
Setelah puas sarapan mulut atas dan bawahnya Embun. Kini keduanya pun bersiap-siap untuk konsultasi dengan dokter Obgyn. Ternyata di kota itu ada praktek dokter yang sudah buka di pagi hari.
Kesepakat untuk tidak menggunakan alat kontrasepsi, membuat Embun jadi tidak tenang. Jadi wanita itu perlu pencerahan dari ahlinya tentang penelitian yang mengatakan pernikahan dengan sepupu, bisa melahirkan keturunan abnormal.
"Kita koq ke sini Bang?" Embun yang baru turun dari mobil itu, dibuat heran dengan tempat yang didatangi mereka. Inikan tempat bukan seperti tempat praktek spesialis gitu. Tapi, sebuah butik yang menjual pakaian muslimah khusus orang berduit.
"Mau beli baju untuk adek, sekalian adek pilihkan buat Mama dan Nantulang." Tara menggandeng Embun untuk masuk ke butik.
"Gamis di rumah kan masih banyak. Itu juga upto date." Embun merasa tidak perlu lagi mengoleksi baju. Di setiap rumah mereka kan sudah banyak pakaian yang dibelikan Tara.
"Iya sih, itu yang belikan asisten Abang. Sekarang kita pilih sama-sama pakaian untuk adek." Sesampainya di dalam butik. Mereka langsung dilayani. Seumur-umur Embun baru kali ini masuk ke dalam butik yang mewah dan pelayanan yang bagus.
"Ini saja Pak Bu?" tanya si penjaga butik. Embun hanya mengangguk puas. Merasa senang atas hadiah dari pria baik hati di hadapannya.
"Sebentar ya Pak, transaksinya akan diproses." Ucap si penjaga butik, setelah menerima black card dari Tara.
"Terimakasih banyak ya sayang. Adek suka gamisnya." Embun merangkul lengan Tara, bersandar manja di bahu suaminya itu.
Tara senang dengan tingkah manjanya Embun. "Ya itu semua tidak gratis." Ucap Tara berguyon.
Embun tertawa. "Gak usah dibilangin adek juga tahu koq sayang. Malah sepertinya adek duluan yang minta." Bisik Embun di telinga pria itu. Sontak kelakuan Embun membuat bulu Roma Tara merinding.
"Astaga, istriku sudah nakal sekarang ya!" Tara menjepit hidung Embun dengan jempol dan telunjuknya.
"Siapa dulu dong gurunya." Embun mencium gemes tangan Tara. Tingkah mereka itu, ternyata dilihatin para pengunjung butik lainnya. Tapi, mereka gak sadar. Mereka menganggap saat ini penghuni dunia hanya mereka berdua saja.
***
__ADS_1
Kini pasangan yang lagi dimabuk cinta itu, sudah sampai di tempat praktek dokter Obgyn. Ternyata mereka dapat antrian ketiga.
Perasaan Embun sungguh tidak tenang saat ini. Dia takut, penjelasan dokter tidak membuatnya puas dan percaya diri.
"Tenang sayang, semuanya kita kembalikan kepada Sang Pencipta. Kita hanya bisa berdoa, semoga kelak. Kita mendapatkan anak-anak yang sehat dan normal." Embun mengangguk lemah, menanggapi ucapan suaminya itu. Tara pun semakin tidak tega melihat keadaan Embun yang tertekan dengan kekhawatiran yang diciptakan oleh pikirannya sendiri.
"Sayang, ini benar namanya Dokter Boyke?" tanya Embun tidak percaya. Kenapa namanya sama dengan Dokter Boyke yang terkenal itu.
Tara memperhatikan pamflet yang terpampang di depan mereka H. Boyke Dian Nugraha, SpOG MARS. Begitulah nama dan gelar yang tertulis di pamflet itu.
"Mungkin, atau namanya sama kali dek." Jawab Tara, sedikit penasaran dengan nama dokter yang sama itu. Gak mungkin kan dokter terkenal itu membuka tempat praktek di Kota mereka. Ya siapa tahu.
"Ibu Siti Embun Harahap!" Embun terlonjak kaget mendengar namanya dipanggil perawat.
Sungguh, dia belum siap mendengar penjelasan langsung dari Dokter nantinya, mengenai anak yang dilahirkan dari pernikahan pariban atau sepupu itu.
"Ayo Ibu, bapak silahkan Duduk." Ucap Dokter ramah dengan cara bicaranya yang kemayu. Ya itu adalah ciri khas Dokter itu.
Embun melototkan matanya, dengan mulut sedikit terbuka.
"Dokter Boyke?" tanya Embun tidak percaya. Dia fans sekali dengan Dokter ini. Karena cara penjelasan masalah kesehatan terutama mengenai reproduksi, selalu disampaikan dengan menarik dan mudah dipahami.
"Iya Ini, Bapak. Apa keluhannya?" Sang Dokter tidak menanggapi ucapan Embun. Dokter itu hanya tersenyum manis.
"Ehhmm Begini Dok, kami pengantin baru dan ingin cepat punya keturunan. Kami hanya ingin memeriksa alat reproduksi kami." Tara tidak mau mengatakan langsung tujuan mereka ke tempat itu. Tidak mungkin kan dia langsung menanyakan, apakah menikah dengan sepupu atau Pariban melahirkan keturunan abnormal.
Setelah pemeriksaan hal itu baru akan dibahas. Tapi, Embun yang panik itu malah mengatakan permasalahan yang dialaminya saat ini.
__ADS_1
"Dok, Aku dan suamiku adalah masih saudara. Kami sepupu, sepupu dekat, sepupu kandung. Atau apalah itu namanya. Intinya kami sepupu, kalau istilah disuku kami namanya pariban." Ucap Embun penuh kepanikan. Dokter hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Embun saat ini. Karena wanita itu belum selesai bicara.
"Aku, aku takut nanti melahirkan keturunan yang abnormal Dok. Karena, aku pernah baca artikel, katanya menikahi sepupu, bisa melahirkan keturunan abnormal." Ucap Embun, menatap serius Dokter di depannya.
Sang Dokter tersenyum dan menganggukkan kepalanya, pertanda beliau mengerti maksud dari perkataan Embun.
Hasil penjelasan Dokter Boyke kepada Embun
*Dr. Boyke mengatakan bahwa perkawinan incest membawa akibat pada kesehatan fisik yang sangat berat. Selanjutnya dia mengatakan bahwa memperbesar kemungkinan anak cacat adalah perkawinan hubungan darah, baik yang bersifat garis lurus maupun menyamping. Penyakit-penyakit dari perkawinan hubungan darah seperti: talasemia, hermopilia, dan sebagainya.
Tetapi hal ini bisa dihindari bila kita berkosultasi dengan ahli genetika. Pada dasarnya ahli genetika akan memberikan solusi atau cara mengatasi lahirnya anak cacat dari perkawinan sepupu. Tetapi manipulasi genetika juga tidak dapat memastikan terhindarnya lahirnya anak cacat*.
Ternyata Dokter Boyke juga menjelaskan konsep pernikahan incest dari Dr. Ramonasari.
*Dr. Ramonasari mengatakan ”Tidak setiap pernikahan incest akan melahirkan keturunan yang memiliki kelainan atau gangguan kesehatan. Jadi detilnya seperti ini, bisa saja gen-gen yang diturunkan baik dan melahirkan anak yang normal.
Walaupun begitu, kelemahan genetik lebih berpeluang muncul dan riwayat genetik yang buruk akan bertambah dominan serta banyak muncul ketika lahir dari orang tua yang memiliki kedekatan keturunan. Pada kasus incest, penyakit resesif yang muncul dominan. Namun gangguan emosional juga bisa timbul bila perlakuan buruk terjadi saat pertumbuhan dan perkembangan janin pra dan pasca kelahiran*.
*Apabila terjadi kelahiran, anak perempuan lebih rentan dan berpeluang besar terhadap penyakit genetik yang diturunkan orangtuanya. Incest memiliki alasan lebih besar yang patut dipertimbangkan dari kesehatan medis. Banyak penyakit genetik yang berpeluang muncul lebih besar. Sebut saja pada genetik, kromosom yang mengalami gangguan kesehatan jiwa (skizoprenia), Leukodystrophie atau kelainan pada bagian saraf yang disebut milin, ada bagian dari jaringan penunjang pada otak yang mengalami gangguan yang menyebabkan proses pembentukan enzim terganggu.
Selain itu albino (kelainan pada pigmen kulit) dan keterlambatan mental (idiot) serta perkembangan otak yang lemah. Banyak penyakit keturunan yang akan semakin kuat dilahirkan pada pasangan yang memiliki riwayat genetik buruk dan terjadi incest. Namun, yang harus diwaspadai juga kecacatan kelahiran bisa muncul akibat ketegangan saat ibu mengandung dan adanya rasa penolakan secara emosional dari ibu*.
Tetapi efek/dampak perkawinan incest yang dilakukan oleh saudara/i kandung tidak seberat yang dialami oleh mereka yang melakukan perkawinan pariban. Perkawinan pariban dilakukan oleh saudara sepupu tetapi hal yang pasti adalah bahwa perkawinan pariban juga memberikan peluang lahirnya anak cacat tetapi peluangnya jauh lebih kecil.
TBC
Penjelasan di atas author search dari mba google.
__ADS_1
Ditunggu kritik dan sarannya ya reader.