
"Mas..... TIDAK...!"
"TIDAK..!" Melati terbangun dan langsung terduduk dengan napas yang tersengal-sengal. Dadanya terlihat naik turun, karena kelelahan dalam mimpi buruk itu.
"Dek, kamu kenapa?" Ardhi pun terbangun karena pergerakan Melati yang cepat, lepas dari pelukannya, memegang jemari Melati yang berkeringat. Menatap sang istri yang ketakutan dengan tubuh masih bergetar itu. Air mata menurun tanpa bisa ia cegahnya.
Ardhi kini meraih dagu sang istri dengan bingungnya, melap air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Adek mimpi buruk?" menatap lekat wajah Melati yang masih terlihat ketakutan. Gimana wanita itu tidak ketakutan, mimpinya itu terasa nyata buatnya. Yang lebih mencengangkan dalam mimpi itu, Ilham menikam sang suami dengan membabi buta hingga berismbah darah.
"Iya Mas " Ucapnya dengan menarik napas panjang dan susah payah menelan ludahnya. Rasanya kerongkongannya kering dan lengket. Tangannya yang gemetar, ikut melap air mata yang terus jatuh itu.
Melati yang belum tenang itu, kemudian meludah sebanyak tiga kali ke sebelah kirinya. Tidak ada ludah yang keluar, hanya seperti hembusan saja.
Ardhi hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh sang istri. Istrinya itu ternyata sedang mengamalkan sunnah nabi disaat mimpi buruk. Bibir istrinya itu komat-kamit membaca doa, memohon perlindungan pada Allah SWT dari godaan setan yang terkutuk.
Ardhi meraih bergerak untuk meraih air mineral yang ada di atas nakas, memberikannya pada sang istri. Melati pun meneguk air itu. Dia memang harus sekali. Melihat Mekari sedikit tenang seri minum Pria itu pun meraih melati dalam dekapannya. Wanita itu pasrah saja, karena dia memang butuh perlindungan, dia masih merasa ketakutan.
"Kita bisa mimpi buruk mimpi itu karena, perasaan kita sedang negatif, seperti kecemasan atau ketakutan yang membuat tubuh tetap terjaga. Makanya Mas tadi bilang, adek rileks saja. Apa suamimu ini semenakutkan itu, sehingga ada selalu mawas diri kepada Mas?"
Melati diam tidak menanggapi ucapan Ardhi. Otaknya sedang sibuk memikirkan apa maksud dari mimpi buruk itu. Kenapa si Butet dan Ilham hadir dalam mimpinya. Kenapa Ilham menikam Mas Ardhi?
Dalam kebingungannya, Melati mendongak menatap sang suami yang juga sedang menatapnya.
"Kalau dibahas dari ilmu medis, sebenarnya mimpi buruk adalah efek samping dari kurang tidur, stres, maupun ketika sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu. Mas yakin, adek mimpi buruk karena setres. Pasti adek setres, karena mikirin Mas kan?"
Melati kembali menunduk. Dia malas membahas praduga-duga suaminya itu. Padahal yang dikatakan oleh sang suami adalah benar
"Emang adek mimpi apa, sehingga ketakutan seperti itu?" Melati menggeleng dalam dekapan sang suami. Dia tidak mau menceritakan mimpi buruk itu. Dia tidak mau Ardhi jadi kepikiran dan akhirnya kembali membahas Ilham.
"Mas, aku mau tidur. Kepalaku sakit sekali." Melati tidak mau membahas mimpi buruknya itu dengan sang suami. Dia bermimpi buruk, karena jiwanya yang lagi tidak tenang m Mimpi buruk itu datangnya dari syetan. Dia tidak boleh terlalu memikirkannya. Dia harus bisa tenang, karena dia sedang hamil.
"Baiklah, kita tidur lagi. Jelas kepala adek sakit. Kita baru tidur satu jam. Shubuh masih lama." Ardhi tidak mau melepas dekapan tangannya dari tubuhnya Melati. Hingga kini mereka telah berbaring di ranjang, dengan kepala Melati berbantalkan tangannya.
__ADS_1
Melati masih merasa canggung dalam rengkuhan sang suami. Tapi, mau gimana lagi. Dia memang ketakutan dan butuh perlindungan.
"Tidurlah, baca doa ya!" Melati mengangguk lemah. Dia masih deg deg deg an saat ini. Perlakuan Ardhi yang mengusap-usap kepalanya dengan lembut membuatnya jadi tidak tenang, tapi dia senang. Aduhh... Coba seandainya mereka menikah karena cinta. Bukan karena terpaksa. Mungkin Melati akan merasa bahagia sekali atas perlakuan Ardhi yang romantis dan lembut itu.
❤️❤️❤️
Pagi ini setelah sarapan. Melati memberangkatkan suami dan ayahnya untuk berangkat kerja. Pak Zainuddin tidak membolehkan Ardhi dan Melati pulang ke rumahnya. Setidaknya selama dua Minggu ini, mereka harus tinggal di rumah Pak Zainuddin.
Melati tentu saja sangat senang dengan permintaan ayahnya itu. Daripada tinggal di rumah lamanya Ardhi, lebih baik tinggal sama ayah sendiri, yang terpisah belasan tahun lamanya.
Mau kembali ke rumah mungilnya mereka. Di sana Melati akan kesepian. Karena Ardhi tidak akan bisa lama-lama di rumah. Kerjaannya menumpuk, karena waktunya habis mengurus masalah pribadi.
"Kasus video itu tidak bisa disembunyikan. Siap-siap lah kamu akan diperiksa polisi." Pak Zainuddin dan Ardhi berada dalam satu mobil. Mereka akan ke perusahaan Pak Zainuddin. Ada hal penting yang ingin dibahas Pak Zainuddin di kantornya.
Ardhi menarik napas panjang. Ternyata Rudi tidak bisa menyelesaikan masalah itu.
"Ayah akan tetap mendukungmu. Semoga kamu gak masuk penjara. Kayak artis itu tu, kasus yang dulu viral." Ardhi tersenyum kecut. Ayah mertuanya itu masih sempat-sempatnya menakut-nakutinya.
"Terimakasih Ayah." Ucapanya singkat, Ardhi malu membahas video memalukan itu. Sekarang Ardhi sudah memanggil Pak Zaini dengan sebutan ayah, tidak bapak lagi.
"Ya kena jugalah. Sekarang kamu banyak berdoa saja, agar kalian gak masuk penjara. Ingat ada Melati yang lagi hamil."
Deg
Ucapan Pak Zainuddin sekarang makin ketus dan pedas saja padanya. Dulu sebelum jadi menantunya gak posesif gini.
"Iya Ayah " Ucapnya geram, ingin rasanya balas dendam kepada Anggun. Tapi, itu tak ada gunanya. Biarlah Allah sang pencipta yang memberi hukuman pada wanita gila itu. Toh sekarang Anggun dipenjara. Perusahaan keluarga nya juga sudah bangkrut.
Melati bosan juga di rumah gedong itu. Dia sudah mengusir rasa bosannya dengan jalan-jalan mengelilingi setiap sudut rumah itu. Berkenalan dengan para ART yang ternyata semuanya berasal dari kampusnya Embun, yaitu Kota PSP. Melati baru ingat, kalau kampung mereka juga di PSP. Embun kan masih sepupunya.
Sampai siang ini, Ardhi sudah lima kali mengirimkan pesan untuknya. Menanyakan lagi apa? sudah makan dan minum obat. Intinya suaminya itu benar-benar perhatian padanya. Ingin rasanya Melati mematikan ponselnya siang ini. Dia kantuk sekali, matanya sudah lima what saat menatap layar ponselnya. Dia lagi sibuk chating an dengan Ardhi dan berusaha melawan kantuknya.
Dert
__ADS_1
Dert
Dert
Getaran ponsel di atas ranjang mengejutkan Melati. Dia ternyata tertidur saat chatingan dengan Ardhi. Melati yang tak kunjung membalas pesan pria itu, akhirnya penasaran dan menghubungi istirnya itu.
"Adek lagi apa?" tanya Ardhi tersenyum pada Melati yang menatap sayu layar ponselnya.
"Lagi tidur." Ucapnya cepat.
"Lagi tidur?"
"Iya." Mata sudah sangat berat untuk dibuka.
"Orang tidur apa bisa ngomong?"
"Iya." Melati sudah gak mood lagi saat ini. Dia benar-benar ingin tidur.
"Baiklah dek, selamat istirahat ya?"
"Iya " Melati pun menutup matanya. Tidak memperdulikan lagi Ardhi yang masih belum mematikan ponselnya.
Baru juga tidur lima menit. Ketukan di pintu kamarnya yang berulang serta suara yang memanggil-manggil namanya membuatnya terbangun.
Dengan malasnya Melati, beranjak dari ranjang. Berjalan sempoyongan menuju pintu kamar itu.
"Maaf Non, ada tamu di luar. Ingin bertemu dengan Non Melati." Ucap Seorang ART kepada Melati
"Tamu?"
"Iya Non "
"Siapa? perempuan?" Melati yang penasaran ingin memastikan. Dia yang tadinya kantuk, kini matanya segar lagi. Siapa gerangan tamu itu. Apakah si Butet yang datang bertamu. Seperti mimpinya tadi malam.
__ADS_1
TBC