
Belum hilang rasa kagetnya Melati. Kini tangan kokohnya Ardhi sudah membelit pinggang wanita itu. Memeluknya erat dan mengendus aroma wangi rambutnya Melati. Rambut yang disanggulnya tadi sudah terurai. Tentu saja kelakuan Ardhi membuat dadanya terasa semakin sesak saja. Melati merasa sesak, bukan karena pelukan Ardhi kuat dan kencang. Pelukan pria itu lembut dan penuh kasih sayang. Hanya saja perlakuan suaminya itu membuatnya grogi parah.
Jantungnya juga berdebar tak beraturan. Bulu romanya meremang merasakan hembusan napas Ardhi menghirup aroma rambutnya. Suara tarikan napas suaminya itu terdengar begitu terhanyut dalam wangi rambutnya.
Melati mengelus pelan dadanya yang bergemuruh itu. Berusaha untuk rileks. Dia juga ingin tidur. Karena ini sudah larut malam. Wanita itu yakin deg-degan yang sedang terjadi padanya, bukanlah deg-degan karena ia jatuh cinta. Mungkin ini deg degan karena penasaran dan grogi saja.
"Rileks saja dek. Mas gak akan lakuin hal lebih. Kita harus belajar untuk saling dekat dan mengenal satu sama lain." Tubuh Melati semakin menegang saja saat ini. Wajahnya merah padam dan berkerut, karena nervouse.
Melati tidak menanggapi ucapan sang suami. Rasanya mulutnya sudah terkunci rapat atas perlakuan Ardhi malam ini padanya. Sentuhan suaminya itu benar-benar lembut. Dia tidak menyangka suaminya itu bisa bersikap manis padanya. Padahal suaminya itu terlihat cool dan terkesan macho.
Benar saja, suaminya itu tidak melakukan pergerakan lagi. Tangannya masih memeluknya dari belakang dengan penuh kelembutan. Bahkan kini Melati bisa merasakan detakan jantung dan tarikan napas halus sang suami. Padahal saat tangan kekar itu memeluknya. Melati bisa merasakan detak jantung Ardhi yang kencang.
Walau terasa risih, karena tak biasa dipeluk oleh seorang pria. Melati diam saja dalam pelukan suaminya itu. Karena, dia tak mau Ardhi terganggu tidurnya. Akhirnya wanita itu pun berusaha untuk rileks, dengan menarik napas sedalam-dalamnya. Berdoa dalam hati, berusaha untuk tidak berfikir banyak. Karena, dia memang juga ingin tidur.
***
Pagi yang cerah, secerah hati Melati pagi ini. Dia tersenyum manis turun ke lantai bawah. Tepatnya ke dapur bersih. Dia akan menyiapkan sarapan roti selai dan susu untuk mereka. Tapi, saat menuju dapur bersih itu. Langkahnya terhenti, karena mendengar suara bel berbunyi. Itu artinya ada tamu yang datang.
"Biar saya saja Bi, yang buka pintunya." Ucap Melati pada ART rumah itu. Saat ART itu berjalan ke arah pintu utama.
Melati berjalan cepat ke arah pintu. Entah kenapa dia semangat sekali untuk menyambut tamu yang datang. Dia merasa akan kedatangan tamu istimewa.
__ADS_1
"Butet...!" kedua bola matanya membelalak penuh melihat si Butet yang ada di hadapannya. Si Butet datang ke rumah Pak Zainuddin pagi-pagi begini? koq bisa?
Melati yang senang bukan main karena si Butet mengunjunginya. Wanita itu tdak memusingkan lagi, tanda tanya besar di hatinya. Kenapa teman kuliahnya itu datang menjumpai ya dan darimana dia tahu, rumah ini.
"Melati..?" Keduanya berpelukan dengan hangatnya. Dua sahabat yang berpisah tanpa sepengetahuan dan kini berjumpa dalam keadaan tak terduga.
"Kamu sama siapa kesini?" Melati menatap lekat sang sahabat dengan wajah yang berbinar-binar. Dia sungguh kangen dengan si Butet.
"Aku lapar Mel? boleh numpang makan gak?" Si Butet langsung berlalu dari hadapan Melati yang bengong itu, menuju ruang makan. Melati yang masih bingung itu, mengikuti langkahnya si Butet dengan cepat, sehingga wanita itu bisa mensejajarkan dirinya dengan si Butet.
"Kamu duduk disini, aku akan membuatkan makanan untukmu. Yang spesial pastinya" Ekspresi wajah kebahagiaan terlihat jelas di wajah cantiknya Melati. Si Butet hanya menatap punggung Melati yang pergi ke arah dapur kotor itu. Dia hendak melarang Melati menyiapkan makanan untuknya. Karena dia tidak mau berlama-lama di rumah itu. Dia hanya ingin sarapan roti saja.
"Mana kamu Butet, di mana kamu sembunyi Keluar kamu wanita ******..!" Suara keras seorang pria yang dikenal oleh Melati membuatnya tersentak. Dia yang penasaran, berjalan cepat ke ruang makan. Saat sampai di ruang makan, dia melihat si Butet, sudah dalam keadaan ketakutan menatap ke arah Ilham yang ada di depannya dengan mengacungkan pedang samurai yang panjang dan runcing.
"Melati? Hahahaha.,.. Wanita munafik, pembohong..! di sini juga kamu ternyata. Gara-gara kamu hidupku hancur. Hancur...!" teriak Ilham, tangannya yang memegang samurai itu bergerak-gerak, ke arah kedua wanita itu
Melati dan Butet saling berpengangan tangan. Menguatkan satu sama lain. Mereka berdua sudah ketakutan setengah mati, melihat Ilham yang seperti kesetanan di hadapan mereka.
"Kalian berdua memang wanita sialan!" Ilham masih dipenuhi dengan emosi. Wajahnya yang nampak merah itu, benar-benar menakutkan. Benar-bea.r seperti ibilis dengan tanduk di kepalanya.
"Kamu harus mati Butet. Harus mati...,!" Ilham mengarahkan samurainya kepada si Butet. Pria itu akan menancapkan samurai itu ke tubuh Butet.
__ADS_1
"Mati kau..!'
prang.... pang peng
Pedangnya Ardhi berhasil menjatuhkan samurai yang sedang menghunus tajam ke arah Butet. Sesaat suasana mencekam itu seolah terhenti. Karena kedatangan Ardhi yang menggagalkan aksi gilanya Ilham.
Melati dan Butet sudah ketakutan. Bibir kedua wanita itu sudah pucat. Begitu juga dengan tubuh mereka yang tak berhenti bergetar. Ardhi pun menghampiri sang istri. Memperhatikan dengan lekat kondisi istrinya itu.
"Adek tidak kenapa-kenapa kan?" Si Butet hanya biasa menatap sedih pandangan di hadapannya. Ardhi begitu khawatir pada istrinya itu. Memeriksa semua tubuh Melati.
Air matanya Butet, bercucuran deras. Dia tidak menyangka telah menikah dengan pria yang psikopat. Bisa-bisanya dia akan membunuh istrinya sendiri.
"Mampus kau..!"
"Awas....!" teriak si Butet, menarik kuat tangan Melati agar menjauh dari sang suami. Karena si Butet melihat Ilham mengarahkan samurainya kepada Ardhi. Si Butet, tidak mau Ilham yang kesetanan juga akan menghabisi dirinya.
Saat itu juga Melati histeris..
"TIDAk...!" Melati kembali mendekati sang suami yang sudah bersimbah darah. Karena di bacok habis oleh Ilham.
"MAS....! TIDAK...!"
__ADS_1
Tbc