
Melati Assyifa 21 tahun, gadis cantik, pintar dan Soleha. Dia wanita berhijab dan sangat pandai mengaji. Dia bahkan, sering memenangkan lomba Musabaqoh Tilawatil Qur'an di desanya. Ya masih sebatas tingkat kelurahan dan mentok di tingkat kecamatan.
Keadaan keluarganyalah yang serba kekurangan, yang menjadi kendala. Bakat cemerlangnya tidak terasah dengan maksimal. Karena, tidak adanya waktu untuk berlatih dengan baik dalam menggali bakatnya itu.
Melati, sepulang sekolah harus ke sawah, membantu ibunya. Beserta adiknya yang kini duduk di bangku sekolah dasar kelas enam SD. Namanya Hilman. Adik laki-laki satu-satunya. Hilman juga sepulang sekolah langsung ke sawah. Membawa baju ganti untuk dikenakan di sawah. Sedangkan seragam sekolah sudah disimpan di dalam tas
Mereka tidak pulang terlebih dahulu ke rumah setelah pulang sekolah. Karena, untuk pulang ke rumah setelah pulang sekolah, mereka harus melewati persawahan. Pukul empat sore dia dan adek-adeknya pulang ke rumah terlebih dahulu daripada orang tuanya. Karena dia masih harus memasak nasi lagi. Memandikan adik-adiknya yang masih kecil. Ada usia lima tahun dan tiga tahun, keduanya berjenis kelamin perempuan.
Setelah lulus MAS(Madrasah Aliyah Swasta) Melati, tidak melanjutkan pendidikannya ke tingkat lebih tinggi, Karena keadaan ekonomi mereka yang hanya bisa untuk makan sehari-hari. Satu tahun dia menganggur di kampung. Kesehariannya membantu orang tua ke sawah dan mengajar mengaji anak-anak di kampungnya.
Merasa tidak ada kemajuan dengan tinggal di kampung. Melati pun merantau ke kota Medan. Dia mau mencari peruntungan di kota besar itu. Ternyata mencari pekerjaan di kota besar itu, tak semudah perkiraannya. Syukur dia ada kenalan di kota itu. Abang kelasnya dulu, yang bernama Ilham Anshori Harahap.
Ilham Anshori Harahap, pemuda dari kampungnya yang kuliah di UINSU. Pria itulah yang pertama dijumpainya saat datang ke kota Medan. Ilham yang hanya ngekos, akhirnya membawa Melati ke rumah saudaranya. Melati pun tinggal di rumah saudara Ilham, sembari mencari pekerjaan.
Melati sangat menyukai pemuda itu. Pria itu sudah baik hati, Sholeh lagi. Dan tergolong orang kaya di kampungnya. Melati hanya bisa memendam perasaannya. Mana mungkin pria seperti Ilham menyukainya. Lagian, Melati bukan tipe wanita yang ingin pacaran. Jikalau ada pria yang menyukainya, dia ingin menikah langsung. Tanpa harus melewati masa pacaran.
Tapi, apakah ada pria yang ingin mengajaknya menikah? sepertinya tidak akan ada. Ilham pria yang disukainya itu, juga tidak pernah mengutarakan perasaan padanya. Tapi, pria itu sangat baik. Selalu menolongnya di kota itu. Membuat surat lamaran untuknya. Menemaninya kemanapun tempat yang tidak diketahui Melati. Pokoknya Ilhamlah yang jadi penolongnya di kota itu. Tapi, sudah berbulan-bulan berlalu. Dia tidak pernah dapat surat panggilan, atas lamaran yang dijatuhkannya.
Pekerjaan tak kunjung dapat, bagaimana untuk melanjutkan mimpinya untuk kuliah. Makan saja terpenuhi di kota itu, Melati sudah sangat bersyukur.
Ilham yang tidak tega melihat Melati tak kunjung dapat pekerjaan. Akhirnya menawarkan pekerjaan sebagai pelayan kantin di kampus tempatnya dia kuliah. Walau Ilham sangat berat hati saat menawarkannya. Dia tidak menyangka Melati malah kegirangan, disaat dirinya menawarkan pekerjaan itu.
__ADS_1
Delapan bulan Melati bekerja jadi pelayan di Kantin kampus itu. Hingga akhirnya dia melihat lowongan jadi ART, dengan gaji yang lumayan tinggi. Dia pun memberanikan diri melamar jadi ART itu. Dan sekarang dia sudah jadi ART di rumah Ardhi Shiraz. Dengan gaji lima juta per bulan dan Ardhi memberikan izin padanya untuk kuliah. Yang penting tanggung jawab dengan pekerjaan.
Melati pun langsung mendaftarkan diri untuk kuliah. Disaat ajaran baru telah tiba. Betapa senangnya dia, dengan mudahnya dia lulus di perguruan tinggi Negeri tempat Ilham kuliah. Dan ini bulan kedua wanita itu kuliah.
***
"Keluar kamu...!" Ardhi menunjuk ke arah pintu dengan tangannya yang terluka itu. Melati yang melihat tangan majikannya mengeluarkan darah, jadi kasihan.
Melati kembali memberanikan diri, menatap wajah majikannya itu. Ekspresi wajah Ardhi yang penuh keputusasaan itu, membuat Melati jadi kasihan sekaligus penasaran, masalah apa yang dialami majikan baik hatinya ini. Baru tiga hari yang lalu wajah majikannya begitu sumringah, saat hendak keluar kota. Dengar-dengar ke kota Sibolga. Sudah enam bulan dia bekerja di rumah itu. Baru Kali ini dia melihat wajah majikannya, begitu menyedihkan.
"Apalagi yang kamu tunggu, keluar sekarang!" teriak Ardhi, Melati terlonjak kaget. Sungguh suara Ardhi seperti petir disiang bolong.
Ardhi semakin geram saja melihat pembantu nya itu. "KE--LUAR---!" Teriaknya kencang.
"Iya, iya tuan. Tapi, tangan tuan terluka. Aku akan keluar, ambilkan obat tuan." Ucapnya polos, melirik Ardhi yang seperti kesetanan. Kemudian. Melarikan diri dari kamar itu. Ingin mengambil kotak p3k.
Setelah Melati keluar dari kamar itu dengan terbirit-birit. Ardhi pun mengunci kamarnya lagi.
Dia menarik napas dalam, dia merasa sesak. Pembantunya itu sudah melihat sisi lemahnya. Sepertinya dia akan jadi topik hangat para pembantu di rumah itu. Dia yakin, Melati akan menggunjing dirinya. Karena wanita pada umumnya suka bergunjing.
Ardhi masuk ke kamar mandi, membasuh tangannya yang terluka. Lama dia menatap lamat-lamat tangannya itu. Dia pun menyadari, betapa bodohnya dirinya meluapkan kekesalan hatinya dengan menyakiti diri sendiri.
__ADS_1
Untuk meredakan kupulan asap di kepalanya. Akhirnya Ardhi mengguyur tubuhnya dari kepala sampai ujung kaki. Menikmati setiap tetesan air yang membasahi tubuhnya. Berharap kegundahan dan kekesalan di hati bilang dibawah oleh air yang mengalir di tubuhnya.
Sementara Melati yang panik kini mengetok pintu kamar Ardhi. Dia yang polos benar-benar ingin mengobati luka majikannya itu.
"Apa tuan Ardhi gak ingin diobati ya?" ucapnya bingung, setelah tiga kali mengetok pintu kamar Ardhi. Merasa tidak direspon, wanita itu pun meninggalkan tempat itu. Dia lebih baik menyiapkan makan malam, beserta ART lainnya.
"Melati, kamu antarkan makanan ini ke kamarnya Nyonya. kamu harus pastikan nyonya makan dan minum obat. Walau ada Lastri di kamar itu. Kamu juga harus tetap disitu. Membantu Lastri." Ucap kepala pelayan yang bernama Bi kokom kepada Melati.
"Iya Bi Kom." Jawab Melati patuh. Sebenarnya tugas utama Melati adalah menyiapkan keperluan Ardhi. Jikalau Bos nya itu di rumah. Tapi, Melati yang baik dan rajin itu. Sering ikut membantu pekerjaan ART lainnya. Walau mereka sudah punya tupoksi masing-masing.
Tok tok tok...
Melati mengetuk pintu kamar ibunya Ardhi. Dia pun masuk dengan membawakan makanan.
Melati tersenyum kepada majikannya itu dan kepada Anggun. Melati tahu, bahwa Anggun akan jadi istrinya Ardhi. Tapi, Melati juga tahu sedikit hubungan Ardhi dengan Embun. Secara Melatilah yang selalu membersihkan kamar Ardhi. Di kamar itu ada foto Ardhi dan Embun terpajang.
Ya namanya hanya ART, mana ada haknya untuk kepo dengan urusan majikan.
TBC.
Like coment positif dong!
__ADS_1