
Dahi Melati walau sudah dikompres tetap benjol juga. Ardhi yang merasa bersalah itu, jadi bingung harus berbuat apa.
"Sudah Mas, gak usah di kompres lagi." Melati menurunkan tangan Ardhi dari dahinya.
"Koq udah, emang gak sakit lagi?" Ardhi tetap mengompres dahi istrinya itu, walau Melati sudah menurunkan tangan kekar itu
"Kalau hanya luka seperti ini gak ada pengaruhnya buatku Mas. Luka lebih parah dari ini sering ku alami." Melati beranjak dari duduknya. Dia ingin sholat shubuh. Entah kenapa perasaan tiba-tiba sensitif. Dia pun gak tahu apa penyebabnya.
"Nanti kita Mas kasih salep ya?" Ardhi yang memang ingin sholat juga mengekor Melati ke kamar mandi.
"Mas mau ngapain?" tanya Melati dengan herannya. Melihat sang suami sedang membuka baju di kamar mandi itu.
"Mau mandilah, masak mau mengaji." Ucapnya langsung menyalakan shower dengan hanya memakai CD. Melati dengan cepat memalingkan pandangannya, dia jadi malu dan salah tingkah sendiri, melihat tubuh sexy sang suami. Dia yang tadinya pun berniat untuk mandi. Akhirnya hanya berwudhu saja. Rasanya dia belum sanggup untuk mandi bareng dengan suaminya itu.
"Tungguin Mas, kita sholat berjamaah." Ardhi bicara dengan suara kerasnya. Melati yang hendak keluar dari kamar mandi itu, sampai terkejut mendengar suara Ardhi.
"Iya Mas " Jawabnya pelan. Berjalan dengan bergidik bahu karena merasa ngeri sekaligus geli melihat suaminya yang mandi tanpa kain salin itu.
❤️❤️❤️
"Mau ke mana? sini temani Mas untuk tidur." Ardhi yang duduk di atas ranjang. Langsung menangkap tangan Melati yang berjalan ke arah pintu kamar. Wanita itu merasa enggan berduaan di dalam kamar itu bersama Ardhi.
"Jangan Mas, gak baik pagi-pagi tidur lagi." Jawabnya dengan malu-malu, berusaha melepaskan genggaman tangan Ardhi dari pergelangan tangannya. Wajahnya kini sudah merona merah, karena tatapan mata Ardhi yang menusuk ke jantung.
"Sesekali itu malah bagus, tapi kalau tiap hari ya gak bagus. Keburu rezekinya dipatuk ayam." Ardhi menarik tangan Melati dengan cepat, disaat istri nya itu lagi lengah. Sehingga kini, Melati terduduk dipangkuan sang suami. Tangan Ardhi langsung membelit pinggang Melati dari belakang. Melati semakin salah tingkah dengan perlakuan sang suami.
"Mas kantuk banget. Temani Mas tidur, Ok!" Melati yang memalingkan wajah itu, kini melirik dengan ekor matanya sang suami. Cepat-cepat wanita itu kembali memalingkan wajahnya. Karena, ternyata suaminya itu terus saja menatapnya.
__ADS_1
"Aku, aku lapar Mas. Aku juga tidak terbiasa tidur setelah bangun." Masih tidak berani menatap sang suami
"Alasan yang sebenarnya apa dek? lapar atau tidak biasa tidur di pagi hari."
"Dua-duanya, ya du--a-duanya adalah alasannya yang digabung jadi satu." Ucapnya dengan cepat dengan intonasi suara yang macet-macet.
Ehmmmm....
Ardhi menarik napas berat. Sungguh sangat susah mendapatkan perhatian dari istrinya itu. Dia lelah, dan sangat butuh sentuhan hangat dan lembut. Tapi, sepertinya istrinya itu, sedikit pun tidak mau melakukan apa maunya.
"Oohh ya sudah, kalau adek tidak mau temenin Mas tidur." Ardhi melepas belitan tangannya di pinggangnya Melati. Dengan cepat wanita itu turun dari pangkuan suaminya itu.
Huufffttt
Ciihhkkkhhh...
Ardhi berdecak kesal penuh kekecewaan. Hal yang bisa membuatnya semangat tak didapatkannya dari Melati. Padahal pria itu, pengen sekali mengelus perut datarnya sang isteri. Dia memang sudah sangat ingin punya keturunan. Makanya dulu, saat Embun menerima cintanya. Dia langsung mengajak Embun menikah. Bahkan dia mau saja menerima perjodohan dengan Anggun. Karena Ardhi memang ingin berumah tangga.
"Iya Mas." Melati pun pergi dari kamar itu dengan memegangi dadanya yang masih bergemuruh itu. Dia tahu Ardhi ngambek. Tapi, mau gimana, dia belum siap untuk seintim itu dengan sang suami. Bisa komunikasi saja dengan Ardhi sudah sangat membuatnya tidak tenang.
Setelah keluar dari kamar itu. Melati malah bengong. Sikap dinginnya tadi, jelas membuat sang suami kecewa. Dia juga sebenarnya ingin tidur. Karena, dia masih merasa kantuk sekali. Tapi, dia tidak mungkin tidur dengan Ardhi. Dia sama sekali tak akan bisa tidur nantinya. Daripada buang-buang waktu dan berpura-pura tidur. Mending dia olah raga. Jalan santai di taman sambil hirup udara segar.
Satu jam sudah Melati berolahraga ringan di taman samping rumah itu. Dia yang merasa lelah, memilih duduk di bangku besi yang ada di taman itu. Tangannya kini membuka tutup botol minumnya. Meneguk air mineral itu hingga habis setengah botol.
Dia menikmati indahnya bunga-bunga di taman itu. Hati dan pikirannya jadi tenang. Melihat banyaknya bunga mawar yang bermekaran. sekelabat, pikirannya tertuju pada Ilham dan Butet. Bagaimana kabar kedua orang itu. Kenapa Abang Ilham, bicara ngaco dan Coco sekali dengan mimpinya.
"Butet, aku pasti akan tahu kabarnya. Libur semester hanya dua minggu. Dia pasti akan cerita apa yang terjadi padanya." Lirih Melati kembali meneguk air mineralnya
__ADS_1
Merasa lebih segar dan tenang. Melati kembali ke kamarnya. Dia akan membersihkan dirinya, setelah itu menyiapkan sarapan.
Saat memasuki kamar itu, Melati memperhatikan sang suami yang tertidur pulas dengan terlentang dan satu tangan berada di atas perutnya. Raut wajah lelah jelas terlihat. Ingin rasanya Melati memijat tubuh sang suami. Tapi, itu tidak akan mungkin bisa dilakukannya pada Ardhi. Dia masih merasa belum nyaman kepada suaminya itu.
Huuuffftt..,.
Melati menarik napas kasar, dia pun masuk ke kamar mandi dengan menggeleng dan berdecak kesal. Dia kesal juga dengan dirinya yang begitu susah dekat dengan Ardhi. Padahal saat ini dia sudah siap jadi istri Ardhi sesungguhnya. Karena, orang-orang terdekatnya, selalu bilang kalau Ardhi itu baik. Ya, memang baik. Dia juga merasakan kebaikannya itu. Tapi, kenapa dia masih merasa enggan pada suaminya itu. Apakah dia belum ikhlas sepenuhnya menikah dengan Ardhi. Karena, mereka terpaksa menikah. Iya, itu alasannya. Ditambah dia masih sering memikirkan Ilham. Dia merasa bersalah pada pria itu.
Melati sudah selesai mandi dan sudah rapi dengan home dressnya. Kali ini dia mempercantik dirinya dengan memakai pasmina. Entah kenapa sejak semalam dia senang berdandan, walau sederhana. Dia heran juga dengan dirinya. Biasanya kalau di rumah saja. Dia mana mau pakai lipstik dan bedak. Tapi, sekarang dia pinginnya seperti itu.
Merasa penampilan sudah pas. Dia turun ke lantai bawah. Dia akan sarapan, agar nutrisi untuknya dan bayinya terpenuhi. Tadi setelah gosok gigi, dia muntah lagi di kamar mandi.
Melati sampai di ruang makan. Di atas meja sudah terhidang banyak menu sarapan. Tapi, satupun tak ada orang yang duduk di kursi meja makan itu.
"Nona mau sarapan apa biar saya siapkan." Ucap seorang pelayan wanita padanya. Tentu saja ucapan pelayan itu membuat Melati bingung. Mau disiapkan seperti apa lagi. Ini sudah banyak menu yang terhidang.
"Ini sudah banyak menunya kak. Mau menyiapkan yang bagaimana lagi." Melati tersenyum tipis. Sedangkan ART dibuat tak enak, karena Melati memanggilnya dengan tutur kakak. Masak anak majikannya memanggilnya kakak.
"Mak-sudnya biar saya layani Nona." Ucap ARat dengan sedikit gugup.
"Gak usah kak. Aku bisa sendiri." Melatipun mengambil nasi ke piringnya. Ayam goreng Kalasan dan capcay. Melati tidak terbiasa sarapan dengan roti. Dia sudah biasa makan berat di pagi hari sejak kecil.
"Ayo kita makan sama. Jangan berdiri saja disitu lihatin aku." Melati merasa tidak enak, makan diawasi.
"Gak Nona, kami sudah sarapan." Pelayan itu merasa terharu sekali. Baru kali ini ada sang majikan mengajak makan bersama, di meja yang sama.
"Eemmmm... Baiklah, kalau kakak gak mau makan. Yang penting aku sudah menawarkan loh." Setelah mengucapkan itu, perhatian Melati tersita kepada suara siulan seseorang. Kedua bola matanya Melati menoleh ke asal suara. Ternyata ada Rudi yang akan menghampirinya.
__ADS_1
"Waaahhh.... lagi sarapan, kebetulan sekali aku belum sarapan." Ucapnya dengan semangat dan langsung mendudukkan bokongnya di kursi tepat dihadapan Melati.
TBC.