
POV Tara
Wanita keras kepala ini harus dijahili dengan cara ini. Aku yakin Dia pasti mati kutu. Benar saja, Dia kelabakan saat berada berdua denganku di kamar mandi ini. Wajahnya merah padam karena kesal padaku. Biarin saja, Aku suka lihat wajah kesalnya itu.
Aku harus menunjukkan pesonaku kepadanya. Agar Dia sadar, bahwa suaminya ini sempurna dalam semua hal. Ucapan pedas dan tajamnya, benar-benar membuatku naik darah dan merasa direndahkan. Ingin ku tunjukkan kekuasaanku kepadanya. Tapi, itu urung ku lakukan, karena Aku takut Dia malah semakin membenciku.
Aku tahu Embun sudah tertarik kepadaku. Tapi, rasa bencinya yang besar itu membuatnya tidak menyadarinya. Dia pun selalu marah-marah dan bersikap kasar, untuk menutupi rasa tertariknya kepadaku.
Lihatlah, betapa lucunya ekspresi wajahnya saat ini. Dia menatapku dengan malu-malu. Membuang wajahnya dan kembali melirikku. Dia kembali membuang wajahnya sedetik kemudian Dia kembali menatapku. Kali ini Dia nampak kesusahan menelan ludahnya.
Apakah Dia ***** melihatku? Aku yakin seratus persen, Dia tergoda dengan penampilanku.
"Cepat ambilkan sabun itu sayang!" Aku sedikit menunduk dan menjulurkan tanganku, bersiap-siap menerima wadah sabun cair yang berada di sebelah kirinya. Sedangkan Aku saat ini berada di sebelah kanannya.
"Kamu pakai sabun lain saja. Disana masih banyak sabun cair." ucapnya ketus, berusaha terbenam dalam busa sabun cair, menutupi tubuhnya yang polos. Ingin rasanya aku menyemplung ke dalam bathtub, bergabung dengannya. Tapi, Aku takut Dia marah dan semakin membenciku.
Aku menoleh ke arah rak, mengikuti instruksi dari pergerakan wajahnya yang memerah, karena malu atau kesal, Aku tidak tahu.
"Abang mau sabun itu. Wanginya Abang suka." Ucapku, dan kini Aku kembali berdiri tegak dihadapannya. Tentu saja hanya bagian bawahku yang tertutup ce*lana d*alam dan keadaan si junior di dalamnya sudah berontak, sesak dan ingin dibebaskan dari balutan kain.
Dia terdiam dan menatapku dengan tercengang, mulutnya sedikit menganga dan Dia nampak kesusahan menelan ludahnya. Yes.... Aku yakin Dia terpesona.
Baru juga Aku berasumsi, kalau Dia terpesona melihatku suara teriakannya membuatku terkejut, ditambah wadah sabun terlempar ke arahku dan aku pun sedikit gelagapan untuk menangkapnya. mendarat sempurna di tanganku, lantai kamar mandi yang licin di dekat Bathtup membuatku terpleset saat menangkap wadah sabun cair itu dan Byurrr......
__ADS_1
Tubuhku mendarat sempurna di atasnya. Dan keberuntungan pun berpihak kepadaku. Karena saat ini bibir kami menempel, walau rasanya sedikit tidak enak. Karena saat bibirku mendarat di bibirnya. Terbentur ke giginya. Aku pun langsung memanfaatkan monent ini. Me****** cepat bibirnya sebelum dirinya sadar dengan apa yang terjadi.
Pukkk....
Akhirnya pukulan keras dengan tangannya, terasa begitu sakit di kepalaku. Dia mendorong tubuhku dengan kuat agar menjauh dari tubuhnya. Aku berusaha mempertahankan posisiku tetap berada di atas tubuh Embun. Ini moment langkah. Aku tidak mau menyia-nyiakannya. Dia istriku Aku berhak atas dirinya. Aku merasa seperti disengat tegangan listrik dengan tegangan tinggi. Karena, gesekan yang tercipta antara kulit kami berdua saat dia berontak lepas dari Kungkunganku.
Aku mencintainya, sangat mencintainya. Tentu saja kejadian ini ku sukai sekali.
Pergerakan tubuh Embun Akhirnya melemah. Tidak ada umpatan kebencian yang keluar lagi dari mulutnya. Kini suara isakannya yang lemah terdengar pilu di telingaku. Aku pun mengendorkan dekapanku dari tubuhnya. Sepasang benda kenyal tidak bersentuhan lagi dengan dadaku.
Dia menunduk dan tidak berani menatapku. Busa yang tadinya menutupi tubuhnya habis sudah.
Suara tangisnya begitu menyedihkan. Aku jadi kasihan. Dengan perlahan Aku bangkit dari Bathtup dengan perasaan bersalah. Sepertinya Aku melakukan kesalahan besar.
Aku tidak menyangka, kejadian seperti ini akan terjadi. Awalnya Aku hanya ingin menunjukkan pesonaku dengan mandi bersama dengannya. Tapi, ternyata Aku salah. Sepertinya Dia akan semakin membenciku.
Setelah selesai membersihkan diri, aku meraih handuk dari gantungan. Memakainya dan kembali mendekatinya dengan menyodorkan kimononya.
"Ini terimalah." Embun tetap pada posisinya. menyembunyikan wajahnya di dalam kakinya yang di tengkuk. Dia tidak menggubris ucapanku.
"Airnya sudah dingin, Adek bisa masuk angin, ini pakailah."
"Keluar.." ucapnya berteriak, kini Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menangis tersedu-sedu, yang membuatku semakin merasa bersalah. Aku pun keluar dari kamar mandi dengan lemas.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian, Embun keluar dari kamar mandi dengan wajah sembab. Dia berjalan ke arah lemarinya, mengambil baju ganti dan kembali masuk ke kamar mandi.
Aku duduk di tepi ranjang, menunggunya selesai berpakaian. Saat Dia keluar dari kamar mandi. Aku terus menatapnya. Tapi, Dia tidak ingin melihatku.
Embun duduk di kursi, mulai menyisir rambutnya di depan cermin riasnya.
"Maaf, Abang tidak ada niat macam-macam. Yang terjadi tadi benar-benar insiden yang tidak bisa kita hindarkan. Sebagai pasangan suami istri, hal seperti itu tidak bisa kita hindarkan. Lagian kenapa Adek mesti sedih dan marah begitu? Kita pasangan halal." Embun menoleh, setelah meletakkan sisir Kembali di atas meja riasnya.
"Insiden? itu bukan insiden. Tapi, rencanamu." Kini Embun bangkit dari tempat duduknya dengan mata berkaca-kaca. Berdiri tepat dihadapanku.
"Kenapa kamu menciumku? Aku hanya ingin melakukan itu dengan Mas Ardhi. Kenapa kamu tadi melakukannya?" Dia menangis, aku sungguh tidak tega melihatnya. Begitu besar cintanya kepada Mas Ardhinya itu. Sehingga Yang terjadi tadi begitu disesalinya.
"Sudah Abang bilang, tadi insiden. Abang juga tidak sengaja melakukannya." Jawabku santai, menutupi rasa bersalahku.
"Tidak sengaja kamu bilang. Kamu mel*umat bibirku. Kamu melanggar perjanjian. Jadi jangan salahkan Aku, jika nanti Aku juga akan melanggarnya." Ucapannya membuatku terhenyak.
"Diperjanjian itu tidak ada larangan kita berciuman. Yang tidak bolehkan itu hanya dilarang mencetak anak." Jawaban selorohku, membuat Embun terkejut. Dia memutar bola matanya, tidak percaya dengan apa yang ku ucapkan. Aku tidak boleh terlalu serius menanggapi kemarahan Embun. Karena, jikalau aku menanggapinya dan memasukannya ke hati, Maka aku sendiri yang akan tersakiti.
"Menciumku juga adalah tahap untuk mencetak anak. Aku tahu kamu sedang curi-curi kesempatan." Dia kesal dan menghentakkan kakinya. Sepertinya Dia ingin menginjak-injakku saking kesalnya.
"Adek bukan selera Abang. Jangan GR kamu. Banyak wanita cantik dan sexy ku abaikan." Ucapku dan melenggang pergi meninggalkan kamar.
Aku harus cepat menghindarinya, agar Aku terhiindar dari sumpah serapahnya.
__ADS_1
"Manusia gila, setan..!" teriaknya, saat Aku hendak menutup pintu kamar.
"Dadamu hangat, Abang suka." Ucapku sembari mengedipkan mata kiriku. Dia kesal, meraih bantal. Saat Dia melemparkan bantal ke arahku. Aku pun berlari kencang menuruni anak tangga ke lantai satu.