DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Istri soleha


__ADS_3

"Eehhmmmm....!" deheman Tara, membuat Embun menoleh ke arah pintu. Nampaklah Tara masuk dengan ekspresi wajah datar.


Embun mengubah posisi duduknya lebih tegap, berniat menyapa suaminya itu. Tapi, Tara menampilkan bahasa tubuh tidak ingin disapa. Embun Akhirnya hanya bisa melihat kepergian Tara ke kamar mandi.


"Dia kenapa? biasanya juga jahil. Ini mukanya kusut banget." Embun pun tidak mau ambil pusing, dia melanjutkan kegiatannya.


Lima belas menit berlalu, Tara sudah selesai menyelesaikan ritual mandinya. Lagi-lagi Embun melirik Tara yang masuk ke ruang ganti.


Saat Embun serius mengotak-atik laptopnya. Tara melintas di hadapannya. Embun memperhatikan cara berjalan Tara yang seperti peragawan. Sungguh menarik perhatian Embun. Tara begitu tampan dan nampak sexy dengan kaos warna putih lengan pendek, lehernya model V. Dipadu celana pendek bahan viscose. Sehingga menampilkan otot betis Tara yang liat itu. Sesaat Embun terpesona.


Wajar sih banyak cewek yang suka, Dia memang tampan, kaya lagi. Pantesan si Lolita getol banget mau dicomblangin. Embun membathin, matanya masih memperhatikan Tara yang berjalan ke ruang kerjanya.


Disaat Tara menutup pintu ruang kerjanya. Embun pun tersadar dari lamunannya. Dia pun menarik napas dalam, menghembuskan pelan


Setelah merasa rileks. Dia turun dari ranjang, berjalan pelan ke ruang kerjanya Tara.


Tok....tok..tok...


"Assalamualaikum.... !" Embun Akhirnya mengetuk pintu ruang kerjanya Tara. Setelah dirinya dua kali menekan handle pintu dan tidak mau terbuka. Tapi, belum ada jawaban.


Tok...tok...tok...


"Aku ingin masuk, tolong buka pintunya!" ucap Embun dari balik pintu. Lagi-lagi tidak ada sahutan dari dalam. Saat itu juga ponsel Embun berdering. Dia pun mengabaikannya, karena Dia tahu yang menelpon adalah Lolita.


Embun tetap mengetuk pintu ruang kerjanya Tara. Tapi, ponselnya tidak kunjung diam, tetap saja ribut. Yang membuat Embun berdecak kesal. Dia pun berjalan ke tempat tidurnya. Meraih ponselnya


Suara sedih langsung terdengar. "Bunbun, no yang kamu kasih itu bener gak sih no ponselnya Abang Sutan itu?" Embun ikutan sedih mendengar ucapan Lolita.


"Iya, emang kenapa?" Embun menatap pintu ruang kerjanya Tara. Dia penasaran, kenapa sahabatnya itu jadi sedih begini. Apa Tara memakinya di telpon.


"Sudah lebih dari 10 kali ku telepon, tapi gak pernah diangkat. Terus aku juga sudah kirim pesan, tapi gak dibalas. Sepertinya kamu kasih no yang salah." Suara Lolita melemah, bayangan bisa berkomunikasi dengan Tara hari ini gagal sudah.


"Itu bener nomornya. Sudah kamu jangan sedih gitu. Sekarang kita sudahi dulu bicara. Aku tanya dulu sama Abang Sutanmu itu ya?" Embun menghela napas dalam. Sepertinya, Dia akan jadi kurang kerjaan sekarang, mengurusi si Lolita yang gila bener pada Tara.


"Iya, Bunbun bantuin Aku bisa dekat dengan Abang Sutan. Sekarang saatnya kamu balas Budi. Dulukan Aku yang sering kamu buat jadi obat nyamuk, saat ketemuan dengan Mas Ardhimu."


"Iya, iya bawel. Tenang saja. Kalian akan ku antar sampai ke pelaminan. Jangan sebut aku Embun. Jika kamu tidak bisa menikah dengannya. Sudah ya aku matikan." Embun pun langsung menutup panggilan telpon itu. Padahal Lolita di sebrang sana masih semangat mengoceh. Karena Embun mengatakan akan membuat Tara jadi pasangannya.


Tok tok tok.....

__ADS_1


Lagi-lagi Embun mengetuk pintu ruang kerjanya Tara. Tapi, tetap tidak ada sahutan. Dengan kesal dia menekan handle pintu dengan kuat dan pintu terbuka. Ternyata Tara sudah memerintahkan dengan suranya agar pintu terbuka.


Embun berdiri mematung di ambang pintu, menyoroti ruangan itu, karena tidak melihat Tara duduk di kursi meja kerjanya. Dan tatapan matanya pun tertuju ke sebuah bed ukuran empat kaki. Yang berada di sudut ruangan yang tak jauh dari meja kerjanya Tara. Di atas bed itu, Tara berbaring dengan menempatkan tangan kanannya di atas kening.


"Ada apa mencari Abang?" suara Tara terdengar datar. Hatinya masih terasa sakit, karena Embun tidak mengakuinya sebagai suami. Sebenarnya Tara sudah menyiapkan hatinya, agar tidak terluka atas setiap sikap Embun


Tapi, kejadian tadi pagi benar-benar membuatnya down.


"Itu, aku ingin memberi tahu. Kalau aku memberikan no ponselmu kepada temanku. Temanku yang ketemu denganmu di kampus." Embun berbicara sembari berjalan pelan ke arah Tara. Kini Dia sudah berdiri di sisi bed.


"Kenapa kamu memberikan no ponsel ku tanpa bertanya dulu?" lagi-lagi suara Tara terdengar datar dan dingin.


Embun memegangi hidungnya. Dia ingin menutupi ekspresi tubuhnya yang nampak bersalah itu.


"Hanya memberikan no, dimana letak salahnya? kenapa kamu bertanya seperti itu?" Embun malah mengeluarkan kata-kata yang membuat Tara semakin kesal.


Tara bangkit dari tidurnya, dan duduk di tepi ranjang. Kedua kakinya menyentuh lantai. Pandangan mata ke bawah dan kedua tangan saling bertaut di atas kedua pahanya.


"Adek salah, sangat salah. Aku tidak suka diganggu. Aku bukan manusia kurang kerjaan yang kerjaannya telponan terus." Menarik napas dalam, kini Tara menatap Embun yang berada tak jauh di sampingnya.


"Kalau kamu tidak suka ditelpon. Kenapa kamu kasih no ponselmu padaku? aneh." Embun berdecak kesal.


"Istri bohongan.... kamu jangan terlalu baper." Embun memutar bola matanya. Dia jadi kesal kepada Tara.


"Iya, maaf. Abang lupa. Baru tadi pagi juga Adek tidak mau mengakui Abang sebagai suami. Harusnya Abang sadar itu." Jawab Tara lirih, Embun melirik Tara yang nampak sedih.


Kenapa Dia sesedih itu? apa Dia berharap, aku mengakuinya sebagai suami? aneh.


"Jangan bilang kamu kecewa, karena aku katakan kamu itu saudaraku. Ayo ngaku?! tapi, kenapa kamu kecewa? kamu tidak suka samaku kan?" Embun menunjuk wajahnya sendiri. Melihat Tara dengan lekat. Tara tersenyum sinis.


"Kalau Abang bilang suka, emang kenapa?" Tara yang sudah berdiri, mendekati Embun dengan tatapan tajam. Tatapan mata itu membuat Embun gelagapan. Dia pun memundurkan langkahnya terus, disaat Tara terus saja berjalan ke arahnya.


"Kamu mau apasih? kenapa memepetku?" kini posisi Embun sudah mentok di dinding. Tara mengunci tubuh Embun dengan menempatkan kedua tangannya ke dinding. Sehingga kini Embun terkurung.


Tara menatap lamat-lamat wajahnya Embun yang kini sudah merona. Tara tahu saat ini Embun sedang menahan kesal kepadanya.


"Abang akan kasih hukuman.!" Embun ketakutan mendengarnya.


"Huu--kuman, hukuman apa?" Embun tergagap, mulai takut dengan sikap Tara.

__ADS_1


"Hukuman karena telah memberikan no ponselku, tanpa seizin ku." Tara mendekatkan wajahnya, matanya menatap bibir Embun yang merah itu. Embun merinding, Dia ketakutan.


"Awas....!" mencoba mendorong tubuh Tara. Tapi, tidak berhasil.


"Kamu ya, suka sekali menciumku. Dasar mesum kamu...!" berteriak dan mendorong kuat dada Tara. Sehingga Tara pun menyerah, karena melihat Embun mengeluarkan air mata.


"Jangan bilang kamu menyukaiku." ketus Embun, berusaha tenang dan melap air matanya.


Tara tertawa, "Kalau Abang suka sama Adek. Kenapa Abang ingin kembalikan mu pada Mas Ardhimu itu. Sudahlah kepala Abang sakit." Tara pun mendudukkan tubuhnya di sofa, setelah mengambil sebotol minuman dingin dari kulkas. Dia harus bisa menenangkan dirinya, yang sedang gundah gulana. Dia lun meneguk habis minuman kaleng itu.


"Mau bicara apa?" Tara menatap lekat Embun yang masih mematung di hadapannya.


"Aku ingin kamu jadian dengan temanku." Tara langsung menyemburkan minuman yang ada di mulutnya. Sungguh ucapan Embun, benar-benar membuatnya hampir mati tersedak. Bisa-bisanya seorang istri, meminta suaminya untuk berkencan dengan wanita lain.


"Kamu ingin dimadu?" Tara tertawa kecil, merasa kurang kerjaan dengan ucapan Embun.


Embun mendengus, " Siapa juga yang ingin dimadu." Menatap Tara kesal yang kini tertawa seperti orang gila.


"Adek menyodorkan wanita lain pada Abang. Apa itu namanya, kalau bukan dimadu. Adek benar-benar istri Soleha." Tara masih saja tertawa.


"kita menikah bohongan. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai suami. Dasar aneh." Embun mencebikkan bibirnya.


"Oih iya ya. Abang lupa. Baiklah Adek Embun yang baik hati. Terimakasih Abang ucapkan, karena telah mencari calon istri untuk Abang." Tara semakin mengencangkan tertawanya, Embun dibuat tercengang dan heran.


Dia kesenangan atau sudah mulai gila? Embun membathin.


"Seorang istri, menambah istri lagi untuk suaminya. Bagus...... kelak di akhirat, Adek pasti masuk surga." Ledek Tara, masih tertawa.


"Tenang saja, Abang akan turuti maunya Adek. Siapa tahu kami cocok. Siapa tahu Dia nantinya bisa jadi istri Soleha. Istri yang tutur katanya baik, lembut dan sopan. Istri yang penurut, mau menyenangkan suaminya di ranjang." Lagi-lagi Tara bicara dengan tertawa. Embun dibuat terpelogok dan merasa tersindir. Semua yang dikatakan Tara adalah kebalikannya.


"Siapa tadi namanya?"


"Lolita, namanya Lolita." Jawab Embun cepat.


"Oohh Lolita, nama yang bagus. Pas seperti orangnya cantik, ayu, manja dan kelihatan pintar." Lagi-lagi Embun tercengang melihat reaksi Tara yang nampak sangat antusias. Embun pikir Tara akan menolak Lolita. Karena kata Mama Mira dan Rose, Tara itu sering menolak dekat dengan wanita.


Embun Akhirnya tertawa, "Aku senang, melihat Abang bahagia seperti sekarang." Ucap Embun, saat ini Dia merasa sudah aman. Karena ada Lolita yang akan dibuatnya sebagai alasan lain, untuk berpisah dengan Tara.


TBc

__ADS_1


like coment positif dan Vote dong say gips juga boleh.


__ADS_2