DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Mengintai


__ADS_3

Kini Embun dan Tara sedang diperjalanan menuju kota Sibolga. Mereka melewati jalur darat. Sesuai keinginan Embun. Padahal Tara sudah menawarkan lewat jalur udara saja. Dengan naik pesawat pribadinya. Hanya menempuh waktu 45 menit sudah sampai di kota Sibolga.


Tara benar-benar tidak bisa menahan istrinya itu untuk tidak kembali kepada Ardhi. Dia tidak mau melihat Embun tersiksa. Seperti yang dikatakan wanita itu.


"Pak, kita berhenti di pasar bengkel ya!?" Ujar Embun kepada Pak Supir. Dia melirik Tara yang duduk bersandar santai dengan mata terpejam. Sepanjang perjalanan yang sudah mereka tempuh lebih dari satu jam, suaminya itu tidak pernah buka suara dari tadi.


"Iya Nona." Jawab Pak supir sopan, menatap Embun dari spion.


"Abang Tara, Abang---!" Embun menyentuh tangan Tara, karena pria itu tak kunjung menyahut panggilannya. Padahal dia memanggilnya lembut, tidak teriak ataupun suara melengking.


"Bang Tara..!" ucap Embun lebih lembut lagi, tapi dengan oktaf panjang. Akhirnya Tara pun menggeliat, dan melirik kepada Embun di sebelahnya dengan tersenyum tipis.


Tara sebenarnya tidak tidur. Dia hanya berpura-pura. Dia sedang galau, hatinya hancur. Dia tidak mengira, akan sesakit ini, berpisah dengan istrinya itu.


Dia juga menyesali tindakannya dulu. Kenapa dia kepikiran membuat perjanjian itu dengan Ardhi. Tara beranggapan, Embun akan mempertahankan pernikahan mereka. Karena, biasanya wanita Batak, sangat malu untuk bercerai.


Wanita Batak, banyak yang rela menderita, mempertahankan rumah tangganya. karena, suami tidak bertanggung jawab. Lah dia sempurna dalam semua hal, tapi Embun masih ingin berpisah dengannya.


"Apa Dek!" Tara masih tersenyum, dia masih saja bersikap seolah dirinya baik-baik saja. Padahal, hatinya hancur sudah. Hancur lebur, seperti lagu Alam Olga Saputra yang sedang di putar pak Supir. Yang berjudul. Hancur Hatiku. Dimana lirik lagu itu. Hanya terdiri dari dua kata itu, yaitu Hancur hatiku.


"Abang mau dibelikan apa?" Embun membalas senyuman Tara. Kemudian wanita itu senyam-senyum. Karena lagu yang diputar menurut Embun sangat lucu.


"Terserah Adek, apa yang Adek beli akan Abang makan." Jawabnya lesuh, tapi bibirnya masih saja melengkung, sehingga masih tercipta senyum manis itu.


Embun pun kembali duduk tegap, menatap ke badan jalan.


"Tuan, sepertinya mobil hitam yang dibelakang, sedang membututi kita." Pak supir melapor, karena sejak keluar dari Tol. Mobil itu sangat mencurigakan.


Tara dan Embun menoleh ke belakang secara bersamaan. Hampir saja kepala mereka bertabrakan. Sesaat keduanya saling pandang.


"Koq bisa, perasaan Bapak saja kali. Siapa tahu, tujuan mereka juga sama dengan kita." Embun ikut berkomentar. Sedangkan Tara menampilkan ekspresi wajah was-was. Dia juga yakin, mobil yang dibelakang sedang mengawasi mereka.


Tara kembali duduk dengan posisi tegap. Melirik Embun yang masih menoleh ke belakang. Dia tidak mau istrinya itu khawatir dan cemas, kalau tahu ada orang yang membuntuti mereka. Tidak mungkin kan itu musuhnya Tara. Pria itu tidak punya musuh. Dia pengusaha yang punya karakter yang baik.


"Dek," panggil Tara lembut. Wanita itu pun menoleh kepada Tara.


"Ya Bang." Jawab Embun dengan tersenyum.


"Abang harap, kamu jaga kelakuanmu nantinya. Jikalau bersama Ardhi. Saat ini kita masih sah sebagai pasangan suami istri." Tara harus memperingati istrinya itu. Dia tidak mau Embun terjerumus.


Inilah saatnya dia memberi nasehat pada istrinya itu.

__ADS_1


"Saya itu enam tahu sekolah di pesantren Bang. Jadi saya tahu batasan, tidak mungkin saya kumpul kebo." Jawabnya ketus, merasa tersinggung dengan ucapan suaminya itu.


Embun kembali melirik Tara dengan sewot, setelah dia sempat membuang muka.


"Salah sendiri, kenapa tidak mau menceraikanku. Kalau sudah ceraikan bebas. Abang bisa menikah dengan Lolita. Saya juga bisa menikah dengan Mas Ardhi. Ini mesti menunggu empat bulan lagi." Ujar Embun kesal, Embun benci banget sama Tara. Katanya cinta, tapi tidak mau memiliki. Kan aneh.


"Keputusan Adek ini terlalu cepat, harusnya Adek bisa jaga perasaan keluarga besar kita. Adek katanya lulusan pesantren. Enam tahun menimbah ilmu di pesantren. Tentu adek sudah banyak belajar tentang hukum fiqih. Adek juga pasti tahu, hukumnya berjumpa dengan pria lain. Padahal Adek masih berstatus istri Abang." Tara berusaha memberi pengertian pada Embun. Berharap Embun membatalkan niatnya, kembali kepada Ardhi.


"Harusnya Abang berfikir panjang saat membuat perjanjian gila itu. Saya tanya, siapa disini yang mempermainkan pernikahan. Abang kan? please.... jangan buat aku kembali goyah, dengan keputusan yang sudah sama-sama kita sepakati." Ketus Embun, wajahnya merah padam mengatakan itu. Dia kesal kepada Tara. Apa susahnya sih mengatakan, agar dia jangan kembali kepada Ardhi. Tapi, lihat suaminya itu hanya membuatnya seperti orang bodoh.


Tara mengalihkan pandangannya keluar jendela, dia tidak mau berdebat dengan Embun di dalam mobil. Dia pria dewasa, yang bisa menahan diri, agar tidak emosi dan terpancing. Dia tidak mau Pak supir, melihat mereka adu mulut.


Pak Supir yang pura-pura tuli itu pun buka suara.


"Nona, kita sudah sampai di pasar bengkel."


"Iya Pak, cari toko yang bagus dan fasilitas toilet nya ada." Jawab Embun datar. Ucapan Tara masih mempengaruhi suasana hatinya.


"Baik Nona." Pak supir pun menepi. Memarkirkan mobil mewah itu di tempat parkir khusus pembeli.


Embun meraih tas selempangnya. Dia menoleh kepada Tara dan menengadahkan tangannya.


"Aku minta uang.!" Ucapnya cemberut. Tara melirik nya dengan heran, kenapa pula istrinya itu minta uang padanya. Bukannya dia sudah memberi black card dan ATM pada istrinya itu.


Padahal, tadinya dia kesal pada ucapan istrinya itu. Tapi, cara Embun yang minta uang padanya, menurutnya sangat lucu.


Kenapa dia harus bersikap dingin. Padahal sisa kebersamaan mereka tinggal hari ini saja. Tarapun meniatkan di hatinya. Meninggalkan kenangan manis untuk Embun.


Tara tidak menjawab celoteh istrinya itu. Dia malah keluar dari mobil, memutari mobil itu. Kemudian membuka pintu mobil Embun.


"Ayo keluar sayang!" Tara tersenyum, wajah Embun yang kaget mendengar ucapannya. Menggelitik hatinya. Senyuman Tara semakin lebar saja. Sehingga Embun merasa diledek.


"Aku hanya minta uang. Abang disini saja. Itu tokonya biasa saja. Gak cocok Abang belanja di tempat seperti itu." Ujar Embun menatap Tara di hadapannya.


Tara curiga dengan mobil yang membuntuti mereka, makanya Tara tidak mau membiarkan Embun belanja sendiri.


"Ayolah sayang, jangan ketus begitu. Mari kita manfaatkan waktu ini, dengan menciptakan moment yang indah bersama, berbaikan, melakukan hal yang menyenangkan." Tara masih menjulurkan tangan nya berharap Embun menggapainya.


Ucapan suaminya itu, membuatnya senang. Entahlah, seandainya tidak ada perjanjian itu. Embun tidak akan meninggalkan Tara.


Setelah Embun keluar dari mobil. Tara menggandeng tangan istrinya itu dengan posesif. Jari-jemari keduanya saling bertaut. Baru kali ini Embun merasakan sesenang ini saat bersama dengan suaminya itu. Kenapa disaat mau berpisah, keduanya semakin mesra.

__ADS_1


Sesampainya di etalase berbagai jenis macam kuliner khas ole-ole dari pasar bengkel. Embun pun mulai memasukkan makanan yang disukainya ke dalam keranjang yang dibawa oleh Tara.


Berbagai jenis makanan sudah penuh di dalam keranjang itu.


"Ini ole-ole, nanti jangan lupa Abang bawa ke kampung kita. Ok!" Ujar Embun tersenyum bahagia. Entahlah, Tara dibuat sedih dengan sikap istrinya itu. Seperti ya istrinya itu begitu bahagia, karena akan kembali kepada Mas Ardhinya.


Pak supir yang melihat keadaan bosnya yang lagi tidak baik-baik itu. Akhirnya menyamperin Tara. Meraih keranjang yang penuh makanan dari tangan bos nya itu.


Embun pun tersadar, dia sudah banyak membeli makanan. Dia cengir pada Tara, suaminya itu hanya tersenyum membalas cengir kuda istrinya itu.


"Baiklah Bang, sudah cukup. Aku ke toilet dulu ya?!" Embun langsung berlari ke belakang bangunan. Ya, tempat toilet terpisah dari toko yang menjual banyak aneka kuliner itu.


"Bos, sepertinya ada yang mengikuti Nona Embun." Bisik sang supir, melihat seorang Pria yang berdiri di sisi toko, berjalan cepat ke arah toilet yang didatangi Embun.


Tara bergegas, mengejar Embun. Ya benar saja, ada dua pria bertopi langsung berlari ke persimpangan mencari tempat persembunyian, saat Tara berteriak keras memanggil nama istrinya itu yang hendak masuk ke dalam toilet.


Tara berlari cepat, berusaha mengejar dua pria yang jejaknya tiba-tiba saja menghilang.


"Ada apa Bang?" tanya Embun heran, karena melihat kelakuan suaminya itu, seperti detektif yang mencari penjahat.


"Tidak ada, Adek masuklah. Abang tungguin di luar." Ucap Tara tenang, tersenyum tipis.


Embun melongos, tidak suka. Suaminya itu menungguinnya. Dia malu, kalau suara berisik dari kamar mandi nantinya di dengar Tara.


"Abang tunggu di mobil saja. Aku mau pipis." Ucap Embun nyengir. Merapatkan kedua pahanya, karena dia memang sudah sesak pipis.


"Ya sudah, Adek masuklah. Abang tunggu disini." Tara ngotot.


"Abang jangan disini. Sana ke mobil atau ke tempat lain. Gak usah tungguin akunya." Masih menampilkan ekspresi wajah sesak pipis.


"Ayo cepetan pipisnya." Tara tidak mungkin meninggalkan Embun sendirian.


"Ya, Abang jangan disini."


"Emang salahnya apa kalau Abang disini."


"Aku malu." Ya Embun akan sangat malu, apabila suara menggoreng nya sat pipis kedengaran. Karena, Embun sudah sangat sesak. Tentu kran pipisnya susah di stel, agar semburan air seni nya tidak terdengar keras.


"Ya ampyun, baiklah sayang." Tara pun menjauh dari toilet. Duduk di bangku dekat toko itu, masih memantau Embun yang berada dalam kamar mandi.


TBC

__ADS_1


Mohon dukungannya dengan like coment positif dan Vote 😍


__ADS_2