DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Dicampakkan


__ADS_3

Seorang pria terlihat sedang duduk dengan lemahnya di sofa warna cream yang terdapat di sebuah ruang rawat inap kelas VVIP. Pria itu menutup seluruh wajahnya dengan mata terpejam. Sesekali memijat wajah lelahnya itu sambil menarik napas dalam. Berusaha menenangkan dirinya yang sangat galau beserta kalut itu. Masalah datang secara beruntun, membuat otak dan hatinya lelah.


"Pak Ardhi, sudah waktunya ibu anda untuk minum obat." Seorang perawat membuyarkan lamunan pria yang lagi patah hati itu. Saking tidak fokusnya pria itu tidak menyadari kedatangan perawat berjenis kelamin perempuan itu.


Dia sangat lelah, lelah sekali. Semalaman ini dia tidak bisa tidur selama perjalanan pulang dari kota PSP, setelah berkunjung ke rumah Tara. Jarak kota PSP ke kota Medan, tidaklah dekat. Setidaknya dibutuhkan waktu 8-9 jam perjalanan darat. Tergantung lajunya kenderaan yang kita tumpangi.


Ardhi yang sedang ada proyek besar di kota Sibolga. Mendapat kabar buruk dari ARTnya, bahwa ibunya masuk rumah sakit, kena serangan jantung. Di saat malam kelabu yang dialaminya. Yaitu malam dimana Embun yang memilih meninggalkannya selamanya.


Dia yang lagi kalut itu harus menyelesaikan semua tanggung jawab pekerjaannya di kota Sibolga. Sebelum memutuskan keesokan harinya untuk pulang ke kota Medan. Dia pun mengandalkan ARTnya untuk menjaga Ibunya di rumah sakit.


Keesokan harinya, ibunya yang merasa sedikit baikan, menghubunginya. Mengabari bahwa Anggun ditahan pihak berwajib dan ibunya itu meminta Ardhi untuk membebaskannya. Kalau dia tidak bisa membebaskan wanita itu. Maka ibunya itu lebih baik mati saja.


Akhirnya Ardhi mendatangi rumah Tara, karena sebelumnya. Tara menolak permintaannya melalui telepon. Bahkan disaat dirinya menghubungi Embun. Dia bukannya mengutarakan niatnya untuk minta bantuan untuk membebaskan Anggun. Tapi, pria itu malah merindukan mantan kekasihnya itu.

__ADS_1


Pukul sepuluh malam Ardhi baru sampai di rumah Tara. Tapi, dia tidak bertemu dengan pasangan suami-istri itu. Dia dengan penuh umpatan menunggu kepulangan Tara dan Embun.


Disaat Tara dan Embun yang keberadaannya ditangkap oleh mata tajamnya. Saat itu juga dia merasakan sakit yang luar biasa di dalam relung hatinya. Perih, nyeri, nyut-nyutan. Hancur sudah hati pria baik itu. Hancur tak tersisa. Embun, wanita yang sangat dicintainya itu. Terlihat begitu manja pada suaminya itu. Berjalan saling berpelukan.


Ardhi sangat benci Embun. Wanita itu dulu mulutnya sangat manis. Mengatakan bahwa Ardhilah belahan jiwanya. Tapi, lihatlah wanita itu, tidak ingat sama sekali dengan janji manisnya.


Ardhi Menurunkan harga dirinya, memohon kepada Tara, agar membebaskan Anggun. Dia mengancam, kalau Anggun tidak dibebaskan, maka dia akan mengusik ketentraman rumah tangganya Tara dan Embun. Ternyata Hardikannya itu berguna juga.


Dengan perasaan hancur lebur, pria itu meninggalkan rumahnya Tara. Mengepal tangan dengan kuatnya. Menyumpahi pasangan itu dalam hati. Bahwa pernikahan mereka tidak akan pernah bahagia.


Perjanjian yang dikuatkan dengan materai itu, ternyata hanyalah sebuah siasat, untuk menyingkirkannya. Cara Embun mencampakkannya benar-benar telah membuat pria itu tidak percaya lagi dengan namanya cinta. Bahkan hatinya sekarang sudah tertutup. Dia benci cinta, dia benci wanita.


"Pak Ardhi, Pak Ardhi? Anda baik-baik saja?" perawat berjenis kelamin wanita itu, sangat bingung dengan ekspresi wajah dan bahasa tubuh pria itu. Tatapan mata pria itu kosong. Pria itu seperti mayat hidup.

__ADS_1


"Pak Ardhi," sang perawat menepuk bahunya Ardhi yang masih bengong itu. Akhirnya pria itu pun tersadar. Langsung bangkit dari duduknya.


"Ya sus, ada apa?" ucapnya datar tanpa ekspresi. Ardhi yang sebelumnya punya kepribadian yang hangat dan ramah. Kini berubah jadi dingin.


"Sudah saatnya ibu makan dan minum obat. Ada baiknya bapak, ikut juga menemani Ibu untuk makan." Sang perawat mendekati bed ibunya Ardhi. Meletakkan makanan wanita itua itu di atas nakas.


Ardhi dengan lembut membangunkan ibunya yang nampak lemah itu.


"Bu, Ibu, bangun!" Ini kedua kalinya Ardhi memanggil nama ibunya itu. Tapi, wanita itu tak bangun-bangun juga.


"Bu, ibu, Ardhi mengusap lengan ibunya dengan lembut. Tidak ada jawaban. Dia kini mengusap lembut pipi mulus wanita tua itu. Walau sudah berumur 55 tahun. Tapi, keriput hampir tak nampak di wajah wanita itu.


"Sebentar Pak!" perawat mulai memeriksa denyut nadi sang ibu.

__ADS_1


TBC.


Aku akan melanjutkan kisah Ardhi di novel ini juga. Tidak akan buat buku baru. Semoga readers suka. Memberi like coment positif dan Vote nya yang baik ya say. Agar author lebih semangat.🙏😀🤭🤗❤️😍


__ADS_2