
"Dasar Desi." Ardhi masih tertawa, merogoh paper bag itu, memperhatikan lingerie yang menarik perhatiannya itu. Dia baru tahu, kalau ada model baju begituan. Maklumlah Ardhi cowok polos, yang waktunya habis untuk bekerja. Gak pernah ikut pemeran lingerie.
"Ini sangat cocok untukmu sayang!"Menyodorkan satu set lingerie berbahan satin model kimono panjang kepada Melati.
Melirik dengan ekor matanya Lingerie warna merah cabe, yang masih ada di tangan sang suami. Dengan raut wajah kesal, Melati kembali memalingkan wajahnya, fidak tertarik sama sekali melihat lingerie itu.
"Mas, adek gak biasa pakai seperti itu. Lebih pakai sarung, dari pada itu. Coba lihat CD nya. Yang tertutup bagian depan saja. Itu juga Bra nya kenapa bagian put*ingnya terbelah. Adduhhh, ini baju benar-benar haram."
"Ini kan baju haram dek, ini ada tulisannya baju dinas/baju haram. Deskripsi produk, lingerie ini sangat disarankan untuk dikenakan sang istri, saat berduaan di rumah dengan suami tercinta. Ayo bunda, senangkan suami anda!" Ardhi tertawa bahagia, setelah mengucapkan kata-kata konyol yang pura-pura dibacanya diselebaran yang ada di dalam set lingerie berbahasa luar negeri mirip tulisan China itu. Memang ya laki-laki paling suka berbau-bau por*no.
Melati meraih selebaran dari tangan sang suami. Kening Melati mengerut melihat tulisan itu. "Ini bahasa apa Mas?" membolak-balik kertas itu.
"Bahasa cina sayang." Mulai menciumi bahu Melati dengan penuh gairah. Yang membuat Melati mengangkat bahunya itu.
"Iihh Mas, geli tahu." Masih berontak atas perlakuan manjanya Ardhi.
"Emang mas bisa baca bahasa China ini?" Masih menatap lekat kertas di tangannya.
"Bisa dong, sini mas lanjutkan lagi membacanya. Ini kertas berisi, tentang lingerie ini. Mulai dari bahan, size, kegunaan dan harga." Melati kembali memberikan kertas itu pada Melati. Melati sedikit bingung. Baru kali ini dia melihat ada katalog diselipkan saat beli baju.
"Bahan satin premium import, lembut, nyaman dipakai. All size fit XL. Itukan sayang, ini lingerie besar dan panjang. Masih terlihat sopan, walau menggoda. Emang ya Desi, mantap sekali menyiapkan semuanya."
"Mantap apaan Mas. Adek gak dibelikan baju." Melati cemberut, dia sudah kedinginan.
"Bangkitkan gairah suami anda, dengan memakai lingerie ini. Baju dinas malam ini adalah baju Anti pelakor."
"Iiihh.. Mas ngarang bebas." Melati beranjak dari duduknya. Berjalan pelan menuju lemari yang tak jauh dari tempatnya.
__ADS_1
"Adek koq jalannya ngangkang?" Ardhi benar-benar dibuat khawatir. Apa ada hal serius yang terjadi pada istrinya itu.
Melati tidak menjawab, dia sedang memilih pakaian yang cocok untuknya di lemari pakaian suaminya itu.
Memeluk Melati dari belakang. "Apa masih sakit sayang?" mengelus lembut perut Melati, tangannya menyusup kebalik handuk.
"Sedikit Mas, ini selan*gkangan adek, kram gitu." Merinding dengan hembusan napas Ardhi di ceruk lehernya.
"Pasti karena kelamaan ngangkang, adek sih Abang minta di atas gak mau." Melati tersenyum bahagia, kalau mengingat aktifitas panas mereka tadi, dia bawaan nya jadi seneng gitu. Anehnya, sekarang mereka jadi dekat banget. Melati tidak menyangka, akan secepat ini terikat hubungan emosional dengan Ardhi. Suaminya itu terlihat tulus dan mengalah gitu.
"Iihh... Mas, sudah dong!" Mengusap telinganya yang dijahili oleh lidah nakal sang suami. Ardhi menghentikan aksinya, masih memeluk Melati dari belakang. Memperhatikan Melati yang sibuk memilih baju untuk dikenakannya.
"Mas, kenapa gak ada training panjang gitu?"
"Entah itu kerjaan si Rudi. Dia gak lengkap menyiapkan pakaian Mas."
"Lepas dong Mas, Adek mau pakai baju." Melati sudah mengambil gstring dan bra dari set lingerie. Dia akan memakai pakaian di kamar mandi. Dia masih malu kalau harus berpakaian di depan Ardhi.
Ardhi melepas belitan tangannya dari pingginya Melati. "Pakai disini saja sayang." Menahan tangan Melati yang hendak ke kamar mandi.
"Gak mau, adek malu." Ucapnya tersenyum kecut dan menunduk.
"Kenapa harus malu, mas kan sudah tahu semua sayang. Nanti mas bantuin adek pakai baju.
"Emang bayi, pakai baju gak bisa." berontak, agar tangannya lepas. Ardhi pun melepasnya, Melati berjalan pelan-pelan ke kamar mandi dengan tersenyum kecil. Dia merasa bahagia sekali.
Ardhi menghela napas dalam memperhatikan sang istri yang menutup pintu kamar mandi. Pria itu pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tersenyum bahagia, mengingat aktivitas panasnya mereka. Dia pun memegangi dadanya yang sedikit nyeri, karena cakaran dari Melati. Apalagi di punggungnya, banyak sekali bekas cakaran istrinya itu. Melati melakukan itu, disaat wanita itu tak tahu lagi harus melampiaskan kemana nikmat yang tak bisa ditahannya, akibat perbuatannya.
__ADS_1
"Dek, istriku.. cepet dong. Lapar nih?!" Masih memegangi dada yang sedikit nyeri.
"Iya Mas." Sahut Melati dengan lembut.
❤️❤️❤️
Ardhi dan Melati sedang berbahagia makan suap-suapan di tengah malam. Sedangkan pasangan Tara dan Embun sedang perang dingin.
Embun terbangun, karena merasa haus. Dia meraba tempat tidur di sebelahnya. Memastikan keberadaan sang suami. Hatinya kesal, karena Tara tidak ada di sebelahnya. Dia pun membalik badannya menatap ranjang mereka yang hanya ada dirinya di atasnya.
"Berarti Abang Tara gak masuk kamar dari tadi." Ucapnya sedih, mendudukkan tubuhnya dengan malasnya. Merapikan rambutnya yang panjang dan mengikatnya ke atas. Meraih botol minum yang ada di atas nakas. Meneguknya hingga habis tak tersisa, Embun benar-benar sangat haus.
"Kenapa ya aku mimpiin dia?" ucapnya sedih. Sesaat Embun teringat pertengkaran kecil mereka tadi setelah pulang menonton bioskop. Tara selalu cemberut dan bersikap dingin padanya, selama mereka jalan-jalan itu.
Memang awalnya Tara tidak setuju, dengan usulan Embun untuk nonton bioskop. Karena menurut Tara itu buang-buang waktu terus cari angin malam. Di rumah mereka ada home teather. Kekesalan pria itu semakin menjadi saat Embun begitu perhatiannya pada Ardhi di warung mie Aceh.
Merasa sedikit tenang. Embun beranjak dari tempat tidurnya. Dia akan mencari keberadaan suaminya itu. Tadi sebelum dirinya tidur, dia sempat beradu pendapatan dengan Tara di ruang kerja suaminya itu. Wanita itu kesal, karena Tara menyalahkan sikapnya yang akhir-akhir ini memang nampak brutal. Inginnya jalan-jalan setiap malam. Terus ajakin suami main footsal, main badminton, Pokoknya aneh-aneh saja. Padahal istrinya itu lagi hamil. Dan yang paling buat kesal. Istrinya itu sekarang selalu ajak dirinya berantem di ring tinju. Sok hebat sekali, padahal sekali tinju juga sudah K.O.
Embun heran sekaligus khawatir, kenapa suaminya itu, tidak ada di ruang kerjanya. Dia pun akhirnya mencari ke ruang karaoke. Karena, akhir-akhir ini. Tara suka bernyanyi. Tapi, gak ada. Mencari ke ruang home teather. Tetap tak ada. Embun memutuskan mencari ke lantai bawah. Siapa tahu suaminya itu di ruang makan. Tapi tetap tidak ada.
Dengan paniknya, Embun naik lagi ke lantai dua, dengan lift. Saat keluar dari lift. Matanya melihat sang suami, di area kolam renang, sedang menelpon dengan raut wajah terlihat happy. Tara tertawa lepas. Embun yang penasaran dan masih kesal itu, turun cepat ke area kolam renang.
"Ahhkkk kamu ya Rose, koq nanya itu sih? ya cintalah."
Grapppp...
Ponsel langsung beralih ke tangannya Embun. Tara terkejut melihat sang istri di belakangnya, seperti singa kelaparan.
__ADS_1
TBC