
"Sabar, sabar. Sabar itu disayang Allah " Ucap Melati lembut dan berlalu ke kamar mandi untuk berganti pakaian setelah mengambil baju ganti dari lemari.
Sontak ucapan sang istri seperti angin seger buat Ardhi. Tentu saja ucapan istrinya itu adalah lampu hijau untuknya, gak harus mantap-mantap. Bercumbu saja dulu, begitulah keinginan Ardhi saat ini. Dia benar-benar ingin dibelai dan bermanja-manja. Dasar keinginan yang aneh.
Ardhi bangkit dari ranjang berjalan ke arah kamar mandi. Yang sebelumnya menyambar handuk kecil yang diletakkannya tadi di kursi meja rias dekat ranjang. Dengan debaran jantung yang tak karuan dia menunggu sang istri dengan bersandar di dinding. Dengan tangannya memegang handuk kecil warna pink. Ardhi pun bingung sendiri, untuk apa dia memegang handuk itu.
Pria itu benar-benar gemes kepada istrinya itu. Dia ingin cepat akrab dengan Melati. Merasakan sentuhan dari sang istri. Itu yang dia mau saat ini. Dia gak tahu perasaan apa itu namanya. Yang jelas dia ingin bermanja-manja dengan istrinya itu. Dibilang perasaan cinta, itu jelas bukan. Karena, dia tidak merasakan cinta. Mungkin hanya perasaan sayang sebagai suami.
Melati keluar dari kamar mandi. Ardhi pun mengekor di belakangnya. Melati yang bingung menoleh ke belakang. Menatap heran sang suami yang cengir padanya.
"Ada apa ya Mas? koq ngikutin adek mulu." Ucap Melati dengan kening menyerngit. Kini wanita itu sudah duduk di kursi meja riasnya yang sangat sederhana. Karena menyesuaikan dengan luas kamar yang mereka tempati.
"Kenapa rambut yang basah sudah ditutupi hijab? gak takut adek kepalanya nanti kutuan?" tanya Ardhi dengan penasarannya. Istrinya itu keramas tapi sudah pakai hijab saja.
Melati terdiam, dia masih malu pada Ardhi makanya dia gak berani lepas hijabnya. Biasanya juga dia keringkan dulu rambutnya baru pakai hijab.
"Buka aja dek hijabnya. Gak usah malu sama suami sendiri." Ardhi bisa menebak kegelisahan istri nya saat ini.
"Siapa yang malu."
Melati gak mau Ardhi mengetahui isi hatinya. Dia memang malu pada suaminya itu.
"Kalau gak malu dibuka dong, biar mas bantuin keringkan rambut adek yang panjang itu "
__ADS_1
"Mas tahu dari mana kalau rambut adek panjang?" Melati menautkan kedua alisnya yang tebal.
"Pernah Mas lihat sekilas, saat di rumah Embun. Saat adek muntah di ruang laundry. Juga tadi, saat adek ketiduran mas kan buka hijab Adek." Jelas Ardhi masih berdiri dibelakang Melati. Dengan tangannya memegang handuk kecil lembut dan tebal.
"Buka Napa? pingin lihat wajah adek dengan jelas tanpa hijab?" kini Ardhi sudah berada di samping istrinya itu. Benar-benar ingin sang istri tidak usah pakai hijab.
"Kita sudah sepakat untuk saling menerima dan serius dengan pernikahan kita. Kalau lihat rambut istri sendiri saja gak boleh. Itu mah aneh namanya. Masak adek malu terus sih?" Ardhi benar-benar tidak sabar ingin melihat wajah Melati tanpa hijab.
Melati menolah pada Ardhi yang tersenyum manis padanya.
"Iya Mas." Ucapnya lembut. Tangan wanita itu pun menarik lembut hijab sorongnya ke arah depan. Sehingga rambut basahnya Melati yang digulung itu terlihat sudah. Benar kata suaminya itu, mau sampai kapan dia malu dan enggan pada Ardhi. Sudah dua hari mereka menikah. Sejauh ini Ardi selalu bersikap baik padanya.
Ardhi senang banget melihat wajah istrinya tanpa memakai hijab secara jelas di depan matanya.Melati memang sangat cantik. Wajahnya itu seperti punya magnet. Disaat kita menatapnya sedetik saja, maka kita akan berlama-lama untuk menatap wajah itu. Tak bosan melihat wajah ayunya.
Ardhi menuntun Melati untuk bangkit. Dengan pasrah nya wanita itu kini sudah berdiri dihadapan sang suami dengan wajah menunduk. Perlakuan Ardhi benar-benar membuatnya tak tenang. Dia tahu suaminya itu ingin menyentuhnya. Karena memang suaminya itu sudah berkata ingin lebih dekat dengannya.
Ardhi benar-benar gemes lihat tingkah Melati yang malu-malu itu. Istrinya itu sampai gemetaran.
"Lihat mas dong?!" tangan Ardhi meraih dagu sang istri yang menunduk malu itu. Sesaat keduanya saling bersitatap, tapi dengan cepat Melati memalingkan wajahnya. Melati salah tingkah dengan tatapannya Ardhi. Tangan Ardhi pun mengatung di udara, karena Melati memalingkan wajahnya.
Tatapan suaminya itu menunjukkan ketertarikan padanya. Melati bertanya-tanya dalam hati. Apakah suaminya itu benar-benar menyukainya atau suaminya itu hanya ingin menciptakan kedekatan padanya karena dia sedang mengandung anaknya.
"Mas?!" Melati tambah terkejut disaat tangan Ardhi yang mengatung tadi sudah melepas ikat rambutnya. Sehingga rambut panjangnya yang hitam lebat itu terjuntai sudah.
__ADS_1
"Rambutnya di keringkan dulu " Ardhi meletakkan handuk kecil itu di atas kepala sang istri. Pria itu pun mulai menggerak-gerakkan handuk itu untuk mengeringkan rambutnya Melati.
Melati pun menarik napas legah. Dia sudah berfikiran jauh. Dia bahkan sudah memikirkan bahwa Ardhi akan meminta haknya saat itu. Tapi, nyatanya suaminya itu hanya ingin mengeringkan rambutnya.
Ardhi tahu bahwa sang istri takut untuk disentuh. Jangankan untuk mantap-mantap. Dicium saja mungkin istrinya itu belum siap.
"Nanti kita belanja semua perlengkapan untuk kita. Termasuk beli hairdryer. Adek pakai hijab, gak bagus rambut basah dibungkus." Cerewet sekali suaminya itu. Tangannya dengan lincah mengeringkan rambut melati yang panjang. Bahkan Ardhi sampai berputar segala. Agar lebih leluasa mengeringkan rambutnya Melati itu.
Melati pasrah saja rambutnya di ubek-ubek sang suami. Dia masih tercengang. Tidak menyangka suaminya itu mau mengeringkan rambutnya.
"Ok, sudah sedikit kering. Sekarang kita sisir dulu." Ardhi pun menyisir rambutnya Melati dengan ekspresi wajah cerianya. Kemudian pria itu kembali menatap lekat sang istri yang kini juga sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Entah kenapa Melati merasa terharu atas sikap Ardhi.
"Napa sedih? gak suka Mas bantuin keringkan rambutnya?" Melati menggeleng, kini mata indah itu malah mengeluarkan cairan bening.
"Kenapa jadi menangis? maafin mas kalau buat adek takut atau sedih. Mas tahu adek itu masih takut sama Mas. Itu wajar, karena Mas pernah jahat dan kasar sama adek. Tapi, please... lupain itu semua ya? Mas akan berusaha jadi suami dan ayah yang baik untuk keluarga kita. Jadi, Mas mohon.... Cobalah menerima Mas.
"Jujur dek, saat ini Mas butuh support. Mas butuh kasih sayang. Mas ingin merasakan dicintai." Ardhi benar-benar mengeluarkan isi hatinya. Dia Cemen sekali mengatakan itu. Seperti cewek yang haus cinta saja. Dia memang ingin mencintai dan dicintai. Siapa tahu jika mendapatkan cinta, dia bisa legowo melihat Embun berbahagia dengan Tara. Jujur, kadang dia sedih dengan dirinya sendiri.
TBC
Target untuk tamat tak tercapai. Menuliskan apa yang ada di otak itu ternyata butuh waktu yg lama.
Tetap dukung novel ini. Kita akan buatkan ending yang berkesan untuk pasangan Ardhi Melati. Embun dan Tara.
__ADS_1