
"Dia kemana sih? koq perasaanku jadi tidak enak ya?" Embun berbicara sendiri, dia mulai bosan mondar-mandir di dalam kamar itu.
Tok tok tok...
Saat mendumel penuh kekesalan, karena menunggu Tara tak kunjung datang. Suara ketukan pintu, membuatnya terkejut. Dia sampai terlonjak dari tempat duduknya saat ini.
Memegangi dadanya yang berdetak kencang. Entah kenapa dia jadi takut kepada Tara. Apa karena dia merasa bersalah, sehingga dia jadi begitu ketakutan kepada suaminya itu.
"Masuk saja." Ucap Embun datar, merasa yakin kalau yang datang bukanlah suaminya. Kalau suaminya yang datang, pasti langsung masuk. Tidak perlu ketok pintu segala.
"Permisi Nona, ini ada pakaian yang harus Nona pakai." Pak Budi lah tamu yang datang, dengan menenteng tiga paperbag warna hijau muda di tangannya. Isi paper bag itu adalah pakaian lengkap dengan aksesori perhiasan serta sepatu untuk dikenakan Embun.
Koper Embun yang hilang, tidak ditemukan lagi. Sehingga dia tidak punya pakaian. Tara dengan ikhlas memberi pakai dan set perhiasan untuk Embun. Karena Tara beranggapan setiap wanita pasti ingin tampil cantik dan sempurna, disaat ingin bertemu dengan pujaan hatinya, belahan jiwanya.
"Suami saya di mana Pak Budi?" Embun menghadang Pak Budi, yang sudah berancang-ancang pergi dari kamar itu.
"Bos sedang sibuk Nona. Dia masih ada pertemuan. Nona diminta memakai baju ini. Sekalian aku mau ambil barang-barang bos." Pak Budi mulai memberesi barang-barangnya Tara, termasuk ponselnya yang tertinggal. Pak Budi pandai sekali berbohong, tapi Embun tidak percaya begitu saja. Suaminya itukan tidak sedang bekerja, suaminya itu sedang mengantar dia untuk ketemu Ardhi. Bukannya kerja.
"Bapak pandai sekali berbohong, tapi aku tidak percaya. Baiklah, kalau itu maunya dia." Embun meraih paper bag dari atas meja. Memeriksa isinya, ada gaun panjang, lengan 3/4 berwarna maroon. Bahannya jelas premium, gaun itu sangat elegan.
Embun kemudian memeriksa paper bag satunya lagi. Isinya adalah sepatu berhak 5cm, warna senada dengan gaunnya Embun. Sepatunya sangat cantik. Mungkin harganya setara dengan satu motor. Embun hanya bisa melongok melihat sepatu itu. Biasanya juga sepatunya paling mahalnya harga 500rb. Ayahnya akan marah, kalau ketahuan dirinya membeli sepatu mahal. Kata ayahnya, ngapain beli mahal-mahal toh Mai diinjak-injak.
Dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, Embun kembali membuka paper bag terakhir berisikan perhiasan berlian. Model perhiasannya sangat disukai Embun.
Embun berdecak kagum melihat satu set perhiasan itu. Ini yang dia mau dari dulu. Tapi, orang tuanya selalu melarangnya membeli berlian. Kebiasaan di kampungnya adalah mengoleksi emas.
"Pak Budi!" Embun menghentikan supirnya itu, saat hendak keluar kamar. Pak Budi membalik badan, menatap Embun dengan tatapan datar.
"Ini semua siapa yang beli?" tanya Embun tidak percaya. Tidak mungkin Tara, dia kan akan pergi bersama Ardhi. Kenapa Tara malah memberinya barang-barang bagus. Apa dia tidak merasa rugi.
Pak Budi merasa heran mendengar pertanyaan Embun. Pria itu menyergit. "Itu semua, Bos yang beli. Diberikan dengan penuh kasih sayang kepada istri ter,!" Pak Budi menjeda ucapannya. Dia yang sudah tahu, masalah Bos nya itu. Merasa kecewa dan kesal pada Embun. Supirnya ini memang sedikit baper orangnya. Tadinya dia mau bilang tercinta. Tapi, melihat Embun yang egois, tak cocok rasanya Bosnya yang perfect mencintai Embun yang egois.
"Pak, pak Budi," Embun kembali berusaha menghadang Pak Budi.
"Maaf Nona, saya masih banyak tugas. Sebaiknya Nona bersiap-siap, satu jam lagi kita akan melanjutkan perjalanan. Ini sudah jam dua siang. Nona harus sampai di kota Sibolga paling lama jam delapan malam." Jelas Pak Budi tegas, Langsung meninggalkan Embun yang terbengong.
Sebenarnya di mana Abang Tara? tidak mungkin kan dia marah. Kalau dia marah, kenapa malah memberiku banyak barang mahal begini. Embun membathin. Menatap tidak semangat, barang-barang pemberian Tara.
***
Tiga puluh menit kemudian, setelah rapi. Embun berniat mencari keberadaan Tara di bawah saja. Dia tidak mau menunggu lagi, sendirian di kamar itu.
Embun celingak-celinguk mencari sosok suaminya di Loby hotel. Tapi, dia tidak melihat Tara di manapun. Embun lelah dan kesal. Dia pun mendudukkan bokongnya di sofa, yang menyunguhkan view yang indah dari Danau Toba. Mata indahnya, masih terus saja, mencari keberadaan Tara.
Saat itu juga, dia melihat Pak Budi melintas, hendak masuk ke lift.
"Pak, Pak Budi..!" Embun mengejar Pak Budi dengan berlari kecil. Dia takut terjatuh, karena memakai sepatu heels. Pak Budi yang mendengar suara Embun, akhirnya berhenti, kemudian menyusul wanita itu. Karena Pak Budi memang ingin menjemputnya ke kamar.
"Nona sudah turun?" Pak Budi memperhatikan penampilan Embun yang sudah rapi dengan terseyum tipis. Embun kembali celingak-celinguk mencari keberadaan Tara disekitar.
"Iya, mana suaminya saya?" ucapnya sedikit canggung. Menyebut Tara sebagai suami, Embun belum terbiasa.
"Bos sudah menunggu di mobil Nona. Ayo kita berangkat." Pak Budi melangkah, yang diekori oleh Embun dengan tergesa-gesa. Karena Pak Budi berjalan sangat cepat.
Sesampainya di parkiran, akhirnya Embun bisa melihat suaminya itu juga. Sudut bibirnya pun melengkung. Dia senang melihat Tara. Suaminya itu sedang bersandar di mobil, dengan tangannya yang nampak memegang ponsel.
Embun merasa sangat merindukan suaminya itu, padahal baru ditinggal delapan jam. Bagaimana nantinya dia menjalani hari-hari nya tanpa Tara. Apakah dia akan sanggup?
__ADS_1
Ya dia akan sanggup. Karena, ada Ardhi yang akan mengisi hari-harinya. Waktulah obat segalanya.
Saat berjalan ke arah mobil mereka yang terparkir. Mata Embun tak berkedip menatap Tara yang nampak sangat tampan. Padahal suaminya itu hanya memakai kaos polo, celana jeans, sepatu kets. Serta kaca mata Photocromic.
Karena terpesonanya melihat Tara, Embun sampai tersandung. Dan berteriak. Tapi, dia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya, sehingga tidak terjatuh.
Mendengar suara Embun yang teriak karena terkejut, Perhatian Tara pun teralih dari ponselnya kepada Embun, yang nampak pucat, karena hampir saja terjatuh. Sekligus grogi diperhatikan Tara, saat berjalan ke arahnya.
"Lain kali lebih berhati-hati. Ayo masuklah dek." Tara tersenyum tipis membuka pintu mobil untuk Embun.
Setelah istrinya itu duduk di jok belakang supir. Tara pun mengitari mobilnya, kemudian duduk di sebelah Istrinya itu. Pak Supir pun tancap gas, setelah memastikan bosnya duduk dengan nyaman.
Embun melirik Tara dengan perasaan berdebar. Entah kenapa dia merasa grogi didekat Tara. Apa karena suaminya itu tiba-tiba berubah. Sehingga Embun canggung, dan takut melakukan kesalahan. Dia takut membuat Tara kecewa.
Embun kembali memutar lehernya, menatap lurus ke depan. Karena, Tara diam saja. Biasanya juga suaminya itu banyak cerita. Tapi, hari ini kenapa Tara lebih banyak diam. Embun pun akhirnya tidak berani banyak bertanya pada Tara. Karena, suaminya itu seolah tidak memperdulikan keberadaannya.
Suasana di dalam mobil yang dingin serta menegangkan buat Embun. Kini suasana nya semakin melow saja, dengan diputarnya lagu Batak yang liriknya menyayat hati.
Lagu-lagu yang diputarkan itu, sukses membuat Embun baper. Lirik-lirik lagu yang didengarnya begitu mendukung dengan keadaan hatinya saat ini. Benar-benar buat baper. Mata Embun jadi berkaca-kaca.
Hingga di lagu ke lima, sang supir pun ikut menyanyi saat mendengar lagu Batak yang berjudul Mardua holong diputarkan.
Sang supir Pak Budi pun bernyanyi.
Denggan do nian ito
Hita na mamukkah padan
Denggan ma nian molo tung ikkon sirang
Unang pola be hita mardongan-dongan hasian
Arian nang borngin i sai busisaon rohakki
Boha do ujungi hubunganta hasian
Sai hurippu do ito setia ho saleleng on
Hape na mardua holong di pudikki
Tarsongon bunga naung malos diladangi
Songoni ma rohakki nunga malala
Dang hurippu songoni
Di bahenho holonghi gabe meam-meammu
Sae ma ito, sai ma sude
Sae ma holan au na gabe korbanmu
Marisuang ari manang tikki i
Holan alani cinta palsumi
Arian nang borngin i sai busisaon rohakki
__ADS_1
Boha do ujungi hubungan ta hasian
Sai hurippu do ito setia ho saleleng on
Hape na mardua holong di puddiki
Tarsongon bunga naung malos diladangi
Songoni ma rohakki nunga malala
Dang hurippu songoni
Di bahenho holonghi gabe meam-meammu
Sae ma ito, sai ma sude
Sae ma holan au na gabe korbanmu
Marisuang ari manang tikki i
Holan alani cinta palsumi
Sae ma ito, sai ma sude
Sae ma holan au na gabe korbanmu
Marisuang ari manang tikki i
Holan alani cinta palsumi
Holan alani cinta palsumi.
Embun yang sangat menyukai lagu itu pun, akhirnya ikut-ikutan bernyanyi. Hingga di saat Reef lagu naik, diapun ikut berteriak, mengekspresikan kegundahan hatinya dengan bernyanyi.
"Tarsongon bunga naung malos diladangi
Songoni ma rohakki nunga malala
Dang hurippu songoni
Di bahenho holonghi gabe meam-meammu
"Sae ma ito, sai ma sude
Sae ma holan au na gabe korbanmu
Marisuang ari manang tikki i
Holan alani cinta palsumi"
Embun bernyanyi penuh dengan penghayatan, dengan suara melengking. Dia sampai memegangi dadanya yang terasa sesak, kedua mata terpejam, menahan air mata yang hendak tumpah ruah. Kenapa perjalanan ini, begitu sangat menyakitkan.
Tara pun akhirnya menatap tajam serta heran kepada istrinya itu. Embun benar-benar seperti orang kesurupan, bernyanyi lepas tanpa menghiraukan sekitar. Merasa diperhatikan Tara. Embun nyengir, "Maaf, terbawa suasana." Ucapnya dengan malu-malu, membuang pandangan ke arah jendela sambil melap matanya yang sembab.
Embun pun merasa legah, setelah berteriak saat menyanyi itu.
"Dasar setres!" Sang supir bicara dalam hati, melirik Embun dari kaca spion. Sedangkan Tara hanya terdiam. Dia ikut sedih melihat tingkah Embun, yang lepas kontrol. Tara merasa, dirinya benar-benar membuat isterinya itu tersiksa.
__ADS_1
TBC.
like, vote 😀😆😍 ngarep bgt gua. yuk coment yang suka lagu Batak. Coba deh dengerin lagu Batak, pasti suka.