DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Anggur


__ADS_3

Ini hari terakhir Tara dan Embun di Provinsi Lampung. Tepai mereka berada di kota Bandarlampung. Besok malam mereka harus pulang ke kota Medan. Kerjaan Tara sudah menumpuk, Embun juga mau mempersiapkan segala sesuatu untuk wisudanya.


Karena ini hari terakhir mereka di Kota itu, maka Tara mengajak Embun berlibur ke Resort milik mereka. Ya Tara juga punya bisnis Resort di daerah pantai.


"Astaga.... ini indah banget Iban!" Resort milik keluarga Tara, rasa Maldives. Villa yang terletak di Pulau Pahawang ini dari penampilan luarnya sudah terlihat keren. Saat ini mereka sedang berjalan di jembatan dengan pemandangan laut mempesona mata.


"Adel suka? Tara merangkul Embun dari samping. Wanita itu mengangguk.


"Eemmmm, kalau begitu, beri Abang hadiah." Tara melirik Embun yang dirangkulnya. Menunjuk pipi kirinya, agar di cium istrinya itu.


Melihat Tara ingin dicium, wanita itu tersipu malu. Dia pun mencium sekilas pipinya Tara. ",


Koq expres? yang dalam dan lama, penuh penghayatan." Tara kembali mendekatkan pipi nya kepada Embun.


"Iihhh ribet, ini topi menghalangi." Keluh Embun, dia memegangi topi pantai penghadang sinar ultraviolet. Tara dengan cepat membuka topi bulat wanita itu, kembali mendekatkan wajahnya.


"Eemmmuuuaaaahhhh!" Ucapnya sambil mencium pipi nya Tara. Mendapat ciuman yang dalam di pipi. Tara langsung memindahkan posisi Embun, dan kini ada di hadapannya.


"Pipi yang ini cemburu, dia juga harus dicium!" Tara mendekatkan pipi kanannya. Embun merasa Tara sangat lucu hari ini. Suaminya itu genit dan banyak maunya. Padahal Embun juga sangat ingin. Dengan perasaan bahagia, Dia pun mencium pipi kanannya Tara.


"Eemmmmm... di sini,"


"Iya, iya sayang... gak usah minta ku kasih." Embun pun menciumi setiap inchi wajah suaminya itu dan berakhir di bibir kenyalnya Tara.


Tentu saja, ciuman bibir itu jadi panas, disiang bolong itu.


"Terimakasih cintaku, paribanku, istriku, parsondukku!" Tara yang mengatakannya penuh dengan kebahagiaan. Menggendong istrinya itu sambil berputar-putar. Mereka tertawa lepas, penuh kebahagiaan. Embun yang digendong jadi takut. Mereka akan jatuh ke dalam air laut.


"Sayang, stop, stop, turunkan. Adel takut kita jatuh." Tara pun menurunkan tubuh mungil istrinya itu. Embun yang heboh tertawa bahagia saat digendong kini ngos-ngosan. Kelelahan saat tertawa.


"Sayang kita duduk yuk!" Embun langsung menarik tangan Tara duduk di tepi jembatan. Kemudian mereka, mencelupkan kakinya ke air laut di bawahnya.


"Asyik banget!" seru Embun penuh semangat.


"Sudah setuju untuk bulan madu sampai ada anak kita di sini." Tara mengelus lembut perut Embun yang datar itu. Embun menyambut tangan suaminya itu.

__ADS_1


"Iya, adek mau sayang!" jawabnya tersipu malu. Kemudian wanita itu menyandarkan kepalanya di bahunya suaminya itu. Kedua tangan mereka saling bertautan di atas pahanya Tara. Kaki mereka mengayun-ayun di dalam air. Hati keduanya senang, bahagia.


"Dek, kita ke dalam saja ya, di sini panas." keluh Tara, merasa tidak suka berjemur di terik matahari.


Embun menatap sekitar, memang cuacanya panas. Tapi hawanya sejuk, jadi tidak terasa panas.


"Gak panas loh sayang. Hembusan anginnya terasa banget." Padahal biasanya Embun tidak terlalu menyukai pantai. Tapi, kali ini dia sangat suka.


"Abang pingin di dalam, di sini panas." Tara langsung membopong Embun yang masih ingin duduk santai itu.


Setelah sampai di Villa nya. Keduanya malah duduk menonton Tv di atas sofa. Sembari memakan patato goreng rasa Barbiequi.


"Ya ampun, Abang chi Chang Wook!" Embun yang ngefans berat aktor korea itu, malah heboh dan senang menatap layar televisi.


"Astaga, tampannya, senyumnya itu loh. Manis sekali." Pujian Embun membuat Tara sewot, dia menarik keras plasti yang berisi kentang goreng dari tangannya Embun.


Embun yang asyik tidak keberatan. Mulutnya terus memuji aktor tampan itu.


"Astaga, dadanya bidang banget, bibirnya ituloh. Wiihhh..!" Embun masih asyik sendiri, mulutnya tidak terkontrol lagi. Dia melirik Tara yang memakan kentang goreng dengan cemberut.


Embun membuka kulkas dua pintu yang panjang itu. Mengambil satu botol minuman kaleng tanpa soda dan meneguknya setengah.


Melihat ada anggur dalam wadah. Dia pun mengambilnya. Saat hendak menutup pintu kulkas. Tara menahannya. Embun yang terkejut, mendongak. Menatap heran Tara yang sikapnya jadi dingin.


"Abang kenapa?" Tanya Embun setelah Tara menutup pintu kulkas. Kini pria itu menghimpitnya dan mengunci tubuhnya.


"Tampanan siapa? dia atau suamimu?" Tara bertanya tanpa senyuman. Embun jadi ingin tertawa lebar. Tapi, dia takut Tara marah. Karena, seperti nya suaminya itu sedang cemburu habis, sama oppa Cho Chang Wook, yang kalau ciuman sangat hot.


"Kenapa? Abang kenapa?" kedua mata embun berkedip-kedip, merasa tak percaya kalau Tara cemburu.


"Tampanan siapa?" bertanya dengan dingin


"Abang lah. iiihh!" jawab Embun cikikikan


"Ngeledek Abang!" Tara mengangkat tubuh istrinya itu.

__ADS_1


"Habis Abang lucu, masak sama artis cemburu." Embun berontak ingin di turunkan.


Tara pun menurunkannya. Menempatkan kaki embun, di atas kakinya. Embun heran, menatap ke bawah kakinya. Kini kakinya sudah menimpah kakinya Tara.


"Jangan begini, adek mau cuci anggur." Embun mendongak, dengan cepat Tara menyambar bibir itu. Embun menikmati ciuman itu.


"Jangan memuji pria lain di hadapan Abang!" ucapnya setelah melepaskan pangutannya. Embun tersipu malu. Segampang itu membuat Tara cemburu.


"Iya, iya sayang!"


Tara pun melangkahkan kakinya, yang di atasnya ada kaki Embun. Mereka masih dalam posisi berpelukan.


"Abang sangat romantis,


Kalah oppa Chi Chang Wook." Embun menghidupkan kran air di wastafel. Setelah Tara membalikkan tubuh istrinya itu. Mereka masih berpelukan. Kakinya Embun masih menimpa kakinya Tara.


Eehmmmm.... masih membantu Embun membersihkan anggur. Sesekali pria itu menciumi ceruk lehernya Embun, yang membuat Embun kegelian. Dia pun menggerakkan bahunya.


"Geli bang, sudah dong!" kapan selesainya ini." Embun masih saja, menggerakkan bahunya.


Tara mengambil anggur dan memasukkannya ke mulut wanita itu. Embun tersenyum saat mengunyah anggur itu. Masih mencuci anggur.


"Cepetan sayang, kita harus buat anak. Siapa suruh buat Abang cemburu." Bisik Tara lembut di kupingnya Embun. Bulu Roma wanita itu meremang mendengarnya.


"Iihh... masih siang juga. Panas..!" keluhnya dengan tersipu-sipu malu. Sebenarnya dia juga ingin. Karena, sentuhan Tara membuatnya menggila.


"Ayolah sayang!" Tara kini menggesek-gesekkan miliknya yang tegang di bokong nya Embun. Wanita itu terlonjak kaget. Benda tumpul itu sangat lah keras. Benar-benar dirasakannya.


"Eemmm.!" Tara langsung membopong Embun dengan kasar, sehingga anggur berceceran. Membaringkan istrinya di atas ranjang, melepas semua pakaian yang menutupi tubuh istrinya itu dengan sedikit tidak sabaran, membuangnya dengan sembarang.


Dia pun melucuti pakaiannya sendiri. Embun dibuat malu, melihat Tara yang polos berdiri menjulang di tepi ranjang. Teropongnya sudah tegak lurus, siap tempur.


Heemmmpp haappp..


Tara memeluk Embun dengan gemes.

__ADS_1


__ADS_2