DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Pemain pemula


__ADS_3

Pelan tapi pasti, kini bibir keduanya sudah bertemu, berpangutan, merasakan kehangatan dan kelembutan dalam decapan erotis yang penuh dengan penghayatan. Ritmenya pelan, tapi sangat berkesan dan memabukkan. Tentu saja keduanya merasakan seperti itu, karena melakukan hal intim seperti yang sedang mereka lakukan sekarang, adalah hal baru untuk keduanya.


Β 


Melati sudah terbawa dalam permainan nakal sang suami yang bergelora itu. Dada berdebar-debar, darah berdesir aneh yang membuatnya semakin linglung dengan apa yang dirasakannya. Inikah nafsu itu? yang membuat orang melupakan sekejap kejamnya dunia. Tapi, ini nafsu yang akan mendatangkan pahala. Dia harus terbiasa dengan aktifitas barunya ini. Karena setelah ini dia yakin, mereka akan selalu intim seperti saat ini.


Kecupan mereka masih terasa panas dan bergelora. Melati menutup kedua matanya, dia benar-benar menikmati setiap lum*atan, kecupan dan gigitan nakal suami di bibirnya. Saking menikmatinya, dia tanpa sadar mengeluarkan suara erotis penuh kenikmatan, yang membuat Ardhi semakin bergairah.


Ardhi yang tersulut bir*ahi itu, tak kalah nervousnya saat ini. Jangan tanya, dia sama deg deg an nya dengan sang istri. Tapi, dia berusaha untuk tenang dan nampak lihai, agar mangsa tidak kabur dan mengelak. Dia harus bisa menundukkan sang istri. Ia juga terbilang baru dalam hal ini, tidak menyangka, akan seagresif ini pada istrinya. Dia hanya melakukan apa yang diinginkan tubuhnya saat ini. Tanpa memikirkan apapun lagi. Dia harus melampiaskan birahi yang bergelora ini.


"Mas..!" Suara Melati syahdu menghanyutkan. Dia bisa gila, karena bingung harus mengekpresikan apa yang dirasanya saat lidah Ardhi sudah masuk menyelusup, mengulum dan menghisap lidahnya. Napas Ardhi begitu wangi, tubuh suaminya juga dia suka aroma ini. Tangan Melati bergerak pelan mengusap punggung suami, bergerak pelan dan lembut ke atas, sehingga tangan lentik dan mulus itu telah meremas dan menarik kuat rambut Ardhi.


"Mas," ucapnya dengan wajah merah merona. Disaat Ardhi sudah sukses melepas hijab istrinya. Melati tersipu malu, melihat tatapan mata sang suami yang penuh dengan api cinta dan ketulusan itu.


Ardhi menjawir dagu sang istri. Dia pun kembali me*lu#mat bibir merah chery Melati yang begitu menggiurkan untuknya. Kini bibir nakal itu, sudah mengeksplor setiap inchi wajah mulusnya Melati. Tak ada yang terlewat walau satu inchi pun. Tentu saja perlakuan Ardhi yang terlihat begitu memujanya membuat Melati benar-benar merasa dicintai dan diinginkan.


Wanita itu sungguh tidak tahan. Disaat lidah suaminya itu sudah berpindah, menyusuri telinganya. Bahkan masuk menyelusup geli ke dalam daun telinga itu.


"Mas ..!" Sungguh Melati tidak tahan lagi akan nikmat geli yang meresahkannya saat ini. Apalagi tangan Ardhi sudah bergerilya menyusuri punggung dan perutnya yang masih ditutupi gamis itu. Dengan bibir dan lidah yang tak henti-hentinya memberikan kenikmatan di leher jenjangnya saat ini.


Ardhi sungguh mabuk kepayang kepada istrinya itu. Kulit istrinya itu begitu lembut, halus dan kenyal. Yang membuatnya kecanduan untuk mencicipinya. Ardhi heran, kenapa kulit istrinya sememikat ini? apakah karena istrinya itu sedang mengandung anaknya. Sehingga dia jadi merasa begitu sayang dan mengagungkan wanita yang sedang dijamahnya ini.

__ADS_1


Ardhi tak mau memikirkan itu. Mumpung sang istri sedang menikmati aksinya. Hajar saja, walau siang bolong dan ada di kamar kantor.


Puas memberikan stempel tak jelas di leher putihnya Melati. Kini mata elangnya meminta persetujuan, agar tangannya diizinkan sang istri. Membuka kancing gamis istrinya itu.


Melati tersipu malu, akan tatapan menghanyutkan Ardhi. Dia terhipnotis, sangat susah menolak sentuhan nakal suaminya itu.


"Oowwhh Mas ..!" Melati terlonjak kaget disaat Ardhi menangkap gundukan kenyal kembarnya. Seketika mata Ardhi membelalak saat merasakan daging kenyal padat lembut itu. Sepadat inikah buah dada istrinya itu?


"Oouwww..." desis Ardhi takjub, dia tidak menyangka, gundukan yang tersembunyi rapi itu, semenarik dan menggairahkan. Ukurannya ternyata tidaklah kecil, tapi tidaklah besar. Ini pas dengan selera pria itu. Apalagi ternyata gundukan itu sangat padat. Masih dibungkus Bra saja sudah menggiurkan, apalagi kalau sudah terpampang tanpa penutup.


Tangan Ardhi mulai memainkan satu gundukan, sedangkan bibirnya masih bermain di lehernya Melati. Yang membuat wanita itu panas dingin dan heboh sendiri. Dia tidak tau lagi nama dari nikmat yang dirasakannya. Bagian bawahnya sudah basah. Wanita itu benar-benar terangsang. Melihat reaksi Melati yang begitu menikmati dan terhanyut. Pria itu pun ingin memberikan kenikmatan yang lebih pada sang istri. Ia pun menuntun sang istri, untuk berbaring di atas ranjang. Melati yang panas dingin itu menurut saja.


Bahkan matanya kini merem melek, karena tak tahan akan nikmat dari sentuhan bibirnya Aedhi yang menyedot dan menjilati lehernya.


Ardhi tak menghiraukan protes sang istri, saat terkejut memegangi batangannya. Dia terus saja melanjutkan aksinya mengeksplor bibir ranum dan manisnya Melati. Hingga kecupan itu pun terhenti disaat Melati menghentikan aksinya menggenggam milik suaminya itu. Melati bingung, mau diapakan lagi batangan hangat itu.


"Mau ya di sini?" bisik Ardhi di daun telinga Melati. Wanita itu pun mengangguk malu. Sedangkan Ardhi senang tak terkira. Penatnya sehrii ini sirnah sudah, karena kegiatan mereka sekarang.


Ardhi pun mulai memangut bibirnya Melati, sedangkan tangannya sibuk masuk ke balik gamis istrinya. Menyusuri dada dan berakhir di punggung. Mencari pengait penyangga gunung kembar yang padat itu.


Ardhi yang tak kunjung sukses melepas kaitan Bra istrinya itu. Akhirnya mengangkat tubuhnya. Menatap istrinya dengan penuh cinta di bawah Kungkungannya. Pria itu makin gemas. Disaat Melati tersipu malu, menghindari tatapannya. Istrinya itu malu sekali ternyata.

__ADS_1


Ardhi sungguh terpesona dengan kecantikan alami sang istri. Pria itu tidak menyangka istrinya itu punya kulit bersih, putih dan halus Apalagi leher dan dadanya, begitu menggoda.


Tentu saja menggoda. Dua gundukan yang masih ditutupi bra nya, terlihat menyembul bagian atasnya. Bra istrinya itu seperti kekecilan. Tidak menutupi semua gunung kembar itu.


Ardhi memulai lagi aksinya. Mencium kening sang istri dengan membaca doa. Kemudian turun ke hidung, tapi tangan terus saja, meremas gunung kembar yang membuat Melati ingin meledak, karena tidak tahan dan mengerti dengan bagian inti bawahnya yang sudah berdenyut-denyut.


"Mas .!" Kali ini, suara manjanya Melati semakin menyulut birahi pria itu. Dia pun menurunkan tempurung bra istrinya. Sehingga menyembullah, gundukan putih mulus, kenyal, padatbya Melati dengan pucuk yang coklat ke pink pink an.


Kedua bola mata Ardhi membelalak melihat santapan itu. Dengan menggigit bibir sendiri karena gemes. Dia meremas lembut kedua gunung kenyal itu, memiliki pucuknya lembut, hingga jadi membesar dan menegang. Ukuran pucuk gunung kembar itu, masih terbilang kecil. Dia memberi pijatan erotis pada gundukan kenyal padat itu, yang membuat Melati menggelinjang kebingungan dengan apa yang dirasakannya.


Ardhi tersenyum puas. Lidahnya mulai menyusuri pucuk gunung kembar itu bahkan dia sudah mengisapnya dengan mata merem melek.


Tok


Tok


Tok


"Pak, Pak Ardhi, ada Pak Zainuddin ingin bertemu. Pak, Pak Ardhi...!"


TBC

__ADS_1


Tetap dukung say dengan like coment positif dan voteπŸ™‚πŸ˜πŸ™


__ADS_2