
"Masih segumpal daging. Dia tidak bisa diajak komunikasi." Ketus Melati, memalingkan wajahnya. Tentu saja rawut wajah Melati masih menampilkan ekspresi takut pada pria itu. Jangan-jangan itu hanya akal-akalannya suaminya itu. Dari megang perut, pasti nanti merayap ke mana-mana. Melati belum siap untuk kontak fisik dengan Ardhi.
"Oh iya ya?" Ardhi cengir kuda. Berusaha mencairkan suasana yang tegang. Di juga malu, karena Melati menolak sentuhannya.
Melati pun kembali berbaring, dia memilih posisi miring membelakangi Ardhi. Sedangkan Ardhi saat ini masih duduk memperhatikan Melati yang memunggunginya. Merasa diperhatikan, Melati pun berbalik. Sehingga kini wanita itu kembali terlentang dan mereka kembali bersitatap.
Melati hendak mengubah posisinya jadi duduk kembali.
"Tidurlah, Mas tahu kamu tidak nyaman seranjang denganku. Mas tidur di sofa saja." Ardhi langsung beranjak dari ranjang. Melati jadi merasa serba salah. Dia memang ingin pria itu jangan dekat-dekat dengannya. Tapi, dia tidak mau juga kadi istri yang jahat, kalau membiarkan suaminya tidur di sofa. Ranjang masih sangat luas. King size ukuran nya.
Akhirnya Melati memilih membiarkan Ardhi tidur di sofa. Lagian dia tidak melarang suaminya itu tidur seranjang dengannya. Suaminya itu saja yang baperan.
Melati tetap memilih posisi membelakangi Ardhi. Dia masih tidur miring ke kanan. Dia tidak akan bisa tidur, karena saat ini tatapan Ardhi tepat kepadanya. Makanya wanita itu memilih memunggungi sang suami.
"Adek tidur pinginnya lampu terang begini? atau pakai lampu tidur saja?"
"Remang-remang." Jawab. Melati cepat. Masih memunggungi sang suami.
"Oohh suka yang remang-remang. Yang remang-remang memang terkesan romantis, dan menenangkan apalagi berpelukan, terus meraba-raba. Mana ini malam dingin banget lagi." Ucap Ardhi menggoda Melati. Entah kenapa pria itu tidak bisa tidur. Padahal dia itu. begadang semalaman, karena memantau Melati dalam mobil travel bersama Ilham.
Mendengar ucapan sang suami. Melati semakin merasa ketakutan. Saat ini, apa yang diucapkan suaminya itu, pasti dianggapnya serius. Melati tidak mau lagi menanggapi ucapan suaminya itu. Terserah lampunya mau terang, remang-remang dan mati aja sekalian.
Melati menarik selimut, menutupi tubuhnya. Bahkan hanya bagian wajahnya yang tidak ditutupi wanita itu. Melati terus saja mawas diri. Awas saja, kalau suaminya itu datang meraba-raba. Dia akan tunjukkan sikap ketidaksukaannya. Setelah menutup tubuhnya dengan selimut. Dia pun merasa hangat. Hawa di kampungnya Melati, memang terkenal dingin. Kamar tempat mereka menginap tidak menyalakan AC. Tapi, Ardhi merasa kedinginan
Aku masih seperti yang dulu, emang dia dulu seperti apa? mana aku tahu tentang dia. Aku hanya sesekali berkomunikasi dengannya. Memasak makanan khusus untuknya. Jadi clening service di kamarnya. Mana ku tahu gimana dia diluaran sana. Iya sih, dia nampak baik. Tapi, kan dia jahat. Dia menodaiku, bukan aku saja wanita yang dinilainya. Nona Angggun juga.
Melati membatin, dadanya terasa sesak dan nyeri mengingat semuanya. Gimana dengan Non Anggun dan Ibu Jerniati kalau tahu mereka menikah. Ardhi belum memberi penjelasan dengan detail, hubungannya dengan Anggun.
Lampu utama di kamar itu pun padam. Dan menyisakan lampu tidur. Melati bisa merasakan kalau Ardhi kini berjalan ke arah ranjang. Melati kembali mawas diri. Dia tidak mau Ardhi memeluknya dan meraba-raba nya, seperti kata pria itu barusan. Kedua bola matanya sibuk bergerak mondar-mandir. Waspada dari serangan Ardhi.
Ternyata pria itu tidak naik ke atas ranjang. Suaminya itu, hanya mengambil bantal yang ada di sebelah Mati.
Melati pun akhirnya menarik napas legah. Suaminya itu benar-benar menepati kata-katanya untuk tidur di sofa.
Melati pun mencoba untuk menenangkan dirinya. Membaca suroh suroh pendek, serta ayat kursi. Berharap kamar itu terhindar dari godaan setan.
__ADS_1
❤️❤️❤️
Kring.... kring. kring....
Tara terbangun, karena bunyi alarm terdengar berisik berulang kali di telinga pria itu. Dia yang kesadarannya belum kembali sepenuhnya. Berfikir, menerka-nerka, siapa yang menyetel alarm sepagi ini. Bahkan suara tarhim di Mesjid belum terdengar.
Tara membuka matanya yang terasa sangat berat itu. Dia masih kantuk, karena tadi malam mereka begadang. Mencari pahala di malam Jum'at.
Kedua bola mata kantuknya Tara, mencari-cari jam yang bertengger di dinding kamar itu. Dia menghela napas kesal, ternyata masih pukul empat pagi. Siapa pula yang menyetel alarm sepagi itu. Tanpa suara ribut alarm pun, Tara selalu bangun tepat waktu, karena dia tidak pernah melewatkan sholat subuh.
Tara mematikan alarm yang sangat berisik itu. Menoleh kepada Embun yang tidur menghadap dirinya. Istrinya itu terlihat pulas. Tentu saja tertidur pulas. Tadi malam istrinya itu tiga kali pelepasan.
Hati Tara menghangat setiap memandangi wajah cantik, judes, lembut. Aahhhhh... entahlah, semua yang ada pada istrinya itu, membuatnya gemes. Baik sisi buruk atau baiknya Embun.
Tara pun meraih tubuh Embun ke dalam dekapannya. Mendekap erat sang istri. Membenamkan wajah Embun di dadanya yang bidang yang dihiasi bulu-bulu halus hitam, yang membuat Embun bergidik geli disaat melihat dada bidangnya Tara.
Tara yang tidak bisa tidur itu pun, mengelus-elus pelan punggung sang istri sambil bersholawat.
"Allahumma shalli 'ala Muhammad wa'ala ali Muhammad" Pria itu mengucapkannya dengan nada yang lembut.
"Allahumma shalli 'ala Muhammad wa'ala ali Muhammad" Gak terhitung lagi berapa kali Tara membaca sholawat itu di pagi ini. Embun pun akhirnya terbangun, karena suara merdu serta usapan lembut, suaminya itu. Tapi, wanita itu memilih diam. Menikmati usapan lembut penuh kasih dan sayang serta suara merdu yang keluar dari mulut sang suami saat bersholawat.
Embun pun akhirnya teringat dengan alarm yang disetelnya. Dia menyetel alarm pukul empat pagi. Dia melakukan itu, karena ingin cepat bangun. Melakukan test kehamilan dengan testpack.
Sepulang dari acara pernikahannya Ardhi di Kota Sipirok. Malam itu mereka langsung pulang ke rumah mereka yang di kota PSP. Tapi, saat sampai di kota PSP sudah larut malam. Praktek dokter obgyn sudah tutup. Jadinya mereka ke I mart untuk beli test pack.
Katanya hasil testpack sangat akurat dilakukan di pagi hari, makanya Embun yang tidak sabaran itu, ingin cepat bangun, melakukan testpack. Apakah dia hamil? karena dia tidak mengalami tanda-tanda kehamilan seperti yang dialami banyak wanita yaitu muntah-muntah serta tidak bertenaga. Misalnya yang dialami oleh Melati.
Embun sama sekali tidak merasakan Morning sicknes. Malahan yang dirasakannya saat ini adalah. Dorongan bercinta yang sangat kuat dengan Tara. Lihat tayangan TV atau sinetron yang romantis saja, dia jadi pengen gituan dengan Tara.
Tata masih saja bersholawat, saat itu dia terkejut dengan kelakuan sang istri yang langsung loncat turun dari tempat tidur.
"Adek kenapa?" tanya Tara memperhatikan Embun yang berlari ke kamar mandi.
"Kebelet pipis sayang." Ucapnya tanpa menoleh kepada sang suami. Tara hanya menggeleng lemah dan tersenyum tipis dengan kelakuan Embun, yang seperti anak kecil berlari terbirit-birit ke kamar mandi.
__ADS_1
Setelah sampai di kamar mandi. Embun dengan perasaan was-was dan harap-harap cemas. Mengeluarkan urine dengan tidak sabarannya ke wadah yang sudah disiapkannya.
"Ya ampun, koq aku nampung nya banyak gini sih? syukur tadi malam di acaranya Mas Ardhi, aku tidak mau makan jengkol. Sempat itu jengkol aku makan. Bau kali." Ucapnya cekikan. Embun sangat suka rendang jengkol. Tapi, sejak menikah dengan Tara. Dia menyetop makan daging lembut itu. Dia tidak mau, Tara jadi tidak berselera bermesraan dengannya. Tahulah suaminya itu senang kali berlama-lama dibagian itu.
Embun pun menumpahkan sebagian urinenya. Meletakkan wadah berisi urine itu di atas wastafel.
"Hasian, hasian, sini deh?!" Embun nyelonong di pintu kamar mandi dengan tersenyum manis. Ya, Dari ranjang kamar mandi mereka bisa terlihat.
Tara menurut saja dengan ajakan sang istri. Tara belum ngeh, tentang testpack.
"Napa istriku? butuh bantuan apa?" tanya Tara merangkul Embun masuk ke dalam kamar mandi. Embun stop di depan wastafel.
"Apa ini?" Embun menunjuk urinenya yang berwarna kuning cream itu yang ada di wadah gelas ukur.
"Apa itu? urine adek?" tanya Tara dengan wajah sumringah. Dia sudah paham maksud dan tujuan Embun mengajaknya ke kamar mandi.
"Embun mengangguk penuh dengan senyuman dengan sikap tak sabarnya. Tangannya saling menangkup, dan saling menggesek. Sebagai ekspresi tidak tenang nya wanita itu.
"Mana testpacknya hasian ku?" tanya Tara tak sabar.
"Itu." Embun menunjuk ke arah gantungan sabun. Tara tersenyum manis meraih testpack itu. Pasangan suami istri benar-benar sangat berharap hasilnya positif.
Setelah mendapatkan test pack itu. Tara membaca prosedur kerjanya. "Dicelupkan sayang." Ujar Tara, membuka plastik penutup testpack itu dengan tergesa-gesa.
"Sayang, jangan dicelup dulu. Kita berdoa dulu, semoga adek beneran hamil." Ucap Embun dengan ekspresi wajah penasaran serta was-was. Dia takut hasilnya negetif. Soalnya dia tidak mengalami tanda-tanda kehamilan.
"Ooh iya sayang, hampir lupa Berdoa dalam hati saja." Keduanya pun menutup mata, memanjatkan doa pada Ilahi Robby. Semoga istrinya itu beneran hamil.
"Hasian, doanya koq lama bener sih?" Embun menepuk pelan lengan suaminya itu. Dia sudah selesai berdoa. Tapi, sang suami masih khusuk yang berdoa itu.
"Sudah sayang, kita celup nih." Testpack sudah ada di tangan Tara. Embun menutup matanya, serta kuping nya dengan kedua tangan nya. Detak jantung nya berdetak tak karuan. Karena, penasaran dengan hasil test itu Sungguh dia sedang tidak siap dengan hasil test itu. Dia yakin dia tidak hamil.
TBC
Banyak like, content positif dan vote. pasti crazy up
__ADS_1