DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Aku masih seperti yang dulu


__ADS_3

Ardhi yang jago dalam perencanaan bangunan. Nyatanya saat ini pria itu sangat bingung. Untuk memulai biduk rumah tangganya dengan Melati yang tidak didasari oleh rasa suka dan cinta itu. Menikah tanpa cinta tidak berarti anda tidak akan bahagia.


Banyak pasangan yang menikah tanpa dasar cinta namun lambat laun mereka bisa hidup bersama dan mempertahankan pernikahannya. Berbeda dengan pasangan yang menikah dengan dasar cinta atau nafsu, semakin lama cintanya akan berkurang jika tidak dilandasi dengan rasa kasih sayang yang tulus. Jika kita harus menikah tanpa cinta, ikhlaslah jika dengan menikah anda dapat memenuhi sebagian agama dan bersyukur diberikan jodoh saat anda hidup.


Ardhi masih sibuk membaca artikel tentang pernikahan tanpa cinta. Dia haus ilmu tentang asmara. Sedangkan Melati kini sedang merenungkan nasehat ibunya barusan. Sang ibu berpesan padanya agar ikhlas dan bersyukur.


Ikhlaslah jika dengan menikah kamu dapat memenuhi sebagian agama dan bersyukur diberikan jodoh saat kita hidup. Kata ibu Khadijah, menasehati sang putri, disaat Ardhi sibuk dengan ponsel serta laptopnya tadi.


Ibu Khadijah juga berpesan, kenali pasangan dengan baik. Jalankan tugas masing-masing dengan baik, Lambat laun cinta akan tumbuh dan bersemi di tengah keluarga yang harmonis.


Jangan mengeluh dan bersabarlah, itulah point ketiga yang dinasehatkan sang ibu.


Jika kamu tidak ridho atas pernikahan yang dijalani tanpa rasa cinta dan anda tidak menyukai pasangan maka jangan mengeluh dan bersabarlah karena sabar adalah bagian dari iman. Allah tidak akan memberikan ujian diluar batasan umatnya. Jalani pernikahan dengan segenap hati dan berusalah memnuhi tanggung jawab dengan baik.


Nasehat Ibu Khadijah begitu banyak pada putrinya itu. Wanita itu bahkan keluar dari kamar disaat jarum jam menunjukkan angka 11 malam.


Melati kembali menghela napas dalam, dia yang sudah berbaring di atas ranjang dengan membelakangi Ardhi, yang sedang sibuk dengan laptopnya di sofa. Wanita itu teringat kembali nasehat Ibu Khadijah selanjutnya.


Habiskan waktu bersama. Tak kenal maka tak sayang, rasa cinta muncul karena terbiasa, peribahasa ini sering kita dengar dan mungkin benar adanya. Jika anda menikah tanpa rasa cinta dan belum mengenal pasangan sebelum menikah, sebaiknya sering-seringlah menghabiskan waktu bersama karena hal ini dapat mempererat ikatan suami istri dan menimbulkan rasa cinta pada keduanya.


Ibu Khadijah meminta nya agar jangan menghindar lagi kepada Ardhi. Dia harus membuka hatinya pada sang suami dan Memaafkan kesalahannya.


Saat memikirkan semua nasehat Ibu Khadijah. Melati terlonjak kaget, saat merasakan ranjang bergoyang. Seperti nya Ardhi sudah naik ke atas ranjang. Wanita itu semakin gugup saja. Kini detakan jantungnya terasa sangat cepat, serta berdebar-debar. Perasaan ini sungguh menyiksa.


Melati berulang kali menghela napas dalam, sungguh dia merasa kehabisan oksigen. Dadanya semakin terasa sesak.

__ADS_1


"Adek belum tidur?"


"Apa, apa?" Melati yang terkejut itu, hendak jatuh ke lantai. Dengan cepat Ardhi menahan tubuh istrinya itu dengan menghadang tubuh Melati dengan tangannya yang melingkar di perut wanita itu.


"Astaghfirullah.... Ya Allah, adek kenapa? kalau tadi jatuh gimana?" Ardhi berucap dengan khawatirnya. Melati yang kini masih terbaring di pinggir tempat tidur itu, menatap Ardhi dengan mata tidak berkedip. Wajah tampan Ardhi begitu jelas di hadapannya. Dia terkesima dengan wajah tampan itu. Wangi tubuh suaminya itu juga membuat nya terlena. Melati paling anti wangi parfum yang terlalu menyengat. Tapi, kenapa parfumnya Ardhi begitu disukainya. Mungkin karena parfum mahal. Beda sekali dengan parfumnya yang harga delapan ribu sebotol.


"Tuan membuatku terkejut." Ucapnya jujur, menggerakkan badannya, seolah pertanda, agar suaminya itu tidak mengungkung tubuhnya lagi. Ya kini tangan kiri Ardhi memeluk tubuh bagian dadanya Melati. Sedangkan satu tangannya lagi bertumpu di atas ranjang. Agar dirinya tidak menimpa sang istri.


"Maaf!" Ardhi beringsut dari atas tubuh Melati yang menegang dan kaku itu. Melati kembali menarik napas dalam. Sungguh dia merasa susah napas saat ini. Melati benar-benar tegang. Syukur wangi parfumnya Ardhi bisa membuatnya tetap hidup, walau susah napas.


Ardhi melirik Melati dengan ekor matanya. Saat ini istrinya itu sedang berbaring, memeluk bantal di dadanya dengan pandangan lurus ke atap-atap langit kamar.


"Eemmmm.... Mas boleh ya tidur di sini?" Melati menoleh, sehingga tatapan keduanya bertemu.


Dug


Dug


Melati cepat-cepat memalingkan wajahnya. Dia tidak berani bersitatap dengan mantan majikannya itu. Ada rasa nano di hatinya saat ini. Ada rasa takut, malu, canggung, kesal juga bergabung jadi satu. Sehingga dia bingung harus bersikap.


"Jangan takut sama Mas. Mas serius dengan hubungan kita ini. Buka sedikit saja pintu hati mu untuk Mas. Mari sama-sama kita membuka hati. Mas tahu, yang adek rasakan saat ini. Mas jahat samamu, tak seharusnya malam itu terjadi. Mas minta maaf ya?" Masih menatap ke arah Melati yang tidak mau menatapnya.


"Tapi, mungkin itulah takdir yang harus kita lalui. Itulah hal terbaik untuk kita. Ada hikmah disetiap kejadian. Adek, jadi bertemu dengan Pak Zainuddin. Entahlah semua serba kebetulan. Pak Zainuddin lah yang membuat Mas sesukses ini. Jadi, adek tidak usah takut sama Mas lagi ya? mana mungkin Mas akan mengecewakan Ayah angkat sekaligus ayah mertua Mas." Ucapan Ardhi membuat Melati sedikit legah. Dia tahu, pasti pria itu takut pada ayahnya.


"Mas ini masih orang yang sama, Mas tidak berubah, masih baik, seperti dulu saat Mas jadi tuanmu." Ucap Ardhi tersenyum tipis. Ucapan nyeleneh nya membuat Melati sedikit rileks. Dia pun melirik Ardhi sedetik, kemudian memutar lehernya lagi.

__ADS_1


"Kita harus bisa ikhlas menerima takdir ini. Demi apa coba?" Ardhi sudah mengubah posisinya kado duduk bersila tepat di hadapan Melati. Sejajar dengan perut wanita itu.


"Demi anak kita "


Pak....!


Tepukan Melati terasa sakit di tangannya Ardhi. Disaat pria itu hendak menyentuh perutnya Melati. Tanpa sadar wanita itu menipis kuat tangannya Melati. Rasa tamparannya begitu sakit dan panas. Ardhi tidak menyangka Melati punya tenaga sekuat itu.


"Ya ampun, ini KDRT namanya." Ucap Ardhi dengan ekspresi wajah serius. Tapi, sebenarnya dia sedang bercanda. Dia memperhatikan Punggung tangan nya nampak memerah, bekas pukulan Melati. Ya itu karena kulit Ardhi yang putih.


Sontak Melati merasa bersalah. Dia tidak sengaja melakukan itu. Tubuhnya reflek melakukan itu, karena ingin melindungi dirinya. Ardhi seperti ancaman buatnya. Walau kadang disaat dia sedang tenang. Dia tidak akan membenci pria itu. Tapi, disaat dia merasa terancam. Dia akan ketakutan kepada suaminya itu.


Melati kini sudah mendudukkan tubuhnya dengan mata yang berkabut. Dia kesal pada Ardhi yang mengatakan dia melakukan KDRT.


"Jangan sentuh aku Tuan, Aku takut." Ucapnya dengan derai air mata.


"Aku, aku, aku takut tuan." Ucapnya dengan terisak, jemarinya dengan cepat melap air matanya.


Ardhi semakin merasa bersalah. Sebegitu jahatnya dia Dimata Melati. Sehingga wanita ini masih ketakutan padanya. Padahal dia sudah mengatakan bahwa dia masih sama dengan Ardhi yang dulu.


"Maaf, Mas tidak mau menyakitimu. Mas hanya ingin berkomunikasi dengan anak kita."


"Dia masih segumpal daging. Dia tidak bisa diajak komunikasi." Ketus Melati.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2