
Malam ini perjuangan seorang gadis mempertahankan kesuciannya gagal sudah. Gadis itu adalah Melati. Gadis polos yang tidak tahu apa-apa, jadi korban pelampiasan dendam dan kecewa sang majikan kepada mantannya.
Dengan tangisan penuh keputusasaan, Melati mendorong kuat tubuh kekar Ardhi yang menimpa tubuhnya dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Akhirnya pria menjijikkan itu berguling ke sebelah wanita malang itu.
Melati benci pria yang berbaring tertidur pulas, seperti mayat hidup di sebelahnya. Pria itu telah merenggut kesuciannya secara paksa dan membabi buta. Pria yang dikiranya orang baik, ternyata iblis dan binatang.
Melati saat ini tidak mempedulikan lagi, teriakan Ibu Jerniati dan Anggun di balik pintu ruang kerjanya Ardhi.
Melati yang masih terlentang dengan tubuh polos itu, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong dan dengan derai air mata yang bercucuran deras. Tak ada isakan tangisan lagi. Karena dia tidak punya tenaga lagi untuk mengeluarkan suara tangisan. Menangis histeris pun tak ada gunanya lagi. Kesuciannya telah direnggut paksa.
Semuanya telah hancur, hidupnya sudah hancur. Pria munafik di sebelahnya sudah menghancurkan masa depannya. Pria itu tak hanya melukai fisiknya, tapi luka bathinya lebih parah.
"Buka, buka pintunya. Buka pintunya wanita ja**lang--!" teriakan Ibu Jerniati di balik pintu, semakin membuat hati Melati sakit tak tertahankan. Perih, ngilu dan tak terjabarkan lagi dengan kata-kata sakitnya.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, dia berusaha bangkit, mendudukkan tubuhnya yang terasa sakit di sekujur tubuhnya itu. Terutama dibagian intinya.
"Umak...!" ucapnya lirih penuh dengan kesedihan. Melap air matanya yang terus bercucuran tanpa jeda itu. (Umak \=Ibu)
Untuk kali ini Melati tidak bisa menahan kekecewaan hatinya dengan diam, disaat perlakuan kasar Ardhi saat menggagahinya melintas lagi dipikirannya.
Tenaga Ardhi yang kuat, dengan cepat membekukan pergerakannya. Dia tidak bisa melawan. Karena pria itu sudah dikuasai oleh setan, Pria itu tidak berhenti, sebelum apa yang diinginkannya tercapai.
"Bre"ngsek, jahat kamu tuan!" Melati menimpuk wajah Ardhi dengan bantal dengan sekuat tenaganya. Dia tidak seikhlas itu, sehingga tidak melampiaskan kemarahannya.
Ardhi yang mabuk itu sudah terbang ke alam mimpi setelah menikmati tubuh mulusnya Melati. Dia tidak sadarkan diri lagi, dengan suara bising sang Ibu yang ribut di luar.
__ADS_1
"Buka pintunya! Ardhi anakku sayang, apa yang kamu lakukan?" suara histeris Ibu Jerniati semakin membuat hati Melati sakit, sakit sekali, berdenyut-denyut dan terasa ngilu.
"Buka--- Buka pintunya wanita ja#lang!" Lagi-lagi umpatan penuh kebencian itu, membuat Embun tak tahan lagi. Dia juga tidak mau di tempat ini. Tapi, dia belum punya tenaga untuk bangkit.
Tenaganya habis terkuras, saat melakukan pemberontakan pada Ardhi. Bahkan tangan kanannya terasa amat sakit. Disebabkan Ardhi yang terlalu kencang menahan tangan itu. Saat Melati berontak. Dia merasa tangan kanannya terkilir di bagian persendian bahu.
Melati merasa sakit yang luar biasa, saat menggerakkan kakinya untuk turun dari ranjang. Dia meringis kesakitan, menahankan rasa sakit yang luar biasa itu.
Bagaimana sakitnya tidak luar biasa. Ardhi memaksa benda tumpul miliknya itu mengoyak, menerobos, merobek selaput darahnya.
Melati menatap jijik dirinya yang dalam keadaan polos. Dia benci dirinya yang mudah terpercaya oleh mulut manisnya Ardhi. Sikapnya yang seolah baik. Tapi, ternyata pria itu, adalah pria paling jahat yang pernah dikenalnya.
"Bajin"gan, bre"ngsek kau..!" Melati memukul kuat dada polosnya Ardhi yang masih terlentang di atas ranjang itu. Tapi, pukulan Melati, tidak memberi efek pada pria itu. Pria itu sama sekali tidak terbangun.
Melati memunguti pakaiannya dengan air mata yang terus jatuh bercucuran. Setiap dia bergerak, sobekan parah di bagian intinya semakin terasa.
"Mak..!" Air mata semakin deras saja keluar dari mata sembabnya. Dengan menahan sakit yang luar biasa, dia mulai memakai pakaiannya yang bagian lengan serta dada sudah rusak terkoyak.
"Buka.. Buka pintunya..!" Ibu Jerniati sudah menggila diluar ruang kerjanya Ardhi.
Wanita itu merasa was-was dan khawatir saat putranya itu tak kunjung datang menjemput nya ke rumah Anggun. Bahkan anaknya itu tidak mengangkat-angkat teleponnya.
Pukul 21.30 WIB, akhirnya dia pulang ke rumahnya Ardhi sang anak. Tapi, sesampainya di rumah itu. Ternyata Ardhi tidak ada di rumah. Ibu Jerniati panik, karena sang putra tak kunjung mengangkat telepon.
Hingga pukul 00.10 WIB. Dia mendapat telepon dari supirnya Ardhi, Pak Harto. Bahwa Ardhi dalam keadaan mabuk, dan tidak ingin pulang. Ardhi sang anak ingin menginap di kantor.
__ADS_1
Ibu Jerniati yang sangat mengkhawatirkan anaknya itu, akhirnya memutuskan untuk menyusul Ardhi ke kantor. Sesampainya di kantor, dia kejutkan dengan suara teriakan seorang wanita serta rintihan penuh kenikmatan seorang pria yang diyakininya adalah anaknya itu.
Yang membuat sang Ibu heran, anaknya saat itu berteriak memanggil-manggil nama Embun, berulang kali. Berteriak, mengeram penuh kenikmatan. Sesaat Ibu Jerniati beranggapan wanita yang ada di dalam adalah Embun. Tapi, setelah mendengar lebih jelas suara rintihan kesakitan dari suara yang dikenalnya, dia pun semakin berang dalam hati. Bertindak konyol menggendor-gedor pintu. Padahal pintu itu sebenarnya sudah terbuka dari tadi. Tapi, karena paniknya sang Ibu Jerniati malah tidak bisa membuka pintu itu.
Pintu itu tidak terkunci lagi. Karena, disaat Melati berusaha melarikan diri dari sergapan bringas nya Ardhi. Dia sempat membuka pintu yang di kunci oleh Ardhi itu. Tapi, saat dirinya ingin membuka handle pintu, untuk melarikan diri. Ardhi menangkapnya, menggendong paksa wanita itu dengan menempatkannya di bahu pria yang lagi hor-ny itu,mencampakkannya kasar ke ranjang.
"Buka.,!" Melati yang sudah berpakaian itu, keluar dari kamar dengan menahan sakit dibagian intinya, disetiap langkahnya.
Saat ini Melati sudah melihat wajah penuh amarahnya Ibu Jerniati di balik pintu kaca itu.
"Kurang ajar kau..!"
Brakkk... Pintu itu pun terbuka sendiri, saat ibu Jerniati yang kesetanan itu mendorong kuat pintu itu. Dia terperangah dan kesal bercampur jadi satu. Ternyata pintu itu tidak dikunci. Pintu itu hanya tertutup.
Sesaat dia mematung di tempat, begitu juga dengan Anggun. Anggun di telpon Ibu Jerniati, memintanya menemani dirinya ke kantor nya Ardhi.
"Kurang ajar kau..!" Ibu Jerniati menjambak rambut panjang hitamnya Melati, disaat wanita itu ingin meraih hijabnya yang tergeletak di sofa hitam di ruang kerja itu.
Melati jatuh terjerembab, dengan tangan Ibu Jerniati masih menjambak rambut panjangnya Melati, yang kini ikatannya sudah lepas.
Wanita tua itu menarik kuat rambut wanita itu malang itu. Melati tidak bisa menahannya lagi. Dia bergerak mengikuti arah rambutnya di tarik sang Ibu Jerniati.
"Mak...!" Ucapnya lirih, menahan sakit dari serangan ibu Jerniati.
TBC
__ADS_1