
Setelah Tara melakukan semua cara, Akhirnya Embun diperbolehkan diboyong ke rumahnya.
Suara dentuman musik dengan judul lagu Rere membuat keberangkatan Embun menjadi sedih bercampur suka.
Tara selalu merangkul Embun yang menangis menuju mobil yang sudah disediakan.
Setelah Tara dan Embun memasuki mobil mewah merk Mercedes Benz berwarna hitam yang sudah dihias itu. Mobil pun melaju, yang diikuti oleh puluhan mobil lainnya, yang merupakan mobil rombongan pengantin.
Di dalam mobil itu, keduanya hanya diam membisu. Seperti orang yang tidak saling kenal.
Hanya butuh waktu 20 menit, rombongan pengantin sudah sampai di pekarangan rumahnya Tara.
Mereka disambut dan diarak dua orang pencak silat, pembawa tombak, pembawa payung, serta barisan keluarga pria dan wanita, terakhir iringan penabuh, kedua mempelai berjalan menuju rumah.
Sesudahnya, kedua pengantin serta keluarga akan mengadakan acara Manyattan Boru (Yaitu memberi hidangan santan yang diberi gula aren serta, tepung beras dicampur kelapa parut dan gula di buat bentuk bulat lonjong yang sering disebut itak)
Sebelum pengantin mencicipi Santan Ni Boru. Terlebih dahulu Orang tua dan sanak famili lainnya memberi nasehat.
Kemudian acara berlanjut mangalehen mangan (makan bersama) menyantap makanan yang dibawa, yaitu Indahan tungkus pasae robu
Indahan tungkus pasae robu yang berarti makanan untuk menyelasaikan adat oleh orang tua kepada anaknya. Indahan tungkus pasae robu ini hanya biasa diberikan oleh orang tua dari pengantin perempuan.
Pembuatan indahan tungkus pasae robu ini ada ketentuan-ketentuan dalam pembuatannya ataupun tidak sembarang dibuat. Bahan bahan yang dipergunakan dalam membuat makanan ini yaitu indahan (nasi), pulut (di beri warna merah dan kuning), manuk (ayam), ikan dan udang tawar dan telor ni manuk (telur ayam).
Selain bahan untuk makanannya terdapat juga bahan untuk melengkapi makanan tersebut seperti bulung nipisang (daun pisang) untuk membungkusnya, tali plastik untuk mengikat makanannya. Tali plastik ini merupakan pengganti dari tali yang berasal dari daun lontar yang mana pohon ini sekarang sudah susah didapatkan namun
Selain itu terdapat burangir yaitu daun sirih yang diisi dengan pining (buah pohon pinang) dan gambir yang dibungkus bulat dan berjumlah 7 untuk di ikatkan pada makan indahan tungkus pasae robu.
Selain itu terdapat abit bugis (kain bugis) dan juga abit batak (kain batak) yang digunakan untuk membungkus makanan indahan tungkus pasae robu setelah dibungkus dengan daun pisang. Kemudian ada beberapa jagar-jagar (hiasan) dari berbagai jenis tananam yang digunakan untuk mengiasi makan tersebut yaitu bulung ni torop, bulung ni haruaya, sanggar udang, ria-ria, hatunggal dan rumput padang togu.
Makanan ini biasa diberikan kepada pengantin pada saat pengantin akan pergi meninggalkan rumah orang tuanya pada saat pesta pernikahan. Dimana makanan ini akan dibawa kerumah pengantin laki-laki untuk dimakan sebagai penyelesaian adat terakhir dari orang tua pihak pengantin perempuan.
Namun sebelum dimakan akan disampaikan makna dari semua bahan dalam makanan indahan tungkus pasae robu tersebut kepada kedua pengantin.
Makna makanan Indahan Tungkus Pasae Robu terhadap pengantin akan membawa atau memberikan kebahagian kepada kedua pengantin dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Selain itu makanan ini juga berfungsi sebagai syarat terakhir penyelesaian adat oleh orang tua perempuan kepada anaknya, juga makanan ini berfungsi agar kedua keluarga bisa saling terikat dan mengunjungi.
Apabila makanan ini belum diberikan, maka menurut adat kedua keluarga tidak boleh saling mengunjungi dan apabila dilanggar maka mereka akan mendapatkan musibah.
Secara tidak sengaja, tangan Embun dan Tara bertemu dan bersentuhan saat berusaha membuka tali pengikat ***Indahan tungkus pasae robu.
Dug seerrr***.....
Jantung Embun berdetak kuat dan cepat, disaat Tara langsung menuntun tangan Embun untuk membuka tali pengikat itu.
Keduanya saling pandang, Embun terkejut dengan kelakuan Tara. Tidak harus tangan Tara menuntunnya untuk membukanya. Bisa saja Tara tidak perlu memegang tangannya.
Perlakuan Tara itu, tentu membuat orang yang melihatnya kesemsem. Hingga ibu-ibu banyak yang memuji Tara.
"Tidak ada kontak fisik di antara kita. Lepaskan tanganku." Ucap Embun pelan, tanpa menoleh ke arah Tara. Dia masih tetap mengikuti pergerakan tangan Tara yang menggenggam tangannya.
"Kamu tidak mengerti cara membuka talinya. Aku buka ke kanan, kamunya tarik talinya ke kiri. Bukannya terlepas malah terkunci mati nanti talinya." Jawab Tara dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh keduanya.
Embun pun akhirnya terdiam, ya Dia memang tidak mengerti cara membukanya. Karena tali yang diikat itu sangat banyak mengelilingi indahan tungkusya.
Akhirnya Indahan tungkus pasae robu pun terbuka.
Mereka pun diminta untuk menyicipinya terlebih dahulu, sebelum makanan itu dimakan ramai-ramai.
Embun dengan tangan bergetar mengambil telur ayam, mencuilnya sedikit dan memasukkannya ke mulutnya.
__ADS_1
Sedangkan Tara memilih mengambil udang yang ukurannya besar. Dia pun mengambil daging yang lembut dan tebal itu, menyicipinya. Kemudian mendekatkan suapannya kepada Embun.
Sontak perlakuan Tara yang sok romantis itu membuat Embun terkejut dan kesal. Tidak mungkin Dia menolak suapan Tara. Bisa-bisa Dia akan jadi bahan pergunjingan. Akhirnya dengan mata sedikit melotot Embun membuka mulutnya menerima suapan Tara.
"Makan yang banyak maen, pilih mana yang kamu suka." Ucap Perempuan paruh baya, bagian dari keluarga Tara.
Embun pun tersenyum menanggapinya. Tara pun mulai menyodorkan banyak makanan kepada Embun.
"Aku bisa makan sendiri." Ucap Embun, mulai mengambil pulut berwarna merah dan mengambil paha ayam.
"Iya, tapi coba kamu rasakan ikan ini. Rasanya manis dan gurih." Tara kembali berniat menyuapi Embun. Akhirnya mau tak mau, Embun pun kembali membuka mulutnya.
Sehingga Tara lebih banyak menyuapi Embun. Entah kenapa Embun pun makan banyak. Dia merasa sangat bernafsu sekali untuk memakan semuanya.
Setelah melihat pengantin sudah hampir kenyang. Maka tamu lainnya akan berebut mengambil makanan sisa dari Tara dan Embun.
Secara tidak sadar, Embun tersenyum melihat keseruan acara makan indahan Tungkus pasae robu ini.
Acara pun selesai, setelah mereka kembali mendapatkan petuah-petuah dari orang tua dan sanak famili lainnya.
Tepat pukul sepuluh malam acara pun sudah selesai. Para tamu dan keluarga besarnya Tara sebagian sudah pulang ke rumah masing-masing. Walau ada sebagian saudara lainnya, masih memilih menginap di rumah Tara. Karena besok acara adat pesta Margondang akan di adakan di rumah Tara.
❤️❤️❤️
Embun sudah di antar ke kamar pengantin. Sedangkan Pandonganinya (Pendamping pengantin wanita) sudah memasuki kamar yang sudah disediakan juga.
"Embun sayang, kamu istirahat dulu ya Kandung. Karena besok acara pesta adat Margondang akan dilaksanakan. Kamu perlu banyak istirahat, agar punya energi extra untuk mengikuti semua ritualnya.
"Jadi, nanti kalau Nak Tara, minta Ehmmm--- Ehmmm--- kamu pura-pura bilang halangan saja ya?" ucap wanita berumur sekitar 40 tahunan, yang merupakan saudara Tara dari Ayahnya. Wanita itu tertawa-tawa kecil menggoda Embun.
Jelas saja wanita itu hanya bercanda.
"Bibi, mereka tidak akan melakukannya malam ini dan sampai kapan pun? iya kan Embun?" Ucap Rose tersenyum devil, Rose yang dari tadi berada di kamar itu, setelah membantu membawa barang-barang bawaan Embun.
Embun menatap kesal Rose yang tiba-tiba memeluknya dan mengucapkan selamat. Sedangkan wanita paruh baya yang membawa Embun ke kamar dibuat bertanya-tanya.
Ternyata Embun masih kesal kepada Rose, karena Embun babak belur di sawah.
"Maksud kamu apa Rose?" tanyanya.
"Gak ada Bi, bercanda." Ucapnya melepas pelukannya dari Embun. Kemudian duduk di tepi ranjang di sebelah Embun.
"Kamu, ngomong jangan asal. Sudah, Ayok keluar. Kita jangan ganggu malam pertama mereka. Pasti sebentar lagi Tara akan kesini."
Wanita itu menarik lengan Rose, tapi Rose tidak bergeming dari tempatnya.
"Bibi duluan saja. Nanti Aku menyusul setelah Tara datang ke kamar ini. Itu pun kalau Tara datang. Iya kan Embun? takutnya Tara gak datang." Ucap Rose dengan tertawa kecil.
Si Bibi atau Bou nya Tara malah dibuat makin bingung.
"Kamu ngomong apa sih, ya jelaslah Tara kesini. Inikan kamar dia juga." Jawab Si Bibi dengan menggelengkan kepalanya. Dia heran dengan ucapan Rose.
Sedangkan Embun saat ini, hanya menatap Rose dengan rasa takut. Itu jelas terlihat dari wajahnya Embun yang tidak tenang.
"Embun, jangan dengerin omongan si Rose ini. Dia ini sok tahu. Ya sudah, Inang keluar dulu ya. Kamu istirahat."
"Kamu Rose, jangan godain Embun terus."
"Oke Bi." Jawab Rose, Dia pun melirik Embun di sebelahnya. Sedangkan Bounya Tara keluar kamar.
Puk puk puk....
__ADS_1
Rose bertepuk tangan dan kemudian menatap Embun dengan tertawa kecil.
"Kamu itu harusnya jadi wanita beruntung. Tapi, karena kamu punya pacar. Jadinya kamu buntung." Ucap Rose menatap Embun yang kini bingung disebelahnya.
Embun mengakhiri tatapan mereka, bergerak ke meja rias. Mendudukkan bokongnya di kursi. Mulai mencopoti peniti dari hijabnya.
"Keluarlah, Aku ingin istirahat. Kamu tidak perlu meledekku dengan mengatakan itu." Jawab Embun, Dia masih fokus melepas hijabnya, sembari memperhatikan Rose dari pantulan cermin yang nampak memainkan kukunya yang lentik.
"Aku tahu semuanya." Ucap Rose.
Dug....
Seer
Embun terkejut dan kesal. Pikirannya langsung melayang kepada Tara. Dasar lelaki bocor, katanya tidak ada yang tahu. Embun membathin.
"Lalu," Embun memutar tubuhnya dan masih tetap duduk di kursi meja rias.
"Tidak ada, jangan takut. Rahasia kalian aman bersama saya." Jawab Rose tertawa kecil.
"Aku senang mengetahui kabar itu." Ucap Rose lagi.
"Kamu menyukai Tara." Tanya Embun, menatap rendah Rose, yang menurutnya bukan saingannya.
"Semua wanita yang mengenal Tara, pasti akan suka." Jawab Rose tersenyum, menyilang kan kakinya.
"Aku tidak suka." Jawab Embun cepat.
"Masak sih?" ledek Rose.
"Iya."
"Nanti juga kamu bakalan suka."
"No...!" Embun berdiri dan menghampiri Rose.
"Syukurlah kalau begitu, kalau kamu tidak ingin patah hati. Jangan pernah untuk jatuh cinta kepada Tara kelak. Karena Dia itu banyak penggemarnya. Banyak wanita yang antri untuk mendapatkan cintanya. Bahkan Aku sampai kewalahan di kantor menghandle semua wanita itu.
"Tadinya Aku cukup lega, mengetahui bahwa Dia akan menikah. Setidaknya kabar pernikahannya akan diketahui wanita-wanita itu. Sehingga kerjaan ku mengurusi penggemarnya berkurang. Tapi, ternyata Tara memilih menutupi statusnya yang sudah menikah denganmu dari rekan bisnisnya. Jadi, hanya keluarga besar dan orang kampung ini yang tahu kalau Dia sudah menikah." Ucap Rose menatap lekat Embun.
"Aku tidak perduli itu. Siapa juga yang mau diakui sebagai istri. Sudah, kamu keluar saja dari sini. Aku mau tertawa melihatmu Rose. Kamu malang sekali jadi wanita."
"Maksudmu apa?" Rose mulai terpancing.
"Kamu begitu cintanya sama Si Tara, tapi Dia tidak menganggapmu. Dan anehnya, kamu tetap betah aja menempel sama Dia. Kasihan sekali kamu..!" Ucap Embun tertawa, melipat kedua tangannya.
Rose mendesis.
"Jadi kamu merasa Tara mencintai mu. Dia tidak mencintaimu. Kalau Dia mencintaimu, Dia tidak akan memberikanmu kepada pacarmu itu." Jawab Rose ketus.
"Sudah, sudah. Kamu sudah ngelantur. Siapa juga yang berharap dicintai sama Dia. Sudah sana. Kamu keluar saja. Aku mau bersih-bersih dan mau sholat." Embun mendorong pundak Rose, sehingga wanita itu keluar juga dari kamarnya.
"Aduuhhh..... kasihan sekali kamu Rose." Ucap Embun tersenyum, kemudian masuk ke kamar mandi, setelah mengambil baju gantinya.
Embun membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket, karena seharian ini menjalani banyaknya ritual pernikahan.
Dia berendam dengan air hangat di bathtub, sambil menyoroti setiap sudut kamar mandi yang mewah itu.
"Aku yakin, Rose menyukai Tara karena kekayaannya. Aku itu bukan wanita matre, yang akan berpaling dari Mas Ardhi. Walau Mas Ardhi tidak sekaya Tara. Tapi, Dia baik dan pekerja keras. Dia sudah punya usaha sendiri, bukan usaha. turun temurun dari keluarganya.
"Mas Ardhi, Aku rindu kamu. Seandainya ini hari pernikahan kita. Eeemmmm malam ini pastinya malam yang paling indah buat kita." Ucap Embun sambil tersenyum membayangkan Ardhi sedang memandu kasih dengannya.
Tanpa sadar, Embun pun tertidur di dalam bathtub. Dengan kepala menyangga.
__ADS_1