
Melihat Embun yang menampilkan muka masam padanya. Tara pun tersadar, tak seharusnya dia marah kepada istrinya itu. Tapi, mengingat Ardhi dan melihat ponsel yang dipegang Embun. Pria itu jadi cemburu. Itu ponsel pemberian Ardhi. Padahal sebelumnya Tara tidak memperdulikan ponsel yang digunakan istrinya itu. Tapi, kini dia jadi was-was dan sangat khawatir sepertinya Ardhi akan mengusik ketentraman rumah tangganya.
Tara mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada dihadapan Embun. Meraih tangan istrinya itu, yang tergeletak di atas meja.
"Maaf ya sayang, Abang tidak suka. Kalau Adek berkomunikasi lagi dengan Pak Ardhi." Mengusap-usap lembut tangan Embun yang terasa dingin. Tara tahu, Istrinya itu takut dan merasa bersalah.
"Adek tidak ada niat telponan dengan Mas Ardhi. Ada yang nelpon, terus nomor baru. Mana Adek tahu, kalau itu nomor mas Ardhi. Tahu mas Ardhi yang nelpon, Adek juga gak akan angkatnya." Embun masih kesal, dia teringat cara Tara merampas ponsel milik Ardhi yang dengan kasar tadi dari genggamannya.
Kenapa suaminya itu cemburuan, dan kenapa harus cemburu pada Ardhi. Jelas-jelas wanita itu memilihnya. Bahkan rela merasakan sakit, sampai berdarah-darah menyerahkan kesuciannya pada suaminya itu. Kenapa Tara tidak percaya padanya.
Sikap Tara benar-benar membuat Embun tersinggung. Dia sakit hati, ditambah bagian bawahnya juga masih perih. Dasar suaminya ini tak mau mengerti dirinya.
Tara hanya terdiam mendengar penjelasan isteri nya itu.
"Mas Ardhi bilang, nomor nya Adek blokir. Adek gak merasa memblokirnya."
"Abang yang blokir, Abang tidak mau, dia menelpon adek lagi." Jawab Tara cepat, mengangkat jemari Embun dan mengecupnya. Berusaha membujuk istrinya itu, agar jangan cemberut lagi. Tara sadar, sikapnya yang posesif akan membuat Embun tidak nyaman
Dia harus bisa menenangkan diri sendiri.
"Jangan ingat pak Ardhi lagi ya dek? Abang cemburu." Embun terkejut mendengar kejujuran suaminya itu. Ekspresi wajah Tara begitu menyedihkan dan memelas.
Embun berusaha melepas tangannya dari genggaman Tara. "Permintaan Abang aneh. Buat saja Adek amnesia, agar bisa melupakan Mas Ardhi. Ya namanya pernah dekat, ya pasti sesekali teringat. Apalagi dia itu baik, dan penuh tanggung jawab." Seketika ucapan Embun yang apa adanya itu, membuat hati Tara sakit.
Apa istrinya itu mau memanas-manasinya. Sudah jelas tadi dia mengatakan cemburu pada Ardhi dan sekarang istrinya itu malah memuji pria itu. Sepertinya dia yang harus mengalah disini.
"Iya dia baik dan suami mu ini tidak baik." Jawab Tara tersenyum kecut.
"Iya memang Abang gak baik. Koq Abang baru nyadar sekarang. Mana ada suami yang tega ninggalin istrinya sendirian di kota yang tidak dikenalnya." Cibik Embun kesal, menarik napas kasar. Bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Wanita itu berjalan keluar kamar dengan menahan sakit di bagian bawahnya. Lama-lama bersama suaminya itu di dalam kamar, sepertinya jin yang ditugaskan untuk mengganggu pasangan suami istri sedang beraksi. Hal kecil jadi besar.
Wanita itu sudah sangat kelaparan, dari tadi makanan tidak kunjung datang ke kamar itu. Dari semalam tenaganya sudah terkuras habis, karena belah duren.
Kenapa suaminya itu malah meragukannya. Padahal Embun sudah berusaha semaksimal mungkin, membuktikan baktinya sebagai seorang isteri kepada suaminya itu saat mereka belah duren.
Embun yang berjalan dengan perasaan kesal dan banyak pikiran itu, malah menabrak Bi Aminah yang membawa nampan berisi makanan untuk mereka. Makanan yang dibawakan Bi Aminah terjatuh berserakan di lantai.
Lagi-lagi Embun dibuat terkejut, dan hendak terjatuh. Wanita itu sempoyongan, karena dia memang sudah lemas dan kelaparan sekali. Saat Embun berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Kakinya malah menginjak serpihan gelas yang pecah. Embun meringis kesakitan, Bi Aminah langsung memeriksa telapak kaki Embun.
Tara yang juga sudah berada di tempat, langsung membopong tubuh, mendudukkan wanita itu di sofa yang ada di ruangan itu. Tara tidak merasakan tangannya yang sakit lagi, saat membopong tubuh istrinya itu. Dia sangat mengkhawatirkan Embun.
Embun menitikkan air mata, saat Tara mencabut serpihan kaca itu. Tidak dalam, tapi cukup membuat Embun kesakitan.
"Maaf ya sayang, atas sikap Abang tadi " Ucap Tara sembari mengobati luka Embun. Wanita itu menjawabnya dengan pelan dan datar.
"Adek lapar." rengek wanita itu, sembari memeganginya perutnya.
"Iya sayang, kita makan sekarang." Embun menepis tangan Tara yang hendak membopongnya.
"Adek masih bisa berjalan." Wanita itu bangkit, dia pun mulai melangkah dengan sedikit pincang. Karena disaat dia menapakkan kakinya yang terkena serpihan kaca. Wanita itu merasakan sakit.
Tara pun memegang tangan Embun saat berjalan ke ruang makan. Akhirnya mereka makan di ruang makan. Embun tidak memperdulikan para ART yang selalu menatapnya. Dia tahu, para ART penasaran dengan stempel yang ada di lehernya.
Saat makan, Embun melayani Tara dengan baik. Mengambil nasi, lauk pauk untuk suaminya itu. Tara jadi terharu, Embun yang sekarang sangat berbeda dengan Embun yang dulu.
Setelah makan, mereka bersantai sejenak di area kolam renang, yang disekelilingnya terdapat banyak bunga. Bahkan ada taman khusus bunga anggrek.
Embun sangat menyukai semua jenis bunga anggrek.
__ADS_1
"Adek suka?" tanya Tara, tangan kirinya merangkul pinggang Embun.
Embun melirik Tara yang selalu menatapnya. " Suka banget, Adek paling suka bunga anggrek." Jawab wanita itu tersenyum manis. Tara membalas tak kalah manisnya senyuman istri nya itu. Pria itu bahagia sekali apa yang ada di rumah itu disukai Embun. Syukur dia mengikuti apa kata mamanya dulu saat membangun rumah itu.
"Ini rumah baru dibangunkan?" Tara mengangguk, memetik satu bunga anggrek dan menyelipkannya ke daun telinga istrinya itu. Seketika wajah Embun merah merona karena tersipu malu.
"Masyallah, subhanallah sungguh cantik istriku ini." Tara menjawir dagu Embun yang tersipu malu itu. Menatap lekat wajah Embun yang sangat cantik. Hingga keduanya tanpa sadar saling mendekatkan wajahnya masing-masing.
Hingga ciuman panas pun terjadi di taman itu, bersembunyi dibalik indahnya bunga anggrek. Sang kumbang, sudah mengisap habis madu kembang. Berharap penyerbukan yang dilakukan mereka, berujung kepada pembuahan.
"Sayang, kita ke kamar ya? mau ya?" bujuk Tara lembut, dia harus merayu Embun. Agar wanita itu jangan menolak. Setidaknya mereka akan melakukannya, sampai menjelang magrib. Bisalah tiga ronde, setelah sholat Ashar.
Embun mengangguk pelan dengan tersipu malu. Ciuman yang diberikan Tara tadi benar-benar membuat birahinya tersulut. Apalagi saat berciuman, tangan Tara langsung menelusup mencari gundukan kembar. Memplintir pucuknya dengan gemes.
Benar saja, setelah sholat ashar keduanya kembali melakukan acara cocok tanam. Kali ini permainan dikendalikan oleh Tara. Wanita itu hanya sesekali berinisiatif membalas serangan suaminya itu.
Setelah tuntas dan membersihkan diri keduanya kembali bermalas-malasan di atas rancang, sambil raba meraba dan menonton TV. Tara suka sekali melihat reaksi Embun yang menahan geli, apabila pria itu memainkan gunung kembarnya Embun. Dan menciumi gemes perut Istrinya itu, mengusap-usap perut itu dengan lembut. Berharap ada Tara junior yang tumbuh di rahim istrinya itu.
"Sayang, yang ini saja. Jangan pindahkan chanelnya." Ucap Embun, meraih remot dari tangan Tara yang hendak mengganti Chanel yang menayangkan acara Reality show tentang anak yang punya keterbatasan fisik. Tapi, punya bakat. Sehingga anak itu masuk TV.
Melihat anak yang punya keterbatasan itu, membuat Embun jadi sedih. Kedua matanya langsung berkabut. Tidak tega melihat dan mendengar cerita anak itu.
Anak itu cacat, tidak bisa berjalan dan matanya juga buta. Tapi, anak itu memiliki suara yang bagus bahkan jadi Hafidz Quran.
Kesedihan Embun semakin mendalam. Disaat mendegar cerita anak itu, bahwa dia sering di-bully. Seketika Embun menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan air mata bercucuran sudah. Dia memegangi perutnya yang masih datar.
Tara dibuat heran dengan sikap Embun yang terkesan melow itu
TBC
__ADS_1