DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Minta rumah


__ADS_3

Di Restoran A, Anggun dan Ardhi sudah berada di ruang privat. Mereka sudah selesai menyantap makan siangnya masing-masing.


Suasana di dalam ruangan itu terasa menegangkan buat Anggun. Karena, dia takut salah sikap dan akhirnya Ardhi menilainya buruk. Padahal dia sejatinya memang buruk.


Ardhi jadi incarannya, setalah pria itu masuk majalah Forbes. Perusahaan keluarga mereka yang lagi pailit, lagi butuh suntikan dana. Agar bisa melunasi hutang. Perusahaannya masih tergolong sehat saat ini, tapi perusahaan itu sedang banyak hutang. Kalau tidak cepat dapat investor, maka perusahaan keluarga mereka terancam bangkrut.


"Abang terkejut mendengar permintaan Ibu, agar kita secepatnya menikah." Suara Ardhi membuyarkan Anggun dari pikirannya yang menerawang.


Sesaat wanita itu memegangi dadanya yang masih berdebar itu. Mengusapnya pelan, agar. bisa lebih rileks. Anggun pun menarik napas dalam. Dan menghembuskannya pelan.


"Iya, Adek juga terkejut." Ucapnya ramah penuh kepalsuan. Dia harus bersikap lemah lembut, agar pria itu sreg padanya. Karena, kata Ibu Jerniati, Ardhi sang putra suka wanita yang lemah lembut.


"Abang setuju untuk menikah dengan Adek. Tapi, hanya status saja. Abang harap, Adek nantinya, mengerti kalau Abang belum siap untuk kita layaknya sebagai suami istri pada umumnya." Ardhi bicara tegas, dia harus mengatakan itu. agar Anggun bisa memikirkannya, sebelum semuanya terlanjur.


Anggun terdiam, kalau hanya status. Bagaimana dia akan mengikat pria itu.


Raut wajah Anggun langsung berubah kesal, dia memang susah berpura-pura. Kalau seperti ini ceritanya usahanya untuk menguasai pria itu tidak akan berhasil.


"Iya Bang, Adek mengerti maksud Abang. Adek juga setuju dengan ucapan Abang itu. Kalau Anggun sih gimana baiknya saja. Yang penting Mommy sehat." Ucapnya manis, tapi jangan tanya hatinya saat ini mendumel.


"Pernikahan ini mendadak. Jadi, gimana tanggapan Adek. Mana mungkin kita bisa resepsi besar-besaran." Ujar Ardhi masih dengan ekspresi wajah datar.


"Iya Bang, waktunya memang mepet banget ya?" ucapnya pura-pura sedih. Padahal nikah di kantor KUA pun dia mau. Yang penting sah di hukum dan agama.

__ADS_1


"Itu dia, apa Adek bisa bujuk Ibunya Abang. Agar pernikahan kita di undur lagi, seperti kesepakatan kita diawal. Abang rasa waktu tiga bulan, cukup untuk menyiapkan semuanya." Ardhi melihat kecemasan diraut wajahnya Anggun.


"Eemmmm... Kalau menurut Adek sih, makin cepat makin baik." Wanita itu tidak mau mengundurnya lagi. Rencananya harus cepat berjalan.


Ardhi menatap intens Anggun, ingin melihat keseriusannya. Merasa diperhatikan dan dinilai. Anggun yang pandai bersandiwara itu pun membalas tatapan Ardhi dengan tersenyum manis, seolah wanita itu setuju.


"Baiklah, berarti Adek setuju dengan persyaratan yang Abang ajukan tadi. Walau begitu, adek gak usah khawatir. Abang akan tetap nafkahi Adek." Ucap Ardhi serius. Anggun hanya mengangguk lemah.


Dia akan mengikuti keinginan pria itu, sembari menyusun rencananya kelak, untuk memeras Ardhi. Dia bisa gunakan Ibunya Ardhi yang lagi labil itu.


"Semuanya akan diurus Asisten Abang. Adel pun persiapkan lah administrasi dari adek." Ujar Ardhi.


"Iya Bang, Anggun mengerti." Ucap Wanita itu, meraih gelas yang berisi air mineral. Dia pun meneguknya. Dia merasa haus sekali, padahal baru juga minum. Sesaat Anggun ragu, akan kah usahanya berhasil untuk membujuk Ardhi kelak memberinya modal agar usaha keluarga mereka tidak bangkrut. Karena, dia menilai Ardhi bukanlah pria yang bodoh. Dan bisa mengendalikan diri. Sepertinya godaan gak mempan untuk pria ini.


"Masih perlu Abang Antar?" tanya Ardhi sopan. Kurang baik menurutnya jika keduanya pergi dengan kenderaan masing-masing.


"Baikah, hati-hati di jalan." Anggun ternyata lebih dulu meninggalkan tempat itu, setalah wanita itu hilang dari pandangan matanya. Dia pun kembali masuk ke restoran itu.


Tempat yang adem dan nyaman, membuat Ardhi memilih menenangkan hatinya sebentar dengan minum kopi, sebelum kembali lagi ke kantornya.


Lagi-lagi lagu yang diputar di restoran itu, adalah lagu Batak yang sangat melow. Ardhi terhanyut dan terbawa perasaan saat mendengar lagu yang berjudul. Sai horas maho tu siboru lomomi.


Ardhi baru resmi pacaran sebulan dengan Embun. Tapi, pria itu sudah sangat menyukai lagu batak, tentu saja menular dari Embun yang suka sekali lagu-lagu Batak.

__ADS_1


Ardhi tidak menyangka, Embun akan mencampakkannya. Padahal mulut manis wanita itu dulu yang selalu mengatakan sangat mencintainya. Akan setia selamanya, tapi nyata nya dia ditinggal kawin.


Merasa sedikit tenang, Ardhi mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai. Menghubungi asistennya Andi, untuk mengurus semua dokumen yang diperlukan untuk pernikahannya dengan Anggun. Dia juga memberi no ponselnya Anggun kepada Asistennya itu. Agar segala sesuatunya, ditanyakan Andi langsung kepada Anggun.


Ardhi meninggalkan Restoran dan langsung pulang ke rumah. Dia merasa kepalanya sakit. Dia ingin istirahat di rumah saja. Pukul tiga sore, dia sudah sampai di rumahnya. Langsung masuk ke kamar. Melempar tubuhnya yang lelah itu ke atas ranjangnya.


Pikirannya menerawang, memikirkan hubungan nya kelak dengan Anggun. Akankah bisa jadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah? entahlah, sepertinya tidak. Tapi, kalau dia tidak menikahi wanita itu. Maka Ibunya lah yang akan terus menerornya.


Tok tok tok...


Baru juga akan tenang, suara ketukan pintu membuat hatinya dongkol. Dia benar-benar sedang tidak ingin diganggu. Dia sudah mengatakan itu pada Bi Kom, agar dirinya jangan diganggu. Tapi, lihatlah Ibunya masih saja datang mengganggu. Ardhi tahu itu ibunya. Karena hanya wanita itu yang berani mengganggunya.


"Masuk Bu." Jawabnya malas, tetap dalam posisi terlentang.


Ibu Jerniati menghampirinya dengan perasaan begitu bahagianya. Wanita itu mendudukkan bokongnya di tepi ranjang. Tangannya menggoyang kaki Ardhi.


"Terimakasih sayang, akhirnya kamu mau mewujudkan impian Mama juga." Ucapnya penuh kebahagiaan. Senyum lebar, jelas terlihat oleh Ardhi.


"Iya Ma, sama-sama. Oh ya Ma, Ardhi ingin istirahat, capek banget bu!" keluhnya masih terlentang dengan mata yang masih tertutup.


"Iya sayang, baiklah Mama mau pamit. Mau bertemu dengan Anggun." Ardhi hanya mengangguk pelan.


"Oh ya, sebenarnya ada yang ingin Mama tanyakan?" ucapnya ragu, tali dia harus memastikan itu.

__ADS_1


"Apa Ma" tanya Ardhi penasaran, kenapa ibunya itu nampak seperti menyimpan sesuatu.


"Itu rumah yang di ujung kota ini, kan tidak ada yang menempati. Kamu juga tidak mengontrakkannya. Gimana kalau kalian sudah menikah. Mama tinggal di sana saja. Mama tidak mau mengganggu rumah tangga kalian. Kalian harus mandiri. Dan Mama juga tidak ingin kembali ke Surabaya." Wanita gatal itu, ingin bebas. Dia tidak mau lagi serumah dengan Ardhi.


__ADS_2