
Ardhi tidak merasa puas dengan jawaban sang Sekretaris, yang mengatakan bahwa Melati sudah mengundurkan diri. Pria itu pun bergegas cepat ke rumahnya. Berharap Melati masih ada di rumah dan menanyakan semuanya.
Ucapan Sekretarisnya Desi, benar-benar mengusik Hatinya. Sang Sekretaris bilang, Melati bertemu dengan seorang pria di taman. Apakah pria itu, pria yang datang ke rumahnya saat Melati sakit? Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan di benak pria itu, dan satupun dia tidak bisa mendapatkan jawabannya.
Dia sedikit yakin, bahwa wanita yang bersamanya adalah Melati. Karena bayangan-bayangan saat dia melakukan itu, masih melekat di memorinya. Seingatnya, dia melakukannya dengan wanita berhijab. Walau saat itu, dia merasa melakukannya dengan Embun. Karena difantasinya saat itu adalah Embun.
Embun kan tidak berhijab, jadi halusinasinya itu tidak benar seratus persen. Dia yakin, yang digagahinya itu adalah Melati, bukan Anggun.
Sesampainya di rumah, suara gaduh pun terdengar dari ruang tamu rumah mereka. Suara siapa lagi, kalau bukan suaranya Ibu Jerniati.
Wanita itu kesal bukan main, karena yang datang mengambil barang-barangnya Melati adalah Ilham, bukan Melati. Padahal wanita itu sudah merencanakan sesuatu yang buruk. Yaitu untuk melenyapkan Melati
Karena, dia tahu. Keberadaan wanita itu akan merusak segala rencananya.
"Ke mana pacarmu itu? dia sudah mencuri perhiasanku!" teriak Ibu Jerniati, mendorong Ilham agar keluar dari rumah itu. Dia masih menahan barang-barang Melati. Dia tidak akan memberikan barang-barang itu pada Ilham. Karena kalau dia memberikannya. Selamanya dia tidak akan bisa menjangkau Melati lagi.
"Anda jangan menuduh sembarangan, Melati bukan pencuri." Hardik Ilham penuh kekesalan. Sikap wanita dihadapannya membuat pria itu tidak memperdulikan sopan santun lagi.
__ADS_1
"Dia mencuri, makanya dia melarikan diri dari rumah ini." ketus ibu Jerniati tak mau kalah.
"Anda jangan banyak cerita, saya tahu, anda yang mengusir Melati dan anda telah menganiayanya. Saya bisa laporkan anda, karena saya punya barang buktinya." Ancaman Ilham. Ucapan Ilham malah membuat Ibu Jerniati tertawa lebar.
"Lapor kan saja. Kita lihat sipaa yang akan mendekam di penjara." Tantang Ibu Jerniati, menepis tangan Ilham yang berusaha meraih kopernya Melati. Ya di koper itu berisi berkas penting, seperti ijazah.
"Nyonya maunya apa sih? bukannya Nyonya yang menelpon, agar barang-barangnya Melati diambil. Kenapa sekarang malah tidak mau memberikannya?" tanya Ilham kesal, kalau bukan orang tua yang dihadapannya sekarang, mungkin sudah kena tonjok dibuat si Ilham.
"Aku ingin dia yang ambil barang-barang nya. Sekaligus dia harus kembalikan perhiasan yang dia ambil." Ketus Ibu Jerniati geram. Dia kesal, karena Melati gak datang menyerahkan diri.
Ilham menantang tatapan tajamnya Ardhi. Dia yakin, ada yang tidak beres antara Melati dengan sang majikan. Sedangkan Ibu Jerniati terdiam, memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaannya Ardhi.
"Kamu pria yang datang kemarin kan ke kantor?" Ardhi ingin memastikan apakah pria ini yang dimaksud oleh sang Sekretaris.
Ilham terkejut, kenapa Ardhi mengetahui Dia datang menjumpai Melati. Apa si Melati menceritakannya?
Ibu Jerniati sedang membaca situasi, dia harus bisa memanfaatkan keadaan. Agar dia bebas dari tuduhan.
__ADS_1
"Dia itu kekasihnya si Melati. Mereka mau menikah, si Melati kan hamil dibuatnya." Ilham melototkan matanya kepada Ibu Jerniati. Tangannya mengepal kuat. Tuduhan wanita tua dihadapannya tak tanggung-tanggung. Dia heran koq ada wanita tua, yang otaknya kotor seperti itu.
Ardhi tidak percaya sepenuhnya dengan apa yang diucapkan oleh sang ibu. Tapi, dia yakin. Pria ini adalah kekasihnya Melati.
"Melati di mana? itu koper siapa?" tanya Ardhi menatap sang ibu dan Ilham secara bergantian.
"Si Melati sudah lari, dia mencuri perhiasan ibu, kemarin sore, saat kita di rumahnya Anggun." Pandai sekali memang Ibu Jerniati mengarang cerita.
"Oohh begitu, baiklah Bu. Saya akan buat laporan ke kantor polisi. Si Melati harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Lagian, aku ingin bertemu dengannya. Aku heran, dia tiba-tiba mengundurkan diri dari perusahaan." Ucap Ardhi tegas, sang ibu Jerniati jadi bingung dan takut. Kalau Ardhi bertemu dengan Melati, itu bisa gawat.
"Gak usah dilapor, ibu sudah ikhlas koq. Tapi, cara dia itu gak enak." Cebik sang ibu kesal.
Ilham yang tidak mau ikut campur dalam masalah itu, meraih koper nya Melati dengan kuat dari tangannya ibu Jerniati.
"Tunggu...!" Langkah Ilham terhenti. Ardhi melangkah lebar ke arah Ilham yang sudah keluar dari pintu rumah megah itu.
"Saya ikut dengan kamu. Saya ingin bertemu dengan Melati."
__ADS_1