
"Sudah dong sayang marahnya. Tangan Abang sakit tahu, dari tadi Adek berontak terus." Embun yang memang sudah pasrah dalam dekapan suaminya itu, akhirnya mendongakkan kepalanya, kembali menatap kesal pada suaminya itu. Tega sekali suaminya itu mengerjainya.
"Jangan memandang Abang seperti itu. Abang tadi hanya bercanda. Mana mungkin Abang tega mengatakan kalimat kasar pada Adek. Adek istri Abang. Wanita yang sangat ku sayangi, ku cintai. Abang tidak tega lihat Adek, merepet, menangis dan cegukan dalam waktu bersamaan." Tara kembali, membenamkan wajah Embun di dadanya yang bidang. Dia gemes banget sama istrinya itu.
Entahlah, dia sangat mencintai istrinya ini. Bagaimanapun jahatnya perlakuan Embun padanya, dia tidak bisa membenci Istrinya itu.
"Abang tadi sempat ragu, takut cegukan Adek gak hilang. Padahal Abang sudah buat Adek terkaget-kaget. Wajah Adek tadi sungguh menyedihkan sekaligus menakutkan.." Goda Tara, mencuri gemes satu kecupan di pipinya Embun.
Hati Embun langsung menghangat, saat Tara mencium pipinya, dia ingin tersenyum. Tapi malu dan gengsi. Dia mencoba menahan untuk tidak tersenyum bahagia. Dasar Embun, gengsi tinggi.
"Abang itu sengaja, Abang ingin melampiaskan kekesalan Abang kan? Abang itu menyindirku." Embun kembali menampilkan ekspresi muka masam. Suaminya itu, benar-benar menyindirnya. Semua yang diucapkan suaminya itu adalah, kata-kata yang pernah Embun ucapkan untuk Tara.
"Eemmmmhhh.... Iya sayang, jangan dimasukkan ke dalam hati ya. Yang penting usaha Abang sukses, membuat cegukan Adek hilang." Pasangan suami istri itu kini saling pandang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Apalagi tatapan Tara pada Embun penuh dengan penghayatan, lembut dan sangat mendalam.
Embun jadi salah tingkah dengan tatapan suaminya itu. Dia tersenyum dan sedikit menundukkan wajahnya. Dia tahu Tara akan menciumnya. Benar saja, kini tangan kiri Tara meraih dagu Embun dengan tatapan mendamba.
Pelan tapi pasti, wajah keduanya mendekat. Pasangan suami istri sepertinya akan menyalurkan hasrat cinta nya di tempat umum itu.
Satu, dua...
Jarak wajah keduanya semakin dekat, sudah siap dengan posisi ternyaman untuk mengekspresikan rasa cinta yang membuncah.
Ti---
Tin tin tin.....
Pak Budi selaku supirnya Tara, membunyikan klakson dengan kuat dan tak sabarannya. Dia harus melakukan itu. Karena menurut dia kelakuan majikannya itu sudah lupa tempat.
Bahkan pasangan suami isteri itu tidak menyadari bahwa adegan yang mereka lakoni, sudah banyak penonton. Pak supir sengaja memberi tahu orang yang melihat pertunjukan mereka. Bahwa mereka pasangan suami istri yang sedang mengalami selisih paham. Jadi, jangan diganggu, sebelum kesalahan pahaman selesai. Tapi, sekarang koq keduanya jadi lupa daratan.
Karena terkejut, Embun mendorong jidat Tara, yang hendak menyosor bibirnya.
Keduanya pun tersadar, dan melihat keseliling mereka. Sudah banyak mata yang melotot. Embun malu, dia memalingkan wajahnya. Begitu juga dengan Tara.
"Astaghfirullah....!" ucapnya menyesali kelakuan mereka yang tidak tabu tempat itu. Apalagi di negara kita, menampilkan kemesraan di tempat umum masih tabu.
"Maaf ya Bapak/ibu, Adek, kakak. Sudah membuat kalian ikut baper. Kami pasangan halal. Sudah sah di agama dan hukum." Ucap Tara tersenyum tipis, berusaha menutupi rasa malunya, sembari memeluk Embun yang kini sudah menyembunyikan wajahnya di dekapan suaminya itu.
Para penonton tentu saja ada yang pro kontra. Ada yang mempermasalahkan kelakuan mereka, yang bertengkar di tempat umum. Ada juga yang memakluminya.
Dengan penuh kesopanan, Tara merangkul Embun, menuntun istrinya itu masuk ke dalam mobil. Tadinya dia ingin menggendong Embun. Tapi, tangannya belum sembuh.
💔💔💔
Di dalam sebuah ruangan private. Kini sesosok pria kekar sedang terkulai lemah tak bersemangat. Pria itu duduk di kursi dengan lemah, menyandarkan punggungnya disandaran kursi, sedangkan kedua matanya menatap penuh kekecewaan langit-langit ruangan itu.
Dia adalah Ardhi Shiraz. Cinta pertamanya Embun, yang kini sudah menjadi mantan. Pria itu tidak bisa menerima kekalahannya. Dia sangat mencintai wanita itu. Empat tahun dia mengejar Embun. Baru juga pacaran satu bulan, tapi kekasihnya itu sudah menikah dengan pria lain.
__ADS_1
Di awal Embun menerima cintanya. Dia sudah mengajak Embun untuk menikah. Tapi, Embun menolaknya. Karena, dia belum boleh menikah kalau belum lulus kuliah.
"Pak Tara kau mengelabuiku. Embun kau mengkhianatiku." Ucapnya lirih, penuh kekecewaan. Ardhi pun menelungkup wajahnya di atas meja.
Hatinya masih sakit, dadanya masih terasa sesak dan panas. Kalau pertemuan mereka hanya untuk memutuskan hubungan, Ardhi akan lebih memilih untuk tidak bertemu.
Dia memegangi dadanya yang terus berdenyut nyeri itu. Hatinya penuh umpatan kebencian pada kekasihnya itu. Tega sekali Embun mengkhianatinya.
Saat merenung, meratapi nasib percintaannya yang begitu menyedihkan. Lagu kesukaan Embun diputar secara otomatis. Karena semuanya sudah diatur oleh Ardhi.
Inilah lagu yang akan menemani mereka saat candle light dinner. Tapi, harapan tak Sesuai kenyataan. Bukan moment romantis yang tercipta. Tapi, moment berkabung.
Saat bintang bertahta
Dan rembulan tersenyum manja
Di saat malam itu, kau dan aku
Kita berbagi cerita
Bersenandung tawa dan canda
Mengucap janji setia, janji cinta
Hatimu dan hatiku
Telah menjadi satu
Bersatu dalam cinta
Semoga selamanya
Tak puas-puas aku merindumu
Begitu cantik sempurna dirimu
Begitu baiknya hatimu cintaku
Kita berbagi cerita
Bersenandung tawa dan canda
Mengucap janji setia, janji cinta
Hatimu dan hatiku
Telah menjadi satu
__ADS_1
Bersatu dalam cinta
Semoga selamanya
Tak puas-puas aku merindumu
Begitu cantik sempurna dirimu
Begitu baiknya hatimu cintaku
Tak puas-puas aku merindumu
Begitu cantik sempurna dirimu
Begitu baiknya hatimu cintaku.
Mendengar lagu itu diputar, membuat Ardhi semakin kesal. Hatinya panas, setiap lirik lagu yang sering dinyanyikan kekasihnya itu, hanyalah gombalan semata.
Embun..... Kau PENGKHIANAT----!" teriaknya penuh frustasi. Melempar speaker dengan kursi, sehingga lagu yang berjudul Setia untuk Selamanya itu pun, berhenti terputar. Speaker rusak parah.
Ardhi begitu terpukul, dia juga menyesali dirinya yang salah ambil sikap. Harusnya dia tidak menyetujui ide gila Tara dengan perjanjian gila itu.
Harusnya dia maju terus, pantang mundur. Bila perlu melarikan Embun sebelum hari pernikahan.
"Aku kalah, Aku tidak terima ini---!" teriaknya lagi penuh kebencian.
Para pelayan restoran yang mendengar kegaduhan di dalam ruangan itu pun, akhirnya memberanikan diri untuk masuk.
Setelah dua pelayan pria masuk. Ardhi mengusirnya.
"Tolong tinggalkan saya. Saya akan bertanggung jawab." Ardhi yang frustasi itu, masih bisa bicara baik. Yang dibutuhkannya saat ini adalah meluapkan kegundahan dan kekesalan di hatinya.
Dia perlu mengekspresikan kekecewaannya. Agar dia bisa tenang.
Kedua pelayan pun keluar. Ardhi kembali duduk di kursi, mencoba menenangkan dirinya. Dia berulang kali menarik napas dalam. Dan menghembuskannya pelan. Dan sesekali beristigfar.
Setelah merasa sedikit baikan, ponsel yang ada di saku celananya bergetar. Dia tidak memperdulikan ponsel yang bergetar dalam sakunya itu. Dia sedang malas berkomunikasi,
Dia sedang emosi.
Tapi, ponsel itu terus saja berdering. Akhirnya Ardhi pun mengangkatnya.
"Nak, tolong bebaskan,!"
TBC
Like, Vote, coment positif 😍
__ADS_1