
Setelah selesai makan malam. Ardhi saat ini sedang diperiksa oleh Dokter Fahri. Yaitu Dokter keluarga mereka. Walau lukanya sudah dikasih salep untuk luka memar dan bengkak. Dia tentu saja harus memeriksakan dirinya.
"Beneran bangkrut kamu Ardhi? sampai tinggal di rumah seperti ini?" tanya Dokter Fahri dengan tidak percayanya. Menyoroti rumah sempit itu. Ardhi sudah selesai diperiksa kesehatannya oleh sang Dokter tampan itu.
Melati yang sedang membuatkan teh untuk sang Dokter dan sang suami, dibuat sedih dengan ucapan Dokter itu. Jangan sempat, suaminya itu jatuh miskin. Dia harus bicara dengan sang ayah secara empat mata.
"Harga saham perusahaanmu juga belum naik kan?" ketus sang Dokter, dengan wajah masam.
"Ya semoga saja gak bangkrut Dok. Kalau beneran bangkrut. Siap-siap saja tagihan untuk mu bulan ini gak terbayar." Ardhi tertawa tipis, dia malas membahas persoalan berat. sedangkan sang Dokter menautkan kedua alisnya. Kalau Perusahaan Ardhi bangkrut, dia bis rugi besar.
Ardhi sudah kembali ceriah. Karena, Melati ternyata tidak membencinya dan tidak ingin berpisah dengannya.
"Waahhh... bukan itu saja kerugianku Ardhi. Uangku sudah banyak habis beli sahammu sebulan lalu, katamu harga sahammu akan naik bulan ini. Tapi, nyatanya turun 25
%." Ucap sang Dokter menghela napas kasar. Dia merasa sesak juga, mikirkan uangnya yang tidak akan kembali.
Saat kedua asyik berbincang, melati datang membawakan dua gelas, berisi minuman. Satu gelas, kopi susu untuk Dokter dan satu gelas lagi kopi pahit untuk Ardhi.
"Silahkan diminum Dok." Ucap Melati ramah, sekalian menyodorkan toples yang sudah dibuka, di dalam toples itu ada biskuit coklat. Sang Dokter tersenyum manis membalas senyuman Melati. Dia tidak menyangka Melati ternyata anak Oak Zainuddin.
"Teriami kasih ya Dek." Jawab sang Dokter masih tersenyum. Ardhi melirik sang Dokter dan melototkan matanya. Dia tak suka melihat Fahri yang seperti tebar pesona itu.
"Biasa aja kali itu mata." Fahri pun kini fokus menyeruput kopi susunya. Dia tahu Ardhi kesal padanya. Karena tersenyum pada Melati.
"Makanya jangan lihat-lihat istri gua dengan senyum tak jelasmu itu." Ucap Ardhi tegas, masih menatap Fahri.
"Iya, iya. Masak melihat Adek Melati saja gak bisa. Apa gunanya ini mata." Fahri melongos kesal. Bangkit dari duduknya. Mending dia cepat pulang. Dari pada jadi obat nyamuk di rumah itu.
"Baiklah, aku pulang dulu. Saya tidak mau tahu. Harga sahammu harus naik atau kembali pada harga semula. Assalamualaikum...!" Sang Dokter pun keluar dari rumah itu. Tanpa menunggu jawaban dari Ardhi. Hanya suara menjawab salam yang terdengar olehnya.
__ADS_1
Sepulangnya Dokter Fahri. Melati mengambilkan air putih untuk sang suami. "Mas minum obatnya dulu ya?!" Melati mengambil obat sang suami dan menyodorkannya. Dengan tersenyum Ardhi meraihnya beserta gelas yang berisi air putih. Dengan satu kali tegukan empat jenis pil itu lolos juga masuk ke saluran pencernaannya.
Melati tersenyum manis melihat sang suami yang semangat saat minum obat.
"Mas kita ke kamar yuk!" ucap Melati serius. Menyimpan obat sang suami di dalam laci meja kerja sang suami yang ada di sudut ruang tamu itu.
"Apa, ke kamar? ayo sayang, tahu aja adek ini kalau mas lagi pingin. Tadinya Mas enggan memintanya. Tapi, melihat adek semangat ajak masuk kamar. Mas senang sekali." Kening Melati mengerut mendengar ucapan Ardhi yang nampak serius dan semangat itu. Pasti suaminya itu mikirnya ke arah mantap-mantap. Apa dia gak tahu keadaannya seperti apa sekarang.
Melati menggeleng lemah dan tersenyum. Dia pun langsung masuk ke kamar, dengan tingkah dan tatapan mata yang membuat Ardhi penasaran. Tentu saja Ardhi mengekorinya dengan semangat empat lima.
"Ya sudah sebelum mas berbaring. Buka dulu bajunya "
"Apa? astaga sayang... kenapa hari ini kamu banyak perkembangan. Biasanya mas yang selalu minta duluan." Ucapnya semangat, membuka kaosnya.
"Stop ...!" sebelum buka celana, mas harus pakai sarung dulu. Menghentikan aksi Ardhi saat membuka celana panjang bahan cotton itu.
"Oohh iya ya, pakai sarung dulu, baru dilepas celananya." Ucap Ardhi cengir. Rasa sakit di punggung seolah hilang, karena pikirannya sudah traveling. Ardhi pun memakai sarung motif kotak-kotak itu. Membuka celananya, Melati pun menyimpan pakaian sang suami. Di atas kursi meja riasnya.
Melati mengangguk, dengan senyum tipis penuh maksud yang membuat Ardhi sangat penasaran.
Ardhi yang kini hanya memakai sarung itu, sudah berbaring dengan terlentang di atas ranjang. Rasa sakit ditubuh hilang sudah. Karena semangatnya untuk dibelai dan dimanjakan oleh sang isteri. Memberi nikmat yang bisa melonggarkan sarafnya.
"Dimulai dari mana ya Mas?" tanya Melati bingung duduk di sebelah Ardhi dengan memegang sebotol minyak urut di tangannya.
Ardhi yang melihat botol berisi minyak untuk memijat itu, akhirnya lesuh dan cemberut.
"Adek mau pijat Mas?" tanya Ardhi dengan lemas. Melati mengangguk dengan tersenyum tipis. Lucu sekali raut wajah Ardhi yang nampak bete itu. Apa yang dipikirkannya tak akan terjadi.
"Kirain kita mau gituan sayang?!" Ucap nya malas, menatap langit kamar dengan frustasinya.
__ADS_1
"Emang mas bisa gituan, kan lagi cidera. lihat itu punggung pada memar dan bengkak. Bibir dan mata juga bengkak." Ucap Melati mulai memijat tangan Ardhi dengan kekuatan penuh.
"Tapi kan sayang, yang itu gak luka. Ya bisalah dia bermain." Ucapnya masih dengan lesunya.
"Apa adek gak lihat. Dia sudah AT-TAHIYATUL." Ardhi menggerakkan kakinya. Sehingga miliknya yang tidak bertulang itu, sudah on dibalik sarung. Mata Melati kini tertuju ke arah itu.
Melati menutup mulutnya, karena dia sudah tidak tahan lagi untuk tidak tertawa. Lucu sekali suaminya itu saat ini. Suaminya itu merajuk seperti anak kecil yang harus dibujuk sang ibu.
"Mas itu lagi sakit " Melati menggeleng dan masih tersipu malu. Kenapa ya, kalau membahas begituan dengan orang yang kita cinta, buat senang dan bahagia.
"Ya obatnya itu, mas ingin tidur nyenyak sayang." Menangkap tangan Melati yang kini memijat dada sang suami. Dan keduanya beradu pandang, Ardhi menatap sang istri penuh dengan birahi. Sedangkan Melati menatap Ardhi penuh rasa geli.
"Cium mas!" ucap Ardhi dengan tatapan yang menghanyutkan. Tapi, entah kenapa Melati merasa tingkah sang suami lucu sekali. Sehingga dia hanya tersenyum menanggapi permintaan sang suami.
"Cium mas!"
"Mas ini apaaan sih? maksa minta dicium. Kalau mau cium, ya cium saja." Ucap Melati masih memanas-manasi Ardhi.
"Mas ingin dicium, dibelai, dimanja."
"Hahahaha.... iya, iya Mas. Ini adek cium bibirnya yang bengkak. Biar tambah bengkak." Melati pun mendaratkan bibirnya di bibirnya Ardhi yang haus akan sentuhan itu.
"Sekarang matanya," mencium kedua mata Ardhi dengan lembut. "Hidungnya juga," Mencium hidung Ardhi." Saat ini sang suami sudah merasa lucu dengan tingkah keduanya.
Dia yang gemes pada sang istri, langsung mendekap wanita itu. Menggulingkan badannya, sehingga kini Melati sudah ada dibawah Kungkungan.
"Mas..!" Melati sudah mulai menggelinjang gak jelas seperti cacing kepanasan. Saat tangan nakal sang suami sudah mengobok-obok pintu surga dunia itu. Dan bibir bengkak sudah mulai naik turun gunung kembar yang hangat dan kenyal itu.
TBC.
__ADS_1
SeteKetiga orang itu sekarang sedang duduk di lantai beralaskan ambal. Ya di rumah mungil itu tak ada sofa atau kursi tamu.