DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
300 juta


__ADS_3

Ardhi kesal, karena ditertawakan oleh sang asisten.


"Bos mau nya berapa maharnya Non Melati?"


"Menurut mu berapa yang pantas?" Suara Ardhi terdengar penuh dengan kebingungan.


"Sebaik-baik wanita ialah yang paling murah maharnya Bos." Suara Rudi masih saja terdengar meledek. Pasti si Rudi merendahkan Ardhi, karena menikahi pembantunya sendiri.


"Dan sebaik-baiknya pria yang memberikan mahar banyak." Terang Ardhi penuh ketegasan. Dia pun akhirnya menyesali rencana yang sudah disusun mereka. Bahwa, Ardi akan memberikan kejutan kepada Melati. Dia tidak akan membicarakan terkait rencana pernikahan mereka. Yang jelas seminggu lagi, dia akan menikah dengan Melati.


Karena orang tua Melati tidak mau putrinya menikah di kota Medan. Akhirnya Ardhi akan membawa Melati pulang ke kampungnya. Disitulah dia akan mengatakan semuanya.


"Jadi, gimana maunya Bos?" tanya Rudi bingung. Pihak wanita menawarkan murah, pihak pria tidak mau murah. Oalah.... ribet amat


"Sekarang kamu ke rumahnya Melati lagi. Berikan lagi uang yang banyak untuk calon mertua ku itu." Ardhi kembali mengulas senyum. Haaahh..... Dia merasa senang, karena sebentar lagi akan punya ayah mertua. Dia sangat yakin, orang tuanya Melati, pasti sosok orang tua yang baik. Buktinya putrinya saja akhlaknya sangat baik.


"Oohh iya Bos. Mau diberikan berapa banyak Bos?" tanya Rudi dengan nada sedikit kesal. Kerjaannya jadi bertambah. Mana semalam dia juga sudah capek mondar-mandir menemani ayahnya Melati, mengurus pernikahan Bos nya itu kantor Urusan Agama.


"Berapa banyak ya?" Ardhi nampak berfikir dengan mengusap-usap dagunya.


"Kasih 1 M, bagaimana kalau tambahi 1 M lagi."


"A---pa? gak kebanyakan itu Bos. Tadi saja orang tuanya Non Melati sudah bersujud syukur. Disaat mereka menentukan Tuhor nya Non Melati sebesar 30 juta dan aku langsung setuju. Karena, kata Ibunya Non Melati, biasanya disaat pihak keluarga calon mempelai wanita meminta Beli atau disini namanya Tuhor, tiga puluh juta misalnya. Maka pihak calon mempelai pria akan menawarnya. Bisa turun ke 20 juta atau 15 juta. Lah kami semalam langsung setuju. Sujud syukur orang tuanya Non Melati Bos. Katanya mereka tidak menyangka Tuhor putrinya sebesar itu."


Penjelasan sang asisten yang panjang kali lebar itu, malah membuat Ardhi semakin bingung. Tidak mungkin maharnya Melati hanya tiga puluh juta. Itu terlalu sedikit. Dia ingin memberikan mahar yang yang wooww, agar Melati senang padanya. Agar Melati tidak takut lagi padanya.


Kalau Melati terus-menerus takut padanya, setres bersamanya. Dia takut anaknya yang ada di dalam kandungan Melati, tidak berkembang dengan baik nantinya.

__ADS_1


"Gak ngerti aku dengan apa yang kamu katakan tadi. Sekarang kamu ke rumah orang tuanya Melati lag. Beri uang sebanyak 1 M, kepada orang tuanya."


"Aku gak bawa uang cash sebanyak itu Bos."


"Ya kamu ambil ke bank lah." Jelas Ardhi kesal. Kenapa anak buahnya itu jadi bloon.


"Bos, ini kota kecil. Di sini adanya Bank rakyat. Apa bisa mengambil uang sebanyak itu?" Rudi menghela napas berat. Pria itu akhirnya mendudukkan bokong di kursi malas yang ada di balkon hotel tempat dia menginap.


"Jadi berapa?" t


"Aku tambahi 300 juta aja ya Bos."


"Apa cukup itu, apa itu gak buat aku malu nanti. Aku ini punya banyak uang." Suara Ardhi terdengar frustrasi sekali.


"Itu sudah pantastis Bos. Untuk wanita seperti Non Melati."


Rudi menggeleng penuh kekesalan. Dia memoyong-moyongkan bibirnya yang tebal ke ponselnya. Syukur saat ini Mereka sedang melakukan panggilan suara. Coba kalau melakukan panggilan video Tentu Ardhi akan semakin marah kepada Rudi yang mencibikkan bibirnya itu.


"Gak ada maksud apa-apa Bos. Baiklah, saya akan menambahnya lagi Bos. Sudah ya bOs. Sebaiknya kita sudahi dulu komunikasi ini. Nanti akan saya kabari Bos. Ok!" Ardhi langsung mematikan panggilannya. Dia merasa jadi tidak tenang. Rudi sekarang semakin tidak bisa diandalkan. Pria itu otaknya jadi lemot, karena sering mabuk-mabukan.


Ardhi menghela napas dalam, beranjak dari duduknya. Berjalan cepat menuju kamarnya Melati.


Sesampainya di ruang rawat inapnya Melati. Ardhi terkesima melihat penampilan wanita itu. Gamis yang dibelikannya untuk Melati, sangat cocok dikenakan wanita itu. Melati tidak kelihatan seperti pembantu. Tapi, seperti putri konglomerat.


Melati yang sedang duduk di tepi bed nya, akhirnya menunduk, tidak berani menatap Ardhi yang juga sedang menatapnya. Tatapan Ardhi benar-benar membuat wanita itu salah tingkah, sekaligus takut.


"Kamu sudah siap?" tatapan pria itu masih tak lepas dari Melati.

__ADS_1


"Ki-ta mau ke mana tuan?" Tanda tanya besar buatnya. Dia mau dibawa ke mana, dengan pakaian seelegant ini. Lagian dia belum boleh keluar dari ruangan itu. Dokter belum datang untuk visit.


Melati semakin gugup sekarang. Ardhi semakin melangkah ke arahnya.


"Mau memeriksakan kandunganmu." Melati dengan cepat menepis tangan Ardhi yang hendak mendarat di perut datarnya. Gerak cepatnya Ardhi, bisa dihadang wanita itu


Sungguh, Melati masih merasa ketakutan, apabila dirinya bersentuhan dengan pria yang terbengong di hadapannya saat ini.


"Ma, maaf tuan. A,ku aku gak bermaksud." Ucapnya terbata-bata. Melati yang melirik Ardhi sepersekian detik, menangkap kekecewaan di manik matanya Ardhi. Tentu saja Ardhi kecewa. Melati menghadang tangan pria itu menyentuh perutnya.


"Tidak apa-apa, aku yang harusnya minta maaf. Karena sudah sepantasnya aku meminta izin kepadmu untuk menyentuh bagian dari tubuhmu." Ardhi berusaha tersenyum, walau sebenarnya dia merasa tersinggung juga, dengan kelakuan si Melati.


"Aku tidak mau di USG " Saat mengatakan itu. Melati menatap Ardhi yang tersentak mendengar ucapan wanita itu.


"Kenapa tidak mau?" tanya Ardhi lembut, masih memperhatikan Melati dengan lekat. Dia sebenarnya kecewa mendengar Melati tidak mau dibawa ke Dokter Obgyn. Melati harus memberi alasan yang masuk akal. Agar dia mau mengikuti apa maunya wanita itu.


"Jangan sekarang ya tuan. Kalau Dokter cepat datang. Kita pulang saja. Kalau masih bisa terkejar. Aku masih mau ikuti ujian siang ini. Kami masuk ujian pukul 11.00wib." Ucapnya dengan nada lembut, masih menunduk.


"Oohh begitu, baiklah. Kita periksa kandunganmu, sepulang kuliah saja. Sekarang kamu tunggu di sini. Aku akan ke ruang administrasi."


"Iya tuan." Melati pun akhirnya menarik napas panjang setelah Ardhi keluar dari kamar itu. Sungguh, Melati merasa sesak, jika lama-lama berkomunikasi dengan pria itu. Perlakuan kejam dan sadisnya Ardhi, masih membekas di hatinya. Wanita itu benar-benar traumah. Sehingga jantung nya selalu hendak copot rasanya, apabila berlama-lama berkomunikasi dengan pria itu. Kalau benar mereka menikah, bagaimana Melati akan menjalani hari-harinya.


Memang sudah keputusan yang tepat jika dia menikah dengan Ilham saja.


TBC.


Mohon dukungan nya dengan like, coment positif dan vote say👍🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2