DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Selalu memberi yang terbaik


__ADS_3

"Nanti kalau libur semester, Aku ikut kamu pulang kampung ya?" Melati menatap heran si Butet. Ngapain dia mau ikut ke kampung mereka?


"Kampungmu di Padang Sidempuan kan?" tanya Butet, menatap lekat Melati yang juga sedang menatapnya intens.


Melati mengangguk. "Iya, tapi bukan di kotanya. Masih jauh di pelosok." Jawab Melati, mereka berbicara sambil terus berjalan menuju ruang kelas mereka.


"Kampung Umakku itu di Sipirok. Semua saudara dari pihak Ibu, di sana. Ibu ku kan pindah agama, ikut Ayah jadi Nasrani." Melati menghentikan langkahnya. Sudah empat bulan mereka berteman, baru kali ini si Butet menceritakan hal ini. Tentu saja si Melati kaget.


"Aku mau ke kampung Umak. Kita nanti naik travel yang sama ya, kalau kamu pulang kampung." Melati mengangguk ramah. Ternyata kampungnya Melati searah dengan kampung Ibunya si Butet.


Butet melangkah mendahului Melati. Melati memperhatikan si Butet yang masuk ke kelas mereka. Dia baru tahu, kisahnya si Butet. Pantesan, si Butet, akrab dengannya.


***


Ponsel Embun berdering, di dalam tas ranselnya. Dia pun merogohnya dengan tidak sabaran, senyum penuh kebahagiaan terlukis di wajah cantiknya. Dia sesenang itu, karena Tara menghubunginya. Dia tahu itu panggilan dari sang suami tercinta.


"Assalamualaikum Hasian nalagu naburju." Embun tersenyum manis dalam video call itu. Tentu saja Tara jadi melayang-layang mendengar ucapan Embun. Sekarang istrinya itu sangat manis dalam berkata-kata. Sangat berbeda dengan Embun yang dulu (Hasian nalagu naburju: Kesayangan Yang murah hati Yang baik).


"Walaikum salam istriku yang cantik." Tara juga menampilkan ekspresi wajah penuh kebahagiaan. Senyum lebar Pepsodent. Mengeluarkan kata-kata pujian, membalas ucapan sang istri.


"Aduuhh... Abang kangen nih. Adek ke kantor ya? biar dijemput pak supir." Embun masih terus saja senyam -senyum, mendenhar ucapan Tara. Tiap menit sepertinya suaminya itu kangen mulu samanya.


"Eemmmm iya deh, tapi janji dulu. Jangan minta yang aneh-aneh di kantor. Aku lagi gak mood." Ucap Embun mengejek Tara. Wanita itu menjulurkan lidahnya. Sebagai reaksi salah tingkahnya di hadapan sang suami.


"Astaghfirullah.. istriku. Kenapa kamu mikirnya kesana. Kan Abang jadi pengen." Tara Nyegir. Embun bilang nya gak mood mulu. Tapi, kalau Tara sudah menjamah tubuhnya, dia yang paling gak sabaran.


"Apa?" Embun melotot.


"Hooh..!" Tara tertawa lebar.

__ADS_1


"Gak mau, malas keramas siang-siang." Embun cemberut.


"Ya sudah, gak jadi. Adek dijemput sekarang. Temani Abang kerja." Tara sudah menampilkan ekspresi wajah serius.


"Iya sayang." Embun masih tersenyum manis pada Tara, yang nampak cemberut itu.


"Assalamualaikum..!" panggilan video itu pun berakhir. Embun menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas ranselnya. Dia melayangkan pandangan lurus ke depan, menatap orang yang lalu lalang dengan tersenyum penuh kebahagiaan. Kalau dia ingat Tara, maka hati wanita itu akan menghangat, Tara selalu memperlakukannya dengan baik, memanjakannya. Dia merasa sangat dicintainya.


"Dek Embun boleh gabung?" Ilham langsung mendudukkan bokongnya di bangku beton panjang itu. Embun sebenarnya sedang berada di taman. Setelah urusan untuk wisuda selesai. Dia memilih bersantai di taman kampusnya.


"Ilham, kamu di sini? menunggu Melati?" Embun memperhatikan rawut wajah Ilham yang kusut itu. Embun dan Ilham seumuran, hanya beda bulan. Ilham lebih tua dua bulan. Ilham selalu memanggil Embun dengan sapaan adek. Tapi, Embun selalu memanggil nama Ilham.


"Iya dek, aku sudah lama ingin bicara denganmu. Tapi, baru ini ada kesempatan." Ilham tersenyum ramah pada Embun. Yang menampilkan ekspresi wajah penasaran itu.


"Aku curiga dengan Melati. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu." Ilham menatap lurus ke depan. Dia nampak sedang menerawang.


"Itulah yang jadi beban pikiranku. Aku yakin, dia sedang menyembunyikan masalah yang besar, dan aku yakin ada kaitannya dengan tuan Ardhi."


Deg.


Kalau Embun mendengar nama Ardhi, jantungnya Embun akan berdetak kuat dan cepat. Karena, jauh di relung hati Embun paling dalam. Dia merasa bersalah pada mantan kekasihnya itu.


"Sangat mencurigakan, seorang gadis berkeliaran di tengah malam dengan keadaan memprihatikan." Ucap Ilham, kini dia mengalihkan pandangannya kepada Embun, yang menampilkan ekspresi wajah tegang.


"Aku curiga, Melati telah dilecehkan oleh Tuan Ardhi. Melati melawan, sehingga dia melarikan diri." Embun kembali terlonjak kaget dengan asumsinya Ilham. Dia tidak yakin, Ardhi akan melakukan perbuatan keji seperti itu.


Dia lama kenal Ardhi, bahkan sejak dia kuliah semester satu. Ardhi bukan tipe pria seperti itu. Saat menjalin kasih dengan pria itu, Merry bahkan tidak pernah berciuman.


"Tapi, itu hanya dugaanku saja. Semoga fakta ya tidak seperti itu." Ilham menarik napas panjang. Dia sedikit merasa legah, karena mengeluarkan hal mengganjal di hatinya.

__ADS_1


"Aku tidak yakin dengan dugaanmu Ilham. Mas Ardhi itu pria baik. Dia bukan tipe pria yang suka tebar pesona. Dia sangat menghormati wanita." Embun mengangkat wajahnya, dia tidak mau air mata yang hendak keluar, jatuh membasahi pipinya. Jujur saja, jikalau mengingat Ardhi, dia akan merasa sedih.


"Tapi, apa coba alasannya Tuan Ardhi itu, serta ibunya nyamperin Melati ke Rumah sakit?" Embun mengendikkan bahunya. Dugaan Ilham akhirnya membuat Embun jadi kepikiran. Mungkinkah Mas Ardhinya itu melakukan tindak asusila pada Melati? karena, Embun juga merasa Melati menyembunyikan sesuatu. Haruskah dia menanyakannya? tapi, punya hak apa dia?


"Nona, mari kita pulang.!" Supir barunya Embun sudah berdiri dengan sopannya di hadapan mereka. Perbincangan keduanya jadi terhenti.


"Dek, tolong tanyakan hal itu pada Melati. Kalau benar itu adanya. Aku tidak akan melepaskan pria berengsek itu." Embun menghentikan langkahnya, mendengar ucapan penuh kebencian Ilham.


"Kalau ada moment yang tepat, aku akan menanyakannya pada Melati. Ok, aku cabut dulu ya Ilham." Embun melambaikan tangannya. Berjalan cepat ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan menuju kantornya Tara. Embun melamun, dia tidak yakin dengan dugaannya Ilham. Mantan kekasihnya itu sangat baik dan sangat menghargai wanita.


Satu bulan mereka menjalin kasih, mereka belum pernah melakukan takbir alias tabrak bibir. Itu artinya Ardhi pria yang bisa mengendalikan dirinya.


Bibir merah ranum Embun melengkung, sehingga tercipta senyum manis di wajah cantiknya. Dia teringat moment indah bersama Ardhi. Saat mereka mendaki gunung, saat mereka menghabiskan waktu weekend. Ardhi pria yang lucu, tapi tidak banyak gaya. Pria itu juga romantis, tapi tidak suka menggombal.


Senyum manis itu seketika sirnah, ketika dia mengingat kejadian pertengkaran yang terjadi di rumah mereka, saat Ardhi mencarinya. Embun menggelengkan kepalanya, tidak menyangka dia akhirnya berjodoh dengan Tara. Pria yang sangat dibencinya dulu.


Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).


“Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)


Melati yang Soleha itu sudah mengerti makna Firman Allah (QS. An-nisa 19). Hal buruk yang memimpanya, jelas tidak disukainya. Tapi, dia tetap bersabar. Mencurahkan seluruh kegundahan hatinya hanya kepada Sang Khalik. Karena, terkadang apabila kita menceritakan aib kita pada manusia. Maka jadinya akan panjang lebar.


Bahwa manusia terkadang tertimpa oleh takdir yang menyakitkan yang tidak disukai oleh dirinya, maka mungkin saja ia tidak sabar, atau ia dihinggapi oleh kesedihan lalu ia mengira bahwa takdir tersebut adalah pukulan yang bisa memusnahkan harapan-harapan dan hidupnya, tetapi justru ternyata dengan takdir tersebutlah manusia mendapatkan kebaikan dari arah yang tidak ia ketahui.


Dan sebaliknya benar: Berapa banyak manusia yang berusaha dalam sesuatu yang kelihatannya baik, berjuang mati-matian untuk mendapatkannya, dan mengeluarkan apa yang mahal dan berharga demi mendapatkannya, tetapi ternyata justru yang terjadi adalah kebalikan dari apa yang ia inginkan. (Ini adalah karakter Anggun yang malang).


TBC

__ADS_1


__ADS_2