidam apa ya? koq punya anak gadis seperti ondel-ondel begini.
"Wanita yang seperti itu sudah langkah. Makanya diperebutkan." Ardhi bangkit dari duduknya, matanya risih melihat wanita di depannya. Dia pun mengambil air minum kemasan dari kulkas. Kerongkongannya terasa kering.
"Langkah, model begituan banyak tu di pasar loak. Hahaha...!" Anggun kembali menertawakan Ardhi. Dia ingat penampilan Embun yang menurut nya seperti babu. Karena saat itu Embun hanya mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana kulot warna hitam. Persisi seperti penampilan sales yang menjajakan barang kreditan yang datang ke rumah-rumah bawa brosur.
Ardhi semakin kesal saja. Sudah hatinya porak poranda. Ditambah kehadiran wanita aneh di kamar nya ini membuat kepalanya semakin pusing. Ardhi pun berjalan ke arah pintu kamar.
"Sebaiknya Adek keluar dari kamar ini. Aku ingin istirahat." Ardhi membuka pintu kamar mengusir Anggun dengan gerakan kepalanya ke arah luar.
Anggun geram, pria ini sombong sekali.
"Mengusir saya?"
Anggun bangkit dari duduknya, dengan gondoknya. Dia juga punya harga diri.
"Aku akan bilang kepada Ayah untuk menolak kerjasama dengan Abang." Anggun menatap kesal Ardhi, bibir bawahnya digigitnya. Mengumpamakan sedang menggigit Ardhi.
"Silahkan, itu ide bagus. Apalagi, keluar sekarang.!" Ardhi menaikkan nada bicaranya.
Anggun terkejut, seumur-umur baru kali ini dia dibentak seorang pria. Ayahnya begitu baik dan memanjakannya. Hatinya sakit mendapat perlakuan kasar dari Ardhi.
Dia sudah tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis. Sehingga tumpah ruah lah air matanya saat ini di hadapan Ardhi.
__ADS_1
"Apa sih salahku hah? dari kemarin-kemarin Abang itu selalu merendahkanku." Ucapnya sambil terisak, melap air matanya dengan jemarinya.
Ardhi semakin kesal saja. Dia ingin menenangkan diri. Sungguh kedatangan Anggun ke kamarnya, membuatnya semakin defresi.
"Kamu sendiri yang membuat dirimu direndahkan orang lain. Untuk apa kamu masuk ke kamar seorang pria, yang bukan mahrammu. Kalau kau ingin dihormati, rubah dulu penampilanmu, akhlakmu, adabmu. Sudah kamu Keluar sekarang." Ardhi menarik lengan Anggun dengan kasar, wanita itu hampir terjatuh, karena kehilangan keseimbangan. Tapi, dia masih bisa mempertahankan posisinya.
Brakkk...
Pintu kamar tertutup. Anggun terlonjak kaget.
"Lihat saja, aku akan balas kamu." Anggun mengepalkan tangannya. Kemudian melap air matanya dengan jemarinya.
Setelah menutup pintu. Ardhi menyandarkan tubuhnya di pintu itu. Dia menyesali sikap kasarnya kepada Anggun. Tapi, dia sedang kalut. Dia tidak ingin diganggu. Apalagi wanita itu, datang hanya untuk merendahkan Embun. Itu yang mebuatnya panas.
Seandainya tadi Anggun, datang dengan sikap baik, mau berbagi masalah, siap mendengar kegaulauan Ardhi. Mungkin pria itu tidak akan sekasar itu. Ini kedatangannya, malah membuat Ardhi semakin defresi. Tentu saja dia mengusirnya.
Ardhi membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar, sembari mengingat pertemuannya tadi dengan Embun.
Ardhi sudah melihat keberadaan Embun, disaat wanita itu naik ke ayunan besi. Dia menahan dirinya, agar tidak mendatangi Embun. Karena teringat isi perjanjian. Dimana diperjanjian itu tidak boleh ada kontak fisik antara mereka selama enam bulan. Tapi, raut wajah sedih Embun, membuatnya tidak tahan untuk tidak memeluk kekasihnya itu. Apalagi dia sudah sangat merindukannya.
Tanpa pikir panjang dia pun mendekap wanita yang sangat dirindukannya itu. Dia tidak peduli lagi dengan isi perjanjian. Bila penting dia akan melawan Tara dan membawa wanita itu pergi.
Ardhi merasa, Tara telah mengelabuinya. Dengan umpan kesalahan yang dilakukannya yaitu memenjarakan Pak Baginda, Ayahnya Embun.
Ardhi merasa dibodohi, ditipu dengan isi perjanjian itu. Tidak boleh kontak dengan Embun. Tentu saja itu sangat merugikannya. Bisa saja, Embun akan melupakannya dan berpaling kepada Tara.
"Aku harus mendapatkan Embun, genderang perang sudah ditabu. Tidak ada kata menyerah dalam kamusku." Tekat Ardhi sudah bulat. Embun harus kembali kepadanya, sebelum wanitan itu melupakannya.
__ADS_1
TBc.
Mohon dukungannya dengan like coment positif dan Vote 😍