
"Syukurlah, sepertinya Dia memang tidak sadar." Ucap Embun, Dia pun keluar dari kamar mandi. Kembali berniat melanjutkan tidurnya.
Dia kembali berbaring di ranjang dengan perasaan tidak tenang. Benarkah Tara tidak menyadari kelakuannya? kalau Tara tidak sadar bahwa Embun sudah menganggapnya guling dan meraba-rabanya. Berarti pria itu tidur seperti kerbau. Dan Dia tidak perlu malu akan kelakuannya.
Embun yang tidak tenang itu, melirik Tara yang tidur membelakanginya dengan hanya memakai celana pendek bahan baby teri dan kaos silet saja. Sehingga bokong Tara yang padat berisi itu nampak menggoda.
"Koq bokongnya sexy gitu, otot betisnya juga kenapa jadi menggoda begitu?" gumam Embun, bergidik ngeri. Dia tidak menyangka, bahwa fostur tubuh Tara membuatnya Estrus. (Estrus atau birahi adalah kondisi dimana ternak betina ingin dikawin. Birahi pada ternak terjadi setelah ternak dewasa) Hahahaha.... Embun ma oon, masak dirinya ingin disamain dengan hewan betina.
Merasa tidak bisa mengontrol dirinya dan takut kebablasan memeluk Tara. Akhirnya Embun memilih tidur di Sofa sebelum dapat waktu shubuh.
Embun kembali melirik Tara yang nampak tertidur pulas. Sedangkan dirinya tidak bisa memejamkan matanya lagi. Dia beranjak dari sofa itu, berjalan menuju ruang walk in closet.
Di ruangan itu banyak lemari berisi pakaian Tara, dasi, sepatu, tas, sepatu, jam tangan. Semua keperluan Tara lengkap.
"Aku tidak tahu bahwa Tara jadi sekaya ini. Setahuku dulu mereka hanya punya perusahaan gula di Lampung." Ucap Embun dengan takjub. Memperhatikan semua isi ruangan itu tanpa mau menyentuhnya.
"Ini rumah sepertinya baru di bangun. Ini bukan rumah Bou Mirna. Ini rumah saat pertama kali Aku dibawa dari Bandara saat ingin kabur." Embun masih saja menyusuri ruang ganti itu, dengan takjub.
Orang tua Embun masih tergolong kaya di kampung mereka. Tapi, kamar yang Dia milikinya tidak seperti ini. Tidak ada ruang walk in closetnya.
Puas menyoroti semua sudut kamarnya Tara, Akhirnya Embun pun berniat mandi saja. Karena sebentar lagi akan dapat waktu sholat shubuh.
Dia mengambil baju ganti dari dalam kopernya, berjalan menuju kamar mandi sambil memperhatikan Tara yang masih tertidur.
15 menit Embun sudah selesai mandi. Waktu sholat shubuh belum dapat. Akhirnya Embun memutuskan keluar dari kamar itu. Ternyata di luar orang sudah ramai dengan aktifitas nya masing-masing.
Apalagi jam sembilan pagi acara Margondang pesta adat akan di mulai.
Saat Embun berjalan di tangga menuju lantai satu. Dia di tegur oleh wanita paruh baya.
"Kamu sudah bangun Dek Embun?" ucap wanita itu ramah, memperhatikan Embun dari atas sampai bawah.
"Iya kak." Jawab Embun dengan tersenyum. Menghentikan langkahnya dihadapan wanita yang mengaku sebagai kakaknya itu.
"Kenapa kamu tidak pakai hijab? apa kamu tidak malu menampakkan rambut basahmu dihadapan orang-orang?" tanya wanita yang mengaku kakaknya Embun.
Kenapa harus malu? rambutku masih basah masak harus ditutup? gumam Embun dalam hati.
"Sana Dek pakai jilbab dulu. Jangan perlihatkan rambut basahmu ini. Semua orang juga tahu, kalau kalian melakukannya sampai pukul empat dini hari. Teriakanmu sampai terdengar ke seluruh ruangan ini bahkan ke taman belakang." Ucap kakaknya Embun, menuntun Embun untuk masuk lagi ke kamar mereka.
Sesampainya di dalam kamar, Embun kesal sekali. Dia melihat ke arah ranjang, ternyata Tara sudah tidak ada disitu.
"Siapa juga yang melakukan itu? emangnya kalau rambut basah, habis gituan? dasar orang kampung, semuanya di permasalahkan." Embun mengomel, sambil mencari-cari hijab yang pas dikenakan dengan dres lengan panjang bahan Ceruty ful print bunga nya.
Tapi, sayangnya Dia tidak kepikiran memasukkan hijab ke kopernya. Karena aslinya memang Embun tidak pakai hijab.
Akhirnya Dia mengambil lagi jilbabnya dari tempat kotor, yang dipakainya saat datang ke rumah Tara ini.
Saat itu juga Tara keluar dari ruang ganti, dengan pakaian sudah lengkap dan rapi. Lobe warna cream melekat di kepala, baju kokoh lengan panjang yang dibordir di pinggiran kancingnya warna coklat muda dan celana bahan kain warna coklat tua.
"Kamu cari apa di tempat kain kotor?" tanya Tara memperhatikan Embun mengobok-obok tumpukan kain kotor.
"Jilbab." Jawab Embun singkat.
"Jilbab? apa kamu mau pakai jilbab yang sudah ditumpuk di tempat kotor?" tanya Tara bingung.
"Iya, emang Napa? walau ini tempat kain kotor. Tapi, pakaian yang ku pakai semalam masih bersih koq." Ketus Embun, berjalan meninggalkan Tara setelah mendapatkan apa yang Dia mau.
Dia pun berniat memakainya, tapi sudah kusut.
Tara duduk di sofa sambil memperhatikan Embun memakai hijab di depan cermin.
"Aku ada koleksi hijab di ruang ganti. Kamu boleh pilih dan disana juga sudah ada pakaian untukmu." Ucap Tara, masih memperhatikan Embun yang bodinya nampak terbentuk karena dres yang digunakannya berbahan ceruty.
"Pakaian untukku? bukannya tadi di lemari kaca itu hanya nampak pakaian pria saja?" gumam Embun dalam hati, memperhatikan Tara yang nampak di pantulan cermin.
__ADS_1
"Cepatlah ganti, biar sempat sholat bersama di Mushollah. Ini sudah mau dapat waktu shubuh." Ucap Tara dan meninggalkan Embun di ruangan itu.
Sepeninggalan nya Tara Embun langsung masuk ke ruang walk in closet itu. Dia pun mulai mencari pakaian yang dimaksudkan Tara.
Benar sekali ada satu lemari besar yang terbuat dari kayu jati. Di dalamnya ada banyak pakaian wanita yang up to date.
Akhirnya Embun memilih memakai gamis syar'i yang sudah lengkap dengan hijabnya.
Gamis yang berwarna Lilac. Modelnya simple tapi nampak mewah.
"Bagus banget, ini harganya pasti mahal. Mana dipakai nyaman sekali. Ternyata Aku cantik juga memakai gamis seperti ini." Ucap Embun sambil bergaya di depan cermin.
Suara adzan pun terdengar. Embun dengan cepat berjalan ke lantai bawah. Dia berpapsan dengan Mama Mira saat hendak ke Mushollah.
"Parumaenku sayang, kamu cantik sekali. Bou kira kamu belum bangun. Ehhh subuh-subuh begini sudah cantik." Mama Mira langsung merangkul Embun, berjalan ke Mushollah.
"Siapa dulu dong suaminya Ma. Insyaallah Embun akan kembali ke jalan yang benar dalam bimbinganku." Ucap Tara, yang ternyata ada dibelakang mereka.
Sontak Embun memutar lehernya, menatap Tara dengan kesal. "Emangnya Aku salah jalan atau ikut aliran sesat?" Embun membathin. Melotot kepada Tara yang tersenyum itu.
"Syukurlah, Mama senang mendengarnya." Ucap Mama Mira, melirik kepada Embun dengan tersenyum.
***
Setelah selesai sholat shubuh berjemaah, Mama Mira meminta Embun istirahat di kamar nya saja. Nanti, akan dipanggil kalau sudah saatnya makan bersama dengan keluarga besar. Tapi, Tara melarangnya.
"Ma, Aku akan ajak Embun berkenalan kepada keluarga besarnya Ayah. Embun pasti tidak kenal semuanya. Secara Dia dari dulu memilih berpecat dengan Tara." Ucap Tara ikut nimbrung dengan Mertua dan menantu itu.
"Itukan bisa besok-besok. Embun pasti lelah. Iya kan sayang?" tanya Mama Mira, mengusap kepala Embun yang ditutupi hijab. Embun hanya diam.
Dia juga teringat nasehat Mamanya, harus berbaur dengan keluarga suaminya, agar tidak dikatakan sombong.
"Gak capek koq Ma. Iya sebaiknya Aku ikut gabung dengan yang lainnya." Jawab Embun tersenyum.
Akhirnya Tara pun mengajak Embun ke ruang keluarga. Disitu sudah banyak keluarga besarnya Tara dari Ayahnya. Ya Embun tidak mengenal mereka semua.
Embun senang dan tersenyum, karena ada yang memujinya.
"Bou, Nantulang, inanguda dan akkang. Tolong kalian ajari istriku yang baik ini agar nanti saat acara Dia mengerti semuanya." Ucap Tara, meraih tangan Embun dari atas pahanya. Kini Embun sudah duduk bersila di atas ambal lembut. Dengan cepat Embun menarik tangannya dari genggaman Tara.
Melihat kelakuan Embun yang lainnya hanya tersenyum.
"Iya Nak Tara." Jawab inanguda Tara.
"Baiklah, Abang pergi dulu." Tara bangkit dari duduknya. Sedangkan Embun merasa tidak enak an, diperhatikan dengan lekat Keluarga besarnya Tara.
"Nak Embun sudah siapkan sapu tangan?"
"Sapu tangan?" tanya Embun balik.
"Oohh iya Aku ada sapu tangan." Ucap Embun dengan bingung untuk apa sapu tangan.
"Iya sapu tangannya kalau bisa sama motif dan warnanya. Jadi nanti saat kamu manortor dengan Tara biar nampak cantik."
"Oohh Iya Bou." Jawab Embun gugup. Walau Embun sering ikut pesta Margondang. Tapi Dia tidak pernah memperhatikan sapu tangan yang di gantung di jari pengantin wanita.
Akhirnya Embun bisa berbaur dengan keluarga besarnya Tara dan sebagian juga ada Keluarga Embun disitu, karena Embun dan Tara kan sepupu kandung.
Embun pun diminta mempraktekkan adegan manortor. Dengan ragu dan malu Embun melakukannya. Banyak kritikan yang diterima Embun, tapi Dia menerimanya dengan senang hati. Sehingga Dia sudah pandai manortor.
"Pasti nanti saat manortor, kalian akan dapat pujian. Sudah Embunnya cantik, Taranya juga tampan dan Embunnya juga sudah pandai manortor." Ucap bou Embun yang merupakan uwaknya Tara.
"Iya Bou, Terimakasih atas bimbingannya." Ucap Embun ramah. Walau Embun banyak digoda, terkait teriakannya dini hari. Tapi, cara bicara keluarga besarnya Tara tidak menghakimi m Sehingga Embun tidak sakit hati dibuatnya.
"Wajarlah Embun teriak, lihat sendiri gimana kokohnya tubuh Tara." Ucap Edanya Embun. Sesaat Embun keselek dengan air ludahnya sendiri.
__ADS_1
Dia teringat saat tangannya memegang oto ononya Tara, yang menurutnya besar dan keras. Sepertinya tas ransel di gantung di situ, akan menggantung sempurna.
Walau Embun tidak pernah melihat dan memegang langsung miliknya pria, tapi Dia yakin punyanya Tara memang besar.
Bahkan Dia tidak pernah kepikiran untuk mengetahui seberapa besar miliknya Ardhi. Walau Ardhi adalah pacarnya. Tapi, Tara kenapa Dia jadi penasaran setelah Dia memegangnya dalam balutan dalaman.
"Sudah, sudah jangan goda menantu kesayangan ku ini." Mama Mira memeluk Embun dari samping.
"Ayo sarapan sudah terhidang. Kita makan dulu. Jam sembilan acara Mangalo-ngalo Mora akan di mulai?" Ucap Mama Mira.
Setelah sarapan, Embun dan Tara kembali dirias. Kali ini Embun memakai kebaya warna rosegold sedangkan Tara memakai jas setelan yang senada dengan Embun.
Tara keluar dari kamarnya, Dia memilih menunggu Di luar saja, sebelum mereka digiring ke galanggang. sedangkan Embun memilih mengotak-atik ponsel pemberian Ardhi.
Tes.... Tes...
Cairan bening Akhirnya jatuh juga dari mata indahnya, yang dari tadi berusaha ditahannya.
Dia begitu merindukan Ardhi. Sehingga Dia melihat foto kebersamaan mereka di ponsel pemberian Ardhi.
Dia merasa isi kesepakatan yang dibuat oleh Tara dan Ardhi sangat merugikannya dan Ardhi. Dimana Dia dan Ardhi tidak boleh komunikasi selama enam bulan. Tapi, kenapa Ardhi malah menyetujuinya.
"Ini tidak adil, ini harus dikaji ulang." Ucap Embun, saat itu juga Tara masuk ke kamar mereka.
Embun dengan cepat menyeka air matanya.
"Itu bukan ponsel yang Aku beli kemarin kan?" tanya Tara heran, melihat ponsel pintar di tangannya Embun. Seingat Dia kemarin, Embun hanya mengambil ponsel seharga dua jutaan.
Embun diam, Dia berjalan ke arah tas nya yang tergeletak di atas meja tak jauh dari dirinya duduk. Mengambil ponsel yang pernah dibeli Tara untuknya.
"Ini terimalah, Aku sudah punya ponsel sendiri." Embun meletakkan ponsel itu di atas meja Karena Tara tidak mau menerimanya.
"Aku tidak akan menyetujui surat perjanjian yang telah kalian sepakati. Itu kesepakatan kalian, Aku tidak ada di dalamnya. Jadi, Aku akan tetap komunikasi dengan Mas Ardhi. Jadi, ku harap, kamu jangan melarang Aku, jika Aku ingin bertemu dengannya." Ucap Embun menatap Tara dengan lekat.
Deg..
Tara terkejut dengan ucapan Embun.
"Kamu istriku sekarang, tidak pantas kamu menjalin hubungan dengan pria lain. Apalagi komunikasi dan bertemu langsung." Jawab Tara tegas, membalas tatapan Embun dengan memberi peringatan.
"Ini pernikahan palsu, sandiwara. Tidak usah kamu terlalu serius melakoninya. Tidak perlu kamu sibuk-sibuk ingin membimbingku. Aku tau mana yang baik dan buruk." Ketus Embun, mendudukkan bokongnya di tepi ranjang.
"Yang kita lakukan ini bukan sandiwara, kamu sudah sah jadi istriku."
"Istri apa? Aku tidak sudih jadi istrimu. Aku membencimu." Ucap Embun kesal, membuang wajahnya dari tatapan Tara.
"Kalau kamu berkomunikasi dengan Ardhi, Aku tidak akan melepaskanmu. Aku tidak akan pernah memberikanmu kepadanya lagi. Asal kamu tahu, kalau kamu berkomunikasi dengannya, bertemu dengannya. Itu sama saja kamu mencoreng nama baik keluarga kita. Karena kamu akan ketahuan selingkuh." Tegas Tara, Dia merasa mood nya jadi buruk. Kenapa Embun membahas ini sekarang.
"Persetan,..!" Embun bangkit dari duduknya . Dia geram sekali kepada Tara. Dia berjalan mendekati Tara.
"Aku benci kamu!" tegas Embun menunjuk Tara dengan penuh kebencian.
Tara berusaha tenang dengan menarik napas dalam. Sakit sekali rasanya, mendengar istri sendiri mengatakan ketidaksukaannya kepada kita sendiri. Tara merasa sebagai suami tidak dihargai.
"Aku tahu, tidak perlu kamu mengulang-ulangnya. Tidak usah terlalu terbawa perasaan. Simpan saja rasa bencimu itu. Sebab jika suatu saat rasa benci itu berubah jadi cinta. Kamu tidak malu untuk mengakuinya.
"Embun, kita saudara. Kamu tidak mau menganggapku sebagai suamimu. Tidak masalah, anggaplah Aku saudaramu dan jangan terlalu membenciku. Sebab hari ini, kamu bisa membenciku, kedepannya kita tidak tahu." Tara menurunkan tangan Embun yang ditangkapnya saat menunjuk-nunjuknya.
"Kamu juga jangan pernah bermimpi untuk ku cintai. Karena itu tidak akan pernah terjadi." Ucap Embun kembali duduk di tepi ranjang.
Tara tertawa, "Jangan ke GR an, banyak wanita yang ngemis cinta padaku dan ku tolak." Jawab Tara.
"Terus kenapa kamu mau menikah denganku?" cecar Embun, menatap Tara yang menertawakannya.
"Ya karena permintaan keluarga besar kita." Jawab Tara enteng.
__ADS_1
Tok tok tok...