
"Aakkhh.. gak mau, adek gak mau cari masalah. Nanti Mas Ardhi marah, terus terjadi keributan. Kan bisa malu kita bang." Embun tidak mau bergabung dengan Ardhi.
"Suamimu ini tidak sebodoh itu, yang mau ribut dengan hal kecil. Apa yang mau diributkan? Adek sudah jadi milik Abang." Tara melangkah dengan cepat, mau tak mau, wanita yang lagi galau itu, akhirnya mengekori suaminya itu dengan perasaan yang tak karuan. Kenapa juga harus bertemu dengan Ardhi di acara ini.
"Ayo duduk sayang!" Tara yang sudah menyediakan bangku untuk Embun. Tapi, wanita itu enggan untuk duduk. Rasanya aneh bila satu meja dengan sang mantan. Mana mereka berpisahnya belum lama.
Embun akhirnya duduk juga di bangku yang sudah dihias itu, tepat di hadapan Ardhi dan di sebelah kanannya Tara.
"Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan Pak Tara. Ini mengenai Melati." Pria itu meneguk segelas air miniral yang ada ditangan kanannya, hingga tersisa setengah gelas. Ardhi butuh banyak cairan, agar tetap konsentrasi saat berbicara di hadapan sang Mantan.
Tara dengan serius menanggapi ucapan Ardhi. Sedangkan Embun hanya menunduk. Dia benar-benar merasa tidak nyaman.
"Aku baru tahu, kalau Pak Tara lah yang melaporkan tunangan saya. Atas tindakan percobaan pembunuhan pada Melati." Ardhi kembali meneguk air mineral yang ada di gelas tangan kanannya itu, sampai habis tak bersisa. Kemudian pria itu meletakkan gelas itu dengan keras di atas meja, yang membuat Embun terlonjak kaget.
Suara melengking Embun, menarik sebagian para tamu undangan yang mendengar teriakan Embun saat terkejut. Ya begitulah Embun, disaat tubuhnya tertekan, dia akan latah dan berteriak.
"Gak berubah juga kamu dek." Tara langsung menoleh kepada Embun, setelah mendengar ucapan Ardhi. Tatapan Ardhi yang masih memancarkan api cinta itu, membuat Tara cemburu.
Sikap Embun saat ini, membuat Tara sadar. Bahwa, Embun belum sepenuhnya move on dari Ardhi, sang mantan kekasih.
"Pak Ardhi, sebaiknya tidak usah membahas istri saya. Cepat bapak katakan maksudnya bapak apa, ingin menanyakan kembali masalah Anggun dan Melati. Masalah sudah selesai, Anggun sudah mendapatkan hukuman setimpal." Tara menggenggam tangan Embun yang berada di paha wanita itu. Tadinya dia ingin cemburu, tapi apa gunanya. Perasaan itu akan merusak moodnya. Bisa-bisa dia jadi bertengkar dengan Embun.
__ADS_1
"Ooh iya ya. Maaf pak Tara. Aku hanya bingung saja mau cari topik pembicaraan apa." Ardhi cengir, merasa bodoh dengan tindakannya. Embun yang tadinya nampak bingung. Kini jadi kasihan pada Ardhi. Dia tahu Ardhi seperti itu, karena dirinya.
Tara bangkit dari duduknya, melirik Embun yang masih duduk dengan ekspresi wajah bingung. "Kalau tidak ada hal penting lainnya. Kami permisi dulu Pak Ardhi." Tara merangkul Embun mesra, meninggalkan Ardhi yang terbengong di tempat. Menatap punggung Embun dengan lemasnya.
Suasana hati Ardhi sangat kacau, benar-benar kacau. Tiga wanita dengan karakter serta status berbeda sukses membuat hatinya gundah gulana. Embun sang mantan, yang belum bisa dilupakan. Anggun sang tunangan yang tidak diinginkan dan Melati sang pembantu yang masih abu-abu. Wajah sedih pembantunya itu sering melintas dipikirannya akhir-akhit ini. Itu yang membuatnya bingung Kenapa Melati jadi sering dia pikirkan. Kapan dia bisa mengumpulkan kepingan-kepingan puzzle masalah ini. Masalah yang datang benar-benar beruntun, membuatnya jadi tertekan.
"Bang, kita pulang aja yuk!?" Embun berbisik di daun telinga Tara. Dia sedang bergelayut manja di lengan sang suami, kini mereka masih berjalan menjauh dari tempat Ardhi.
"Belum makan, acara juga masih panjang. Abang mau manortor nanti." Jawab Tara, mengelus lembut tangan Embun yang merengkuh tangan kekarnya.
"Emang Abang disini sebagai apa? koq mau manortor. Semuanya ada aturannya, tidak sembarangan mau manortor. Ada urutannya." Jelas Embun, berbisik lembut di telinga sang suami.
"Abang disini sebagai anak Boru." Jawab Tara terkekeh. Dalam sebuah acara adat Batak, biasanya anak boru lah yang paling capek bekerja, untuk mensukseskan sebuah acara.
Hehehhe.. Tara tertawa lebar, Embun merengut. "Pulang yuk?!" lagi-lagi Embun memaksa Tara, dia sudah merasa tidak nyaman di tempat itu.
Tara menarik nafas dalam, dia sebenarnya masih ingin berlama-lama di acara itu. Ini momen jarang terjadi. Acara resepsi adat Batak Angkola yang mereka datangi saat ini, sedang berkumpul orang-orang Batak. Tara sangat senang menjalin silaturahmi.
"Baiklah!" walau sedikit kesal, Tara masih saja meminta Embun untuk merangkul lengannya. Tentu saja Embun senang bermanja kepada Tara. Mereka pun akhirnya pulang, tanpa mencicip satu pun jenis hidangan.
"Hasian, pingin deh makan bakso di sana." Embun menunjuk warung bakso sederhana yang tak jauh dari rumah mereka. Kedua bola mata Tara, mengikuti arah gerak tangannya Embun.
__ADS_1
"Baiklah sayang, Pak Rudi kita singgah di warung bakso Ujang!" titah Tara pada sang supir.
"Iya tuan." Mobil pun menepi di depan warung bakso yang disebutkan Tara. Rawut wajah Embun langsung berbinar-binar. Sudah lama dia ingin makan di luar.
"Sudah gak bete lagi?" Embun langsung mengangguk cepat. Embun adalah tipe wanita yang kalau banyak pikiran, pelariannya langsung kemakanan.
Tara tersenyum manis wajah tampan itu memancar kebahagiaan. Dia akan sangat bahagia sekali, apabila bisa membuat Embun senang.
"Sayang, itukan Melati?" Tara langsung mengikuti pergerakan mata indah sang istri. ya kini dia pun bisa melihat keberadaan Melati di tempat itu, bersama seorang pria yang tak lain adalah Ilham.
"Iya sayang, biasalah anak muda sedang malam kamisan. Kamu juga kan dulu seperti itu sama Ardhi. Iya kan?" Embun langsung menatap jengah Tara, yang meliriknya dengan ekspresi wajah yang tak bisa dibaca. Antara cemburu dan meledek.
Embun pun melototkan matanya. Menggigit bibir bawahnya dengan kesal. Dari tadi suaminya itu selalu memancing-mancingnya. Sepertinya Tara mau ajak ribut.
"Makanya punya pacar, biar punya kisah manis dan romantis." Ucap Embun ketus, memilih duduk sedikit jauh dari tempat Melati dan Ilham.
"Marah atau mengejek?" Tara mendudukkan bokong nya di bangku sebelah kanannya Embun. Langsung meraih jemari Embun yang tergeletak di atas meja. Mengecup jemari Embun dengan melempar senyum manis, yang membuat Embun tersipu malu. Tapi, wanita itu gengsi. Sehingga dia menampilkan ekspresi wajah masam.
"Kalau adek cemberut, makin cantik. Abang makin cinta deh." Tara mengedip-edipkan kedua matanya. Menggoda Embun sangat menyenangkan sekali. Apalagi kalau lagi merajuk.
"Permisi... permisi.... " Suara wanita yang tak asing, membuat Embun dan Tara menoleh ke asal suara yang terdengar kuat dan tak sabaran itu. Ternyata Melati sedang berlari menuju ke belakang, Mecari kamar mandi dengan menyumpal mulutnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Suasana warung yang ramai membuat Melati kesusahan berjalan ke kamar mandi.
TBC