DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Romantis


__ADS_3

"Mas, kita mau ke mana ini?" Melati heran dengan jalan yang mereka lintasi. Ini bukan jalan mau ke rumah ayahnya, Pak Zainuddin.


Setelah selesai makan mie Aceh yang menegangkan itu Melati dan Ardhi memilih Langsung pulang. Sedangkan Tara dan Embun, masih menikmati indahnya kota Medan dengan jajan kuliner dan mau nonton bioskop. Padahal di rumah mereka itu ada home teather. Sejak hamil, Embun jadi suka makan dan pinginnya keluar dari rumah.


"Me rumah kita, rumah impian Adek, rumah RSSS itu." Melati menyunggingkan bibirnya, tersenyum mendengar ucapan sang suami.


"Kenapa kita gak ke rumah ayah Mas?" Keduanya masih bersitatap.


"Eehhmmmm.... kalau kita di rumah ayah. Nanti pasti ada saja gangguan. Mas gak bisa lagi menahan ini. Huuuuuuhhhhhgg..!" Ardhi menghela napas penuh frustasi. Sungguh birahinya masih berkobar-kobar. Apalagi tadi bertemu mantan, melihatnya begitu bahagia dengan pasangannya. Dia juga harus bahagia.


"Iihh... Mas apaan sih? tahu ke rumah kita, tadi adek beres-beres dulu, siapkan baju ganti Kan koper adek sudah di rumah ayah.


"Untuk apa lagi mikirin baju sayang. Kita kan nanti melakukannya gak pakai baju juga kali." Ardhi tersenyum geli, menatap genit Melati yang duduk di sebelahnya dengan wajahnya yang merah merona bak tomat matang itu. Ardhi sudah menyetir sendiri. Dia sudah meminta pak supir pulang.


"Apaan sih Mas?" Melati tersenyum kecut memfokuskan pandangannya ke badan jalan.


"Tolonglah suami mu dek? dia sudah seminggu terperangkap." Menatap sekilas bagian inti bawahnya. Yang membuat Melati semakin kesal saja dengan ucapan suaminya itu. Melati juga tahu, bahwa itu sudah tugasnya sebagai istri. Melayani sang suami. Gak mesti, topik pembicaraan dari tadi itu saja.


"Iya Mas." Melati pun tersipu malu, dia sebenarnya juga penasaran dan pengen. Gimana sih rasanya kalau milik suaminya menyatu masuk menelusup ke gua miliknya. Seketika Melati menggelengkan kepalanya, merasa geli dan tak sanggup kalau itu beneran terjadi.


"Astaghfirullah..!" ucapnya mengusap wajahnya kasar. Pikiran kotor akhirnya menari-nari juga di otaknya.

__ADS_1


"Dasar omes." Ardhi langsung menoleh ke arah Melati. Dia tertawa mendengar ucapan istrinya itu. Ardhi mengira, ucapan itu untuknya. Gak tahunya pria itu, bahwa Melati memaki dirinya sendiri. Yang sudah ketagihan bercumbu dengan Ardhi.


"Ya harus omes lah dek. Biar anak kita nanti banyak." Kening Melati mengerut menatap Ardhi yang wajahnya ceria dan semangat itu. Wanita itu pun akhirnya tersenyum tipis. Suaminya itu ternyata ucapannya itu, untuk pria yang sudah tak sabar ingin sampai di rumah itu.


"Sadar juga ternyata Mas."


"Eemmmm... Ya namanya laki-laki dewasa pasti pikirannya kesitu dek. Apalagi kalau sudah menikah." Kini mobil mereka sudah masuk ke halaman rumah sederhana, tapi fasilitas di dalam seperti fasilitas kamar hotel bintang lima.


"Kita sudah sampai. Aduuhhh... gak sabar!" Ardhi tertawa kembali menggoda Melati.


Melati hanya tertawa dalam hati melihat kelakuan Ardhi seolah yang tak sabar itu.


"Kak Embun, sepertinya masih sayang pada Mas." Kini keduanya sedang bergandengan tangan berjalan ke rumah. Ardhi memasukkan kunci pintu rumah, membuka kunci pintu itu dan berbalik menghadap istrinya yang nampak cemburu itu.


"Yang tadi jangan dipikirkan ya dek. Mas serius dengan pernikahan kita." Merangkum wajah sang istri yang nampak sedih itu. Mengecup keningnya Melati yang tubuhnya tegang saat ini.


"Mas jadi tambah yakin, kalau adek benar-benar sudah jatuh cinta pada Mas. Mas juga cinta dengan adek. Serius dengan hubungan ini. Jadi, Mas harap, adek harus membuang rasa enngan dan canggung saat bersama Mas. Tunjukkanlah sikap dan perilaku ikhlas menerima Mas sebagai suami adek " Melati mengangguk, Ardhi masih merangkum wajah sang istri. Ardhi pun merangkul Melati untuk masuk ke dalam rumah.


krekk...


Pintu terbuka.

__ADS_1


Kedua bola mata Melati membelalak melihat isi rumah mereka sudah penuh dengan lilin yang dihias dengan aroma terapi dan lampu turblair berwarna-warni yang menggantung di dini rumah itu, yang membuat suasana ruangan jadi sangat romantis.


"Ya Allah Mas, ini indah sekali." Melati memang cukup norak. Belum pernah dia pergi ke tempat romantis seperti yang dilihatnya sekarang. Melati yang takjub itu, hanya bisa menutup sebagian wajahnya bagian bawah, karena takjubnya. Menutup mulutnya yang dari tadi terbuka itu dengan telapak tangannya. Malam ini wanita itu senang tiada Tara.


"Mas, ini, ini siapa yang buat?" Melati masih heboh sendiri, menghirup aroma terapi yang dikeluarkan oleh lilin itu. Rasanya begitu tenang dan mendamaikan. Rasa kesal, karena cemburu bilang sudah.


Ardhi tersenyum bahagia, sangat senang dan merasa puas, melihat Melati menyukai surprise yang dibuatnya. Sepertinya dia harus memberikan tips yang banyak pada Desi. Karena ini semua, adalah kerjaan Desi.


"Mas senang, adek menyukainya." Menutup pintu rumah dengan kaki. Dan meraih pinggang Melati dengan satu tarikan, disaat istrinya yang heboh berputar-putar melintas di hadapannya. Sontak Melati terkejut atas tindakan suaminya itu, apalagi dada Melati bertabrakan dengan dada kokoh bidangnya Ardhi. Darah Ardhi berdesir hebat, merasakan gundukan kenyal itu. Sedangkan Melati dibuat malu dan berusaha menghindari tatapan mata Ardhi yang tenang. Tapi, sangat menghanyutkan.


Delapan Ardhi sangatlah erat, yang membuat tubuh Melati menegang. Wanita butuh salah tingkah. Dia benar-benar tidak berani menatap Ardhi.


"Lihat Mas sayang?" meraih dagu sang istri, agar wajah cantik itu bisa ditatapnya dengan sepuasnya. Dengan tersipu malu, Melati membalas tatapan mata Ardhi yang mendamba itu.


Keduanya masih beradu pandang dengan percikan api cinta yang membara. Melati sudah yakin dengan dirinya. Bahwa dia akan menjalankan tugasnya sebagai istri sesungguhnya untuk Ardhi malam ini. Dia sudah menemukan ikatan emosi dengan Ardhi.


Tangan Ardhi menyusuri pahatan indah wajahnya Melati. Mengusap lembut pipi wanita yang sudah bersemu merah sejak tadi. "Adek cantik sekali " Ucapnya dengan suara yang menghanyutkan. Yang membuat Melati terbuai karena dapat pujian dari sang suami.


Melati bahkan memejamkan kedua matanya


Saat tangan Ardhi menyusuri wajah cantik itu. Hingga tangan jahil itu, kini berhenti di bibir kenyalnya Melati. Mengusap lembut bibir itu yang membuat Melati ingin lebih.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2