DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Di ranjang yang sama


__ADS_3

Merasa tidak siap dengan serangan mendadak sang suami. Melati mendorong kuat tubuh suaminya itu, hingga ciuman itu pun terlepas.


Melati langsung menunduk, karena salah tingkah. Dia tidak menyangka suaminya itu akan menciumnya. Tapi, bayangan Lidya yang melap bibir sang suami di lobby tadi membuatnya kembali emosi.


Dia pun akhirnya mengangkat wajahnya menatap Ardhi dengan merengut dan kesalnya.


"Marah?" Melati semakin cemberut, bibirnya bahkan dimanyunkan. Ardhi semakin gemas saja pada istrinya itu. "Marah sama Mas?" Ardhi tersenyum manis. Melati masih cemberut, bahkan bibir yanng tadi monyong kini sudah ditekuk. Istrinya itu benar-benar lucu saat ini.


Saat ini Ardhi beranggapan, istrinya itu marah padanya, karena dia mencium istrinya itu. Ardhi tidak tahu, bahwa Melati kesal melihat adegan Lidya dan suaminya saat di loby. Di tambah ada noda merah seperti lipstik di kerah kemeja sang suami.


"Marah karena mas cium?" tersenyum menatap Melati yang kini juga menatapnya. Melati menggeleng, yang membuat Ardhi jadi semakin bingung. Terus istrinya itu kenapa cemberut.


"Kalau gak marah, kenapa wajah adek tegang dan kaku begitu?"


"Emang gini cetakannya." Ucap Melati dengan menghentakkan kakinya. Suaminya itu benar-benar sukses menggodanya dari tadi. Dia pun akhirnya kembali menangis dengan manjanya. Ardhi yang tidak tega melihat istrinya menangis itu. Melap air mata sang istri.


"Maaf dek, kalau mas ada salah. Jangan menangis ya? mau anak kita nanti tukang nangis?" Melati langsung mengangkat wajahnya, setelah mendengar ucapan sang suami. Dia mana mau punya anak yang rewel nantinya.


Dengan lembut Ardhi kembali merangkum wajah Melati yang salah tingkah itu. Bahan kini Melati bingung harus membuang pandangannya ke arah mana. Tatapan suaminya itu benar-benar menghanyutkan saat ini.

__ADS_1


"Tatap Mas." Mengangkat wajahnya Melati hingga mata keduanya beradu pandang. percikan api cinta dan gairah terlihat ditatapan suaminya itu. Perlahan Ardhi mendekatkan wajahnya ke wajah nya Melati. Wanita itu tahu, apa yang akan dilakukan suaminya itu. Seketika tubuhnya menegang, disaat bibir kenyal dan lembutnya Ardhi sudah mengecup bibirnya yang tertutup rapat. Mengecap perlahan dan berulang kali. Yang membuat Melati merasakan geli serta nikmat. Darahnya berdesir hebat menggelegar di seluruh tubuhnya.


Perlahan bibir yang terkatup itu, kini terbuka sedikit demi sedikit. Tentu saja Ardhi tidak mau membuang kesempatan itu. Dia yang sudah lama menahan gairah tak tahan lagi untuk tidak mengekspresikannya. Mengecup bibir itu bergantian dari atas dan ke bawah dengan lembut.


Cara Ardhi menciumnya, membuat sang istri terpancing. Melati pun berusaha melakukan apa yang dilakukan suaminya itu, membalas lum*atan Ardhi. Hanyut dalam permainan. Dia bahkan mendekatkan tubuhnya ke Ardhi. Tahu apa yang di mau sang istri. Ardhi menurunkan satu tangannya. Menarik kuat tubuh istrinya itu hingga menempel sempurna ke tubuhnya. Sedangkan satu tangannya menyangga kepala sang istri dari belakang.


Ciuman itu pun semakin panas saja. Apalagi Ardhi seperti tidak bisa menahannya lagi. Dia ingin lebih, lebih dan lebih, tak puas rasanya hanya *******. Sampai-sampai Melati tak bisa mengimbangi. Dia bahkan hampir kehabisan napas.


Puk


puk


puk


"Dek, dek, kamu kenapa?" menilik wajah sang istri yang menunduk dan dada yang sedang naik turun dengan paniknya.


"Adek kenapa?" Ardhi menunduk untuk melihat lebih jelas wajah istrinya yang dari tadi menunduk juga.


Merasa ada yang tidak beres dengan sang istri. Dengan penuh rasa cemasnya. Ardhi menuntun Melati duduk di tepi ranjang. Mengusap lembut kepala istrinya yang ditutupi hijab itu. Mencoba menenangkan sang istri yang terlihat terkejut bathin itu. Ardhi tersenyum tipis, dia tahu istrinya itu belum mahir dalam hal bertukar Saliva, sehingga istrinya itu hampir kehabisan napas.

__ADS_1


"Maaf ya? Mas benar-benar gak tahan lagi. Habis adek selalu buat mas gemes. Saking gemesnya ingin rasanya Mas, menelan, eehh tidak maksudnya memasukkan adek ke dalam hati Mas ini." Ardhi meriah tangan Melati yang berada di atas pahanya. Menempatkannya ke dada bidangnya Ardhi yang kini juga sedang naik turun, karena deg deg an setelah aktifitas yang menguras energi dan emosi jiwa itu.


Dengan .akunya karena salah tingkah, Melati menjauhkan tangannya dari dada bidang yang berdetak tak karuan itu. Dia juga bisa merasakan bahwa suaminya itu juga grogi sepertinya. Tapi, suaminya itu lebih bisa mengendalikan keadaan.


"Dek, gak usah tegang gitu ya? sekarang coba tarik napas dan hembuskan pelan. Agar volume udara di paru-paru adak banyak." Ardhi bicara sambil mempraktekkan cara menarik napas yang baik dan benar. Dia sering latihan itu, apalagi kalau mau naik gunung. Aahhkkk sebentar lagi kan dia mau naik gunung kembar juga. Makanya dia mau olah raga tarik napas.


Melati pun melakukan apa yang diintruksikan suaminya itu dengan dengan senyum-senyum. Adegan romantis tadi melintas di pikirannya.


"Napa dek, ada yang lucu?" Melati langsung menggeleng dan memalingkan wajah sangat malu rasanya menatap sang suami ya g juga sedang menatapnya.


Pasangan suami istri yang lagi kasmaran itu, saling curi pandang. Setelah keduanya merasa lega dan tenang, habis olah raga pernapasan. Hingga pandangan keduanya pun bertemu. Beradu pandang dengan percikan api cinta yang membara. Tangan nakalnya Ardhi mulai bergerak pelan menyusuri seprei untuk meriah tangan sang istri yang juga berada di atas ranjang itu.


Dan Happ


Melati terkejut merasa seperti kena setrum berjuta-juta voltase, saat tangan suaminya itu meraih jemarinya yang lentik dan halus itu, mere#mas lembut tangannya. Melati langsung menunduk karena malu dengan apa yang dilakukan mereka. Rasanya begitu mendebarkan. Kenapa dia gak dari dulu mendekat diri pada suaminya itu. Ternyata rasanya begitu membahagiakan, begitu euforia. Dia yang kelaparan saja, sekarang sudah merasa kenyang dengan kelakuan mereka yang ingin memadu kasih itu.


Melati kembali melirik Ardhi yang masih terus menatapnya, seperti santapan lezat saja. Membalas senyum sang suami, yang kini mulai menggerakkan sedikit bokongnya agar lebih dekat padanya. Mereka berdua sama-sama tahu, apa yang mereka mau.


Ardhi menciumi jemari sang istri yang tadi dire*mas lembut olehnya dengan penghayatan dan penuh cinta. Melati semakin dibuat melambung tinggi dengan sikap manis dan memuja suaminya. Dia benar-benar sudah terhanyut dalam permainan lembut dan nakal suaminya itu. Bahkan amarah, kesal dan sedih sirnah sudah, karena adegan romantis yang sedang mereka lakoni.

__ADS_1


Kedua kaki Ardhi dengan cepat membuka sepatunya. Melati semakin jantungan saja dibuat kelakuan Ardhi. Haruskah mereka melakukannya lagi di ranjang ini, siang-siang bolong begini? tak bisakah ditahan sampai nanti malam, saat sudah pulang ke rumah?.


TBC.


__ADS_2