
Malam semakin larut, tapi kedua mata Embun tak bisa dipejamkannya. pikirannya sedang dipenuhi oleh Tara.
"Kenapa dia belum pulang? ni kan sudah jam 11 malam. Mereka pergi kemana, sampai selarut ini?" Embun mondar-mandir di kamarnya, Dia kepikiran Tara. Padahal malam-malam sebelumnya, dia tidak pernah menunggu kedatangan suaminya itu. Bahkan Tara sering tidak pulang ke rumah itu. Kata Doly sih, Tara tidur di apartemennya.
"Apa dia sedang bersama Doly? atau dia tidur di apartemennya? Embun bisa mengerti kenapa Tara memilih tidur di apartemennya. Karena Apartemen nya itu dekat ke kantornya. Ditambah, tentu saja Tara ingin tidur dengan nyaman. Karena kalau di rumah, Tara selalu tidur di ruang kerjanya.
"Apa aku telpon saja ya? tapi, untuk apa aku menelponnya? menanyakannya kenapa tidak pulang? oohh gak banget dech. Kami kan bukan pasangan suami istri sungguhan." Embun berbicara sendiri, sambil mengotak Atik ponselnya. Dia ragu untuk menelpon Tara. Saat itu juga, ponselnya berdering. Ternyata Tara yang menelpon.
"Assalamualaikum...!" Embun tersenyum mendapat VC dari Tara. Hatinya riang gembira. Baru saja dipikirkan, pria itu sudah menghubunginya duluan. Di layar wajah Tara nampak kusut. Pria itu sedang duduk dan bersandar di kursi.
"Apa dia juga sedang memikirkanku." Embun membathin. Dia pun tersadar setelah Tara memaggil namanya.
"Ya Bang, Walaikumsalam..!" Embun tergagap, tapi dia senang sekali Tara menghubunginya. Senyum manisnya Embun, membuat Tara jadi semangat dan bergairah. Dia mengubah posisinya jadi lebih tegap. Dia pun tersenyum. Ingin rasanya dia pulang ke rumah, ingin satu ruangan dengan wanita itu. Tapi, itu tidak akan mungkin terjadi. Karena Embun pasti tidak ingin satu ranjang dengan nya.
"Besok Adek ke kampusnya di antar supir saja ya." Embun cemberut, menatap intens wajah Tara di layar ponselnya.
"Emang Doly kemana?" tanya Embun lemah. Dia ingin Doly yang mengantarnya besok ke kampus. Karena, dia ingin banyak bertanya mengenai Tara kepada Doly.
"Abang dan Doly besok pagi-pagi sekali ada meeting dan masih banyak yang harus disiapkan. Doly dan Rose belum menyiapkan semua dokumen yang dibutuhkan. Jadi malam ini, kami akan lembur." Embun dengan serius mendegar ucapan Tara. Dia juga menatap lekat wajah Tara di layar ponselnya. Kenapa suaminya itu semakin dirindukannya.
"Adek tidur ya, harus cukup istirahat. Agar besok fit dan bugar. Abang doakan semoga besok ujiannya sukses." Embun hanya manggut-manggut dan tersenyum menanggapi ucapan Tara. Ternyata suaminya itu tidak berubah. Tetap saja perhatian dan bersikap baik padanya dari dulu sampai sekarang. Padahal Embun selalu ketus padanya. Berucap kasar bahkan mengatakan Tara itu najis.
Baru seminggu terakhir ini, hati Embun melunak dan merasa bersalah. Sehingga ia selalu berusaha bersikap baik dan sopan kepada Tara. Walau sikap keras kepalanya masih ada. Dia selalu ngotot ingin komunikasi dengan Ardhi.
"Iya Bang, jaga kesehatan. Kirim salam sama Rose dan Doly." Embun tersenyum, walau dadanya sesak, karena kelakuan kurang ajarnya terlintas lagi di pikirannya
"Assalamualaikum...!" Ucap Tara.
"Walaikumsalam..!" Embun menjawab salam Tara dengan terseyum.
Dia pun bernapas legah. Senyum kebahagiaan terpancar di wajahnya. Karena mendapat kabar dari suaminya itu.Tanpa menunggu lama, dia pun tertidur.
Di ruang kerjanya, Tara dan Doly sedang menyiapkan semua dokumen yang diperlukan untuk pertemuan besok. Semua urusan jadi mandek, karena Rose dalam keadaan sakit. Sudah tiga hari wanita itu demam tinggi, batuk, filek dan indera perasa hilang.
Setelah pukul dua belas malam semua berkas yang dibutuhkan selesai juga.
Doly membawakan Tara susu panas. Ya itu minuman kesukaan Tara. Kini mereka duduk santai di sofa. Kedua kaki Tara bertengger di meja.
"Dol, nasehat apa yang kamu katakan kepada Embun? seminggu terakhir ini sikapnya sedikit berubah. Dia bicara jadi lebih sopan." Tara menyesap susu panas yang dibuatkan Doly. Dia memperhatikan Doly yang tersenyum tipis.
"Nasehat? aku tidak sealim dan sesepuh gitu yang pandai memberi nasehat." Jawab Doly masih tersenyum. Kalau Tara sedang menikmati susu hangatnya. Lain lagi dengan Doly yang lebih suka minum kopi pahit. Namanya kopi sipirok.
"Kamu itu alim, bijak. Makanya aku pilih kamu jadi asistenku. Saat pertama kali aku melihatmu di kebun salaknya Tulang Baginda. Aku respect banget dengan tindakanmu yang bisa menenangkan kondisi yang sedang saat itu." Tara kembali mengingat pertemuan pertamanya di kebun salaknya ayah Embun. Pak Baginda yang tak lain adalah Ayah mertuanya.
__ADS_1
Saat itu, Doly lah yang menenangkan kemarahan Pak Baginda.
"Aku hanya menyampaikan sedikit ilmu yang ku dapat saat di pesantren." Jawab Doly, mengingat perjalanan hidupnya di pesantren. Pesantrennya itu ada di pelosok. Ketua yayasan yang menemukan Doly terdampar di sungai dekat lokasi pesantren. Akhirnya memungutnya jadi anak angkat.
Saat ditemukan Doly dalam keadaan kritis. Banyak luka di tubuhnya. Bahkan kepalanya retak dan mengalami pendarahan. Doly koma selama dua Minggu. Disaat sadar, anak itu tidak mengenali dirinya, dia amnesia.
Tara menurunkan kakinya dari atas meja. Dia mendekati teman masa kecilnya itu. Dia merasa sangat terharu. Ditemukannya Doly, membuatnya bisa dekat dengan Embun. Karena Dolilah salah satu penyebab Embun membenci Tara.
"Aku sangat bersyukur, ternyata kamu masih hidup. Walau kamu lupa ingatan." Tara menepuk bahu Doly. Pria itu pun menatap Tara dengan haru. Dia tidak menyangka, Tara akan menjadikannya sebagai asisten.
"Aku yang harus bersyukur. Bertemu denganmu, membuat jati diriku terungkap. Bahkan, aku tidak tahu, bahwa aku dan ibuku adalah pekerja di rumahnya Embun. Dan lucunya, sudah enam bulan aku bekerja di perkebunan Pak Baginda. Mereka tidak mengenaliku. Malah kamu yang langsung mengenalku." Doly tersenyum tipis. Kemudian raut wajahnya berubah muram. Dia teringat cerita Mama Nur, yang mengatakan bahwa ibunya meninggal setelah setahun dirinya menghilang dibawa arus sungai. Doly dikabarkan meninggal, dan jasadnya dibawa oleh makhluk halus. Ya begitulah kepercayaan waktu itu, dikampung mereka.
"Aku juga sempat ragu lihat kamu waktu itu. Soalnya kamu banyak berubah. Kamu dulu itu kecil, kurus dekil."
"Miskin, hidup lagi.!" Doly memotong ucapan Tara, Dia tertawa renyah. Tara menatap Doly geram. Tara tidak ada niat menghina Doly.
"Dan sekarang aku tampan. Iyakan?" Doly kembali menertawakan dirinya.
"Iya, iya, kamu tahu gak kenapa aku yakin kalau kamu itu adalah Doly." Tara menatap lekat Doly yang sudah tidak tertawa itu.
"Gara-gara inilah, aku yakin seratus persen kalau kamu itu adalah Doly." Tara memegang kuping Doly yang lebar dan besar itu. Lucunya kuping Doly yang besar-besar itu. Ukurannya berbeda. Kuping sebelah kanan lebih besar dari sebelah kiri.
Doly lagi-lagi tertawa. Kupingnya memang sedikit aneh dan menarik perhatian.
"Ditambah saat itu, kamu katakan namamu adalah Doly."
Doly pun akhirnya membaringkan tubuhnya di sofa. Dia meraih bantal sofa dan memeluknya.
"Aku masih penasaran, nasehat apa yang kamu katakan pada Embun?" Tara juga kini sudah membaringkan tubuhnya di sofa. Melipat kedua tangannya di atas dadanya. Menatap langit-langit ruangan itu.
"Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari bersabda bahwa, keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan. Penting untuk menjaga lisan. Sebab lisan diibaratkan pisau yang apabila salah menggunakannya akan melukai banyak orang." Doly memperagakan dengan tangannya betapa seriusnya dia menasehati Embun disela-sela waktu, saat dirinya mengantar atau menjemput Embun ke kampus.
Tara tersenyum mendengar ucapan Doly. Dia senang sekali, hadirnya Doly adalah anugerah besar untuknya. Tidak bisa memiliki Embun. Setidaknya wanita itu, tidak membencinya lagi
"Aku juga menasehatinya soal perasaannya kepada kekasihnya itu. Bahwa dia itu salah. Tapi, dia mencari pembelaan. Katanya itu semua idenya Bos. Karena, dia tidak ingin menikah dengan Bos." Tara hanya berdehem menanggapi ucapan Doly.
"Dia juga cerita, tentang masa kecil kita. Dia bilang suka padaku dulu. Katanya aku baik padanya. Dan dia juga bilang, sangat benci dengan Bos." Tara langsung bangkit, dia duduk tegap menatap Doly yang bercerita.
"Dia bicara apa lagi?" Tara benar-benar tertarik dengan ucapan Doly.
"Katanya Bos jahat, sering membuat dia menangis." Tara tersenyum tipis mendegar ucapan Doly. Kenangan masa kecil .elibtas lagi dipikirannya. Dia memang suka jahil kepada Embun.
"Bukan jahat sih, hanya caper saja. Habisnya dia hanya mau main samamu. Kesal gua, yang jadi paribannya kan aku. Koq malah lebih dekat sama kamu." Tara bicara semangat sekali. Sehingga Doly ikut mendudukkan tubuhnya.
__ADS_1
"Dia benci sama bos. Karena keluarga besar kalian, selalu ejekin dia. Bahwa dia nantinya nikahnya sama bos. Dia kan masih kecil, belum ingin nikah. Tapi, orang dewasa disekitar kalian, suka sekali membahas pernikahan.
" Embun, itu Tara Paribanmu. Kamu mau kan sama Tara?" Doly menirukan gaya bicara Embun yang kesal, saat orang tua dan saudara mereka membahas Perjodohan. Padahal saat itu, mereka masih kecil. Tidak ada pemikiran untuk menikah. Yang ada di otak masih ingin bermain.
"Begitu." Ucap Tara pendek.
"Terus, katanya sewaktu kecil dulu bos itu gendut, jahat lagi makanya Nona Embun tidak suka."
"Tapikan sekarang aku tidak gendut lagi. Kenapa dia masih saja tidak bisa menerima kalau aku ini suaminya." Tara langsung memotong ucapan Doly. Dia kesal juga, fisiknya sewaktu kecil, sering di caci Embun.
"Aku juga pernah menanyakan itu. Ada suami tampan dan kaya. Kenapa malah mau kembali kepada Ardhi."
"Terus dia jawab apa?" desak Tara.
"Dia terlanjur cinta sama Ardhi dan katanya gara-gara Bos dia gagal nikah dengan Mas Ardhinya itu. Makanya dia benci Bos. Ditambah, katanya kasus meninggalnya aku terbawa arus sungai. Nona beranggapan, bos sengaja membunuhku. Karena saat itu dia beranggapan Bos tidak suka melihatku dekat dengannya.
"Aku pun tidak tahu benar atau tidak yang dikatakan Nona Embun. Aku kan amnesia bos. Tidak mengingat apapun." Doly mulai merasa tidak enakan pada Tara. Dia juga kasihan melihat Bos nya itu.
"Terus, apa kamu bilang sama Dia, kalau aku menyukainya?" Tara berbicara lemah, sepertinya tidak ada harapan lagi mendapatkan cinta Embun. Wanita itu begitu mencintai Ardhi.
"Aku tidak bilang, aku hanya bilang, bos tidak jahat sama dia. Sewaktu kecil, bos hanya usil, karena tidak tahu cara mendekatinya."
"Terus apa jawabnya?" Tara benar-benar kepo.
"Nona Embun hanya tersenyum. Dia tidak ada komentar." Jawab Doly, sambil menguap.
"Bos masih cinta nona Embun kan?" Tara mengangguk lemah.
"Coba utarakan isi hati bos. Siapa tahu, Nona Embun mau menerima cinta Bos. Jadi, bos tidak perlu memberikan nya kepada pria lain."
"Tidak, aku tidak berani mengatakannya. Aku takut, dia benci padaku. Lagian, aku mau membuka hati pada Lolita. Lolita juga gadis yang baik." Raut wajah Tara muram. Doly jadi prihatin.
"Kalian pasangan aneh. Bos ingin memberikan istrinya pada kekasihnya. Dan istri bos sendiri mau menjodohkan bos dengan sahabatnya. Aneh, benar-benar aneh. Kalian telah bermain-main dengan api. Api kalau kecil jadi lawan. Bah.... lihat saja nanti lama kelamaan, kalian akan terbakar sendiri." Tara tercengang mendengar ucapan Doly. Ucapan Doly itu sangat benar.
"Entahlah, aku ikuti saja maunya Embun. Yang penting dia bahagia." Jawab Tara prustasi.
"Kamu tidak suka sama Embun kan? secara katamu tadi, Embun pernah bilang suka samamu dulu." Tara menilik Doly yang tersenyum mengejek itu.
"Oalah Bos. Aku ini apalah, mana mungkin berani menaruh hati pada Nona Embun. Jika itu kulakukan, itu sama saja aku cari penyakit." Doly tertawa. Dia sudah kantuk sekali.
"Syukurlah, sainganku ternyata masih Ardhi seorang."
"Bos menganggapku saingan?" Doly membulatkan kedua bola matanya. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Tara mengangguk.
__ADS_1
"Katanya tidak berharap pada Embun. Tapi koq malah menganggapku saingan. Bos ada-ada saja."
"Entahlah, sakit kepala ku memikirkannya." Tarapun menguap. Dia sudah kantuk.