DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Interogasi


__ADS_3

Saat Tara berjalan dengan begitu banyak pikiran di koridor rumah sakit menuju kantin. Ponsel yang ada di saku celananya bergetar. Dia merogohnya dengan cepat dan terlihat dilayar Mamanya sedang memanggil. Dengan cepat Tara mengangkatnya.


"Bagaimana keadaan Embun?" terdengar suara Mama Mira begitu khawatirnya.


"Sudah baikan koq Ma." Ucap Tara menenangkan Mamanya itu.


"Kirim chat ke WA mama nama ruangan Embun di rawat." Mama Melati langsung mematikan ponselnya. Dia dan suaminya langsung bergegas masuk ke dalam mobil. Sedangkan Ayah Embun, masih sibuk cari informasi di dapur. Ada apa sebenarnya yang terjadi saat ada acara Martahi di ruang utama.


Ayah Embun yang mendengar penjelasan salah satu sanak familinya yang memang saat Embun dibopong Tara dari areal persawahan menuju kamar mandi mengetahui kejadian semuanya.


Ayah Embun begitu marah mendengar cerita sanak familinya itu. Rahangnya mengeras mencari keberadaan Ros. Yang kebetulan sedang duduk bersantai di taman belakang. Ros benar- benar tidak merasa bersalah. Dan Dia menganggap sepele dengan kekerasan yang dilakukannya. Karena memang Embun duluan yang menyerang.


"Kamu yang namanya Ros, teman Nak Tara?" tanya Pak Baginda, yang kini sudah berdiri dihadapan Ros dengan wajah emosinya. Bagaimana pun Dia sangat menyayangi putrinya itu. Walau Dia keras kepada putrinya. Dia tidak pernah main tangan.


"Iiiyaa Pak." Ucap Ros dengan sedikit ketakutan. Karena ekspresi wajah Pak Baginda memang sangat mengerikan. Mungkin kalau Ros bukan wanita. Pak Baginda akan menghajarnya.


"Apa yang kamu lakukan kepada putriku?" suara Pak Baginda yang begitu keras, semakin membuat Ros ketakutan. Dia baru menyadari bahwa lawannya berkelahi tadi adalah bagian dari keluarga besarnya Tara. Tapi, Dia belum sadar bahwa yang dihajarnya adalah calon istri Tara.


"Saaaya minta maaf Pak. Tapi, Dia dulu yang menyerang saya. Saya hanya membela diri saja." Ucap Ros dengan gemetar, Dia mengatakan yang sebenarnya.


"Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu." Ucap Pak Baginda dengan kesalnya. Dia nampak mengepal tangannya. Mencoba menahan emosinya. Cerita sanak familinya yang menceritakan Embun terluka parah. Membuatnya tidak bisa berpikir jernih.


Mendengar keributan di taman belakang. Kedua Orang tua Pak Baginda pun menghampirinya ke taman. Ompung Boru dan Ompung Doli dari Si Embun dan Tara tersebut. Menenangkan putranya yang emosi kepada Ros.


"Kita musyawarahkan nanti Nak. Jangan emosi dulu. Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang." Ucap Ompung Borunya Embun.


"Kamu jangan kabur dari rumah ini. Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu." Hardik Pak Baginda. Dia pun meninggalkan taman beserta orang tuanya. Mereka akan menjenguk Embun ke Rumah sakit.

__ADS_1


Sementara Ros masih duduk di bangku beton yang ada di taman tepatnya di bawah pohon mangga, Dia ketakutan. Dia pun menghubungi Bos nya Tara.


"Tara, Aku tidak mau dimasukkan ke penjara." Ucapnya dengan suara gemetar disaat Tara mengangkat telponnya.


"Nanti kita bahas, Aku sedang sibuk. Kamu tunggu saja di rumah Nenek. Jangan melarikan diri." Ucap Tara dengan tegas dan langsung mematikan ponselnya.


Dia pun sangat kecewa kepada sekretaris nya itu. Embun memang salah, Embun duluan yang menyerang. Tapi, tidak seharusnya Ros menghajarnya sampai babak belur begitu.


Tapi, yang tidak habis pikir. Kenapa Embun tiba-tiba menyerang mereka. Tidak mungkinkah Embun cemburu kepada mereka. Entahlah Tara semakin pusing memikirkannya.


Tara memasuki ruang Embun di rawat dengan membawa satu bungkus ukuran 1 kg Es batu. handuk kecil dan ember kecil. Dia tersenyum kepada Nantulangnya begitu juga kepada Embun. Tapi, ekspresi wajah Embun biasa saja.


Tara pun mulai ingin mengompres lengan atas Embun yang terkilir. Tapi, Embun menolaknya. Dia tidak mau Tara yang melakukannya. Sehingga Mama Nur pun mengambil alih.


Dengan pelan Mama Nur mengompres lengan atas Embun yang nampak bengkak dan memerah. Ya, saat ini tubuh Embun hanya tertutupi oleh sarung dari dada sampai ke bawah. Sedangkan tulang selangka, leher, bahunya terekspos indah.


Embun merasa risih ditatap oleh Tara. Padahal Tara tidak ada niat apa-apa saat memperhatikan Embun saat dikompres. Dia hanya kasihan saja melihat calon istrinya itu.


"Kamu keluar sana.!" ucap Embun sambil meringis kesakitan kepada Tara. Karena Mama Nur yang tidak mau mengusir Tara. Sehingga Embun yang akan mengusirnya.


Tara hanya diam, tidak menggubris ucapan Embun. Sikap Tara itu semakin membuat Embun kesal. Dia hendak mengusir kembali. Tapi, keburu orang tua Tara dan Ompung mereka sudah masuk satu persatu ke ruangan Embun dirawat. Kemudian disusul oleh Ayahnya Embun.


Semuanya nampak begitu mengkhawatirkan Embun. Apalagi Mama Mira dan Ompung Borunya Embun.


"Aduhhh sayang, kenapa jadi seperti ini?" Mama Mira menghampiri Embun dan kini berdiri disisi ranjang dekat kepala Embun. Wanita yang telah melahirkan Tara itu. Memperhatikan dengan detail wajah Embun. Pipi dan sudut bibir Embun masih bengkak dan memerah. Mama Mira sangat sedih melihat parumaennya itu terluka.


Tiba-tiba saja Embun menangis dengan sendunya. Dia juga sangat kesal, baru kalau ini Dia dihajar habis-habisan oleh orang. Mama Mira dengan cepat mengambil tisu dan melap air mata Embun yang membanjiri pipinya.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara pacarnya anak Bou itu." Ucap Embun dengan semakin terisak. Ucapan Embun membuat semua orang di ruangan itu terkejut dan saling bertukar pandang.


"Apa maksudmu sayang? pacar siapa?" tanya Mama Mira masih dengan ekspresi wajah yang bingung.


"Aku dihajar sama pacarnya anaknya bou." Ucap Embun dengan wajah menahan sakit. Memang lengan, pinggang dan pergelangan kaki Embun masih nyeri.


"Pacarnya Tara?" Mama Mira menanyakan kembali. Dia merasa tidak yakin dengan ucapan Embun.


Embun mengangguk. Cairan bening kembali jatuh dari sudut matanya.


Mama Mira melihat ke arah putranya yang juga berdiri disisi ranjang dekat kaki Embun. Tara mengangkat bahunya. Dia juga tidak mengerti dengan arah pembicaraan Embun. Karena Dia merasa tidak ada pacar.


"Coba jelaskan apa yang terjadi tadi Tara?" Mama Mira berjalan ke arah Tara. Menyentuh lengan putranya itu dengan lembut dan menatap lekat wajah Tara.


Tara membalas tatapan Mamanya dengan bingungnya. Haruskah Dia juga akan menceritakan bahwa Embun juga menendang benda pusakanya? Tapi, aneh saja kalau Dia tidak menceritakannya. Soalnya kenapa Dia membiarkan Embun dihajar, yang katanya pacarnya Tara.


"Jelaskan Nak? apa yang terjadi?" desak Mama Mira. Sedangkan penghuni ruangan lainnya, sibuk melihat detail kondisi Embun yang menurut mereka lumayan memprihatinkan itu.


"Aku tidak mengerti dengan ucapan Embun Ma. Aku dan Ros sedang di berada di saung yang ada ditengah sawah. Tiba-tiba saja, Embun datang menjambak rambut Ros. Dan Embun juga Menendang..." Tara melihat ke arah Embun. Dia tidak sanggup mengatakannya.


"Menendang apa?" desak Mama Mira. Dia nampak menggoyang lengan putranya itu yang tidak melanjutkan ucapannya.


"Aku menendang alat vitalnya. Karena mereka sedang mesum di saung itu." Ucap Embun dengan intonasi tegas yang membuat semua penghuni ruangan melihat ke arah Embun dengan ekspresi wajah tidak percaya.


TBC


Mampir juga ke novel ku yang berjudul

__ADS_1


Misteri Jodoh


__ADS_2