DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Embun muna


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Embun lebih memilih untuk banyak terdiam. Menjawab pertanyaan suaminya dengan sepatah kata saja. ' iya, tidak.' Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya Embun. Dia tidak mau mengajak Tara untuk berbicara banyak. Takut, Tara menanyakan tentang benda yang disimpannya di dalam BRA nya.


"Sepulang dari Lampung, kita akan bulan madu."


"Iya." Jawab Embun pendek.


"Kita bulan madunya sebulan atau dua bulan, dan akan pulang kalau adek sudah positif."


"Iya," jawabnya lagi, tapi sedetik kemudian. Setelah otaknya mencerna kalimat yang diucapkan suaminya itu, dia pun berteriak, karena terkejut.


"APA---?!!!" Kini Embun menoleh kepada suaminya itu dengan ekspresi wajah kesal, tidak terima dengan permintaan Tara.


"Bisa gak sih dek, jangan teriak-teriak." Tara yang terkejut mendengar suara Embun yang melengking, akhirnya menepikan mobil mereka. Dia menggelengkan kepalanya, merasa heran dengan Embun. Ternyata istrinya itu belum berubah. Masih suka mengeluarkan suara melengking.


"Habis, adek terkejut. Bulan madu selama dua bulan. Itu kurang kerjaan namanya. Kalau happy-happy terus, tidak bekerja. Nanti uang Abang habis, terus itu perusahaan bisa bangkrut karena tidak diawasi." Ucap Embun panjang lebar. Menatap malas Tara.


"Dua bulan gak kerja, gak akan buat bangkrut sayang. Abang kan punya banyak asisten. Abang itu kerja keras, agar bisa menikmati hidup. Ngapain kerja terus, tapi setres. Saat ini adek itu adalah hormon penghilang setres buat Abang." Tara tersenyum genit. Embun dibuat jengah mendengar ucapan suaminya itu.


Iya suaminya itu hilang setresnya. Tapi, si Embun yang jadi setres. Bayanginnya bulan madu sampai hamil. Oh tidak!


"Gak, gak, gak mau. Bisa-bisa pulang bulan madu. Aku jalannya sudah mengangkang. Karena tiap jam harus ngangkang." Jawab Embun polos penuh kekesalan Tara tertawa terbahak-bahak. Membayangkan istrinya itu berjalan mengangkang, tentu itu lucu sekali.


"Ya kan kita bisa ganti gaya, adek gak mesti ngangkang terus. Bisa nungging, duduk atau akrobatik." Tara menutup mulut dengan tangannya setelah mengatakan itu. Dia merasa pembahasan mereka ini sangat lucu sekali. Sedangkan Embun sudah mulai muak. Dia belum pingin punya anak, lah suaminya ngebet banget pingin punya anak.


"Dasar otak mesum." Embun turun cepat dari mobil mereka. Ya, kini mereka sudah sampai di rumah Ompung mereka.

__ADS_1


Tara menyusul istrinya itu dengan berlari. Tangan kanannya menenteng kresek yang berisi makanan. Dan tangan kirinya dengan cepat meraih tangan istrinya yang lagi cemberut itu.


Tara merasa heran dengan istrinya itu. Biasanya seorang wanita akan senang diajak bulan madu atau jalan-jalan. Tapi, kenapa istrinya itu tidak setuju dengan keinginannya.


"Sayang, jangan ngambek dong! nanti Adek malah jadi bahan ledekan mereka." Bisik Tara di telinga Embun. Embun melirik Tara dengan kesal, mengerutkan bibirnya. Tara tersenyum membalas tatapan kesal istrinya itu.


Mereka pun akhirnya berjalan bergandengan tangan menghampiri anggota keluarga besar mereka yang belum pada tidur itu. Padahal sudah pukul sepuluh malam.


"Waahhh.... banyak makanan dibeliin pengantin baru." Ucap salah satu sepupu mereka, setelah Tara meletakkan dua kresek besar yang berisi sate Madura, dan pizza. Mereka pun pada berebut memilih makanan yang disukai.


"Kalau masih kurang, kalian beli sendiri." Tara meletakkan satu ikat uang di meja tempat makanan terhidang. Kemudian dia berlari menyusul Embun ke dalam.


Saat ini bersama Embun lebih mengasyikkan buatnya. Menggoda Embun membuatnya terhibur.


"Woiii mau ke mana? kita disini dulu main kartu." Teriak sepupu mereka.


Dia pun langsung masuk ke kamar yang disiapkan untuk mereka. Membuka pintu kamar itu dengan perasaan senang tak terkira. Memeluk Embun dari belakang dengan cepat, saat wanita itu hendak masuk ke kamar mandi.


"Iiihh.. selalu deh tangannya cepat sekali menjalar." Embun menahan tangan Tara yang sudah meraup gundukan kenyal kembar itu. Berusaha melepaskan tangan kekar itu.


"Ini koq makin padat, apa karena sudah sering dire#mas kali ya? Abang suka, suka. Asyikk!" Tara semakin mengencangkan rema#sannya, hingga Embun tidak merasakan nikmat atau geli lagi. Tapi, yang dirasakannya saat ini adalah rasa kesakitan.


"Lepasin....!" ketus Embun menghentakkan tangan Tara dengan kuat. "Mainnya pakai perasaan, Abang pikir gak sakit dibuat seperti itu. Coba remas sendiri punya Abang dengan kuat, masih terasa enak apa gak?" Embun sangat kesal, kenapa kali ini suaminya itu seolah membuatnya sebagai bahan lelucon. Meremas dadanya seperti memencet kukek-kukek penjual balon keliling saja.


Tara terdiam melihat kemarahan istrinya itu. Ternyata Embun sedang tidak mau diajak bercanda.

__ADS_1


"Abang hanya penasaran saja. Tadi saat kita naik bianglala. Kenapa ada benda keras seperti Strip obat gitu di sini." Tara kembali dengan gerakan cepat meraup gundukan kenyal, itu. Embun yang terkejut dengan kelakuan suaminya itu, memukul dengan keras tangan Tara.


"Ya ampyun, pukulan Adek sakit sekali." Tara meniup-meniup tangannya yang terasa sakit itu. Embun memukul tangan bekas yang dijahit. Tangannya itu, belum sembuh total.


"Abang belum tahu, kalau tangan ku ini, tangan besi." Ketus Embun berjalan cepat masuk ke kamar mandi. Tara terpelongok melihat sikap kasarnya Embun. Apa perlakuannya salah ya?


Di dalam kamar mandi, Embun berusaha menenangkan dirinya. Dia merasa bersalah juga kepada suaminya itu, karena tidak sengaja memukul tangan Tara yang belum sembuh total itu. Tapi, mau gimana lagi, namanya juga gerakan refleks. Tentu tidak tahu kemana tangan melayang. Dia sengaja bersikap ketus pada Tara, agar suaminya itu jangan menanyakan benda yang disimpannya di dalam BRAnya.


Setelah merasa tenang, diapun bersih-bersih. Keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian lengkap, yaitu baju tidur yang sopan. Stelan batik pajamas.


Embun melirik Tara yang duduk di tepi ranjang. Suaminya itu sedang sibuk dengan ponselnya dan tidak menoleh padanya saat dia melintas. Tumben cuek, biasanya suaminya itu akan menatapnya dan tersenyum.


Embun melirik Tara yang bangkit dari duduknya, masuk ke kamar mandi.


"Apa dia marah atas sikapku tadi? Habis dia ngeselin banget. Main comot aja, dia pikir gak sakit dipencet-pencet gitu." Embun berbicara sendiri. Dia sedang menyisir rambutnya duduk manis di depan cermin.


"Apa aku siapkan baju gantinya juga?" Embun berperang bathin, merasa malu untuk menunjukkan baktinya pada suaminya.


"Gak usah, nanti dia GR. Minta jatah pula dia. Aku mau tidur nyenyak. Aku gak mau hamil!" Lagi-lagi Embun bermonolog. Wanita itupun tidak jadi menyiapkan baju gantinya Tara. Dia langsung berbaring di ranjang.


Baru juga berbaring satu menit, Tara sudah keluar dari kamar mandi dengan penampilan menggoda. Handuk warna pink membelit pinggangnya. Dengan pahatan otot dada yang membuat Embun kesusahan menelan ludah sendiri.


"Aku kenapa sih? sudah niatkan dalam hati jangan tergoda juga. Baru lihat dia telanjang dada, aku sudah pengen." Embun membathin, mencuri-curi pandang, pada Tara yang sedang memakai baju.


TBC

__ADS_1


Tinggalkan jejak like coment positif dan vote 🙏❤️


__ADS_2