DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Vit E


__ADS_3

Grapp...


Embun sangat terkejut, merasakan tangan kanannya yang menenteng kresek itu digenggam oleh seseorang dengan kuat. Dengan debaran jantung yang tak beraturan itu, dia pun menoleh ke belakang.


Dug dug dug.....


Debarannya jantung ha semakin cepat saja, Embun sampai merasa darahnya tumpah ruah. Dengan cepat tangan kirinya meraih kresek di tangan yang digenggam suaminya itu dari balik tubuhnya. Dia menatap lekat Tara dengan tersenyum manis. Berusaha menutupi ketakutannya.


Tatapan Embun yang mematikan itu, membuat Tara terhipnotis. Sehingga dia tidak menyadari tangan Embun yang memegang kresek sudah masuk ke dalam kantong gamis yang dikenakan Embun.


.


"Adek kenapa keluar sendirian?" tatapan mata Tara masih penuh kekhawatiran. Embun menundukkan wajahnya, otaknya juga sedang berfikir, mau cari alasan yang tepat, agar Tara tidak curiga padanya.


Embun masih belum menemukan alasan yang masuk akal. Tara dibuat tidak tenang, karena Embun diam saja.


"Apa yang adek beli di apotik tadi? kalau mau beli sesuatu, kenapa tidak mengajak Abang?" meraih dagu Embun, sehingga kini wanita itu bertatapan dengan Tara.


"Hanya beli vitamin E. Abang tadi, sangat asyik dengan yang lain. Makanya Adek gak mau ganggu. Nanti kalau adek samperin Abang. Minta ditemenin, pasti kita diledekin sepupu kita itu. Aku malas diledekin. Cukup tadi saat makan malam saja kita diledekinnya." Embun melepas tangan Tara yang menggenggam tangannya. Dia kembali membalik badan dan melanjutkan langkahnya.


Dia menarik napas lega, merasa alasannya sudah cukup masuk akal.

__ADS_1


"Mana sini Abang lihat vitaminnya?!" Tara kembali menahan tangan Embun, agar berhenti berjalan. Kedua bola mata Embun berputar-putar. Berfikir keras mau cari alasan apa lagi. Agar bisa mengelak dari suaminya itu.


"Waahhh...ada penjual bakso setan. Aku mau makan bakso bang!" Embun malah berlari kecil ke pedagang bakso yang ada di hadapannya itu. Dia langsung mendudukkan bokongnya di kursi plastik. Tanpa mau menatap wajah suaminya yang masih bingung itu.


"Adek," ucapan Tara langsung terhenti. Disaat Embun memegangi perut bagian bawahnya.


"Adek kebelet pipis. Adek ke kamar mandi dulu ya bang." Embun langsung beranjak dari duduknya, diapun berjalan cepat ke arah kamar mandi. Dan sesekali menoleh ke belakang. Melihat Tara yang nampak diam termangu di tempat, dengan tatapan tertuju padanya. Embun hanya melempar senyum, saat bersitatap dengan suaminya itu.


Sesampainya di kamar mandi.


Embun memang benar-benar pipis. Setelah pipis, dia megambil kresek yang ada di kantong gamisnya. Wanita itu dengan tidak tenang memeriksa isi kresek itu. Memasukkan satu strip obat ke dalam B-R-A nya. Dan kembali memasukkan kresek yang berisi satu strip lagi ke dalam saku gamisnya.


Dia menatap ke arah Tara, yang tatapannya tertuju padanya. Embun lagi-lagi tersenyum pada suaminya itu. Tara masih menampilkan ekspresi wajah kesal. Dia kecewa, istrinya itu pergi tanpa memberitahunya. Malam-malam lagi, sendirian pula.


"Mana Abang lihat vitamin yang adek beli." Tara ingin memastikan benarkah istrinya itu membeli vitamin?


"Sebentar bang, koq gak percaya sama adek sih. Adek itu hanya beli vitamin E." Embun meletakkan kresek berwarna putih di atas meja. Menyodorkannya pada Tara.


"Adek tadinya mau beli obat kuat, biar bisa mengimbangi gitu." ucap Embun pelan, kemudian dia cekikikan. Kedua mata Tara melotot mendengar ucapan istrinya itu.


"Siapa tahu, Abang inginnya adek liar gitu. Mencak-mencak atau merayap di dinding." Lagi-lagi Embun tertawa mesum. Menutup mulutnya dengan jemarinya. Dia tidak menyangka, kalimat itu keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Pandai bicara sekarang ya, awas nanti kalau adek tidak bisa merayap di atas tubuh Abang." Tara mendekat, berbisik di telinga istrinya itu. Seketika, bulu roma Embun meremang


Dia pun mengerucutkan bibirnya. Suaminya itu tak mau kalah soal menggoda.


Tara menjauhkan wajahnya, dia pun kembali duduk tenang di hadapan istrinya itu. Embun mencibikkan bibirnya dan melirik Tara yang memeriksa isi kresek yang diberikannya.


"Benarkan? hanya vitamin, vutamin E itu sangat bagus untuk kulit, untuk mata, meningkatkan daya tahan tubuh."


"Dan meningkatkan peluang cepat hamil." Tara langsung melengkapi opsi manfaat dari vitamin E. Embun terkejut mendengar ucapan suaminya itu. Masak vitamin E, bisa mempercepat peluang untuk hamil.


Embun cengir." Iya benar, benar!" ucapnya, memalingkan wajahnya, sambil mengelus dadanya yang berdebar tidak menentu itu. Kalau sudah menyinggung kehamilan dan anak. Embun langsung ketakutan.


Pesanan mereka pun datang. Embun jadi tidak berselera, setelah mendengar penjelasan Tara. Ternyata suaminya itu tahu betul tentang sistem reproduksi manusia. Bahkan Tara tahu nama ilmiah organ-organ reproduksi, letak dan fungsinya masing-masing.


"Vitamin E, bisa menebalkan dinding uterus atau rahim. Jadi, nanti kalau ovumnya Adek dan spe--rmanya Abang bersatu dan terjadi pembuahan atau fertilisasi. Maka,"


"Sudah, sudah.. jangan dilanjut lagi. Kita lagi makan masak bahas spe--rma." Ucap Embun kesal, memotong penjelasan Tara, yang menurut nya sok tahu itu. Seperti Dokter kandungan saja suaminya itu. Jangan membahas anak, Embun fobia akut.


TBC.


like, coment positif dong, vote juga ya say🤭🤗😍

__ADS_1


__ADS_2