
Melihat pria yang dihadapannya, air mata Embun langsung bercucuran tak terbendung. Dia kesal pada pria ini. Dia pun memukul-mukul keras dada pria yang dihadapannya. Dia benci sekali pada pria itu. Dengan menangis tersedu-sedu. Embun langsung mendekap tubuh pria itu dengan erat. Dia benci, mulutnya bilang benci. Tapi, hatinya berkata lain. Dia tidak mau lagi kehilangan pria yang ada dihadapannya sekarang ini.
"Kenapa Abang pergi meninggalkanku..!" Embun membenamkan wajahnya di dada bidangnya suami itu dengan menangis terisak-isak. Tara yang belum tenang itu, hanya bisa mengelus lembut kepalanya Embun. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. Melihat Embun berkeliaran dijalanan, membuatnya merasa bersalah. Tara menyesali keputusannya, yang gegabah pergi dari tempat itu. Harusnya dia tidak terpancing saat melihat Ardhi memeluk istrinya itu. Harusnya dia mempertahankan miliknya.
Embun yang tidak konsentrasi, tidak menyadari lagi. Kalau mobil yang kena timpukan kaleng yang ditendangnya. Adalah mobil suaminya Tara.
"Katanya cinta, cinta dari dulu. Tapi, malah meninggalkanku." Embun kembali menangis sekencang-kencangnya. Lubang hidungnya sudah mampet oleh cairan. Bahkan dia sekarang sudah cegukan. Dia pun mengeluarkannya dan melap ingusnya ke bajunya Tara. Tara hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya itu.
Embun mendongakkan kepalanya, menatap kesal ekspresi wajah Tara yang tidak bisa ditebak oleh Embun. Ekspresi wajah Tara itu aneh. Pria itu nampak sedih, tapi suaminya itu seperti ingin tertawa.
"A--ku bennnci, benci Abang!" ketus Embun dengan ucapan terputus-putus. Karena dia sekarang sedang cegukan.
Dalam tangisannya, Embun berpikir. Kenapa suaminya itu diam saja. Tapi, wajahnya itu loh seperti mengejeknya. Embun semakin kesal, bukannya dia dibujuk malah didiamkan. Emangnya Dia radio yang rusak-rusak. Embun bicara tanpa ada lawan.
__ADS_1
"Ke,,napa diam? senang ya me,,lihat hidupku menderita. Da,,sar Abang pem,,bohong, katanya cinta, sayang, hanya aku wanita yang dicintai. Tapi, ikhlas memberikanku pada pria lain. Dasar aneh." Ketus Embun, Dia masih saja cegukan saat bicara. Embun melepas pelukannya dari Tara. Suaminya itu pun melepas tangannya yang membelit pinggang Embun.
Embun kembali memalingkan wajahnya, sebagai ungkapan kekesalannya pada Tara. Dia masih terus saja cegukan.
"Dasar wanita aneh. Jadi wanita makanya jangan baper. Sudah jadi istri pun tetap memikirkan pria lain. Adek itu Boru Batak. Harusnya bisa bersikap jadi wanita yang baik. Boru ni raja. Adek tahu kan apa itu artinya Boru ni Raja?" Duar.... ucapan Tara terdengar begitu menyakitkan. Apa maksud ucapan suaminya itu.
Apakah Tara tidak menginginkannya. Sehingga suaminya itu mengatakan kalimat yang begitu menyakitkan. Walau memang, apa yang dikatakan suaminya itu benar adanya. Tapi kan dia sudah berubah. Dia tidak selingkuh, dia memang bukan wanita Soleha. Tapi, dia tahu mana yang baik dan buruk.
Kedua bola mata Embun yang bulat itu hendak keluar dari tempatnya. Dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan suaminya itu.
Dia menutup mulutnya dengan jemarinya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya dia sudah salah ambil keputusan.
"Abang, koq tega mengatakan kalimat seperti itu. Iya, aku salah, aku memang salah. Tapi, tak seharusnya Abang berucap kasar pada istrinya sendiri." Embun kembali menangis, dia masih saja menutup mulutnya. Karena tidak percaya dengan sikap suaminya itu.
__ADS_1
"Kenapa? menyesal menolak Ardhi? sana Adek kembali lagi pada kekasihmu itu." Cibik Tara, Embun geram.
"Diam kamu! sudah cukup!" ketus Embun dengan amarah meletup-letup. Tara pun cengir, kemudian tersenyum manis. Embun dibuat heran, kenapa suaminya itu jadi senyum.
"Iya Abang diam." Dengan cepat Tara meraih tengkuk Embun yang masih terkaget-kaget itu. Pria itu pun langsung mel-umat habis bibir istrinya itu. Embun berontak, dia tidak mengerti dengan sikap suaminya itu.
Dengan kasar dan sekuat tenaga Embun mendorong tubuh Tara, sehingga ciuman itu pun berakhir.
Tara melap bibirnya, menatap Embun penuh dengan cinta.
"Sudah sembuh cegukannya sayang? cintaku, istriku..!" Tara dengan cepat meraih Embun kepelukannya. Dengan bingungnya, Embun hanya pasrah dipeluk gemes oleh Tara.
TBC.
__ADS_1