DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Egois


__ADS_3

"Dari hasil pemeriksaan sih, ibu sedang hamil. Tapi, untuk lebih pastinya. Ada baiknya orang Ibu dan Bapak periksakan ke rumah sakit, di USG dulu pak, Bu. Di klinik kita ini, belum ada alat untuk USG. Jadi saya sarankan Ibu Pakai Testpack saja. Tapi, di tes nya setelah ibu telat datang bulan, dua belas hari ke atas dari seharusnya jadwal Ibu menstruasi." Jelas sang Ibu Bidan. Penjelasan Bidan itu cukup membuat Melati bingung. Tapi, diiyakan nya saja. Sedangkan Ilham, duduk dengan tidak tenangnya di ruangan itu. Dia baru kali ini membawa seorang wanita periksa kehamilan. Jadi dia tidak terlalu mengerti dengan apa yang dikatakan sang Ibu bidan. Yang dia tangkap dari ucapan ibu bidan adalah. Bahwa Melati hamil.


"Jadi beneran hamil Bu?" tanya Ilham memastikan. Kini Bu Bidan sudah duduk di kursinya.


"Siapa yang hamil?" sang ibu bidan kembali Bertanya. Karena dia merasa pertanyaan Ilham ambigu.


Ilham tersenyum tipis, menatap satu persatu orang di ruangan itu. "Maksud saya, apa Adek ini beneran hamil?" Kini Melati sudah duduk, di kursi yang ada di sebelah Ilham.


"Adek, ini adeknya? bukan istrinya?" pertanyaan balik sang ibu bidan, membuat Ilham tambah bingung.


"Kami biasa memanggil satu sama lain dengan sebutan Adek dan Abang Bu bidan." Jelas Melati sedikit gugup, melirik Ilham dengan ekor matanya. Dan berdoa dalam hati, agar sang Bidan tidak banyak bertanya.


"Tapi, kalian ini suami istrikan?" lagi-lagi pertanyaan Bu Bidan, membuat mereka takut. Ilham dan Melati, tipe orang yang jujur. Sangat sulit untuk berbohong. Tapi, akhirnya keduanya mengangguk lemah.


"Saya sarankan, ibu pakai testpack setelah ibu telat datang bulan dua belas hari ke atas." Jari jemari Bu bidan, masih sibuk mengisi buku pink.


"Kenapa harus menunggu dua bas hari ke atas Bu?" tanya Melati bingung, serta harap-harap cemas.


"Waktu terbaik untuk melakukan tes kehamilan adalah seminggu sampai di Minggu setelah terlambat haid. Kenapa saya sarankan di waktu dua belas hari ibu telat datang bulan, baru di test. Agar, disaat ibu melakukannya ibu tidak kecewa nantinya disaat hasilnya keluar. Jika Ibu melakukan tes kehamilan sebelum masa tersebut, mungkin hasil yang didapatkan tidak akurat. Ini karena hormon kehamilan atau HCG memerlukan waktu untuk mengembang pada tingkat yang bisa dideteksi. Waktu yang dibutuhkan biasanya tujuh hingga 12 hari setelah implantasi telur berhasil." Penjelasan panjang lebarnya Bu Bidan, sudah tidak bisa dicerna dengan baik, oleh Melati. Dia tidak mau hamil. Cukuplah masalah dan penderitaan yang dialaminya sebatas pelecehan saja. Dia tidak mau, mengandung anaknya Ardhi.

__ADS_1


"Kalau saya test malam ini bagaimana Bu?" Kecemasan dan setres jelas terlihat di wajah pucatnya Melati. Dia tidak sabar untuk mengetahui kenyataan pahit itu. Tapi, jauh di lubuk hatinya paling dalam, dia tidak ingin hamil. Dia tidak mau hamil. Dia masih ingin kuliah. Dia juga masih ingin mengejar cita-citanya.


"Ada waktu terbaik dan tepat untuk mentestnya bu. Yaitu melakukan tes di pagi hari. Jadi, setelah ibu bangun tidur. Ibu tampung urine dulu. Setelah itu, celupkan alat testnya sesuai dengan keterangan yang ada di alat test itu. Tunggu tiga menit, biasanya hasilnya akan muncul. Kalau ibu beneran hamil, nanti akan muncul dua garis merah." Jelas Bu Bidan ramah. Memberi senyum manis pada Ilham dan Melati yang nampak bingung itu.


"Gak usah bingung bu. Besok pagi, ibu lakukan testnya ya. Ini buku pink ibu. Dua Minggu lagi datang kontrol kesini. Atau seumpama ibu kontrol ke tempat lain. Buku ini juga dibawa ya Bu." Bu Bidan menyodorkan buku pink, dengan tangan gemetar Melati meriahnya.


"Bu, sebenarnya saya hamil atau tidak sih?" saran bidan yang memintanya melakukan test, membuatnya ragu dengan diagnosa sang ibu bidan.


"Dari hasil pemeriksaan ibu memang hamil. Tapi, apa salahnya jika ibu lakukan test lagi. Untuk lebih pasti. Atau kita lakukan sekarang. Apa ibu banyak minum hari ini?" Melati menggeleng lemah. Dia tidak mau melakukan test di tempat itu.


"Oh ya Pak, jaga baik-baik istrinya. Wanita hamil itu gampang capek. Jangan dibiarkan istrinya bekerja berat. Misalnya mengangkat galon air atau Ember besar berisi pakaian." Ilham manggut-manggut mendengarkan penjelasan Dokter. Ilham nampak bahagia, seolah benar anak yang di Kandung Melati, adalah anaknya.


Melati menatap sendu Ilham. Lagi-lagi air mata tanpa permisi, jatuh membasahi pipi putihnya. Dia masih beruntung bisa kenal dan dekat dengan Ilham.


***


"Terimakasih banyak Bang." Melati sudah turun dari motornya Ilham. Dia memberikan jaket kulit warna coklat miliknya Ilham, yang dipakainya sepanjang perjalanan. Ilham tidak mau Melati kedinginan dan nantinya bisa masuk angin. Sehingga dia memberikan jaketnya untuk dipakai oleh Melati.


"Iya dek, sana masuk. Jaga kesehatan ya." Melati melangkah ke dalam rumah, lewat pintu samping. Sesekali wanita itu menoleh kebelakang. Dia ingin melihat terus wajah pria yang baik hati dan tampan itu. Ilham adalah dewa penolongnya.

__ADS_1


Setelah Melati masuk ke dalam rumah. Ilham pun cabut dari rumah itu, dengan perasaan yang berkecamuk. Dia sangat benci Ardhi. Pria itu telah merenggut kesucian wanita yang sangat dicintainya. Dia harus berjumpa dengan pria itu. Pria itu harus diberi pelajaran. Jangan seenaknya saja meniduri anak gadis orang.


"Eehh kakak?" Melati hampir saja menabrak Embun yang berdiri di ambang pintu. Melati banyak pikiran, jadi dia tidak menyadari keberadaan Embun di depannya.


"Iya Dek Mel. Ayo ikut kakak sebentar. Ada yang ingin kakak tanyakan padamu." Embun meninggalkan Melati yang masih menunduk di hadapannya. Setelah Embun melangkah kakinya lima langkah. Dia pun menyusul sang majikan, masuk ke kamarnya yang tergolong sangat kecil itu. Ya namanya kamar pembantu.


"Katakan jujur, sejujur-jujurnya, tentang kejadian percobaan pembunuhan yang kamu alami waktu itu. Terkadang kakak merasa ada yang ganjal. Tapi, baru saat ini saya punya waktu menanyakannya padamu." Melati mulai merasa tidak tenang. Rongga dadanya terasa sesak, tidak siap dicercal dengan banyak pertanyaan.


"Apa Pak Ardhi menodaimu?"


Duar....


Deg.... deg


Kenapa mantannya Ardhi ini menanyakan hal menyedihkan itu. Kenapa majikan barunya itu penasaran?


"Ii--tu, Iiihh...Ituu," Melati sangat gugup. Karena bagaimanapun itu akan, Jadi rahasia nya. Dia tidak mau menceritakan itu pada orang lain. Itu adalah aib. Dia sudah tidak mau berurusan dengan Ardhi dan kedua wanita gila yang ingin membunuhnya terus.


"Kamu hamil kan? tunangan Ardhi, yaitu Anggun menghajarmu di rumah sakit, karena, wanita itu tahu, kamu ada apa-apanya demgan Ardhi." Embun tidak mau dibantah. Dia langsung mengangkat tangannya. Meminta Melati menyerah saja, dan berkata jujur.

__ADS_1


__ADS_2