
"Istri? istri bagaimana yang Abang maksud? sedangkan abang saja mau memberikan aku kepada pria lain."
Deg...
Tara terkejut mendengar ucapan istrinya itu. Apalagi raut wajah Embun nampak kesal mengatakannya. Apakah istrinya ini meminta kepastian darinya? atau menyindirnya? Apa dia ingin Tara mempertahankannya? tapi, dia kan hanya mencintai Ardhi. Tara pun dibuat bingung untuk menjawab pertanyaan Istrinya itu.
"Abang pandai sekali bermain peran. Sewaktu kita kecil, Abang itu bisa membuat aku benci sekali pada Abang. Dan sekarang Abang berperan lagi, sifat dan perlakuan Abang begitu baik padaku. Padahal, aku sudah bersikap kasar kepada abang." Embun mulai ragu dengan kebaikan Tara selama ini. Suaminya itu selalu menggodanya,berperan sebagai suami yang baik. Tapi, kenapa dia malah akan memberikan Embun kepada Ardhi. Apa sebenarnya maunya suaminya itu.
"Abang tahu gak, sikap Abang ini yang membuat aku bingung. Aku tuh sempat merasa Abang suka padaku. Tapi, Abang mau dijodohkan dengan Lolita. Terus Abang mengklaim aku ini istrinya abang. Tapi, kenapa Abang mau mengikhlaskan aku kepada Mas Ardhi. Sikap Abang benar-benar membuatku bingung." Embun menatap lekat Tara, yang tidak berkutik itu. Embun kecewa kepada Tara.
Raut wajah Tara nampak begitu khawatir. Dan harap-harap cemas. Sepertinya Embun sudah salah paham padanya, mengenai sikap baiknya selama ini. Tara pun jadi takut, untuk mengatakan isi hatinya. Dia yakin Embun tidak percaya nantinya, melihat kekecewaan istrinya itu. Akibat ucapannya saat berdebat dengan Ardhi. Tara begitu mencintai wanita dihadapannya ini. Sehingga dia rela mengorbankan perasaannya, asalkan Embun bahagia. Tapi,
"I--tu, Abang sebenarnya,"
"Sudah, sudahlah Bang, aku tidak ingin penjelasan lagi. Aku kebelet!" ketus Embun berlari kecil ke dalam kamar mandi. Bahkan dia menutup pintu kamar mandi dengan sangat keras, sambil memegangi bagian bawah perutnya.
Tadinya Tara sudah sangat serius dan tegang. Dia akan mengungkapkan isi hatinya. Agar Embun tidak salah paham. Tapi, melihat tingkah Embun yang kebelet. Kedua bibir Tara melengkung sempurna. Dia merasa Embun sangat lucu.
Di dalam kamar mandi, Embun mendumel sembari memperhatikan wajahnya di cermin wastafel.
Dia kecewa kepada Tara. Sikap suaminya itu, bukan perlakuan yang spesial. "Bodohnya aku sempat suka padanya. Dan malah cemburu pada Lolita. Dia selalu menggodaku, menciumku, mencari kesempatan untuk menyentuhku. Tapi, apa katanya dia akan memberikanku pada Ardhi. Dasar ucapan dan perlakuannya bertolak belakang." Rasa kagum kepada Tara selama satu Minggu ini. Pupus sudah, sekarang rasa kesal yang ada.
"Aku juga aneh, koq aku marah dengar dia akan ikhlasin aku sama Mas Ardhi? bukannya itu tujuanku? harusnya aku senang, akhirnya aku dan mas Ardhi akan bersatu." Embun benar-benar tidak bisa mengerti apa yang diinginkannya sekarang. Hati dan pikiran tidak sinkron lagi.
__ADS_1
Embun semakin frustasi saja, masalah asmaranya lebih rumit dibanding menyusun skripsinya.
Dia yang masih kesal dengan Tara, memilih berlama-lama di kamar mandi. Otaknya sedang berusaha tenang dan mereka-reka puzzle yang membentuk alternatif jalan keluar terbaik berdasarkan nalar, untuk masalah yang dihadapinya ini.
Reaksi emosional hati terkadang tidak sesuai dengan logika, sehingga disinilah terjadi pertentangan.
"Ngapain pula aku mikir lama disini. Mending baca Alquran sebelum dapat waktu sholat shubuh. Sudah lama juga aku gak baca Alquran." Embun mandi menggunakan air hangat. Setelah itu dia berwudhu.
Saat dia keluar dari kamar mandi. Tara masih setia berdiri di dekat pintu kamar mandi. Menyandarkan tubuhnya dengan lemah.
"Dek, sepertinya kita perlu bicara." Embun terlonjak kaget, dia yang tidak menyadari keberadaan Tara, membuatnya berbalik ke asal suara.
"Abang mau bilang apa? mau bilang ikhlas menyerahkan aku sama Ardhi? mau bilang, sikap Abang yang baik padaku selama ini, hanyalah sikap wajar tanggung jawab seorang suami. Mau bilang itukan? Adek ngerti koq bang. Adek juga bersyukur, dengan kita menikah, kesalahpahaman ku pada Abang selama ini sudah clear." Setelah mengatakan praduga-praduga di hatinya. Embun pun berbalik badan.
Lagian, tadi Embun meragukan kebaikannya. Kalau dia mengatakan sangat mencintai wanita itu saat ini. Maka Embun akan mengira dia beracting lagi.
Embun tersenyum tipis, dan mengendikkan bahu. Dia sudah niatkan, agar tidak terlalu melibatkan hati dan perasaannya saat ini, agar dia bisa tenang. Sudah saatnya berfikir dan mengambil keputusan dengan menggunakan nalar.
Embun masuk ke ruang ganti, dia keluar dengan sudah berpakaian lengkap
Baju piyama bahan satin import lengan pendek dan celana di atas lutut berwarna maroon.
Tara yang masih berdiri di dekat kamar mandi, hanya bisa menelan ludah, saat Embun melintas dihadapannya. Pagi ini Embun begitu menggoda di matanya.
__ADS_1
Tara pun memperhatikan gerak-gerik istrinya itu. Ternyata istrinya itu masuk ke ruang sholat yang ada di kamar itu. Melihat istrinya ingin melaksanakan ibadah sholat shubuh. Tara bergegas berwudhu.
"Kita sholat berjamaah!" Tara nongol dengan penampilan yang rapi, stile untuk sholat tentunya.
"Belum dapat, setengah jam lagi baru dapat shubuh " Jawab Embun pendek, mulai membaca Alquran dengan tidak bersuara.
"Adek lagi apa?" Tara sudah bingung mau cari topik pembicaraan. Padahal istrinya itu sudah memegang Al-Qur'an.
"Mau membaca surat cinta. Habis, gak pernah dapat surat cinta." Embun tersenyum tipis, merasa lucu dengan jawabannya sendiri. Mana ada lagi zaman sekarang orang kirim-kiriman surat cinta. Zaman sudah canggih, semua pesan sudah bisa terkirim dalam hitungan detik. Bahkan ada acara akad nikah online sat ini. Sekarang semuanya sudah zaman virtual.
Embun pun menghentikan acara mengajinya, dia tertawa kecil. Teringat lelucon orang di medsos, yang membuat semua aktivitas secara virtual. Bahkan ada meme tambal ban online.
"Kirain mau dengar ayat-ayat cinta." Tara tersenyum, hatinya menghangat mengatakan itu. Dia pun duduk di sebelah Embun dengan bersila. Bisa berinteraksi dalam keadaan normal begini dengan istrinya itu, membuatnya sangat bahagia.
"Ayat-ayat cinta, bukannya itu novel best seller kan? Ceritanya sedih banget. Apalagi tu cewek yang namanya Maria. Cinta mati dia sama tu cowok yang namanya Fahri. Koq ada ya manusia seperti itu, mencintai begitu dalam, hingga dia membawa mati cintanya. Syukur hanya sebuah cerita. Kalau dalam kehidupan nyata, itu sih namanya goblok!" Embun mencibikkan bibirnya, tidak sreg dengan karakter Maria dalam cerita Novel Ayat-ayat cinta itu.
Tara menarik napas dalam, Dia memang tahu novel itu. Karena pada masanya Novel itu sangat terkenal. Banyak media meliputnya bahkan dijadikan Film. Entah kenapa Tara jadi merasa seperti Maria. Yang hanya mencintai Embun dalam diam. Cinta berkarat dan sampai mati.
"Sepertinya di kehidupan nyata, mana ada kisah cinta seperti itu." Ucap Embun, mulai memperhatikan aksara Arab di hadapannya.
"Ada, dikehidupan nyata seperti itu. Contoh orangnya ada dihadapan adek." Ucap Tara lirih penuh penghayatan. Embun pun akhirnya menoleh ke arah Tara yang nampak melow itu. Wanita itu tersenyum, merasa Tara sedang beracting.
"Dan wanita yang sangat dicintainya itu, ada dihadapannya saat ini."
__ADS_1
Brakkk