DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Cerai


__ADS_3

"Nak, kabulkanlah permintaan ibu yang terakhir kali ini. Menikahlah dengan Lidya."


"Apa..?" suara terkejutnya Ardhi terdengar kuat. Matanya melotot penuh pada sang Ibu. Dengan ekspresi kesal, kecewa bergabung jadi satu. Ibunya itu sungguh keterlaluan. Diberi musibah sakit, bukannya intropeksi diri. Malah otaknya makin eror. Anak sudah menikah, malah disuruh kawin lagi.


"Jangan bentak ibu nak. Sampai kapanpun ibu tidak akan merestui hubunganmu dengan Melati. Dia itu wanita pembawa sial. Lihatlah setelah dia bekerja di rumah, begitu banyak masalah yang datang. Dan kamu malah menikahinya." Ardhi yang syok dan kesal pada Ibunya itu, hanya bisa menatap tajam sang ibu. Mulutnya tertutup rapat. Dia sedang menahan dirinya agar tidak emosi dan mengeluarkan kata sumpah serapahnya.


"Jangan melotot begitu. Ini semua demi kebaikan kita. Lidya menyukaimu, dia juga pengacara hebat. Kalau kalian menikah, Ibu yakin. Kamu akan semakin sukses nak." Ardhi yang geram memilih untuk pergi dari kamar itu. Tidak mau lagi melihat sang ibu yang menangis tersedu-sedu itu.


Ibu Jerniati syok melihat Ardhi mengabaikan permintaannya. Dia pun langsung merasa sesak napas. "Ar--dhi, Ar--dhi...!" Suara wanita itu tercekat, seolah malaikat sakratul maut sedang mencabut nyawanya. Sedangkan Lidya, heboh, menangani ibu Jerniati yang sesak napas itu.


Ardhi pun berbalik badan, tangannya yang sudah memegang handle pintu lepas sudah. Berjalan cepat ke arah Ibu Jerniati yang berbaring dengan balas tersengal-sengal di atas ranjang.


"Bu, Ibu..!" Ucapnya panik, merangkul sang ibu. Lidya yang menjauh dan memilih duduk di dekat kaki Ibu Jerniati itu pun memijat-mijat kaki keriput ibu Jerniati. Benar-benar bisa berakting, seolah sayang dan peduli pada wanita tua itu.


"Nak, ka-bulkan permintaan ibu. Lidya rela jadi is-tri kedua." Ardhi menggeleng. Ibu Jerniati kembali semakin sesak. Saat ini dia hanya ingin permintaannya dituruti. Karena, dia yakin. Masalah akan terus datang padanya. Sehingga dia sangat membutuhkan menantu cerdas dan seorang pengacara.


Hhuufffttt.....


Ardhi menarik napas kasar. Dia benar-benar merasa tertekan saat ini.


"Nak, kabulkan permintaan Ibu. Kalau kamu menolaknya. Ibu bisa mati sekarang." Masih menangis sedih. Ya ibu Jerniati sangat membutuhkan Lidya. Dia sudah termakan hasutan Lidya.

__ADS_1


"Bu, itu kita bahas nanti saja. Setelah keadaan ibu benar-benar stabil ya?!" Menatap sedih sang ibu, yang tidak mau mengerti akan dirinya


Kenapa ibunya itu, semakin tua semakin egois.


"Mau menikah dengan Lidya kan nak!" masih menekan Ardhi dengan napas yang tersengal-sengal.


"Saya bisa...!' suara ketukan di pintu, membuat Ardhi tidak melanjutkan ucapannya.


"Tuan, ada Pak Zainuddin ingin menjenguk Nyonya besar." Suara ART terdengar kuat. Ardi yang tadi duduk di tepi ranjang sang ibu. Kini bangkit dan langsung menghampiri Pak Zainuddin.


"Ayah." Pria itu mencoba rileks dihadapan sang ayah angkat dan sekaligus ayah mertuanya itu.


Pak Zainuddin nampak celingak-celinguk. Dia terlihat risau dan kesal. Tapi, jelas terlihat dari ekspresinya. Pria itu sedang mencoba rileks.


"Mana Melati?" Tujuan Pak Zainuddin ke rumah itu. Untuk menanyakan semua yang diketahuinya. Dia harus memastikan kebenaran dari ucapan Anggun.


"Pak Zainuddin, itulah yang sedang kami bahas sekarang." Ibu Jerniati langsung semangat. Padahal tadi dia nampak sesak. Apakah wanita itu hanya Acting atau beneran merasa jantungnya tidak berfungsi dengan baik. Entahlah....


Pak Zainuddin mendekat ke Ibu Jerniati, dia penasaran juga dengan kelanjutan wanita yang ada di hadapannya. Ibu Jerniati yang semangat itu, meminta bantuan pada Anggun untuk mengubah posisinya jadi duduk.


"Pak tolong nasehati putramu itu. Dia menolak untuk menikah dengan Lidya, karena Melati si pembantu, wanita pembawa sial itu." Pak Zainuddin terbakar hatinya mendengar ucapan wanita tak tahu diri itu. Tak perlu lagi dia mencari kebenaran dari mulut putrinya. Wanita tua bau tanah dihadapannya sudah memberi dia jawabannya dan yakin atas ucapan Anggun. Kalau Ibu Jerniati benci pada Melati, Bahkan ingin membunuhnya.

__ADS_1


"Bapak kenapa menatap serius seperti itu?" Ucap Ibu Jerniati, mencoba tersenyum tipis. Merasa takut, dengan tatapan tajam Pak Zainuddin. Antara serius mendengarkannya, atau ingin menelannya hidup-hidup.


"Tolong lah Pak bujuk Ardhi, agar menikah dengan Lidya. Dia tadi hanya mengatakan jangan membahasnya sekarang. Itu artinya dia sebenarnya mau. Iya kan nak?" Ardhi menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Sungguh ibunya itu akan membuatnya hancur.


Pak Zainuddin mengalihkan pandangannya ke arah Ardhi, yang terlihat frustasi itu. Bahkan pria itu kini memukul kecil dinding kamar itu. Tatapan sang ayah angkat dan ayah mertua. Menyiratkan kebencian padanya.


"Oohh.... Agar hati Ibu senang. Saya harus meminta Ardhi menikah dengan wanita itu?" Ucap Pak Zainuddin dengan tegas dan suara sedikit bergetar, karena dia sudah bisa merasakan sakitnya hati putrinya selama ini. Sehingga dia sempat bertanya-tanya. Kenapa putrinya itu tidak pernah menjenguk ibu Jerniati di rumah sakit. Ternyata ini semua alasannya. Ibu Jerniati sudah mendzolimi putrinya.


"Kalau saya meminta Ardhi menikahi wanita ini. Pengacara hebat ini. Itu artinya, Ardhi harus menceraikan putri saya, Melati Assyifa." Ibu Jerniati tersentak mendengar ucapan Pak Zainuddin. Kenapa Pak Zainuddin mengatakan Melati putrinya.


"Baiklah, nak Ardhi. Saya, minta kamu ceraikan putri saya. Dan menikahlah dengan wanita pilihan ibumu. Dan saya pastikan kamu dan ibuku akan jadi gembel esok hari." Ucap Pak zainudin tegas, menunjuk-nunjuk kesal Ibu Jerniati dan Ardhi di ruangan itu.


"Kalau dia sudah jadi gembel. Apa kamu masih mau jadi pasangannya?" Kali ini telunjuk pak Zainuddin beralih kepada Lidya yang terkejut itu. Wajah wanita itu, kini pucat pasi. Karena, dia tahu siapa Pak Zainuddin dan Ardhi.


"Saya bersyukur sekali pada Allah. Bahwa hari ini, saya tahu sendiri apa yang menimpa putri saya, selama ini. Dan kamu Ardhi, tak pantas untuk putriku." Mata Pak Zainuddin berkabut. Pria itu menghela napas kasar. Dan saat itu cairan bening itu sudah membuat matanya berkaca-kaca.


Pak Zainuddin kecewa pada Ardhi. Dia merasa Ardhi tidak tegas, pada sang ibu. Memberi jawaban penuh harapan kepada sang ibu. Dengan mengatakan dibahas lain kali, untuk hal keinginan gila ibunya. Yang ingin dia menikah dengan Lidya.


"Ayah, ayah bicara apa?"Ardhi mendekati Pak Zainuddin yang seperti kesetanan itu. Ucapan Anggun selalu teriang-ngiang ditelinga Pak Zainuddin. Dia tidak bisa membayangkan, putrinya yang dihajar Ibu Jerniati.


"Aku akan mengurus perceraian kalian. Dan kamu wanita tua tak tahu diri. Suka maksiat, kenapa kamu tidak mati saja. Ya memang, biasanya orang jahat tak tahu diri, seperti kamu. Susah matinya. Karena apa? karena Allah, masih memberi kamu waktu untuk bertaubat." Pak Zainuddin berdecak kesal, melangkah penuh dengan amarah, meniggalkan kamar itu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2