DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Gengsi dong


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Suara ketukan di pintu membuat ciuman yang penuh dengan rasa penasaran terhenti juga.


"Dek, Dek, Dek Melati..!" Melati mendengar namanya dipanggil samar. Dia memegangi kepalanya yang terasa berat dan sedikit pusing.


"Dek, Dek buka pintunya!" Melati pun akhirnya benar-benar tersadar dari tidurnya yang terbilang ekspres itu. Kedua matanya lalu bergerak kesana-kemari, memikirkan hal yang barusan dialaminya. Wanita itu memegangi bibirnya yang terasa lembab. Ya, di pikirannya dia baru saja dicium oleh suaminya itu.


"Dek, Dek Melati..!"


"Astaghfirullah...!" dalam ketercengangannya, Melati menggeleng pelan, mencoba mengingat semua alur dalam mimpi romantisnya yang singkat dan berkesan seperti terasa nyata itu.


Melati merapikan rambutnya yang panjang dengan menyanggulnya. Turun dari ranjang dengan tergesa-gesa. Dia ternyata tertidur setelah selesai bertelepon dengan sang suami.


"Dek, dek!" suara Ardhi di luar terdengar penuh tak sabaran. Melati yang merasa kurang aman dan nyaman di kamar baru itu. Tanpa sengaja mengunci pintu kamarnya. Dia akhir-akhir ini lebih mawas diri.


Ceklek...


Pintu terbuka, nampaklah wajah tampannya Ardhi tersenyum padanya. Melati langsung menunduk malu dan langsung membuka pintu lebar untuk sang suami untuk masuk. Mengunci pintu itu dengan berusaha menstabilkan debaran jantung nya yang sudah tak karuan lagi detakannya. Adegan romantis di dalam mimpinya barusan, masih membekas nyata.


"Dek, kenapa bengong?" Ardhi menoleh kebelakang setelah menghentikan langkahnya. Heran dengan sang istri yang nampak linglung memegangi daun pintu.


"Dek!"

__ADS_1


"Oohh iya Mas" Ucapnya terkesiap, memandangi Ardhi yang berjalan ke arahnya. Melati semakin terkejut saja, disaat Ardhi meraih tangannya. Menarik lembut tangan itu dengan tatapan syahdu.


"Ayo kita makan kebabnya. Setelah itu baru tidur." Ardhi sudah mendudukkan Melati di kursi empuk yan ada dekat jendela kamar. Di depan kursi itu ada meja yang di atasnya sudah ada kebab pesanan Melati.


"Adek kenapa? gak ingin kebabnya? mau melanjutkan tidurnya?" Melati memang masih bingung dengan mimpi indahnya. Mimpinya sangat indah, sehingga dia jadi kepikiran dan rasa ciuman itu sangat nikmat, masih membekas dipikirannya.


"Sudah gak kantuk lagi." Wanita itu memperhatikan lekat Ardhi yang membuka bungkusan kebab itu.. Mata penasarannya kini memperhatikan bibir sensualnya Ardhi. Ya bibir Ardhi gak tebal cendrung tipis dan kecil. Hangat dan lembut bibir suaminya itu seolah masih terasa di bibirnya Melati.


Saat menatap sang suami yang sibuk menghidangkan kebab untuknya. Tangan Melati bergerak mengusap-usap sendiri bibirnya, otaknya sibuk mengingat-ingat mimpi indah itu.


Kening Ardhi menyerngit melihat tingkah aneh sang istri yang menatapnya lekat, dengan mengelus-elus bibirnya sendiri.


"Pengen banget ya?"


"Apa?" Melati tersentak, dia berfikiran Ardhi mengetahui apa yang dipikirkannya sekarang.


Satu suapan pun lolos juga ke mulut nya Melati. Wanita itu masih bingung dengan mimpinya. Ia itu jelas mimpi. Toh suaminya itu baru nyampe.


"Enak?" Melati mengangguk pelan. Dia yang lagi bingung sebenarnya tidak bisa merasakan ras kebab yang gurih nikmat itu. Karena rasa ciuman dalam mimpi itu masih terasa sampai saat ini.


Ardhi kembali menyuapi sang istri dengan raut wajah bahagianya. Melati jadi terharu dan terkesima dengan perlakuan baikya Ardhi padanya setelah mereka menikah. Benarkah kata ayahnya tadi, kalau suaminya itu mencintainya sehingga Ardhi mau menikah dengannya.


Tapi, itu jelas tidak benar. Suaminya itu dulu sangat mencinta kak Embun. Mana mungkin juga mencintainya. Apa mungkin seseorang mencintai dua orang sekaligus. Kalau itu benar, itu namanya playboy dong. Melati benar-benar penasaran dengan isi hati sang suami terhadapnya. Dia perlu menanyakan itu, suatu saat nanti.


Karena mimpi romantis itu, membuat Melati jadi tidak selera lagi makan kebab. Dia lebih penasaran pada bibir Ardhi yang menciumnya lembut dan perlahan di mimpinya, seolah memancing-mancing dirinya.


"Sudah Mas, kenyang. Aku mau tidur saja." Rasanya begitu menggelisahkan buat Melati disuapin Ardhi. Wanita itu pun beranjak dari duduknya dengan perasaan yang tidak tenang. Masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Meninggalkan Ardhi yang terbengong melihat sikap Melati yang mendadak aneh.

__ADS_1


Melati keluar dari kamar mandi. Mendapati Ardhi masih diposisi semula. Sibuk mengotak-atik ponselnya. Wanita itu pun naik ke atas ranjang. Sebaiknya dia tidur saja. Dia takut mimpinya akan jadi kenyataan. Dia belum siap untuk itu.


Melati langsung menutup kedua matanya, disaat menyadari pergerakan Ardhi. Pria itu berjalan sambil melucuti satu persatu pakaiannya dan berjalan ke arah kamar mandi, hingga menyisakan boxer di tubuhnya. Melati yang mengintip karena penasaran dengan paa yang dilakukan sang suami, langsung menutup kembali kedua matanya. Dia belum siap melihat suaminya sexy seperti itu.


Melati benar-benar dibuat tidak tenang karena mimpi itu. Dia merasa tidak sanggup untuk seintim itu dengan sang suami. Tapi, dia juga penasaran dengan ciuman lembab itu. Ingin rasanya dia merasakannya. Melati kesal dengan dirinya yang berfikiran mesum itu.


Ardhi naik ke atas ranjang. Sehingga menciptakan pergerakan di ats ranjang empuk itu. Melati kembali terlonjak kaget, dia memejamkan matanya lagi dengan sekuat-kuatnya. Menarik napas panjang, guna memenangkan dirinya, yang grogi saat ini.


"Apa adek merasa sesak, adek sesak napas kah?" Ardhi yang mendengar Melati menarik napas kasar jadi tidak tenang di sebelah istrinya itu. Ardhi pernah dengar wanita hamil gampang sesak napas.


Tangannya pun menjulur untuk meraih bahu sang istri yang membelakanginya. Berharap Melati mau membalik badan ke arahnya. Tentu saja sentuhan Ardhi kembali membuat Melati terkejut. Sampai-sampai tubuh Melati terangkat.


Ardhi langsung mendudukkan tubuhnya "Adek kenapa?" Ardhi beranggapan Melati kejang-kejang. Pria itu langsung mendudukkan Melati. Menatap lekat sang istri yang nampak pucat dan menunduk. Tentu saja Ardhi semakil khawatir.


"Adek sakit?" memeriksa suhu tubuh Melati dengan menempelkan punggung tangan di kening sang istri yang grogi itu. Ardhi bahkan mengusap-usap kepala Melati yang lagi speaclesh itu.


"Adek kenapa diam saja? adek sakit kah?" melihat panik nya sang suami. Akhirnya Melati membuka suara.


"Gak mas, aku gak sakit." Jawabnya tersenyum tipis. Senyuman itu seketika membuat hati Ardhi tenang. Dengan lembut dia pun menarik Melati dalam pelukannya. Melati benar-benar dibuat grogi dalam dekapan suaminya itu. Dia hanya diam saja, melirik wajah sang suami yang terlihat legah itu.


"Jangan buat Mas khawatir dengan tingkah aneh serta diamnya adek itu. Katakan pada Mas, apa yang adek rasakan. Mas akan berusaha membuatmu nyaman dekat Mas." Melati merinding mendengar suara Ardhi yang dekat ke telinganya. Pria itu juga mengusap-usap kepalanya. Perlakuan Ardhi yang penuh kasih sayang itu, membuat Melati jadi baper. Suaminya itu benar-benar tulus padanya. Tak seharusnya dia takut dan menjaga jarak lagi.


"Iya Mas." Ucapnya lembut dengan salah tingkahnya. Mengendurkan dekapan sang suami. Setelah Ardhi melepas dekapannya itu. Melati kembali berbaring di ranjang. Dia kembali memunggungi sang suami. Aakkkhh... Sungguh Melati nervouse.


Ardhi tersenyum tipis melihat tingkah sang istri yang salah tingkah itu. Dia pun mendekati Melati.


"Emmmuuuaahh... Tidur yang nyenyak. Gak usah takut. Mas gak akan sentuh adek, kalau adek gak minta." Ucapnya yang membuat Melati kembali membelalakkan matanya.

__ADS_1


"Minta? mana mungkin dia meminta disentuh? apa itu artinya, suaminya itu tidak akan menyentuhnya. Kalau dia tidak minta nantinya?" Melati membathin, gengsi dong, kalau dia minta duluan.


__ADS_2